NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Tatapan Semua Orang

Arkana masih berdiri sangat dekat di depan Kemuning di tengah kamar mansion Mahendra. Tatapan mata pria itu begitu gelap dan intens setelah berkata rendah, “Mulai malam ini... jangan pergi jauh dariku.”

Dan jantung Kemuning langsung berdetak kacau tidak karuan. Wajah Kemuning memanas seketika.

Tatapan Arkana terlalu tajam untuk ditahan lama-lama. Apalagi jarak mereka sekarang begitu dekat sampai Kemuning bisa merasakan hangat napas pria itu. Membuat suasana mendadak terasa terlalu intim meski banyak orang masih berada di sekitar mereka. Kemuning langsung salah tingkah dan menunduk malu.

Ia tidak mengerti kenapa Arkana terus mengatakan hal-hal yang membuat dirinya kehilangan kemampuan berpikir. Setiap kalimat pria itu terasa sederhana. Namun selalu berhasil membuat jantungnya kacau luar biasa.

Sementara Arkana diam-diam mulai sadar pada sesuatu yang mengganggunya sendiri. Malam ini terlalu banyak orang akan melihat Kemuning. Terlalu banyak pria mungkin memperhatikannya. Dan anehnya, Arkana benar-benar tidak nyaman memikirkan hal itu.

Tatapan pria itu kembali jatuh pada wajah Kemuning yang masih memerah malu. Gaun lembut pilihannya terlihat terlalu cocok pada gadis tersebut. Justru membuat kecantikan alami Kemuning semakin sulit diabaikan. Dan Arkana mulai membenci fakta bahwa orang lain juga akan melihatnya nanti.

Perjalanan menuju gala dinner berlangsung dalam suasana yang canggung tetapi penuh ketegangan aneh. Mobil mewah keluarga Mahendra melaju membelah lampu kota malam yang berkilauan. Sedangkan Kemuning duduk kaku sambil terus merapikan gaunnya gugup. Ia merasa tidak pantas berada di mobil semahal ini.

Di sampingnya, Arkana duduk diam dengan aura dingin khasnya. Namun sesekali tatapan pria itu diam-diam mengarah pada Kemuning. Cara gadis itu terus memainkan jemarinya karena gugup terasa terlalu mengganggu perhatian Arkana. Dan pria itu mulai sadar dirinya terus memperhatikan Kemuning tanpa sadar.

Kemuning berusaha duduk setenang mungkin.

Namun heels yang dipakainya membuat tubuhnya tidak nyaman sejak tadi. Ditambah gaun elegan yang terasa terlalu mahal untuk dirinya. Semua itu membuat Kemuning makin tidak percaya diri.

Tiba-tiba mobil berhenti mendadak di lampu merah.

Tubuh Kemuning langsung sedikit oleng ke samping karena tidak siap. Dan dalam hitungan detik, tangan Arkana refleks menahan pinggangnya cepat. Sentuhan hangat itu langsung membuat napas Kemuning tersendat. Jemari besar Arkana menempel tepat di pinggang kecil Kemuning beberapa detik terlalu lama. Tubuh mereka jadi sangat dekat di kursi belakang mobil yang sunyi. Sedangkan Kemuning langsung menegang malu setengah mati. Jantungnya hampir melompat keluar sekarang.

Arkana sendiri sedikit terlambat menarik tangannya kembali. Pria itu sempat membeku sesaat saat merasakan tubuh Kemuning di bawah sentuhannya.

Hangat dan terlalu kecil di dekat dirinya. Dan hal itu justru membuat Arkana kesal pada dirinya sendiri.

“Duduk yang benar.” Suara Arkana terdengar rendah dan datar untuk menutupi kegugupannya sendiri.

Namun Kemuning justru makin salah tingkah mendengarnya.

Ia buru-buru mengangguk kecil sambil memegang ujung gaunnya erat. Tak lama kemudian, mobil akhirnya tiba di hotel tempat gala dinner berlangsung. Kemuning langsung terpaku melihat gedung mewah yang berdiri megah di depan matanya. Lampu kristal menyala terang dari dalam ballroom besar. Dan suasana elite itu membuat dirinya langsung merasa sangat kecil.

Begitu pintu mobil dibuka, kilatan kamera langsung memenuhi area depan hotel. Media sibuk memotret tamu-tamu penting yang berdatangan. Para wanita tampil elegan dengan gaun mahal dan perhiasan berkilauan. Sedangkan Kemuning merasa dirinya salah masuk ke dunia orang lain.

Kemuning refleks menunduk gugup saat turun dari mobil. Ia takut semua orang menatap dirinya aneh.

Takut mereka sadar bahwa dirinya hanyalah gadis desa yang bahkan tidak terbiasa memakai heels.

Dan rasa minder mulai memenuhi dadanya lagi.

Namun Arkana tetap berdiri di samping Kemuning sepanjang waktu. Pria itu berjalan sedikit lebih lambat agar Kemuning tidak tertinggal. Sesekali tangannya menyentuh punggung gadis itu pelan untuk menuntunnya masuk ke ballroom. Gerakan kecil tersebut terlihat sangat intimate di mata orang lain.

Di dalam ballroom, suasana terasa jauh lebih mewah dan menekan. Lampu gantung kristal memenuhi langit-langit ruangan besar tersebut. Para pebisnis elit dan sosialita berkumpul sambil membawa gelas wine mahal. Dan Kemuning langsung merasa semakin tidak pantas berada di sana.

Sementara itu, Selvina Adriani yang sedang berbicara dengan beberapa tamu langsung membeku. Tatapannya jatuh pada Arkana yang baru masuk bersama Kemuning. Dan dada wanita itu langsung menegang melihat pemandangan tersebut. Karena Arkana terlihat terlalu berbeda malam ini. Pria itu terlalu perhatian pada Kemuning. Terlalu protektif.

