NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13. Petaka manis.

Ucapan Hendra di kantor kemarin ternyata bukan sekadar kalimat asal keluar saja. Apa yang paling ditakuti Imam dan Habibah benar-benar terjadi, bahkan lebih cepat dari perkiraan mereka.

Aturan sakral "Malam Hari Waktu Berkumpul" yang dengan menggebu-gebu dicetuskan oleh Rayhan dan Ameera ternyata runtuh dihantam realitas lapangan. Mengurus pernikahan di bulan Oktober ternyata menguras waktu yang luar biasa. Alih-alih jam tujuh malam sudah duduk manis di meja makan rumah kontrakan, sepasang calon pengantin itu justru semakin sering mengirimkan pesan singkat darurat:

[Papa, Ibu, maaf ya Rayhan dan Ameera malam ini pulang telat lagi. Ini vendor dekorasi mendadak minta ketemuan buat re-check konsep tenda. Papa dan Ibu makan duluan saja, jangan nungguin kami!”*

Dan disinilah petaka manis itu dimulai.

Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aroma semur ayam dan tumis kangkung masakan Habibah sudah mengepul sejak satu jam yang lalu. Namun, dua kursi di meja makan itu kosong melompong.

Habibah berdiri ragu di dekat kompor, memegang selembar kain lap dengan canggung. Ia melirik ke arah koridor. Pintu kamar Imam terbuka. Pria itu keluar dengan pakaian santainya, kaos polo berkerah warna abu-abu dan sarung instan yang rapi.

"Belum pulang juga anak-anak, Bah?" tanya Imam, melangkah mendekat ke meja makan.

"Belum, Mas. Ini Ameera baru saja kirim chat, katanya masih tertahan di tempat percetakan undangan," jawab Habibah, suaranya agak bergetar. Berada berdua saja di dalam rumah yang sunyi pada malam hari selalu sukses membuat pasokan oksigen di dada Habibah terasa menipis.

Imam menarik salah satu kursi kayu, lalu menatap makanan di atas meja, kemudian mendongak menatap Habibah. "Ya sudah, kalau begitu kita makan berdua saja. Mubazir kalau makanannya dibiarkan dingin. Kamu juga belum makan malam, kan?"

Habibah menelan ludah. "T-tapi, Mas... apa tidak apa-apa? Jadwal anak-anak kan…."

"Anak-anaknya sendiri yang melanggar jadwal, Jeng Habibah," potong Imam dengan selingan senyum tipis di sudut bibirnya, senyum taktik yang sengaja ia gunakan untuk meruntuhkan keraguan Habibah. "Ayo duduk. Temani aku makan."

Dengan tangan yang terasa lemas, Habibah akhirnya duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Imam. Meja makan yang tidak terlalu besar itu mendadak terasa begitu intim. Hanya ada denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen, memecah kesunyian malam.

"Semur ayammu... rasanya pas. Tidak terlalu manis," puji Imam setelah kunyahan pertama, matanya menatap Habibah lekat-lekat dari balik remang lampu gantung dapur.

"Terima kasih, Mas," cicit Habibah, menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk mengunyah sebutir nasi. Pujian sederhana dari Imam selalu sukses memicu debaran gila yang membuat seluruh persendiannya mati kutu.

Pukul sembilan malam, anak-anak belum juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Sementara itu, di luar sana langit komplek mendadak tumpah. Hujan deras mengguyur bumi, disertai suara gemuruh petir yang saling bersahutan, membuat suhu di dalam rumah kontrakan lantai satu itu merosot drastis menjadi sangat dingin.

Habibah yang baru saja selesai mencuci piring bermaksud langsung melarikan diri ke dalam kamarnya demi keselamatan jantungnya. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.

Imam sedang duduk sendirian di sofa panjang, memandang keluar jendela kaca yang buram oleh air hujan. Di atas meja kopi di depannya, ada dua cangkir teh manis hangat yang masih mengepulkan uap.

"Bah, sini sebentar. Jangan langsung masuk kamar," panggil Imam tanpa menoleh, seolah tahu keberadaan Habibah hanya dari suara langkah kakinya. "Udara dingin sekali. Ini aku buatkan teh hangat untukmu."

