Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 Awas, Bibi Datang!
Saat ini tahun ke 700 bulan 7 dari Kekaisaran Ming. Wilayah yang Wei Ying tinggal sangat terpelosok dan jauh dari pusat pemerintahan, jika tak salah mengingat letaknya berdekatan dengan wilayah gurun, menjadi salah satu wilayah perbatasan yang di huni manusia.
Namun, kisaran waktu ini Wei Ying mengetahui akan sebuah insiden yang akan terjadi. Sebuah panas extreme akan melanda Kekaisaran Ming, dan membuat hampir setengah wilayah kekaisaran berubah menjadi Padang tandus.
Gejala awal insiden itu adalah kemarau panjang alias musim paceklik yang lebih lama dari biasanya.
Di saat orang-orang desa begitu gelisah dengan pasokan makanan yang kian menipis tiap hatinya, Wei Ying dengan santainya duduk sambil menikmati secangkir kopi.
"Kira-kira berapa minggu lagi ya?" gumam Wei Ying dengan bertopang dagu, sebelah tangannya mencelupkan biskuit ke dalam teh.
"Jika berdasarkan pada novelnya, hampir setengah orang di desa ini akan mati. Wei Lu dan anak-anak bisa selamat karena di selamatkan oleh seorang pengungsi dari wilayah lain dan ikut rombongannya ke Ibukota." bisiknya dengan pandangan mata yang menerawang jauh, "Tapi.. karena sekarang aku sedikit demi sedikit mengubah ceritanya, pasti akan ada sebuah efek kupu-kupu..."
Saat sedang berpikir keras sambil bersantai di belakang rumah, seseorang menggedor pntu gerbang kediaman Wei. Dari suara gedoran itu, jelas bukan dengan niat baik.
Dor! Dor! Dor!
Wei Ying bergegas untuk melihat siapa gerangan yang datang bertamu ke rumahnya, ia mengintip ke lubang kecil di pintu gerbang yang sengaja di buat untuk melihat dan memastikan siapa yang datang bertamu.
Seorang wanita kisaran 50 tahunan berdiri dengan berkacak pinggang, di sampingnya Wei Xang sedang tersenyum-senyum sendirian dengan liciknya.
"Hoooh, jadi kau memanggil seseorang untuk melawan ku?! Berani juga bocah ini!" geram Wei Ying.
Klek!
Pintu gerbang kemudian terbuka, Wei Ying memandang mereka dengan santai dan tersenyum kecil.
"Ada apa ya?" sapa Wei Ying to the point pada intinya tanpa basa-basi.
Wanita tua itu mengerutkan dahinya dan dengan emosi yang meledak, ia menunjuk-nunjuk muka Wei Ying.
"Dasar wanita tak tau diri! Kau mau meminta kembali uang yang sudah kau berikan pada adikmu?!" serunya sekoyong-koyong.
"Heh?! Gimana-gimana?!" tanya Wei Ying berpose seolah ia salah dengar.
Wei Xang yang melihat tingkah kakaknya yang begitu menjadi kesal, "Bibi! Kakak bilang dia membutuhkannya untuk membeli bahan pokok, tapi tanpa sepengetahuan kita dia menimbun sendiri makanan di rumahnya! Warga desa banyak yang bilang jika Kak Wei jarang terlihat keluar rumah, begitu juga dengan anak-anak itu." ujar Wei Xang.
Wanita yang di panggil bibi itu melotot, "Kau berani! Harusnya kau membagi makanannya dengan kami! Kau tau seberapa sulit sekarang mencari makanan, hujan tak turun sudah lama, kami gagal panen dan kau enak-enakan makan kenyang sendirian!" bentak Bibi itu.
Wei Ying seketika merasa ilfeel pada mereka, dengan alasan apa ia harus membagi makanan dengan orang asing yang tak ia kenal.
"Mohon maaf, bibi! Aku punya 3 anak yang harus di beri makan!" jawab Wei Ying singkat dan padat.
"Mereka bukan anak-anak mu! Sedangkan aku adalah Bibi dan dia adalah adik mu!" ujarnya seraya menunjuk Wei Xang.
"Minggir!" bentak Bibi itu sambil menerobos masuk ke kediaman Wei.
"Bibi!" seru Wei Ying mencoba menghalangi, tapi gagal.
Wanita tua itu sudah melenggang masuk saat tangannya di tahan oleh Wei Xang, Wei Ying menatap tajam adiknya sedangkan sang adik hanya tertawa kecil dengan penuh kemenangan.
.
.
"Wah! Apa ini!" seru Bibi itu seperti kesetanan melihat sayuran tumbuh di belakang kediaman Wei dengan subur.
"Ayam! Oh! Telur!" teriaknya lagi.
Ketiga kakak beradik yang keluar mendengar keributan dari wanita itu segera mendekat ke arah Wei Ying.
"Ibu..." panggil Lu Bao, matanya terlihat kesal tapi juga takut saat wanita yang mengaku bibinya itu mengambil sayur-sayur yang siap di panen dengan tak tau malunya.
"Wei Xang! Cepat ambil wadah!" teriak wanita itu.
Wei Xang dengan cepat mengambil keranjang dari anyaman bambu dan ikut memasukan sayur-sayur itu, tomat, cabai, wortel, kubis, bahkan telur ayam.
"Bibi! Sekalian ayamnya juga! Kita sudah lama tidak makan sup ayam!" seru Wei Xang.
"Jangan! Itu-" Lu Shu yang melihat ayamnya akan di ambil juga reflek berteriak.
Tapi bibi dan Wei Xang tak menghiraukannya dan tetap membawa ayam itu.
"Lu! Kali ini ku maafkan, karena kamu memberi kami ini.." ujar wanita itu sambil menunjuk keranjang yang sudah penuh. "Kami akan datang lagi jika sudah habis! Jangan serakah dan memakannya sendiri!" ujarnya.
Lalu Wanita itu pergi di ikuti oleh Wei Xang yang menjulurkan lidahnya seperti mengejek.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