NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Matahari pagi ini bersinar dengan begitu lembut, menembus celah-celah ventilasi kayu rumah sederhana peninggalan almarhum orang tua Arumi. Seberkas cahaya keemasan itu jatuh tepat di atas lantai tegel yang sudah bersih disapu. Suasana rumah terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi atmosfer mencekam yang menyesakkan dada, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan akan bentakan yang tiba-tiba bergemuruh, dan tidak ada lagi sisa-sisa energi negatif dari sosok pria kikir yang selama sepuluh tahun ini mengurung kebahagiaan di dalam rumah ini.

​Pagi ini, Arumi berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya. Ketika ia menatap pantulan dirinya sendiri, ia mendapati sosok wanita yang benar-benar berbeda. Wajahnya tampak jauh lebih cerah, segar, dan berseri-seri. Kantung mata hitam yang biasanya menghiasi wajahnya akibat kurang tidur dan tekanan batin, kini tampak memudar, tergantikan oleh rona merah alami di kedua pipinya. Senyuman yang mengembang di bibirnya bukan lagi senyuman getir penuh kepasrahan, melainkan senyuman penuh kebebasan, rasa percaya diri, dan keceriaan yang sudah sangat lama hilang dari wajahnya.

​Arumi merapikan pakaiannya. Hari ini ia memilih untuk menanggalkan daster batik lusuhnya sejenak. Ia mengenakan kemeja katun berwarna biru muda yang bersih dipadukan dengan celana panjang hitam yang rapi. Rambutnya diikat rapi ke belakang, memancarkan aura seorang wanita mandiri yang siap menjemput takdir barunya dengan kepala tegak.

​Saat Arumi melangkah keluar dari kamar menuju meja makan, kedua putranya, Bintang dan Langit, yang sedang duduk rapi menanti sarapan, seketika menoleh. Kedua pasang mata polos itu mengerjap-ngerjap menatap ibunya dengan binar kekaguman. Anak-anak memiliki intuisi yang sangat tajam mereka bisa merasakan perubahan sekecil apa pun dari orang tuanya. Dan pagi ini, Bintang dan Langit bisa merasakan gelombang aura positif yang begitu kuat, hangat, dan membahagiakan memancar dari tubuh Arumi.

​"Ibu... Ibu cantik banget hari ini," celos Langit, si bungsu, sambil memamerkan deretan gigi kecilnya yang rapi. Ia langsung bangkit dari kursinya dan berlari memeluk pinggang Arumi dengan manja.

​Bintang, yang usianya lebih tua, mengangguk setuju dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah tampannya. "Iya, Bu. Wajah Ibu kelihatan cerah banget, kayak nggak ada beban lagi. Bintang senang banget lihat Ibu senyum terus dari tadi subuh."

​Arumi terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat lepas dan bahagia. Ia berlutut menyamakan tingginya dengan kedua anaknya, lalu mengecup kening mereka bergantian dengan penuh kasih sayang. "Ibu bahagia karena ada kalian di samping Ibu. Mulai hari ini, rumah kita akan selalu penuh dengan senyuman, oke? Tidak akan ada lagi yang boleh membuat kita sedih di rumah ini."

​"Horeee!" seru Langit kegirangan, melompat-lompat kecil di tempatnya. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak-anaknya, dada Arumi membuncah penuh rasa syukur. Keputusannya untuk mendepak Pras dan ibunya kemarin adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.

​Sarapan pagi itu berlangsung dengan sangat ceria, diiringi obrolan ringan dan tawa renyah dari kedua buah hatinya. Setelah selesai sarapan dan merapikan dapur, Arumi kembali ke meja kerjanya. Ia membuka laptop tuanya untuk memeriksa beberapa surel masuk. Namun, saat ia membuka aplikasi pesan singkat dan memeriksa notifikasi dari platform menulisnya, matanya tiba-tiba membelalak sempurna. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut.

​Sebuah pesan dari editor pribadinya, Mbak Maya, terpampang di layar.

"Selamat pagi, Mbak Arumi! Ada kabar gembira dari tim manajemen pusat. Karena performa novel online Mbak Arumi bulan ini benar-benar meledak, menembus peringkat satu di seluruh platform, dan mendapatkan retensi pembaca tertinggi, perusahaan memberikan bonus tambahan khusus di luar royalti bulanan. Semalam dana bonus sebesar lima belas juta rupiah sudah berhasil ditransfer langsung ke rekening Mbak. Silakan dicek ya, Mbak! Tetap semangat menulisnya, kami semua bangga dengan pencapaian Mbak Arumi!"

​Tangan Arumi gemetar saat ia membuka aplikasi mobile banking miliknya. Dan benar saja, di sana tertera nominal saldo yang bertambah drastis. Air mata haru seketika menggenang di pelupuk mata Arumi. Ia membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak kegirangan.

​"Ya Allah... Alhamdulillah," bisik Arumi penuh syukur, air matanya menetes, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan yang teramat sangat.

​Uang bonus tambahan yang dikirimkan semalam seolah menjadi jawaban instan dari Tuhan atas segala kekhawatiran finansialnya. Kemarin, Ibu Pras dengan sombongnya menyumpahi hidupnya akan hancur dan menjadi pengemis jalanan setelah bercerai dari anaknya yang kere itu. Namun hari ini, bahkan sebelum proses persidangan dimulai, Tuhan sudah membuktikan bahwa rezeki Arumi dan anak-anaknya justru mengalir jauh lebih deras menggebu-gebu setelah lepas dari jerat keluarga parasit tersebut. Dengan uang ini, Arumi tidak perlu pusing lagi memikirkan biaya pengacara, biaya pendaftaran gugatan, dan kebutuhan sekolah Bintang dan Langit selama beberapa bulan ke depan.