Habibah bimbang setengah mati. Namun melihat punggung Imam yang tampak kesepian ditengah temaram lampu ruang tengah, kaki Habibah seolah mengkhianati logikanya sendiri. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di ujung sofa tunggal yang posisinya agak jauh dari Imam.

"Minum, Bah," ujar Imam lembut, menggeser cangkir bermotif bunga ke dekat Habibah.

"Terima kasih, Mas Imam... repot-repot sekali," balas Habibah, menggenggam cangkir keramik itu dengan kedua tangannya, mencari kehangatan untuk telapak tangannya yang mendadak sedingin es karena gugup.

Imam mengubah posisi duduknya, bersandar pada lengan sofa sambil melipat tangan di dada, memandangi wajah samping Habibah yang tersorot lampu kuning.

"Jadwal anak-anak ternyata gagal total, ya," buka Imam, nadanya terdengar santai namun sarat akan makna lain. "Mereka sibuk menyatukan masa depan mereka, sampai lupa kalau mereka meninggalkan dua orang tua yang... dipaksa menahan masa lalu di bawah satu atap."

Habibah tertegun, debaran di dadanya kembali berdentum kencang menembus batas lemas. "Mas... jangan dibahas lagi. Kita sudah sepakat."

"Aku tahu kita sudah sepakat untuk memasang tembok tebal, Bah," bisik Imam, suaranya merendah, parau dan terdengar begitu letih karena terus-menerus menahan diri. "Tapi bagaimana aku bisa menjaga tembok itu tetap tegak... kalau takdir justru sengaja meruntuhkannya? Anak-anak telat pulang, hujan deras di luar, dan di rumah ini... hanya ada aku dan kamu. Persis seperti doa-doa yang selalu aku rapalkan dalam sepi selama tiga puluh tahun ini."

Deg.

Satu sambaran petir yang cukup keras di luar sana membuat Habibah reflek sedikit terlonjak di kursinya, namun getaran di dalam dadanya jauh lebih dahsyat menghantam seluruh kewarasannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan di sudut kelopak matanya perlahan luruh, jatuh tepat di atas permukaan teh hangatnya.

Aturan privasi siang dan malam yang dirancang Rayhan dan Ameera telah gagal total. Di bawah guyuran hujan malam itu, di dalam rumah kontrakan yang sepi, Imam dan Habibah tersadar bahwa mereka tidak akan pernah bisa lari dari satu kenyataan, semakin anak-anak mereka sibuk mempersiapkan pernikahan, maka akan semakin sering pula mereka berdua dijebak oleh waktu untuk kembali saling menatap dan menguji sedalam apa sisa cinta yang belum sempat usai.

Habibah tiba-tiba mendongak, tatapannya yang tadinya sayu seketika menajam. Lembar kertas tisu di genggamannya diremas kuat. Kata-kata Imam barusan tidak sekadar mengetuk hatinya, melainkan memicu sebuah tanda tanya besar yang selama ini tabu untuk ia pertanyakan.

"Merapalkan doa dalam sepi selama tiga puluh tahun...?" lirih Habibah, suaranya bergetar, bukan lagi hanya karena debaran jantung, melainkan karena rasa bingung dan sesak yang mendadak bercampur aduk.

Imam tersentak. Ia baru sadar kalimatnya barusan telah meluncur terlalu jauh, menembus batas pertahanan yang paling rahasia.

Habibah memajukan posisi duduknya, menatap Imam lurus-lurus dengan mata yang berkaca-kaca. "Maksud Mas Imam, apa? Bukankah mendiang Mbak Sarah... ibunya Ameera, baru meninggal tujuh tahun yang lalu? Terus selama puluhan tahun sebelumnya... selama kalian membina rumah tangga... apa maksud Mas dengan merapalkan doa dalam sepi?"

Suasana di ruang tengah kontrakan itu mendadak hening seketika, mengalahkan deru suara hujan di luar.

Imam mengalihkan pandangannya ke lantai, meremas kedua tangannya sendiri. Rahasia isi hatinya selama puluhan tahun menikah dengan Sarah kini dituntut untuk telanjang di depan wanita yang menjadi alasan di balik semua itu.

