HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban mengejutkan
JAWABAN MENGEJUTKAN
Sherkan berhenti tepat di hadapanku, jarak kami hanya sekitar satu meter. Ia menunduk perlahan, menatap mataku dari jarak yang sangat dekat, cukup dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas setiap lekuk wajahnya yang tegas dan sorot matanya yang gelap, dalam, dan sulit sekali dibaca. Tatapan itu terasa seperti menembus setiap lapisan pertahanan yang telah aku bangun dengan susah payah, seolah ia sedang berusaha membongkar satu per satu rahasia yang aku sembunyikan di dalam hati dan pikiranku, tanpa perlu aku mengucapkannya terlebih dahulu.
“Kau menyembunyikan sesuatu,” ucapnya dengan nada yang pasti dan tenang, bukan sekadar pertanyaan yang meminta jawaban, melainkan sebuah pernyataan yang keluar dari keyakinannya sendiri.
Aku mengangguk perlahan, tidak berusaha berbohong atau mencari alasan yang rumit, karena aku sadar bahwa di hadapan orang sepertinya, kebohongan hanya akan terungkap lebih cepat dan justru membuat semuanya menjadi lebih buruk. “Tentu saja, Tuan. Setiap orang pasti memiliki rahasia yang disimpan untuk dirinya sendiri, bukan? Saya tidak dapat menceritakan semuanya saat ini, dan ada hal-hal yang belum waktunya untuk diungkapkan, tapi saya berjanji sepenuh hati bahwa apa pun yang saya sembunyikan itu tidak akan mendatangkan kerugian, bahaya, atau gangguan sedikit pun bagi Tuan maupun bagi perusahaan Satria Internasional. Dan saya pun yakin, seseorang yang telah berdiri setinggi dan sekuat Tuan Sherkan pasti juga memiliki banyak hal pribadi dan rahasia-rahasia yang tidak ingin diketahui oleh sembarang orang, bukan?” jawabku dengan suara yang berusaha tetap stabil meski detak jantungku mulai berpacu sedikit lebih cepat.
Mendengar jawabanku itu, sudut bibirnya bergerak sangat tipis, nyaris tidak terlihat oleh mata biasa. Sebuah senyum samar yang hanya terlihat sekilas, senyum yang tidak sampai menyentuh sorot matanya yang tetap dingin dan tajam. “Menarik,” ucapnya singkat, hanya satu kata yang keluar dengan nada datar namun mengandung makna yang dalam. Kata itu saja sudah cukup membuat sekretaris yang berdiri diam di sudut ruangan membulatkan matanya karena terkejut. Sudah bertahun-tahun ia bekerja setia di sisi Sherkan Satria, namun jarang sekali mendengar tuannya menyebut seseorang sebagai menarik, apalagi itu ditujukan kepada seorang wanita—dan bukan karena kecantikan atau pesona fisik semata, melainkan karena keberanian, ketegasan, dan kejujuran yang ditunjukkan meski dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Namun kalimat yang keluar selanjutnya dari mulutnya justru membuat hatiku berdebar kencang, dan rasa takut yang sempat aku coba kendalikan kembali muncul dan menyelimuti seluruh tubuhku.
“Aku akan mempertimbangkannya.”
Mendengar ucapan itu, rasanya ada sedikit rasa lega yang muncul, namun di saat yang sama ketakutan yang jauh lebih besar segera menyelimuti hatiku. Mempertimbangkannya? Itu berarti jawabannya belum pasti. Itu berarti ia bisa saja berubah pikiran dan menolak usulanku besok, lusa, atau kapan pun ia mau. Dan aku sama sekali tidak punya waktu untuk menunggu keputusannya yang tidak jelas itu. Jika aku menunda lebih lama lagi, Arga akan semakin mendesak dan mengambil tindakan yang lebih berbahaya, dan aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika ia merasa sudah kehabisan kesabaran. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi, seperti yang menimpaku di kehidupan sebelumnya.
Dengan keberanian yang terpaksa aku kumpulkan, aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, tidak lagi memedulikan apakah tindakanku ini dianggap terlalu lancang atau tidak pantas. “Tidak,” kataku tegas.
Sherkan mengangkat salah satu alisnya sedikit lebih tinggi, tatapannya tetap tenang dan datar namun kini terlihat menyimpan rasa ingin tahu yang semakin bertambah. “Tidak?” ulangnya singkat, seolah memintaku menjelaskan maksud ucapanku.
