NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Di sisi lain, Celsi sempat berhenti melangkah saat melihat sosok itu. Batin kecilnya otomatis menyebut nama yang dulu begitu akrab. Nama yang pernah dia panggil setiap hari. Nama yang dulu pernah jadi tempatnya kembali.

Tapi hanya sebentar. Celsi langsung mengalihkan pandangan. Buat apa menyapa? Mereka sudah selesai.

Dan yang tersisa dari akhir itu bukan kenangan baik. Yang tertinggal justru luka yang pernah begitu dalam sampai Celsi butuh waktu lama untuk berdiri lagi.

"Kenapa Rangga di sini? Apa terjadi sesuatu? Tadi dia kelihatan cemas dan..." Celsi menggeleng "Buat apa juga perduli? Kami bahkan tak punya hubungan apapun," lanjutnya bergumam pelan.

Celsi kembali berjalan menuju ruang rawat mamanya Aska. Saat sampai di depan pintu, langkahnya melambat.

Dari kaca kecil di pintu, ia melihat Aska sedang duduk di samping ranjang. Tubuh pria itu sedikit membungkuk. Tangannya menggenggam tangan mamanya erat. Sesekali dia bicara pelan, sesekali hanya diam menatap wajah perempuan yang terbaring itu.

Wajah Aska yang biasanya santai dan banyak bercanda sekarang terlihat berbeda.

Cemas.

Khawatir.

Takut.

Celsi berdiri cukup lama. Tangannya sempat menyentuh gagang pintu. Tapi kemudian dilepas lagi. Tidak jadi masuk. Bukan karena ia tidak peduli. Justru karena peduli. Ia tidak ingin mengganggu.

Kalau tadi Aska panik sampai lupa kalau dia ikut, berarti keadaan memang membuat pikirannya kacau. Akhirnya Celsi memilih duduk di kursi lorong.

Waktu berjalan pelan.

Suara roda tempat tidur pasien terdengar sesekali. Perawat lewat. Pengunjung datang dan pergi. Dan entah kenapa pikirannya kembali ke sosok yang tadi sempat dilihat.

"Rangga. Kenapa dia di rumah sakit?"

Lalu Celsi mengingat lagi, "tadi dia berdiri di dekat bangsal anak. Apa terjadi sesuatu pada anaknya?"

Pikirannya langsung menghubungkan semuanya. Ia memang sempat mendengar kabar. Tentang anak Rangga yang lahir dengan kondisi tidak sempurna.

Celsi menunduk. "Apa kondisi anak itu memburuk?"

Jarinya saling menggenggam. Lalu muncul pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin dia pikirkan.

"Apa ini karma?"

Untuk semua yang dulu terjadi? Untuk luka yang dia dapat?

Celsi diam lama. Lalu pelan menggeleng. "Tidak."

Dia memang pernah menangis. Pernah marah. Pernah merasa hidup tidak adil. Tapi dia tidak pernah merutuk. Tidak pernah berharap hal buruk terjadi. Apalagi pada seorang bayi yang bahkan belum mengerti apa-apa.

Kalau memang itu anak Rangga yang sedang dirawat...

"Ya Allah... anak itu pasti baik-baik saja. Semoga dia diberi kesehatan. Semoga dia diberi hidup yang baik. Karena sebesar apa pun sakit yang pernah aku rasakan, seorang anak tidak pantas jadi tempat menerima akibat."

Celsi menghela napas. Lalu kembali melihat ke ruang rawat. Mamanya Aska sudah sadar. Dan Aska sedang bicara dengan beliau. Celsi memperhatikan sebentar. Ada sesuatu yang hangat di sana.

Cara Aska duduk dekat. Cara Aska tertawa sampai bahunya berguncang. Cara dia mendengarkan. Cara dia terus memastikan mamanya nyaman. Sepertinya mereka sangat dekat.

Celsi tersenyum kecil. Momen seperti itu tidak pantas diganggu. Akhirnya dia berdiri.

Tidak masuk.

Tidak pamit.

Dia berjalan keluar rumah sakit pelan.

Sementara itu, di dalam ruang rawat.

Ayu menatap anak laki-lakinya yang masih duduk di samping ranjang.

"Koko."

Aska menoleh.

"Hm?"

Ayu menghela napas.

"Umur kamu udah dua puluh delapan tahun, kan?"

Aska langsung tahu arah pembicaraan.

"Mama... Jangan lagi lah."

Ayu mengabaikannya. "Mama sekarang mulai sering sakit loh, Ka."

