Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Bab 15
Raditya berdiri di ambang pintu
Tangannya di sisi tubuh, punggung tegak seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari caranya berdiri di sini—bukan canggung dalam arti gugup, tapi canggung dalam arti seorang yang sudah terbiasa dengan medan terbuka, pos komando, dan lapangan berdebu, tiba-tiba dihadapkan dengan ruang tamu sempit yang berbau kayu tua dan masakan dari dapur.
Di lapangan ia terlihat pas.
Begitu juga di pos komando.
Tapi di sini—ia terlihat seperti sesuatu yang tidak tahu harus melakukan apa.
Matanya menyapu ruangan sebentar—kebiasaan lama yang tidak bisa dimatikan meski sedang tidak bertugas.
Emak yang pertama kali melihatnya dari tepi tikar, mendongak—matanya menyapu sosok tinggi besar di ambang pintu
"Eh— "ini siapa, Nduk?"tanya emak sambil mencolek sari.
Sari yang di tanya langsung menoleh laluh matanya sedikit membesar ia refleks sedikit bergeser dari tempat duduknya.
"Itu Letnan Raditya, Mak,"jawabnya dengan suara kecil, "dia pimpinan tim TNI di sini,"
Emak mengangguk pelan.
"oh gitu Sini Sini Nak masuk Jangan berdiri di pintu enggak baik nanti susah dapet jodohnya."
Di sudut ruangan, Nayla menunduk—menahan sesuatu di sudut bibirnya.
Raditya tidak bergerak sedetik.
ia Seperti sedang memproses apakah kalimat itu benar-benar ditujukan kepadanya. Atau apakah ada protokol yang harus dilewati dulu sebelum duduk di tikar orang lain.
"terimakasih buk"
Suara kakinya berderit pelan di lantai kayu karena bobot tubuhnya yang besar. Ia duduk di tepi tikar dengan punggung tegak sempurna, tangan bertumpu simetris di atas lutut, kaki rapat. Rapi. Presisi. Seperti sedang menghadiri briefing.
Sari melirik Nayla dari samping.
Nayla melirik Sari balik.
terlihat merekah seperti sedang menahan tawa.
Lalu Vina muncul dari dapur—langkahnya tergesa, tangannya membawa nampan dengan dua gelas teh tambahan. Uapnya masih mengepul tipis.
"Ini pak silakan"
"Terima kasih."
"sama sama pak" balas Vina sambil tersenyum.
Raditya meletakkan gelas itu tepat di depannya.
Nayla yang duduk di sebelah Sari melihat itu
"Bahkan minum teh pun harus protokol dulu batinya" lalu ia tersenyum menggeleng pelan.
"Kamu yang pimpin tentara di sini, Nak?" tanya pak Darmo Suaranya serak, tapi tidak ragu.
"Siap, Pak betul saya yang pimpin."
"Sudah berapa hari ?"
" siap pak Baru tiga hari."
pak Darmo yang mendengar jawaban itu tersenyum
"Desa ini sudah lama tidak aman, Nak," suaranya pelan
"hampir dua tahunan"
Matanya menatap ke depan seakan sedang menerawang jauh
"sengketa itu sudah banyak memakan korban nak,
banyak warga selalu merasa khawatir mereka merasa tertekan, kami sudah berusaha menawarkan untuk bernegosiasi tetapi mereka tidak pernah mau.
Pak Darmo kembali menoleh kearah Raditya".
"beberapa bulan yang lalu konfliknya kembali memanas
sekitar 15 warga terluka.
pak Darmo menghela nafas
kami berharap terutama saya pribadi
setelah kehadiran TNI di sini Masalah ini bisa segera cepat di selesaikan.
Raditya menatap wajah pak Darmo.
tatapan yang mengandung bara.
tangannya terkepal kuat urat uratnya terlihat keluar dengan jelas di sana.
"siap pak, kami dari pihak TNI akan berusaha yang terbaik sebisa kami" jawabnya mantap.
Emak yang dari tadi duduk di tepi tikar
tiba-tiba angkat bicara "sudah sudah"
" oh ya kalian semua pasti belum makan siang kan"
Raditya menoleh ke Emak.
"Belum, Mak."
Mata Nayla membesar saat mendengar jawaban itu ia menatap se akan tidak percaya Raditya yang baru saja menunjukkan aura bintang limanya tiba tiba jadi seperti anak kecil yang tidak punya rasa sungkan.
"Ya ampun—"
Emak langsung berdiri tergopo gerakannya pelan tapi tekadnya cepat.
"Vina! Sini bantu Emak ambil nasi!"
",iya Mak"
"bu tidak usah repot, kami—"
"Tidak repot," Emak memotong tanpa menoleh. Langkahnya sudah mengarah ke dapur. "Tamu datang, ya dijamu. Itu adat sini. Dari dulu sampai sekarang."
Nayla menutup mulutnya. Lalu ia menghela napas.
Di sebelahnya, bahu Sari bergetar kecil—menahan tawa yang susah payah ia sembunyikan di balik telapak tangan.
Vina sudah berdiri mengikuti Emak ke dapur—langkahnya setengah berlari kecil.
Ruangan itu hening sebentar—hanya suara langkah Emak dan Vina yang menjauh ke dapur, dan suara ayam yang berkokok sekali dari halaman luar.
Raditya menatap punggung Emak yang menghilang di balik kain pembatas dapur.
Lalu pandangannya turun ke gelas teh di depannya.
Ia mengambil gelas itu.
Dan meminumnya—pelan, tanpa ekspresi, tapi ia meminumnya.
Nayla melihat itu dari sudut mata.
Sudut bibirnya bergerak naik tanpa ia minta.