Dan cara Arkana menatap gadis desa itu membuat Selvina perlahan sadar akan sesuatu. Ancaman yang selama ini ia abaikan ternyata nyata.

Bisikan mulai terdengar pelan di berbagai sudut ballroom.

“Siapa gadis itu?”

“Arkana Mahendra datang bersama perempuan?”

“Dia bahkan belum pernah sedekat itu dengan Selvina.”

Kemuning mulai mendengar beberapa bisikan tersebut samar-samar. Dadanya langsung kembali terasa sesak. Ia sadar semua mata sedang memperhatikannya sekarang. Dan itu membuat langkahnya semakin gugup.

Arkana langsung menyadari perubahan ekspresi Kemuning. Tatapan gadis itu mulai gelisah dan menunduk lagi. Tanpa banyak bicara, Arkana perlahan menggenggam tangan Kemuning di depan semua orang. Dan tubuh Kemuning langsung membeku. Jemari besar Arkana menyelip erat di tangan kecil Kemuning. Sentuhan hangat itu terasa begitu nyata di tengah ballroom penuh orang.

Untuk sesaat, seluruh dunia seperti berhenti bagi Kemuning. Karena Arkana sedang menggenggam tangannya di depan publik.

“Fokus padaku.” Suara Arkana terdengar rendah di dekat telinga Kemuning. “Bukan mereka.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat dada Kemuning bergetar hebat.

Perlahan, Kemuning mulai sedikit tenang. Karena setiap kali dirinya panik, Arkana selalu ada di sisinya.

Dan entah sejak kapan, keberadaan pria itu mulai terasa seperti tempat paling aman baginya. Meski semua ini terasa begitu berbahaya.

Namun dari kejauhan, Ratih mulai memperhatikan mereka serius. Selvina juga makin sulit menyembunyikan kecemburuan di wajahnya. Bahkan beberapa pria muda mulai melirik Kemuning penasaran karena Arkana terlihat terlalu possessive padanya. Dan itu justru membuat Arkana semakin waspada.

Beberapa saat kemudian, seorang partner bisnis muda sengaja mendekati Kemuning. Pria itu tersenyum ramah sambil memperkenalkan diri dengan percaya diri. Tatapannya terlalu lama tertahan di wajah Kemuning. Dan Arkana langsung melihat semuanya dari kejauhan.

“Anda cantik sekali malam ini.” Pria itu berkata sambil tersenyum ringan pada Kemuning.

Kemuning langsung gugup karena tidak terbiasa dipuji seperti itu. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Namun di sisi lain ballroom, rahang Arkana langsung menegang pelan. Tatapannya berubah jauh lebih dingin sekarang. Pria itu mulai membenci cara laki-laki lain memandang Kemuning.

Dan perasaan itu semakin sulit dikendalikan.

Tanpa membuang waktu, Arkana langsung berjalan mendekat. Aura dingin pria itu langsung membuat suasana berubah tegang. Lalu Arkana berdiri sangat dekat di samping Kemuning sebelum berkata datar,

“Permisi. Dia bersamaku.” Kalimat itu terdengar seperti klaim terselubung. Dan pria tadi langsung mundur perlahan karena aura Arkana terlalu menekan.

Kemuning langsung salah tingkah luar biasa. Karena cara Arkana melindunginya terasa terlalu intim. Kemuning bahkan bisa merasakan bahu Arkana hampir menyentuh tubuhnya sekarang. Pria itu berdiri terlalu dekat seolah tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk mendekatinya lagi. Dan anehnya, Kemuning justru merasa aman karenanya. Meski jantungnya terus berdetak kacau.

Malam semakin berjalan, tetapi tatapan orang-orang pada mereka tidak berhenti. Arkana dan Kemuning perlahan menjadi pusat perhatian ballroom tanpa sadar. Dan hal itu membuat Ratih serta Selvina semakin tidak nyaman. Karena kedekatan mereka terlihat terlalu jelas sekarang.

Di tengah keramaian acara, Arkana tiba-tiba memperhatikan sesuatu di wajah Kemuning.

Ada sedikit noda minuman di sudut bibir gadis tersebut.

Kemuning sendiri tidak menyadarinya sama sekali.

Namun Arkana justru langsung terpaku beberapa detik. Tanpa berpikir panjang, pria itu mengangkat tangannya perlahan. Lalu ibu jarinya menyentuh sudut bibir Kemuning dengan gerakan lembut.

Sentuhan kecil itu langsung membuat tubuh

Kemuning membeku total. Napasnya bahkan berhenti sesaat. Tatapan Arkana terlalu dekat sekarang. Ibu jari pria itu masih berada di dekat bibir Kemuning beberapa detik terlalu lama. Sedangkan wajah Kemuning langsung merah sampai telinga. Karena sentuhan itu terasa jauh lebih intim dibanding seharusnya. Dan masalahnya, semua itu terjadi di depan banyak orang.

Beberapa tamu mulai memperhatikan mereka lebih jelas sekarang. Bisikan-bisikan kembali terdengar di sekitar ballroom. Namun Arkana sama sekali tidak peduli. Pria itu tetap menatap Kemuning beberapa detik setelah menyentuh bibir gadis tersebut. Tatapannya gelap dan penuh sesuatu yang mulai sulit disembunyikan.

Kemuning hanya bisa berdiri diam dengan jantung kacau luar biasa. Sampai suara rendah Arkana akhirnya terdengar pelan di depan wajahnya.

“Jangan membuatku terus kehilangan fokus malam ini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!