Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Jatah
Selesai sarapan Emeery dan Gerry langsung membereskan barang-barang mereka, karena hari ini juga mereka akan pulang ke rumah. Padahal para orang tua membebaskan keduanya pulang kapan saja, ya hitung-hitung bulan madu. Namun, setelah dipikir apa yang akan dilakukan jika keduanya saja masih dalam pertahanan masing-masing.
Di parkiran sebelum berpisah Emeery memeluk kedua orang tuanya, karena mulai saat ini mereka akan pulang ke rumah yang berbeda. Bryan dan Brigitta melepas putri semata wayang mereka dengan berat hati, tapi mau bagaimana lagi? Sekarang Emeery telah menjadi seorang istri, dan itu atas izin mereka, dengan harapan Emeery bisa bersikap lebih dewasa.
"Jaga dirimu ya, Sayang, jangan lupa makan dan belajar supaya kuliahmu juga cepat selesai," ucap Brigitta memberi wejangan sambil mengelus lembut kepala putrinya. Emeery mengangguk cepat, sekali lagi Brigitta memberi pelukan yang cukup lama.
"Yang nurut sama suamimu, Mer," sambar sang ayah hingga pelukan itu terlepas.
"Iyalah, Dad, aku juga tahu," jawab Emeery dengan bibir sedikit mencebik.
Bryan mengalihkan perhatian pada menantunya.
"Titip Emeery ya, Ger, jangan diapa-apain anak Daddy. Dan maaf kalau nantinya banyak ngrepotin kamu," kata Bryan, nadanya memang terdengar sedikit bercanda, tapi dari tatapan matanya mengandung kesungguhan yang dalam. Sebagai sosok ayah Bryan akan tetap jadi orang pertama yang melindungi putrinya.
"Apa sih, Daddy, kayak aku anak kecil aja!" Bibir Emeery makin maju, tapi semua orang yang ada di sana malah terkekeh-kekeh melihat interaksi itu.
"Tenang Pak Bryan, ada saya," timpal Jerry yang tentunya akan ikut mengawasi pasangan baru itu. Kalau putranya macam-macam, sudah tentu dia juga turun tangan.
"Siap, Dad, kalo gitu kita duluan ya. Nanti kita juga bakal sering main," balas Gerry meyakinkan. Bryan mengangguk sambil menepuk bahu Gerry pelan, menaruh kepercayaan penuh pada pria itu. Kemudian membiarkan mereka pulang lebih dulu.
Selama perjalanan Emeery tertidur, mungkin karena semalam matanya tak bisa diajak kompromi. Dan sesampainya di rumah mereka langsung menempati kamar baru. Karena di kamar milik Gerry ada banyak kenangan dengan almarhumah istrinya, dia tidak ingin menjadi masalah.
"Ini kamar kita di rumah ini," kata Gerry saat baru membuka pintu seraya menarik koper ke dalam.
Emeery menelisik ruangan yang akan menjadi tempat singgahnya, lebih besar dari kamarnya yang ada di rumah. Dia langsung melandaskan bokoongnya di kasur, menekannya beberapa kali dan tertawa kecil.
"Aku suka. Kamarnya luas dan rapih," ucap Emeery berkomentar. Lalu bangkit dan mencoba beberapa barang lain yang memang sudah disiapkan untuk dirinya, termasuk membuka lemari pakaian yang sangat besar. Di mana sudah ada sebagian isinya.
"Wah, baju-baju apa itu? Siapa yang siapin?" tanya Emeery menoleh ke arah Gerry yang sudah melepas kancing kemejanya dan menggulung lengan. Pria itu menatap ke arah lemari, dia juga tidak tahu kapan tepatnya baju-baju itu ada di sana. Tapi ...?
'Pasti ini kerjaan Mommy.' Batin Gerry seraya melirik Emeery, membayangkan gadis itu memakai pakaian minim bahan. 'Nggak, nggak cocok. Nggak bakal ada isinya.' lanjutnya meremehkan.
Gerry mendekat, menutup pintu lemari dan mengajak Emeery untuk duduk. "Dah jangan dipikirin. Aku mau ngomong serius."
Emeery duduk di kursi, sedangkan Gerry bersandar di meja rias. Gadis itu mendongak.