“Saya tidak punya waktu untuk menunggu pertimbangan yang lama, Tuan Sherkan,” jawabku dengan suara yang berusaha mantap meski di ujung kalimatnya terasa sedikit bergetar karena campuran rasa cemas dan nekat. “Ancaman yang saya hadapi ada tepat di depan mata saya, bukan di masa depan yang masih jauh. Saya membutuhkan perlindungan Anda sekarang juga, hari ini, bukan besok, bukan lusa, dan bukan seminggu lagi. Oleh karena itu, saya memohon agar Tuan memberikan jawaban kepada saya hari ini juga—ya atau tidak.”
Ruangan luas itu mendadak terasa sangat sunyi setelah perkataanku selesai diucapkan. Sekretarisnya bahkan hampir tidak percaya mendengar seorang wanita muda berani mendesak tuannya yang paling ditakuti dan dihormati itu sedemikian rupa. Di dalam hatiku sendiri, aku terus bergumam gelisah: Apa yang baru saja aku lakukan? Apakah ini cara yang salah? Bagaimana jika ia menjadi marah karena merasa dipaksa dan akhirnya memutuskan menolak saja demi menunjukkan kekuasaannya? Aku terlihat berani di luar, padahal sebenarnya di dalam hati aku sangat takut sekali mendengar jawaban penolakan darinya.
Sherkan menatapku dalam waktu yang terasa sangat lama, matanya mengamati setiap ekspresi yang tergambar di wajahku—usaha tegar yang aku tampakkan, namun sedikit rasa gugup yang mungkin masih tersembunyi di balik tatapanku. Lalu, tiba-tiba, ia tertawa. Tawanya terdengar sangat pelan, rendah, dan berat, namun cukup jelas terdengar hingga memenuhi setiap sudut ruangan yang hening itu. Suara tawa itu terasa dingin dan jarang sekali didengar oleh orang lain, hingga sekretarisnya langsung membeku di tempatnya karena kaget. Hampir tidak ada orang yang pernah melihat atau mendengar Sherkan Satria tertawa seperti itu sebelumnya.
“Banyak orang takut padaku,” ucapnya perlahan setelah tawanya mereda, matanya tetap tidak beralih menatapku. “Banyak orang hanya mendengar namaku saja sudah merasa gemetar ketakutan, apalagi jika harus berhadapan langsung. Tapi kau…” Ia berhenti sejenak seolah ingin mengamati reaksiku, lalu melanjutkan, “…kau terlihat tidak takut sedikit pun di luar sana, padahal matamu dengan jujur menyembunyikan rasa gelisah dan kekhawatiran yang cukup besar.”
Detak jantungku terasa berhenti sejenak mendengar ucapannya. Ia menyadarinya. Ia tahu bahwa sebenarnya aku sedang takut. Aku kira aku sudah berhasil menyembunyikan perasaanku dengan sangat baik, tapi ternyata di matanya, semua itu terlihat begitu jelas. Namun aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu menjawab dengan jujur tanpa berusaha menutupi apa pun lagi. “Saya tahu bahwa hampir semua orang merasa takut pada Tuan, dan saya tidak menyangkal bahwa ada sedikit rasa khawatir yang ada di dalam hati saya saat ini. Tapi rasa takut itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rasa takut yang saya rasakan jika harus kembali menghadapi orang yang ingin mencelakai dan menghancurkan saya. Saya sudah pernah menghadapi hal yang jauh lebih mengerikan, menyakitkan, dan menakutkan daripada sekadar tatapan dingin atau sikap tegas dari Tuan Sherkan.”
Hal-hal yang paling menakutkan itu adalah kematian yang menyakitkan, pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya, serta kehilangan segalanya yang aku miliki di kehidupan sebelumnya—semua itu sudah pernah aku rasakan dan jalani. Namun tentu saja, aku tidak mungkin menceritakan hal yang mustahil dipercaya itu kepadanya.
Sherkan kembali melangkah mundur perlahan lalu duduk kembali di kursi kerjanya yang besar, bersandar dengan posisi yang sama tenang dan santai seperti semula. Ia mulai mengetukkan ujung jarinya secara perlahan dan teratur di atas permukaan meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mengkilap. Suara ketukan yang lambat itu terdengar jelas di tengah keheningan, memberikan kesan bahwa ia sedang memproses, menganalisis, dan mempertimbangkan segala sesuatu yang baru saja aku sampaikan dengan sangat hati-hati. Ia terlihat sangat tenang, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan apa pun, membuatku merasa seolah waktu berjalan jauh lebih lambat dari biasanya dan menimbulkan perasaan tidak pasti yang semakin menekan hatiku.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam lamanya, ia akhirnya mengangkat kepalanya dan menatapku kembali dengan tatapan yang tetap sulit untuk diterka maksudnya.
