Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Profesional
"VIVI!"
Teriakan Althan yang langsung menggelegar ke seluruh ruangan membuat Vivi langsung terlonjak kaget. Kuas make-up yang semula ia pegang terjatuh begitu saja.
"Astaga! Ke-Kenapa? Ada apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Vivi, Althan langsung menarik tangan wanita itu untuk menjauh dari pria yang sedang diriasnya.
"Lagi ngapain kamu?!" bentak Althan dengan mata menyala marah.
"Lah, saya lagi ngerias Pak, emangnya ngapain lagi?" Vivi jadi kebingungan sendiri.
"Kalau lagi ngerias ngapain posisinya begitu?!"
Memang, saat Althan masuk ke dalam ruangan itu tadi, ia dibuat shock dengan posisi duduk Vivi yang berada di antara kedua paha Zein, menghadap ke perut kotak kotak pria itu yang terbuka.
"Siapapun yang melihat juga pasti tau kalau kalian sedang berbuat yang tidak tidak!"
"Hah? berbuat yang tidak tidak apa, sih?" Saking bingungnya, Vivi sampai garuk garuk kepala. "Orang saya lagi kasih kontur ke perutnya Pak Zein supaya kelihatan lebih berotot!"
"Hah?"
"Bagaimana? Sudah? Kalau gitu.. loh, kok Althan ada di sini? Ngapain?"
Althan, Vivi, Roni dan Zein langsung menatap ke sumber suara yang ternyata adalah Pak Sutradara.
Setelah penjelasan singkat, barulah Althan tau kalau scene Zein berikutnya adalah memang mengharuskan pria itu untuk menunjukkan otot perut, sehingga Pak Sutradara meminta Vivi untuk membuat seolah-olah ototnya benar-benar bagus dan sempurna.
"Kalau mau otot bagus ya olahraga, bukan dikontur!" begitu komentar Althan yang sudah kepalang malu.
Meski demikian, akhirnya Vivi tetap melanjutkan pekerjaannya, tetapi kali ini dengan diawasi oleh Althan.
"Than, kita nggak mau pulang duluan aja? Kamu katanya tadi capek," tanya Roni.
"Nggak, aku mau disini aja bang," jawab Althan dengan tatapan lurus ke arah Vivi dan Zein. Roni hanya bisa menghela napas panjang sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu jago ya," ujar Zein di tengah tengah proses merias. "Otot perutku jadi beneran kelihatan bagus loh setelah dirias kamu,"
"Ah, tidak juga kok Pak," jawab Vivi, masih sambil merias. "Kalau dibandingkan sama senior senior saya di salon, kemampuan saya mah bukan apa apa,"
"Oh ya? Wah, aku jadi penasaran deh sama salon tempat kamu kerja. Kapan kapan boleh aku ke sana?"
"Boleh dong Pak, nanti saya kirimkan alamatnya ke bapak,"
"Eh, jangan panggil bapak dong. Usiaku nggak setua itu tau. Aku liat liat kayanya usia kamu juga nggak jauh dari aku. Panggil aku Zein aja, nama kamu siapa?"
"Saya..."
"Ehem!" dari tempat duduknya, Althan berdehem dengan suara yang sengaja dibuat keras. "Vivi, setelah ini kamu masih harus ikut saya. Jangan kebanyakan ngobrol,"
Vivi hanya melirik ke arah Althan dengan tatapan malas. Kenapa sih cowok ini? Kenapa repot banget? Bukannya tadi dia yang minta aku buat izin ke dia? Dia kan sudah ngasih izin, kenapa pula masih sampai ngawasin segala?
Zein yang melihat gelagat aneh itu langsung menatap Vivi. "Nama kamu Vivi? Kamu.. sudah kenal lama sama Althan?" bisiknya.
"Hah? Nggak, saya belum lama kerja sama Pak Althan. Jadi saya belum terlalu kenal sama beliau,"
Zein kembali melirik ke arah Althan yang masih menatap garang ke arah mereka. Tatapannya itu sungguh aneh.
"Kalau nggak kenal, kenapa dia kelihatan overprotective gitu sama kamu?"
"Yah, saya juga nggak tau Pak. Menurut saya, kelakuan Pak Althan itu memang agak aneh,"
Zein tertawa kecil. "Iya sih, bener juga,"
Melihat kedua orang itu saling berbisik dengan tertawa tawa, membuat alis Althan langsung bertaut. Astaga, mereka bisik bisik apa sih? Apa jangan jangan Zein brengsek itu menggoda Vivi?
Diam diam Zein kembali memperhatikan reaksi Althan. Melihat Althan yang sepertinya terprovokasi oleh perbuatannya membuat Zein merasa penuh adrenalin. Bagaimana tidak? dia sudah beberapa kali berada dalam proyek yang sama dengan Althan, tapi pria itu selalu bersikap acuh tak acuh padanya. Tapi, hanya karena Zein mengajak obrol personal stylish Althan, pria itu langsung keblingsatan.
Apa aku coba lagi saja, ya? pikiran nakal Zein menggodanya.
"Vivi," panggilnya kemudian. "Tolong benerin riasan wajahku dong,"
"Oh, yang sebelah mana?"
"Sini, sini," Zein dengan sengaja menarik tangan Vivi agar mendekat padanya. Vivi yang tidak tau apa apa dengan rencana pria itu hanya menurut.
"ini, riasan mataku kayanya ada yang kurang," Zein mencoba memberi alasan.
Vivi langsung memperhatikan bagian yang ditunjuk Zein. Karena terlalu fokus, ia sampai tak sadar kalau Zein sengaja mendekatkan wajah sehingga jarak hidung mereka hanya beberapa senti. Zein yang baru kali ini melihat wajah Vivi dar jarak yang begitu dekat langsung tersenyum.