"Ya udah ngomong aja," jawab Emeery dengan santai.
"Kamu mau uang bulanan berapa?" tanya Gerry yang membuat senyum Emeery langsung merekah sempurna. Ini yang dia tunggu-tunggu, jatahnya.
Jujur, Gerry cukup dilema mengenai nafkah yang harus dia berikan pada gadis itu. Jika dia inisiatif, takutnya terlalu sedikit. Namun, jika dia jor-joran yang ada Emeery tak punya batasan. Jadi lebih baik dia tanyakan saja.
"Aku sih to the point aja ya, Kak Gerry, aku mau 10 juta di luar uang belanja, uang kuliah dan uang-uang lainnya. Jadi itu cuma buat jajan aku aja," papar Emeery dengan senyum sumringah. Dia menyebutkan nominal tersebut, karena melipat gandakan uang saku dari ayahnya.
"Hah, 10 juta?" Gerry terlihat shock dan membuat senyum Emeery tertanggal. Gadis itu pikir suaminya keberatan.
"Iya, emang kenapa? Bukannya segitu wajar ya buat seorang istri?" tanya Emeery langsung menyolot.
'Sialan, dia beneran masih bocah. Belum ngerti duit.' Gerry tersenyum miring, makin meremehkan. Baginya 10 juta tidak ada apa-apanya.
"Ya udah oke, 10 juta satu bulan. Aku transfer mulai hari ini," pungkas Gerry langsung membuat kesepakatan. Emeery mengangguk cepat, meraih ponsel untuk mengirim nomor rekeningnya.
'Asyik, minta sama suami beneran lebih gampang dari pada minta sama Daddy.' batin Emeery kegirangan.
*
*
*
Emeery cuti selama satu minggu, berbeda dengan Gerry yang langsung pergi ke kantor keesokan harinya. Namun, Emeery tetap bangun pagi karena tak enakan dengan ibu dan ayah mertuanya yang dijadikan tameng oleh sang suami.
"Biar ada kegiatan aku aja deh yang anterin Ethan sama Sansan ke sekolah, gimana?" Emeery menawarkan diri, karena rasanya belum cukup untuk mengambil hati kedua anak itu. Ethan dan Sansan masih segan padanya.
"Kamu nggak capek emangnya? Nggak apa-apa kalo mau istirahat lagi, Nak, biar anak-anak sama Daddy-nya," timpal Anggun setelah menelan makanannya. Saat ini mereka memang sedang sarapan bersama.
"Enggak kok, Mom, lagian aku juga bisa bawa mobil—"
"Pake supir aja! Walaupun kamu mau nganterin tetep pake supir," tandas Gerry yang langsung menyambar. Teringat pertemuan pertama mereka, Emeery menabrak mobilnya. Tak mau ambil resiko, dia harus waspada lebih awal.
"Iya-iya," jawab Emeery pasrah karena tidak dipercayai. Sedangkan Jerry dan Anggun melihat itu sebagai bentuk perhatian yang manis.
Selesai sarapan semua orang langsung pergi ke masing-masing tujuan. Ethan dan Sansan tak memprotes untuk diantar oleh ibu baru mereka. Untuk itu Gerry langsung menancap gas ke perusahaan.
"Selamat pagi, Pak," sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Gerry.
Pria itu tersenyum sambil mengangguk ramah, langkahnya sedikit lebih lebar karena waktunya habis akibat terjebak macet. Di belakang seseorang berusaha mengejar, karena ingin memberikan informasi. Namun, pintu lift lebih dulu menelannya.
"Aduh, semoga aja nggak jadi masalah," gumamnya.
Benda kotak itu membawa Gerry ke lantai yang dituju. Dengan tergesa dia masuk ke ruang kerjanya, tapi sambutan secara tiba-tiba membuatnya tersentak, bahkan hampir terhuyung.
Bruk!
Seseorang menghambur dan memeluknya. Menangis dan meratap penuh iba.
"Kak Ger, aku tahu aku salah. Maafin aku, dan tolong jangan hukum aku kayak gini, aku nggak sanggup. Aku mau hubungan kita balik kayak dulu, maafin, maafin aku," ujarnya penuh isak.