NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 Disakiti Anak Kandung

"Kak Anjani?"

Deg.

Anjani memejamkan mata sesaat.

Terlambat, keberadaannya sudah ketahuan.

Ia menarik napas panjang, lalu membalikkan badan perlahan. Dan benar saja, Cintya berdiri di sana. Tampak bersinar seakan hidup memang selalu memihak perempuan itu.

"Kak Anjani?" Wajahnya tampak sangat terkejut.

Namun kali ini yang membuat Anjani terdiam bukan ekspresi Cintya, melainkan tatapan perempuan itu yang turun perlahan, mengamati dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Dan Anjani tahu kalau Cintya sedang menghitung dan mencocokkan sesuatu untuk mencari jawaban. Saat keluar dari rumah kemarin ia tidak membawa apa-apa, lalu sekarang ia berdiri di sini mengenakan dress midi warna kalem yang jatuh anggun membungkus tubuhnya. Sederhana, tapi jelas mahal. Sepatu yang dikenakannya juga bukan barang murahan. Begitu pula tas kecil yang menggantung di lengannya. Tidak mencolok, namun kualitasnya berbicara sendiri.

Dan Cintya menyadari itu. Anjani bisa melihatnya. Bisa melihat bagaimana senyum perempuan itu sempat menegang sepersekian detik dengan sangat cepat.

"Kakak di sini?" tanya Cintya lembut.

Anjani mengangguk malas. "Ya."

"Kakak kelihatannya baik-baik saja." Kalimat Cintya terdengar seperti perhatian, padahal sesungguhnya sedang memancing untuk menggali informasi.

Anjani hanya tersenyum tipis. "Alhamdulillah," jawabnya pendek, sengaja tidak memberi celah.

Dan itu membuat Cintya harus mencari jalan lain. "Oh iya..." Tatapannya turun lagi ke dress yang dikenakan Anjani. "Cantik sekali bajunya."

Anjani diam, enggan menjawab. Namun, Cintya masih penasaran.

"Kakak beli di mana?"

Nah, akhirnya sampai juga. Pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan dari tadi bukanlah tentang baju. Melainkan, siapa yang membelikannya? Siapa yang menolongmu? Dan kenapa kamu belum terlihat sengsara?

Anjani menatap Cintya beberapa detik sebelum menjawab dengan tenang. "Hadiah."

Senyum Cintya nyaris retak. Seperti ada rasa tidak suka yang menyergap hati, meski tipis tapi cukup membuat tidak nyaman.

"Hadiah?"

"Iya."

"Dari siapa?"

Anjani tersenyum kecil. "Kok penasaran?"

Untuk pertama kalinya di depan Anjani, Cintya benar-benar tersentak. Biasanya Anjani akan menjawab dengan serentet penjelasan dan diakhiri sikap mengalah.

Akan tetapi tidak hari ini. Hari ini Anjani hanya berdiri tenang, membiarkan rasa penasaran Cintya bertumbuh liar sendiri. Dan itu justru lebih menyiksa.

Di belakang sana, Satriya akhirnya menyadari keberadaan Anjani. Tubuhnya langsung menegang. Sementara Bella membelalak.

"Mama!" panggil Bella. Kali ini panggilan itu benar-benar untuk dirinya.

Bella berlari kecil mendekat, membuat hati Anjani langsung bergetar. Langkah anak itu terhenti ketika sudah dekat. Seolah bingung harus memeluk atau tidak. Seakan tidak tahu posisi Anjani sekarang di hidupnya.

Kebingungan Bella tentu jauh lebih menyakitkan daripada penolakan, tapi Anjani tetap berjongkok di depannya sembari tersenyum lembut.

"Bella sayang..."

Bella memainkan jemarinya. "Mama lagi belanja?"

"Iya."

"Beli apa?"

"Belum beli apa-apa."

"Oh..." Bella mengangguk, lalu diam.

Suasana mulai menjadi aneh. Karena dulu mereka bisa mengobrol berjam-jam. Sekarang, bahkan percakapan lima kalimat terasa canggung.

Di belakang Bella. Satriya masih berdiri diam. Tatapannya perlahan turun mengamati penampilan Anjani yang terlihat lebih pantas dilihat dari pada dulu. Dulu saat wanita itu masih menjadi istrinya.

Dan nyatanya, sesuatu mulai mengganggu pikirannya. Perempuan yang berdiri di depannya ini tidak terlihat seperti perempuan yang baru diusir dari rumah. Bahkan kali ini Anjani terlihat hidup. Dan anehnya, fakta itu membuat dada Satriya terasa sangat tidak nyaman.

Sementara di sisi lain, mata Cintya kembali turun pada label kecil di ujung tas Anjani. Saat itu juga senyumnya benar-benar membeku karena ia sangat mengenali merek itu. Itu bukan barang yang dijual sembarangan. Bahkan satu produknya bisa bernilai belasan hingga puluhan juta.

Jantung Cintya langsung berdenyut nyeri. Ada emosi yang menggerogoti hati. Mungkin dengki atau rasa mulai tersaingi.

Tiba-tiba nama Ren Aksara muncul di kepala. Mengingat pria itu beberapa hari ini berada di sekitar Anjani. Namun, cepat-cepat ia tepis pikir itu. Tidak mungkin Seorang CEO besar tertarik dengan wanita biasa. Begitu pikirnya.

Cintya kembali mengulas senyuman lembut yang tidak pernah gagal membuatnya terlihat seperti perempuan paling baik di muka bumi.

"Kak Anjani." Binar mata Cintya hangat "Kebetulan banget kita ketemu."

Anjani hanya mengangguk tipis. "Iya."

"Ayo makan bareng kami."

Anjani langsung tahu ajakan itu bukan murni ajakan, tapi pamer yang dibungkus pita merah muda dan senyuman manis. Karena Cintya tahu kalau mereka duduk semeja sekarang, yang akan terlihat bukanlah empat orang makan siang, melainkan sebuah keluarga dan Anjani hanya akan menjadi tamu yang kebetulan diundang.

"Nggak usah," jawabnya halus tapi tegas.

Namun senyum Cintya tidak menyerah. "Sebentar aja."

"Nggak."

"Kakak pasti belum makan."

"Aku baik-baik saja."

"Lagian Bella juga pasti senang."

Anjani tersenyum tipis. Kali ini senyumnya sedikit miris. "Yang senang Bella dan kalian bukan aku."

Senyum Cintya sempat menegang sepersekian detik. Ucapan Anjani tepat sasaran karena mereka berdua sama-sama tahu maksud kalimat itu.

Bella lebih memilih Cintya juga lebih nyaman bersamanya. Itu adalah kemenangan terbesar yang diam-diam dinikmati Cintya. Namun perempuan itu tetap tersenyum lembut, seolah tidak tersinggung sedikit pun.

"Kak..." Ia maju selangkah, lalu meraih tangan Anjani.

Gerakan Cintya tampak wajar, seperti sahabat yang menahan sahabatnya pergi. Namun hanya Anjani yang merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Jari-jari Cintya mengencang. Kuku-kuku runcingnya menekan kulit, nyaris menusuk.

Anjani langsung menoleh hingga mata mereka bertemu. Senyum Cintya masih ada, tetapi sorot matanya berbeda. Kali ini lebih dingin, menang, dan provokatif, seakan sedang berbisik tanpa suara.

Lihat? Rumahmu sudah jadi rumahku.

Suamimu sudah memilihku. Anakmu juga.

Napas Anjani tertahan. Rasa nyeri menjalar dari pergelangan tangannya yang mulai robek. Dia refleks menarik tangannya. Gerakannya tidak kasar, hanya ingin melepaskan diri.

Namun tepat pada saat yang sama, hak sepatu Cintya bergeser. Tubuh perempuan itu memang sudah berdiri dengan tumpuan yang kurang stabil.

Dan tarikan kecil Anjani tadi menjadi pemicu terakhir.

"Akh!" Tubuh Cintya mundur satu langkah, dua langkah, lalu jatuh terduduk. Tas belanjanya terlepas. Beberapa barang berserakan ke lantai.

Mall yang tadi ramai mendadak terasa hening karena dari sudut pandang siapa pun pemandangan itu terlihat buruk, sealan Anjani baru saja mendorongnya.

Dan orang pertama yang bereaksi bukan Satriya, melainkan Bella.

"Mama Cintya!" Anak itu langsung mendekat dengan wajah panik sampai membuat dada Anjani terasa nyeri.

Bella berjongkok di samping Cintya, memeluk perempuan itu. "Apa Mama sakit?"

"Nggak kok, sayang..." Suara Cintya terdengar lembut. Bahkan sambil menahan pergelangan kakinya. "Aku nggak apa-apa."

Kalimat yang seharusnya meredakan keadaan, tapi justru membuat semuanya semakin buruk. Karena korban yang tidak menyalahkan siapa pun selalu terlihat lebih meyakinkan.

Bella menoleh menatap tajam Anjani. Dan saat itulah dunia benar-benar runtuh.

"Kenapa Mama mendorongnya?"