Cantik juga ternyata.
Pria itu dengan sengaja membuat posisi seolah mereka berdua hendak berciuman, tentunya, sembari melirik ke arah Althan.
Gotcha! Kena kau, Althan! batinnya saat melihat Althan sudah berdiri dari duduknya dengan wajah emosi. Saat althan hendak berjalan ke arah mereka, seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Zein, sudah belum? Kata Pak Sutradara kita sudah harus cepetan take sebelum matahari terbenam," ternyata yang masuk adalah seorang kru.
"Oh, sudah kok mbak," jawab Vivi cepat.
Zein memundurkan wajahnya dari Vivi, ekpresinya terlihat kecewa. Yah, padahal tinggal sedikit lagi.
"Oke, kalau gitu. Yuk, Zein, siap siap,"
"Oke," Zein tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata. Sang kru langsung tersenyum malu malu, membuat Althan yang melihatnya merasa jijik.
Dasar buaya cap kadal!
"Makasih ya Vivi," Zein berdiri dari duduknya dan mematut dirinya sendiri di depan cermin. "Wah, kalau penampilan asliku begini, kayanya aku bisa deh mengalahkan ketampanan seorang Althan Alaric," ucapnya sambil menoleh ke arah Althan. "Ya nggak, senior?"
"Terserah," Althan menjawab dengan malas, lalu ia berjalan ke arah Vivi yang sedang membereskan alat make up. "Ayo kita pulang,"
"Hm? Eng, bapak pulang duluan saja, saya nanti bisa pulang sendiri naik taksi," jawab Vivi.
Althan menghela napas panjang. "Pulang, kataku, Vivi,"
"Tapi kan, pekerjaan saya belum selesai Pak, gimana kalau nanti..."
"Ah, bodo amat lah," Tanpa mempedulikan ucapan Vivi, Althan langsung menarik tangan wanita itu untuk keluar dari ruangan.
"Astaga Pak, pelan pelan, ini tas makeup saya belum ketutup semua, ntar kalau tumpah, gimana?"
"Saya ganti Vivi, dua kali lipat,"
"Hah?"
Zein terus memperhatikan kepergian dua orang itu yang diikuti oleh Roni.
"Benar benar menarik," gumam Zein. "Sebenarnya, apa hubungan kedua orang itu?"
Sementara itu, Althan terus menarik tangan Vivi sampai ke gedung yang menyediakan kereta gantung. Tanpa berkata apa apa, Althan langsung menarik Vivi untuk duduk di salah satu kereta gantung bersamanya.
"Berangkat," kata Althan pada seorang petugas.
"Hah? loh, bentar, Mas Roni gimana?" Vivi kebingungan.
"Dia naik yang berikutnya," jawab Althan.
Kereta pun berangkat. Vivi hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap Althan dengan heran.
"Anda sebenarnya kenapa sih, Pak? Bukannya saya udah izin sama bapak buat ngerias artis lain? Kenapa bapak masih terus saja mengganggu saya?"
"Mengganggu?" Althan menatap tajam ke arah wanita yang duduk di depannya itu. "Saya tadi itu melindungi kamu, Vivi. Kamu nggak tau aja seperti apa reputasi si brengsek itu di kalangan artis. Dia itu playboy cap badak! Harus dijauhi! Terutama oleh wanita seperti kamu!"
Vivi mendesah, "Astaga Pak, cuma karena itu? Mohon maaf Pak, saya ini profesional! Saya tau kok bagaimana membedakan urusan pribadi dan pekerjaan! Lagian, tadi saya juga cuma mengobrol saja, nggak lebih!"
"Ya kamu bisa profesional, dianya bagaimana? Kamu nggak kasian apa sama pacar kamu?!"
"Hah? kenapa tiba tiba bawa bawa pacar?"
"Ya kamu kan memang begitu! Sukanya membuang hal hal lama untuk diganti dengan yang baru! Kamu dulu pernah meninggalkan aku, bisa jadi sekarang kamu meninggalkan pacar kamu itu sama si Zein!"
Ucapan Althan itu membuat Vivi terdiam sejenak. "Kamu bahas bahas masalah itu lagi? Oke, mohon maaf Althan, aku udah muak," Vivi kembali menghela napas panjang.
"Althan, jujur sama aku sekarang. Kamu sengaja memperkerjakan aku, memperlakukan aku dengan jahat, itu demi membalaskan dendam masa lalu kan?"
Althan terdiam.
"Kamu diem, berarti kamu mengakui. Tadi, kamu bahas bahas masalah profesionalitas. Justru menurut aku, kamu yang nggak profesional sekarang,"
Vivi menghela napas panjang.
"Mumpung sekarang aku sudah terlanjur membahas masalah ini, aku mau tanya sama kamu sekarang. Sebenarnya, kamu ingin aku bagaimana? Bilang sama aku, aku harus bagaimana supaya kamu merasa puas? Apa kamu ingin aku berlutut dan meminta maaf sama kamu? Aku akan melakukannya kalau kamu mau,"
Althan masih terdiam.
"Aku akan melakukan apapun, Althan. Tapi, satu syaratnya, lepaskan aku," lanjut Vivi. "Setelah itu, aku janji, aku nggak akan muncul di kehidupan kamu lagi,"
Ucapan Vivi itu tiba-tiba membuat dada Althan terasa panas, dan rasa amarahnya memuncak. Pria itu langsung mengikis jarak di antara mereka, dengan gerakan cepat mengungkung tubuh gadis itu di antara kedua tangannya.
"Melepaskan kamu? enak saja. Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak akan melepaskan kamu dari genggamanku sampai aku puas membalaskan dendamku. Kalaupun kamu menangis sambil memohon, aku tidak peduli. Camkan itu, Vivi,"
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara