NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 14

Erlando menelan ludah, ada sorot berbeda dari netra legamnya. Bukan karena kesal, bukan juga sorot tenang, tatapan matanya begitu sulit ditebak.

Ia tak segera menjawab, mengalihkan pembicaraan.

“Udahlah, biar gue aja yang kompres sendiri,” ujarnya, tangan terulur, meminta Alyra menyerahkan handuk kecil.

Perempuan itu tak mengindahkan permintaan sang suami, tangannya tetap sibuk mengompres dengan lembut.

“Aku kan udah bilang, biar aku bantu malam ini. Kamu jadi kayak gini juga gara-gara aku,” sahut Alyra tanpa menatap mata suaminya.

Erlan hanya membuang napas pelan, baru beberapa hari hidup berdampingan, dirinya dapat memahami, bahwa istrinya adalah sosok yang cukup keras kepala.

“Percuma ngomong juga,” lirihnya.

“Apa?” Samar-samar Alyra mendengar suara Erlan yang bocor.

“Bukan apa-apa,” sahutnya sambil menggelengkan kepala. “By the way … gue boleh tanya sesuatu?”

Ia memandang lekat sosok wanita yang masih tertunduk, enggan menatapnya.

“Apa?” Alyra menyahut, namun fokusnya masih pada lengan Erlan yang cukup memerah, nyaris melepuh.

Erlando mengedipkan mata, menyorot dengan tatapan ragu.

“Kamu mau tanya apa?” Kini Alyra mendongak, setelah beberapa detik si pria menjeda, tak kunjung melontarkan tanya.

“Udah, deh. Lupain aja.” Erlan membuang muka. Menarik lengan yang digenggam Alyra, ia bangkit dari duduknya.

Alyra masih dalam posisi kaki tertekuk, menatap bingung, mencoba membaca situasi.

‘Ada apa dengannya? Kenapa kelihatan gugup, gelisah … dia lagi mikirin sesuatu?’ Matanya memicing.

“Malam ini gue tidur di ranjang, dan Lo ….” Erlan menodong telunjuk ke arah bed mini di dekat jendela kaca. “Lo tidur di sana.”

Alyra menoleh, mengikuti arah telunjuk sang suami, seketika keningnya mengernyit. “Di sana? Di ranjang sekecil itu?”

Ia melangkah mendekat, menatap tak terima, rahangnya mengetat.

Ia duduk pada ranjang kecil yang dimaksud, mengukur dengan jengkal, sama sekali tak cocok digunakan oleh wanita hamil.

“Yang bener aja, perempuan hamil disuruh tidur di sini. Gerak dikit aja pasti jatuh ke lantai.”

“Kalau nggak mau ya udah, tidur di lantai,” sahut Erlan dengan nada santai. Dirinya sudah berbaring di atas ranjang berbalut selimut tebal.

Alyra menatap kesal. Keduanya memang tak ada kecocokan, seperti kucing dan tikus yang terus bertengkar. Semenit akur, di menit berikutnya sudah kembali ke setelan awal.

“Waktu di rumah papa Abi … gue udah mengalah, tidur di lantai cuma beralas kasur palembang yang tipis,” kata Erlan, mengubah posisi sedikit miring, menatap mengejek pada sang istri. “Sekarang … gue yang berkuasa di kamar ini.”

Ia kemudian menyeringai, memasang ekspresi puas saat si wanita kehabisan kata, tak bisa membantah.

.

.

.

Keesokan harinya.

“Gimana perkembangan proyek baru kita?” Erlan berjalan dengan tegas, namun langkah kaki jenjangnya tetap terukur.

Tangan terulur, meraih segelas kopi espresso yang diberi oleh sang asisten.

“Semua berjalan dengan lancar, Tuan.” Andi mengikuti langkah sang tuan tak kalah tegas.

“Apa sudah ada laporan mengenai proyek film mendatang?” tanyanya lagi tanpa menoleh.

“Belum, Tuan. Saya akan memastikan kembali kepada tim kreatif,” sahut Andi dengan nada tenang.