Anjani membeku di sela jantung bergemuruh perih.

Bella berdiri. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku lihat! Aku lihat Mama mendorong Mama Cintya!"

"Bell..." Anjani ingin menjelaskan, tapi Bella mundur satu langkah, menjauh seolah takut.

"Aku lihat!" Air mata mulai jatuh dari mata Bella. "Mama Cintya baik sama Mama! Tapi Mama jahat!"

Deg. Hancur. Hati Anjani benar-benar hancur. Kalimat Bella menghantam jauh lebih keras daripada semua penghinaan Satriya karena keluar dari mulut anaknya sendiri.

Anak yang dirawatnya penuh kasih sayang kini berdiri di depan perempuan lain untuk membelanya. Dan menyebut ibunya jahat.

Belum selesai. Bella mendekat, lalu memukuli Anjani bertubi-tubi.

Plak.

"Mama jahat!"

Plak.

"Aku benci Mama!"

Plak.

"Pergi."

Anjani membeku. Ingin membela diri, tapi suaranya seperti hilang tertelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.

Sementara Cintya buru-buru memeluk Bella. "Jangan begitu, sayang. Aku nggak apa-apa. Jangan marah sama Mama."

Lagi, lagi, dan lagi. Perempuan itu terlihat seperti malaikat, padahal setiap kalimatnya seperti sedang menambah minyak ke atas api.

Satriya akhirnya bergerak lebih maju, membawa wajahnya gelap. Ia membantu Cintya berdiri. Tatapan tajamnya langsung mengarah ke Anjani.

"Apa masalahmu? Kamu nggak cukup bikin masalah waktu di rumah?"

"Mas--"

"Cukup, Cintya." Satriya memotong Cintya yang sok menjadi penengah.

"Kamu sampai harus bikin ulah di tempat umum juga?"

Anjani mengepalkan jemari pelan. "Aku nggak--"

"Kami semua lihat."

"Tidak." Suara Anjani akhirnya keluar.

Pelan, tapi tegas. "Aku tidak mendorong."

Satriya tertawa sinis. "Masih bisa bohong?"

Bella yang sempat terdiam langsung menangis lagi. "Aku lihat Mama!"

Kalimat polos Bella membuat sesuatu dalam diri Satriya semakin terbakar. Baginya sekarang bukan hanya soal Cintya, tapi Bella. Anaknya menangis dan penyebabnya ada di depan matanya.

"Kamu puas sekarang?" Tatapan Satriya tajam seperti pisau. "Cintya jatuh. Bella nangis. Kamu puas?"

Anjani menatap lelaki itu, lalu tersenyum miris, lalu mengangkat pergelangan tangannya yang terdapat bekas tancapan kuku Cintya tadi.

"Wanita kesayanganmu ini melukaiku. Ini buktinya. Bekasnya masih segar." Anjani langsung berdecak sinis. "Tapi aku yakin kalian tetap tidak akan percaya."

Cintya langsung menggeleng panik. Dia menatap sedih ke Satriya, lalu bergeser ke Bella, seperti meminta dibela.

"Aku tidak sengaja." Wanita itu berkilah, kemudian menyentuh tangan Bella. "Apa Bella percaya kalau Mama Cintya sejahat itu?"

Bella menggeleng. "Mama Cintya baik." Ia lanjut menatap tajam ke Anjani. "Mama jangan fitnah. Fitnah itu dosa."

Anak kecil itu kembali memukuli Anjani. "Mama Cintya nggak pernah nyakitin Mama, kenapa Mama selalu bikin dia sedih? Kalau Mama baik, kenapa Papa selalu marah sama Mama?"

Bella terus memukul Anjani yang terlihat pasrah. Namun, tiba-tiba badannya tersungkur di lantai.

"Ahhk!"

Seseorang mendorongnya agar menjauh dari Anjani. "Jangan sakiti, Tante."

Bersambung~~

TOLONG HARGAI KARYA DAN KERJA KERAS AUTHORNYA DENGAN MENJADI PEMBACA YANG BIJAK. BACALAH SETIAP BABNYA SECARA URUT, JANGAN LOMPAT-LOMPAT, AGAR TIDAK MERUSAK RETENSI KARYA. KALAU RETENSI RUSAK, AUTHOR TIDAK BISA MENERIMA BONUS.

Terima kasih. Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya. Selamat menikmati setiap alurnya🥰🥰

1
Ayuwidia
Seperti biasa, pasti memerah karena melihat bidadari 😃
Ayuwidia
Winda ini mengingatkan aku sama mahasiswi yg cinta berat sama Sagara
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!