Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 kepopuleran
"Bocah sombong sialan" Teriak bara terpancing.
"Berisik sekali, seekor anjing memang sangat suka Mengongong" Gumam voltra masih fokus pada sinetron yang tayang di layar handphonenya.
Begitu mudah voltra menghindar dari pukulan yang dilapisi oleh api, tidak hanya sekali ia menghindar setiap kali bara menyerang sambil masih fokus pada layar handphonenya. Voltra menedang perut bara membuat pria itu terlempar kebelakang sambil meringis kesakitan.
"Matilah. explosion" ucap bara melemparkan mana yang meledak.
Voltra hanya fokus menonton sinetronnya, menghindar serangan itu hanya membuat ledakan di belakangnya dan sesekali voltra menepis menggunakan tangan kirinya yang tidak terpakai. Bara melesat muncul di samping kanan voltra.
Namun voltra bergerak cepat memutar tubuhnya melancarkan tendangan keras, tubuh bara kembali terlempar kali ini sambil memuntahkan darah segar, namun ia berusaha untuk mendarat sempurna. Voltra berjalan maju sambil melancarkan tendangan bertubi-tubi.
"Kurasa kau tidak ada niatan memisahkan mereka" ucap Alina menatap Raven yang malah membuka snack keripik kentang.
"Pertandingannya berat sebelah" Gumam Raven santai sambil menyodorkan snacknya. "Kau mau?" Lanjutnya menawarkan.
"Ya" Balas Alina mengambil satu dan memakannya.
"Bajingan sialan ini, bagaiamana bisa dia mempermainkan ku" batin bara kesal.
Pukulan uppercut tangan kiri membuat bara terlempar sangat jauh, beberapa giginya langsung lepas ke udara, kesadarannya hilang seketika. Saat voltra akan berjalan ke arah bara, namun Alina memegang tangannya.
"Asosiasi melarang untuk hunter saling membunuh" ucap Alina memberitahu dan memperingati.
"Terserah" Balas voltra sibuk dengan sinetronnya.
"Serahkan saja orang itu pada guild nya. Kita masih harus mengadakan acara penghormatan pada mayat-mayat ini, mau bagaimanapun mereka adalah manusia" ujar Alina memandang banyak mayat yang sedang tersisa. "Dan kalian berdua ikut" Lanjutnya pada keduanya.
"Hah? Kenapa juga aku harus ikut" Protes voltra.
"Yah itu acara membosankan" timpal Raven.
***************
Di acara penghormatan. Voltra melihat banyak sekali orang datang, entah dari keluarga korban ataupun dari masyarakat yang juga bersimpati. Ia memegang sebuah mawar putih sebagai simbol duka dan meletakkan sebagai simbol penghormatan.
"Pssst..." Panggil voltra..
"Apa?" Tanya Alina berdiri di sampingnya.
"Bukankah aku diresmikan menjadi hunter S rank hari ini" ujar voltra mengingat.
"Ya. Itu sudah diberitakan di media sosial dan video mu di penaklukan gate tadi di tunjukkan, meskipun menghilangkan bagian terakhir itu" Jawab Alina bergumam.
Voltra menatap ribuan orang yang memenuhi aula besar itu. Di layar-layar besar di sudut ruangan, potongan video saat ia menukik tajam ke pusat Great Heart diputar berulang-ulang dengan narasi yang mendramatisir. Media menyebutnya sebagai "Harapan Baru" dan "Sang Penghancur Labirin".
"Aku benci keramaian yang berisik seperti ini" gumam Voltra sambil menyesuaikan kerah kemeja hitam yang dipaksakan Vanya untuk ia pakai tadi pagi. "Kenapa mereka menangisi mereka yang sudah pergi? Di duniaku, yang mati hanya akan menjadi debu untuk memperkuat yang hidup" Lanjutnya.
"Itu karena manusia memiliki sesuatu yang disebut empati, Voltra," bisik Alina tanpa menoleh, wajahnya tampak anggun sekaligus berduka di balik gaun hitamnya. "Bagi mereka, orang-orang di dalam peti itu adalah ayah, anak, atau teman. Tidak semua orang memiliki hati sekeras obsidian sepertimu" Lanjutnya.
"Memangnya kau bukan manusia apa?" Batin Alina ingin sekali bertanya seperti itu.
Voltra terdiam. Ia teringat Vanya yang menangis sesenggukan semalam saat melihat berita tentang para Hunter yang terinfeksi di Kalimantan. Rasa sesak di dada manusianya kembali muncul. sesuatu yang sangat asing bagi seorang Raja Naga yang pernah memusnahkan satu galaksi hanya karena bosan.
