Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waltz Under Chandelier
Suara musik orkestra mengalun lembut memenuhi aula besar mansion.
Chandelier kristal berkilauan di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer yang dipenuhi para tamu kebangsawanan.
Gaun-gaun mewah bergerak perlahan di antara kerumunan.
Suara gelas kristal beradu samar.
Bisikan-bisikan kecil memenuhi udara.
Dan di tengah semua kemegahan itu—
Lilly berdiri di sisi Noah.
Gaun champagne keemasan yang dikenakannya tampak berkilau lembut terkena cahaya chandelier. Kain satin itu membungkus tubuhnya dengan elegan tanpa terlihat berlebihan.
Ia tampak jauh lebih elegan—daripada dulu.
Dan cukup untuk membuat banyak tatapan terus kembali jatuh padanya malam ini.
Namun meski wajah Lilly tetap tenang, getar jarinya samar di balik sarung tangannya.
Aula sebesar ini masih terasa terlalu asing baginya.
Terlalu megah.
Dan penuh tatapan yang sulit diartikan.
“Yang Mulia.”
Suara lembut seorang wanita memecah perhatian mereka.
Viviane muncul beberapa langkah di hadapan Noah dan Lilly.
Gaun hitam keperakan yang dikenakannya tampak elegan dengan potongan yang membingkai tubuh rampingnya sempurna. Rambut gelap wanita itu ditata rapi ke belakang, memperlihatkan anting berlian kecil yang berkilau samar terkena cahaya chandelier.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang terasa jauh lebih tulus dibanding sebagian besar aristokrat malam itu.
“Selamat atas pertunangannya.”
Tatapan Viviane bergantian jatuh pada Noah dan Lilly sebelum wanita itu kembali tersenyum tipis.
“Kalian terlihat sangat serasi malam ini.”
Noah menganggukkan kepala pelan.
“Terima kasih.”
Sementara Lilly membalas dengan senyum sopan yang telah diajarkan Madam Elish.
“Lady Viviane.”
Viviane terkekeh kecil melihat formalitas itu.
“Aku hampir tidak terbiasa melihatmu terlihat seperti ini.”
Kalimat itu terdengar seperti candaan ringan.
Namun justru cukup membuat ketegangan kecil di pundak Lilly perlahan mengendur.
Untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang berbicara padanya tanpa lapisan senyum palsu yang terlalu dipaksakan.
Tatapan Viviane kemudian jatuh pada Noah.
“Seluruh aula membicarakan pertunangan ini.”
“Aku bisa menebaknya,” jawab Noah datar.
Viviane mengangkat sebelah alisnya samar sebelum tertawa kecil.
“Setidaknya sebagian dari mereka mulai berhenti terlihat seperti ingin menghadiri pemakaman.”
Lilly hampir menahan tawanya.
Dan Noah jelas menyadarinya.
Tatapan pria itu sempat bergeser pelan ke arah Lilly sebelum kembali tenang seperti biasa.
Namun sebelum percakapan mereka berlanjut lebih jauh—
“Lady Lillyane.”
Suara wanita lain terdengar dari arah samping.
Lembut.
Namun cukup untuk membuat senyum tipis Viviane perlahan menghilang. Seorang wanita bangsawan paruh baya berdiri beberapa langkah dari mereka.
Gaunnya berwarna emerald gelap dengan sulaman emas halus di sepanjang lengan. Rambut hitamnya disanggul rapi tanpa satu helai pun terlihat keluar dari tempatnya.
Dan tatapannya langsung jatuh pada Lilly tanpa ragu sedikit pun.
Pandangan yang terlalu tajam untuk disebut sekadar memperhatikan.
“Mom,” ucap Viviane pelan.
Wanita itu tidak langsung menjawab putrinya. Matanya masih tertuju pada Lilly dari ujung kepala hingga kaki.
Mengamati.
Mengukur.
Seolah sedang memastikan apakah gadis di hadapannya benar-benar pantas berdiri di aula itu.
Lilly bisa merasakannya dengan jelas.
Dan anehnya—
ia tidak lagi merasa ingin menundukkan pandangan.
“Anda cantik.”
Tatapan wanita itu turun sejenak pada gaun champagne keemasan yang dikenakan Lilly.
“Jauh dari yang kubayangkan.”
Keheningan kecil jatuh sesaat.
Sangat singkat.
Namun cukup untuk membuat makna tersembunyi di balik kalimat itu terasa jelas.