Aska langsung mengerut. "Ya terus kenapa? Mama akan terus hidup sampai tua nanti."

Ayu menatap lembut. "Mama cuma pengen lihat anak mama bahagia."

"Sekarang aku udah sangat bahagia, Ma," jawab Aska cepat. "Apalagi kalau lihat mama sehat terus. Tertawa kayak tadi."

"Mama pengen lihat calon istri kamu. kalau ada yang urusin kamu, Mama jadi tenang kalau pergi."

Aska langsung memalingkan wajah. "Aku nggak akan nikah."

Ayu melotot. "Kamu pikir nanti mama ada terus?"

"Ma..." suara Aska terdengar lelah.

Ayu menghela napas. "Mama enggak tenang kalau nanti enggak ada yang jagain kamu, Ka."

"Aku udah dewasa, Ma. Di rumah juga udah ada Mbak Sri."

"Itu beda, Ka."

"Sama aja, kan..."

Tiba-tiba di kepalanya justru muncul wajah seseorang. Seseorang yang tadi jalan muter toko sambil mikir serius pilih teko.

"Celsi!"

Aska langsung berdiri. Ia baru sadar wanita itu tak ada di sekitar. Padahal, jelas-jelas tadi ikut ke rumah sakit. Jelas-jelas ikut berlari di lorong, di belakangnya.

Ayu bingung. "Aska? Ada apa?" tanyanya.

"Ma! Aku keluar bentar," pamitnya seraya menunduk mencium kening mamanya.

"Mau ke mana?"

Aska berlari keluar, "Bentar aja, Ma!"

"Aska!"

Ia cepat mengambil ponsel. Suara mamanya yang memanggil tak begitu dia dengar.

"Aska!"

Ayu memanggil.

"Aska!"

Tapi Aska sudah keluar. Dia melihat lorong. Tak ada Celsi. Kursi tempat Celsi tadi duduk kosong. Aska langsung jalan cepat. Matanya terus mencari ke segala penjuru, namun Celsi tak menampakan batang hidungnya.

Dia telepon.

Tidak diangkat.

Kirim pesan.

Tidak dibalas.

Telepon lagi.

Kali ini tersambung. Begitu suara itu terdengar, Aska langsung bicara.

"Celsi! Kamu di mana?"

Suara Celsi terdengar tenang. "Di jalan, Koh."

Aska berhenti. "Jalan? Maksudnya?"

"Mmmm, aku pulang, Koh."

Aska langsung mengerut. "Kok pulang? Aku nyariin kamu loh. Udah panik banget kamu nggak ada."

Celsi tersenyum kecil di dalam taksi. "Koko lagi sama Mama."

Aska diam. Celsi melanjutkan. "Aku enggak mau ganggu."

Aska memejam mata. "Ya ampun. Kamu ini... Harusnya bilang dulu."

Celsi tertawa kecil. "Emangnya aku anak kecil?"

Aska tetap diam. "Celsi. Aku yang bawa kamu. Jadi seharusnya kamu bilang sama aku."

"Maaf, Ko."

Aska memijit pelipisnya, "Aku yang harusnya minta maaf. Maaf. Aku terlalu cemas sama Mama sampai lupain kamu."

Celsi tersenyum lagi. "Nggak papa, Ko. Aku paham kok."

"Tapi, enggak seharusnya juga aku sampai mengabaikan kamu."

"Enggak papa. Beneran. Aku sangat paham Koko lagi cemas banget sama Mama. Nitip salam buat beliau. Tadi, aku nggak enak mau ganggu." Celsi menjawab ringan.

"Jadi... Kamu enggak marah?"

"Ngapain juga aku marah? Tenang aja, Koh."

Hening sesaat. Sampai rasanya, Celsi jadi canggung.

"Ko, udah dulu ya. Nitip salam buat Mama."

Aska terdiam sebentar, "Kalau nitip salam, Mama bakal nanyain. Kamu siap buat ketemu mama aku?"

1
Ma Em
Semoga Celsi berjodoh dgn Aska dan bisa hamil agar tdk dihina terus sama keluarga Rangga juga sama Bu Weni .
Danie a: semoga ya kak😅
total 1 replies
Lyeend
buat apa lagi mau tunggu di sana Celsi. pergilah bawa diri dan move on
Sri Rahayu
apa itu palsu...sengaja suaminya buat agar punya alasan utk mencari pr lain 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Danie a: makasih kak. kaka masih ngikuti aja ya😭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!