"Bah..."

"Jawab, Mas," potong Habibah, suaranya naik satu oktaf, menuntut penjelasan. "Jangan buat aku merasa menjadi wanita jahat yang mengusik kedamaian almarhumah istri Mas Imam. Selama ini aku mengira... aku satu-satunya yang tersiksa dalam pernikahan dingin bersama almarhum Baskoro. Sementara Mas... Mas punya keluarga yang bahagia, punya istri yang sempurna. Tapi kenapa Mas bicara seolah-olah Mas kesepian selama tiga puluh tahun ini?"

Imam menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan berat. Ia mendongak, menatap Habibah dengan sorot mata yang sarat akan rasa bersalah, namun juga kejujuran yang paling dalam.

"Sarah adalah wanita yang sangat baik, Bah. Sangat baik," buka Imam, suaranya parau. "Dia istri yang sempurna, ibu yang luar biasa untuk Ameera. Aku menghormatinya, aku menyayanginya, dan aku bertanggung jawab penuh atas kebahagiaannya sampai napas terakhirnya tujuh tahun lalu."

Imam menjeda kalimatnya, matanya mulai memerah menahan gejolak emosi.

"Tapi kamu tahu, Bah? Rasa sayang, rasa hormat, dan rasa tanggung jawab... tidak pernah bisa menggantikan posisi cinta yang sudah mati dan terkunci di peron stasiun tiga puluh tahun lalu," aku Imam dengan suara bergetar. "Aku belajar mencintai Sarah dengan cara yang berbeda, cara yang damai. Tapi di sudut hatiku yang paling gelap, di dalam sujud-sujud sepi malamku... nama yang tertinggal di sana tetap nama kamu, Habibah."

Deg.

Habibah membekap mulutnya sendiri, air matanya tumpah tak terbendung lagi.

"Setiap kali aku melihat Ameera tumbuh dewasa, setiap kali aku sukses membangun proyek, ego duniaku puas. Tapi jiwaku... jiwaku tetap sepi," lanjut Imam, air mata kini ikut luruh di pipinya yang mulai bergaris usia. "Doa sepi yang aku maksud adalah... aku selalu berdoa agar dimanapun kamu berada, kamu bahagia. Aku berdoa agar takdir setidaknya mengizinkan aku melihat wajahmu sekali lagi sebelum mataku tertutup rapat. Dan sekarang... Tuhan mengabulkannya dengan cara seperti ini, Bah. Menaruhmu di depan mataku, setiap hari, sebagai calon besanku."

Habibah merosot di kursinya, dadanya terasa begitu sesak mendengarkan pengakuan terjujur dari pria yang pernah amat sangat dicintainya. Ia mengira hanya hidupnya yang menjelma menjadi neraka setelah dipaksa menikah, ternyata Imam... di dalam kesuksesan karier dan rumah tangganya yang tampak sempurna, juga membawa luka batin yang sama parahnya.

"Mas... ini salah... ini tidak adil untuk mendiang Mbak Sarah," tangis Habibah pecah, bahunya terguncang hebat.

"Aku tahu ini tidak adil, Bah. Makanya selama Sarah hidup, aku menutup rapat mulutku dan mengabdi sepenuhnya sebagai suami yang baik. Aku tidak pernah mencarimu," bisik Imam parau, bangkit dari sofanya lalu berlutut di lantai dekat kursi Habibah, tanpa berani menyentuh wanita itu. "Tapi sekarang, setelah pasangan kita sama-sama tiada, dan kita dikumpulkan di sini... tolong jangan salahkan aku jika rasa yang kupendam tiga puluh tahun ini berontak ingin keluar setiap kali melihatmu."

Di malam yang dingin dan diguyur hujan lebat itu, sebuah tabir besar masa lalu akhirnya robek. Mereka berdua sama-sama menangis dalam diam, menyadari bahwa pernikahan masa lalu dengan pasangan masing-masing ternyata tidak pernah benar-benar mampu menghapus jejak cinta pertama yang terlampau dalam.

*****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!