​Arumi segera bersiap-siap karena siang nanti adalah momen krusial dalam hidupnya. Sesuai rencana yang sudah dibicarakan kemarin, siang nanti ia akan ditemani oleh Pak RT dan Bu RT untuk pergi ke Pengadilan Agama guna mendaftarkan gugatan cerai secara resmi terhadap Pras. Kehadiran sepasang suami istri pemuka kampung yang sangat dihormati itu menjadi tameng pelindung sekaligus penguat mental yang luar biasa bagi Arumi.

​Namun sebelum pergi, Arumi harus memastikan keamanan dan kenyamanan anak-anaknya terlebih dahulu. Karena proses pendaftaran di Pengadilan Agama membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan tempatnya kurang cocok untuk anak-anak, Arumi memutuskan untuk tidak membawa Bintang dan Langit bersamanya.

​Arumi berjalan ke arah jendela, menatap ke luar halaman di mana tampak sosok Bu Ida, tetangga sebelah rumahnya yang kemarin ikut memberikan dukungan penuh, sedang menyapu halaman rumahnya sendiri. Bu Ida adalah salah satu tetangga yang paling dekat dengan almarhum ibu Arumi, dan beliau adalah sosok wanita paruh baya yang sangat penyayang dan berhati emas.

​Arumi melangkah keluar pagar, menghampiri Bu Ida dengan senyuman ramah. "Assalamualaikum, Bu Ida."

​"Waalaikumsalam, Mbak Arumi! Ya ampun, cerah sekali wajahnya hari ini, makin cantik!" puji Bu Ida tulus, menghentikan aktivitas menyapunya dan menatap Arumi dengan tatapan penuh kekaguman.

​Arumi tersenyum malu-malu. "Ah, Bu Ida bisa saja. Begini Bu, siang nanti kan saya mau pergi ke Pengadilan Agama bareng Pak RT dan Bu RT untuk mengurus pendaftaran gugatan itu. Bintang sama Langit rencananya mau saya tinggal di rumah. Kebetulan siang nanti anak-anak ada jadwal pulang sekolah agak cepat. Boleh saya minta tolong, Bu?"

​"Minta tolong apa, Rum? Bilang saja, jangan sungkan-sungkan sama Ibu," jawab Bu Ida sigap.

​"Saya mau minta tolong Bu Ida untuk menjemput Bintang dan Langit di sekolahnya nanti siang, lalu minta tolong ditemani dulu di rumah sampai saya pulang dari pengadilan. Nanti untuk biaya transport jemputan dan makan siang anak-anak, biar saya yang tanggung semuanya, Bu," ucap Arumi sungkan.

​Mendengar ucapan Arumi, Bu Ida langsung memasang wajah pura-pura cemberut sambil menepuk pelan bahu Arumi. "Halah, Rum! Kamu ini seperti sama siapa saja! Pakai hitung-hitungan uang segala. Ibu tidak mau terima uang sepeser pun! Urusan menjemput Bintang sama Langit biar jadi urusan Ibu. Kebetulan cucu Ibu juga pulang jam yang sama, sekolah mereka kan seberangan. Nanti anak-anak biar ikut Ibu saja, makan siang di rumah Ibu sekalian main sama cucu Ibu. Kamu fokus saja urus urusan kamu di pengadilan sampai selesai. Jangan pikirkan anak-anak, mereka aman sama Ibu!"

​Mendengar kebaikan hati Bu Ida yang begitu tulus tanpa pamrih, dada Arumi kembali menghangat. Inilah indahnya hidup di lingkungan hunian mereka. Di saat keluarga mertua kandungnya memperlakukannya seperti sampah, para tetangga di dalam gang padat penduduk ini justru berlomba-lomba membantunya dengan sukacita. Warga di sini memang terkenal sangat kompak dan memiliki solidaritas yang luar biasa tinggi. Mereka tidak pernah memiliki sifat julid, dengki, atau iri hati. Jika ada tetangga yang bisa membeli barang baru, merenovasi rumah, atau bahkan membeli mobil baru, seluruh warga gang akan ikut berkumpul, merasa senang, bahagia, dan bersyukur bersama-sama tanpa ada bumbu-bumbu gunjingan negatif.

​"Terima kasih banyak, Bu Ida. Kebaikan Bu Ida benar-benar berarti buat saya dan anak-anak," ucap Arumi tulus, menggenggam tangan wanita paruh baya itu dengan erat.

​"Sama-sama, Rum. Kamu itu sudah seperti anak Ibu sendiri. Sudah sana, bersiap-siap lagi. Tunjukkan sama laki-laki kikir itu kalau kamu bisa berdiri tegak tanpa dia!" dukung Bu Ida dengan semangat yang menggebu-gebu.

​Arumi mengangguk mantap. Langkah kakinya kembali ke dalam rumah terasa begitu ringan. Pagi ini, dengan dompet yang terisi penuh oleh berkah hasil kerja kerasnya, dukungan mutlak dari aparat RT, dan perlindungan tulus dari para tetangga setianya, Arumi tahu bahwa ia tidak sedang melangkah menuju kehancuran seperti yang disumpahkan mantan mertuanya. Sebaliknya, siang nanti, ia sedang melangkah lebar membelah jalan menuju gerbang kebebasan dan kejayaan yang sesungguhnya. Rantai penderitaan itu akan resmi diputuskan hari ini.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!