“Baiklah. Pastikan semua tetap terkendali. Dan pastikan juga, untuk proyek mendatang kita harus mendapat naskah yang ditulis oleh istriku.”

“I-iya, Tuan?” Alis Andi terangkat tinggi.

Langkah kaki tegas itu seketika terhenti, sang asisten ikut berhenti berjarak dua langkah dari sang tuan.

Erlan menepuk pelan mulutnya, mata terpejam, rautnya wajahnya terlihat tak tenang, baru saja dirinya keceplosan.

Perlahan ia menoleh ke samping.

“Maksudku … penulis Alyra.” Ia menelan ludah. “Pastikan kita mendapat naskah darinya untuk proyek mendatang.”

Ia kembali melangkah terburu-buru sampai akhirnya tiba di depan ruang kerja, tangan menurunkan daun pintu hingga terbuka celah untuk dirinya masuk.

Brak!

Ia tutup dengan keras pintu ruangan, membuat Andi tersentak, lalu urung untuk menyusul masuk.

“Dia … tak memintaku ikut masuk, ‘kan?” Andi tampak terheran sekaligus bingung.

Sementara di balik pintu, tepatnya di dalam ruangan sang Produser Executive. Erlan masih berdiri tegang, kemudian mundur, bersandar pada pintu ruangan.

Tangan menekan bagian dada, mulutnya menganga.

“Gue bilang apa tadi? Istri? G-gue bilang istri?” Ia tak percaya pada ucapannya sendiri.

“Wah … Lo pasti udah gila, Erlan!” Ia tepuk pipinya sendiri. “Sadar! Sadar!”

Ia lalu melangkah mendekati meja, menjatuhkan diri pada kursi empuk beroda.

.

.

.

Di sebuah cafe yang tak jauh dari gedung Pradana Group. Alyra duduk seraya menatap laptop, segelas jus buah segar dan seporsi waffle telah tersedia di atas meja.

Sesekali ekor mata melirik ke arah luar, seolah sedang menanti seseorang.

“Al!” Suara nyaring itu terdengar dari pintu masuk cafe.

“Sebelah sini,” sahut Alyra, sorot matanya penuh rindu.

Ia bangkit dari kursi, menyambut dengan pelukan hangat, begitu erat pada sosok perempuan berpenampilan sederhana, kemeja flanel yang baris kancingnya dibiarkan terbuka, kaos ketat berwarna hitam sebagai penutup dalam, sementara bagian bawah mengenakan celana jeans pendek.

“Lo apa kabar? Nenek udah sehat?” tanyanya beruntun pada sang sahabat.

Sudah seminggu lebih dirinya tak bersua dengan Annika.

“Iya, udah sehat. Kemarin udah boleh keluar dari rumah sakit,” sahut Annika, lalu melerai dekapan rindu pada sahabat satu-satunya yang ia punya.

“Sorry, ya. Gue jadi nggak bisa dateng ke acara nikahan, Lo.” Annika meminta maaf dengan tulus. Namun pancaran matanya berbeda, tak ada sorot sesal, ia menatap kesal. “Selain kabar nenek yang sakit ... undangan dadakan dari Lo juga bikin gue hampir sakit jantung!” rutuknya sinis.

“Sorry, An. Gue juga nggak nyangka juga bakal menikah sebegitu cepatnya. Rasanya … gue juga masih kayak mimpi.”

Alyra akhirnya duduk, tak menunjukan raut wajah sehangat tadi, pancaran matanya meredup.

“Jadi … kapan Lo mau ceritain kronologinya ke gue?” Kini Annika duduk di kursi, berhadapan dengan Alyra.

Sepekan lalu Annika mendapat kabar bahwa sang nenek yang tinggal di desa mendadak kambuh sakitnya, mengidap sesak napas dan kolesterol tinggi.

Baru berapa hari cuti dari kantor, ia pun kembali dikejutkan dengan kabar pernikahan mendadak sahabatnya. Terlebih, sang mempelai pria adalah seseorang yang dikenalnya.

Annika pernah bertemu Erlan saat sama-sama mendatangi sebuah event — yang diadakan perusahaannya.

“Lo beneran nikah sama Pak Erlando?”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!