“Baik.”
Hanya satu kata pendek itu yang keluar dari mulutnya, namun cukup membuatku membeku di tempat sejenak karena terkejut. Aku hampir tidak percaya bahwa aku mendengarnya dengan benar. Bahkan sekretarisnya pun terlihat jauh lebih terkejut daripada diriku sendiri, matanya membulat lebar dan mulutnya sedikit terbuka karena tak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu.
“Baik?” ulangiku dengan suara yang sedikit bergetar, memastikan sekali lagi agar tidak salah dengar, campuran rasa lega dan ketidakpercayaan terasa meluap di dadaku.
Sherkan hanya mengangguk perlahan sebagai jawaban. “Ya, aku setuju. Kirimi aku rancangan naskah kontrak pernikahan yang kau maksudkan itu. Aku akan membacanya dengan teliti, dan jika semuanya sesuai dengan apa yang kau katakan dan tidak ada klausul yang tersembunyi, maka kita akan melanjutkan ke langkah berikutnya.”
Aku menatapnya dalam beberapa detik yang terasa panjang, masih berusaha mencerna kenyataan bahwa usulanku yang tampak mustahil itu akhirnya diterima. Semudah ini? Tidak, tentu saja tidak. Pria sebesar dan secerdas Sherkan Satria tidak akan pernah menyetujui sesuatu yang tidak menguntungkan baginya, meski ia tidak menyebutkan keuntungan apa yang ia harapkan dariku secara langsung. Namun apa pun alasannya, apa pun yang tersembunyi di balik pikiran dan keputusannya itu, satu hal yang paling penting telah tercapai: aku berhasil mendapatkan perlindungan yang sangat aku butuhkan untuk menyelamatkan hidupku. Langkah pertama untuk membalikkan nasib yang buruk dan memulai kehidupan baru ini telah berhasil aku lalui.
Saat aku berjalan keluar dari ruangan besar itu menuju lorong dan lobi gedung, rasa lega yang luar biasa perlahan menyelimuti seluruh tubuhku, meski sisa rasa takut dan waspada masih sedikit tersisa di sudut hatiku. Begitu aku melangkah keluar melewati pintu utama gedung megah Satria Internasional, ponsel yang ada di dalam taskuku berdering berkali-kali tanpa henti. Saat aku mengeluarkannya dan melihat layarnya, nama yang terpampang jelas di sana adalah Arga.
Aku menatap nama itu dengan tatapan yang sangat dingin dan datar, lalu tersenyum tipis yang tidak mengandung rasa takut lagi. Jika di kehidupan sebelumnya hari ini adalah awal dari serangkaian penderitaan, kesakitan, dan kehancuran diriku, maka di kehidupan yang kedua ini—hari ini menandai awal dari kehancuran bagi mereka yang pernah berbuat jahat dan menyakitiku. Tanpa ragu lagi, aku langsung mematikan panggilan itu dan segera mencabut serta mematikan kartu SIM yang sama, membuang segala rasa takut yang tersisa bersamanya. Aku melangkah pergi dengan langkah yang lebih mantap dan pasti, tanpa menyadari bahwa di lantai paling atas gedung itu, tepat di balik jendela kaca besar yang tidak terlihat dari luar, Sherkan masih berdiri diam memandang ke bawah. Ia terus mengamati mobilku yang perlahan bergerak menjauh dan akhirnya menghilang di tengah arus lalu lintas kota yang padat.
Di dalam ruangan yang sepi itu, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum yang sangat jarang terlihat oleh orang lain. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, bahkan bertahun-tahun lamanya, pria yang selama ini dikenal dingin, tertutup, dan tidak tertarik pada hal-hal sepele itu akhirnya merasakan kembali perasaan yang sudah lama hilang: rasa penasaran yang tulus. Penasaran pada sosok wanita yang baru saja datang melamarnya dengan cara yang tidak terduga, wanita yang terlihat tegas dan berani di luar namun sebenarnya menyembunyikan rasa takut serta rahasia yang besar di dalam hatinya, wanita bernama Violet Wibisono.
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
aku padamu Sherkan ♥️🫰
apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
semangat Mak Eva 💪🥰