"Ngomong-ngomong, Voltra" ujar Raven tiba-tiba muncul di sisi lain, mengenakan jubah formal yang terlihat terlalu mahal. "Kau tahu tidak? Status Rank S-mu sudah resmi aktif sepuluh menit yang lalu. Dan coba tebak? Kau sudah mendapatkan julukan dari para netizen" Lanjutnya.
"Julukan? Sesuatu yang agung seperti 'Penguasa Akhir Zaman'?" Tanya voltra antusias.
Raven menahan tawa, menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan kolom komentar media sosial yang sedang meledak.
"Bukan. Mereka memanggilmu 'The S-Rank Sinetron' karena kau tertangkap kamera sedang menonton drama" jawab Raven tertawa kecil.
"Apa?! Beraninya manusia-manusia fana itu!" geram voltra karena tidak sesuai ekspektasinya.
"Tenanglah, setidaknya kau populer" ledek Alina dengan senyum tipis. "Oh, dan Ketua Asosiasi menunggumu di ruang VIP setelah ini. Sepertinya soal pajak yang kau minta... dia punya penawaran menarik, asalkan kau mau menjadi 'ikon' keamanan nasional" Lanjutnya memberitahu.
"Aku menolak" balas voltra. "Aku tidak suka kepopuleran, itu sangat merepotkan" Lanjutnya mengeluh.
Forum internet Indonesia benar-benar terguncang. Tagar #Voltra dan #SRankSinetron menjadi trending topic nomor satu selama 24 jam penuh. Video amatir dan rekaman resmi dari Asosiasi Hunter diputar miliaran kali, menampilkan sosok remaja kurus yang bergerak layaknya bayangan di tengah hutan Kalimantan yang mematikan.
"Gila! Kalian lihat tidak di menit 02:15? Dia menghancurkan Great Heart cuma pakai satu tendangan sambil tangannya pegang HP?! Gue yang Rank C lawan goblin aja harus keringat dingin!"
"Woi, itu dia beneran lagi nonton 'Cinta Terlarang di Balik Gate' kan? Gila sih, fokusnya nggak masuk akal. Fix, ini Hunter paling santai tapi paling ngeri yang pernah ada."
"Kenapa videonya kepotong pas Hunter Bara dateng ya? Ada yang ngerasa aneh nggak? Gue sempet denger kabar kalau ada helikopter tanpa logo mendarat di sana. Apa jangan-jangan ada konflik internal?"
"Gue salfok pas dia minjam HP Nona Alina. Tatapan Nona Alina ke dia beda banget, kayak lagi ngelihat anak kecil bandel tapi sayang. Apa ini kapal baru kita? #Altra #Volina?"
Voltra duduk di sofa kulit yang sangat empuk di apartemen penthouse barunya fasilitas dari Asosiasi. Vanya sedang sibuk menata barang-barang mereka di kamar sebelah, sesekali berteriak karena kagum dengan kemewahan tempat itu.
"Ini baru namanya tempat tinggal yang layak bagi sang Raja" gumam Voltra, kakinya diangkat ke atas meja kaca yang mahal.
Ia sedang membaca komentar-komentar di tablet barunya. Dahinya berkerut saat membaca komentar tentang "kapal" atau hubungan asmaranya dengan Alina.
"Manusia-manusia ini punya imajinasi yang terlalu liar. Mana mungkin seekor Naga agung bersanding dengan manusia es yang hobi menyikut rusuk orang," gerutu Voltra.
Tiba-tiba, pintu apartemennya digedor dengan keras. Tanpa menunggu jawaban, pintu itu terbuka (karena Voltra lupa menguncinya). Alina berdiri di sana dengan wajah merah padam, memegang sebuah surat kabar.
"VOLTRA! Apa-apaan maksud wawancara Raven tadi pagi?!" teriak Alina.
"Memangnya dia bilang apa?" Tanya voltra menoleh malas.
"Dia bilang, dia bilang. Intinya dia mengatakan mendukung kita ke hubungan lebih dekat, aku merinding karena itu" ucap Alina meskipun sedikit ada rona merah. "Jangan membuat skandal yang tidak-tidak" Lanjutnya.
"Kenapa kau yang malah memarahiku" Kesal voltra.
"Kak bagaiamana cara menggunakan mesin cucinya, ini berbahasa Mandarin" ucap vanya keluar dari kamar.
"Kebetulan ada naga betina disini yang bisa berbahasa alien" Gumam voltra menunjuk.
"Kau pikir aku asisten pribadi mu" Kesal Alina. "dimana mesin cuci itu" lanjutnya berjalan ke arah vanya.