Lilly tetap berusaha mengendalikan dirinya
Senyum yang telah dilatih Madam Elish hingga terasa nyaris sempurna.
“Terima kasih, Nyonya.”
Ia menjeda sesaat—
memberi tatapan pada istri perdana menteri.
“Saya juga berharap tidak mengecewakan bayangan banyak orang malam ini.”
Wanita bangsawan itu tampak sedikit terdiam.
“Saya harap Lady Lillyane juga akan berdansa malam ini.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Sopan.
Namun Lilly tahu—
di aula seperti ini, dansa bukan sekadar hiburan.
Itu penilaian.
Dengan senyum yang tidak memudar, Lilly mengangkat dagunya sedikit.
Punggungnya tetap tegak.
Tatapan hazelnya menatap lurus wanita di hadapannya.
“Tentu, Nyonya.”
“Tentu saja,” lanjut wanita itu pelan.
Tatapannya bergeser sekilas ke arah Noah sebelum kembali pada Lilly.
“Anda akan berdansa bersama Pangeran Mahkota.”
Lilly tersenyum samar, "Tentu, Nyonya."
Tatapan wanita itu tajam penuh penilaian.
Ia jelas bukan wanita bangsawan biasa.
Melainkan seseorang yang terbiasa membaca orang lain hanya lewat satu percakapan pendek.
Dan tak lama setelah itu—
Musik waltz mengalun lembut, pelan namun cukup megah untuk membuat percakapan perlahan mereda.
Para pelayan mulai membuka ruang di tengah aula, memperlihatkan lantai dansa marmer yang memantulkan cahaya chandelier di atasnya.
Dan hampir seketika, perhatian para tamu kembali tertuju—
Pada Noah dan Lilly.
Noah melangkah mendekat sebelum perlahan mengulurkan tangannya ke arah Lilly.
Tatapan pria itu masih sama, sulit ditebak.
Namun malam itu, ada sedikit kelembutan samar di matanya.
“Lady Lillyane,” ucap Noah pelan.
“Maukah Anda berdansa dengan saya?”
Untuk sesaat, aula besar itu terasa semakin sunyi.
Seolah seluruh perhatian para tamu kini benar-benar jatuh pada mereka.
Tatapan hazel gadis itu perlahan turun pada tangan Noah yang masih terulur di hadapannya.
Lalu tanpa ragu—
Lilly meletakkan jemarinya di sana.
“Dengan senang hati, Yang Mulia.”
Noah menggenggam tangannya lembut.
Membawa Lilly melangkah menuju lantai dansa.
Dan seketika itu bisikan kecil mulai memenuhi berbagai sisi aula.
Tatapan para bangsawan mengikuti setiap langkah Lilly dengan terlalu teliti.
Menilai.
Mengukur.
Mencari celah sekecil apa pun.
Apakah gaun itu terlalu berlebihan
Apakah langkahnya akan goyah di tengah aula bangsawan.
Apakah ia akan kehilangan keseimbangan.
Atau mungkin, secara memalukan menginjak kaki Putra Mahkota saat dansa dimulai.
Mereka menunggu kesalahan itu.
Namun semuanya salah.
Begitu alunan waltz pertama memenuhi aula—
Noah menarik Lilly memasuki pola dansa dengan gerakan yang begitu halus.
Dan Lilly mengikutinya dengan sempurna.
Langkah mereka bergerak selaras.
Ringan.
Elegan.
Bahkan terlalu disayangkan jika dilewatkan.
Seolah mereka telah berdansa bersama berkali-kali sebelumnya.
Gaun champagne keemasan Lilly bergerak lembut mengikuti putaran tubuhnya di bawah cahaya chandelier.
Kilauan satin itu memantulkan cahaya seperti aliran emas lembut yang hidup di tengah aula.
Sementara Noah tetap berdiri tegak di hadapannya dengan ketenangan.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada kegugupan yang mereka harapkan.
Postur Lilly sempurna.
Dagu terangkat elegan.
Setiap gerakannya terasa anggun tanpa terlihat dipaksakan.
Dan senyum kecil di wajahnya—
terlihat begitu alami hingga perlahan membuat aula mulai terdiam.
Mereka terlalu serasi.
Terlalu indah.
Bahkan beberapa bangsawan tua mulai kehilangan ekspresi meremehkan yang sejak tadi mereka simpan.
Karena pasangan itu tidak terlihat seperti pertunangan politik yang dipaksakan.
Tidak.
Mereka terlihat seperti sesuatu yang memang telah ditakdirkan berdiri berdampingan.
Tatapan Noah sesekali jatuh pada Lilly di tengah putaran dansa mereka.
Samar.
Namun cukup untuk membuat beberapa orang mulai menyadari sesuatu.
Bahwa Putra Mahkota tidak sedang memainkan sandiwara malam ini.
Ia benar-benar menerima wanita di sisinya.
Ketika nada terakhir waltz perlahan menghilang—
langkah Noah dan Lilly ikut melambat.
Gaun champagne keemasan Lilly berhenti berputar pelan di bawah cahaya chandelier.
Dan untuk sesaat, aula besar itu terasa begitu sunyi.
Hanya suara napas kecil dan gesekan langkah para tamu yang samar terdengar di tengah keheningan panjang itu.
Tatapan para bangsawan masih tertuju pada mereka.
Takjub.
Menilai ulang.
Bahkan tampak masih sulit mempercayai apa yang baru saja mereka lihat.
Lalu perlahan—
tepuk tangan mulai terdengar dari berbagai sisi aula.
Riuh tepuk tangan yang kian lama merendah.
Namun cukup untuk memecah keheningan yang sejak tadi memenuhi ruangan.
“Luar biasa…”
“Lady Lillyane berdansa dengan sangat baik.”
“Sungguh jauh dari rumor yang beredar.”
Bisikan-bisikan mulai bermunculan di antara kerumunan bangsawan.
Dan tidak lama setelah itu—
mereka mulai mendekat.
Satu demi satu.
Dengan senyum yang begitu sempurna hingga terasa nyaris palsu.
“Yang Mulia.”
“Lady Lillyane.”
Seorang wanita bangsawan tersenyum hangat pada Lilly.
“Anda benar-benar mengejutkan kami malam ini.”
Senyumnya tetap lembut.
“Saya tidak menyangka seseorang yang baru belajar mampu berdansa sebaik itu.”
Ini memang benar sebuah pujian.
Namun tetap diselipkan pengingat kecil tentang asal-usul Lilly.
Lilly membalas dengan senyum yang sama tenangnya.
“Terima kasih, Nyonya.”
Ia tersenyum sopan. "Saya masih harus belajar banyak.”
Namun tentu saja—
itu tidak akan berhenti di sana.
“Gaun itu sangat cocok untuk Anda, Lady Lillyane.”
Wanita itu menatap Lilly seksama. "Lady bahkan sangat bagus untuk ukurannya."
Namun kali ini, Lilly tidak lagi ingin merasa tersudut.
Karena ia mulai memahami sesuatu tentang dunia asing ini. Bahwa senyum bisa menjadi senjata. Dan kata-kata sopan terkadang jauh lebih tajam dibanding hinaan terang-terangan.
“Tentu saja.”
Senyum Lilly tidak memudar sedikit pun.
“Madam Elish terlalu disiplin untuk membiarkan saya mempermalukan beliau.”
Beberapa bangsawan tampak sedikit terdiam mendengar jawaban itu.
Karena Lilly tidak menyangkal asal-usulnya tanpa perlu merasa rendah diri.
Dan hal itu membuat beberapa orang mulai kehilangan arah untuk menjatuhkannya.
Di sisi lain, Noah sedikit menoleh ke arah meja panjang tempat para pelayan menyiapkan minuman.
“Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu.”
Suaranya rendah.
Lilly mengangguk kecil.
“Aku tidak akan ke mana-mana, Yang Mulia.”
Tatapan Noah bertahan sesaat lebih lama sebelum akhirnya pria itu berjalan meninggalkan kerumunan kecil di sekitar mereka.
Dan begitu sosok Putra Mahkota itu menjauh—
Lilly langsung merasakan perubahan kecil di udara.
Tatapan para bangsawan itu kembali terasa lebih bebas.
Lebih tajam.
Namun sebelum percakapan itu berkembang lebih jauh—
suara langkah kaki berat terdengar mendekat di atas lantai marmer aula.
Pelan namun pasti dengan ketukan tongkat mengikuti. Dan sosok itu cukup untuk membuat keadaan menjadi hening.
Kerumunan kecil itu perlahan memberi jalan.
Grand Duke d'Orvain.
Tatapan matanya langsung jatuh pada Lilly.
“Anda berdansa dengan sangat baik malam ini.”
Kalimat itu sederhana.
Namun justru terasa jauh lebih berat keluar dari mulut seseorang seperti dirinya.
“Jauh lebih baik dibanding yang kubayangkan.”
Lilly menahan dirinya untuk tidak menunjukkan kegugupan.
Ia justru tersenyum kecil.
“Tentu saja, Tuan.”
Suara Lilly terdengar lembut namun stabil.
“Madam Elish terlalu disiplin untuk membiarkan saya mempermalukan nama House d'Orvain malam ini.”
Sudut bibir Duke d'Orvain tampak bergerak samar.
“Jawaban yang baik.”
Namun suasana itu belum bertahan lama. Karena langkah lain kembali terdengar mendekat dari belakang Duke d'Orvain.
Seorang bangsawan tua berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya langsung jatuh pada Lilly.
Terang-terangan menilai tanpa berusaha menyembunyikannya.
“Jadi ini pilihanmu, d'Orvain?”
Nada suaranya terdengar santai.
Akan tetapi cukup untuk membuat beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
Duke d'Orvain tidak langsung menjawab.
Sementara pria tua itu masih terus memperhatikan Lilly dari ujung kepala hingga kaki.
“Cantik.”
Kalimat itu terdengar datar.
Tatapannya bertahan cukup lama pada wajah Lilly. Terlalu lama. Penuh penilaian yang samar meremehkan.
Hingga perlahan—
tatapan pria itu berhenti tepat pada mata hazel Lilly.
Dan ekspresinya berubah samar.
“…Ah.”
Pria tua itu tersenyum. “Mata musim gugur.”
Suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding sebelumnya.
Tatapannya masih tertuju pada mata hazel Lilly yang memantulkan cahaya chandelier dengan warna keemasan lembut.
“Sudah lama aku tidak melihat warna seperti itu.”
Senyum tipis Lilly perlahan memudar samar.
“Ini dari ibuku.” Suaranya tetap lembut.
Keheningan kecil itu belum sepenuhnya menghilang ketika tiba-tiba sebuah lengan melingkar pelan di pinggang Lilly.
Dan sebelum gadis itu sempat bereaksi sepenuhnya, tubuhnya telah ditarik sedikit lebih dekat pada aroma musk wood yang kini terasa begitu familiar.
Noah.
Dengan tenang, Noah menyerahkan satu gelas sampanye pada Lilly sebelum berdiri tepat di sisinya.
“Mata yang memang sulit dilupakan.”
Suara Noah terdengar rendah dan tenang seperti biasa.
Tatapannya sempat jatuh sekilas pada mata hazel Lilly sebelum akhirnya beralih pada pria tua di hadapan mereka.
Pria tua itu terkekeh pelan.
“Belum pernah aku melihatmu mengajak seseorang sedekat ini dalam jamuan.”
Noah menerima ucapan itu tanpa perubahan ekspresi berarti.
“Tentu saja.”
Suara Noah rendah.
“Dia adalah calon Putri Mahkota.”
Keheningan kembali jatuh di sekitar mereka.
Karena semua orang di aula itu memahami satu hal—
Putra Mahkota baru saja menyatakan posisinya secara terang-terangan.
Pria tua itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Kalau begitu…”
Ia mengangkat gelas kristalnya sedikit.
“Semoga kalian menjadi pasangan yang diberkahi.”
Noah membalas dengan ketenangan yang sama.
“Terima kasih, Tuan Aster.”
Tatapan matanya tidak pernah benar-benar lepas dari pria tua di hadapannya.
“Semoga Anda panjang umur.”
Kalimat itu terdengar begitu sopan.
Namun justru karena itu—
makna tersembunyi di baliknya terasa jauh lebih tajam. Dan Tuan Aster jelas menyadarinya.
House Aster.
Dewan Barat.
Salah satu kelompok aristokrat paling berpengaruh dalam politik kerajaan.
Dan beberapa waktu lalu—
orang yang sama inilah yang mempertanyakan darah bangsawan Lilly secara terang-terangan di hadapan dewan.
Mempertanyakan apakah seorang gadis tanpa darah bangsawan pantas berdiri di sisi Putra Mahkota.
Namun malam ini—
Noah menjawab semuanya tanpa emosi yang dibutuhkan.
Tanpa ancaman yang berarti.
Ia hanya cukup berdiri di sisi Lilly.
****