NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kamera, Aksi, dan Percikan Api

Proses adaptasi novel "Bayangan di Balik Pelaminan" menjadi skenario film ternyata jauh lebih melelahkan daripada menulis bukunya sendiri. Selama dua bulan terakhir, ruang tamu rumah Adrian berubah menjadi pusat kreatif kecil. Kertas-kertas coretan adegan berserakan di atas meja kopi, dan papan tulis putih besar kini berdiri di sudut ruangan, penuh dengan alur emosional karakter.

Siska benar-benar mengambil perannya sebagai konsultan karakter dengan serius. Ia datang hampir setiap sore, memberikan masukan tentang bagaimana seorang wanita yang terobsesi pada citra merasa hancur saat dunianya runtuh. Kehadirannya tidak lagi membawa ketegangan; sebaliknya, ia dan Arumi mulai menemukan ritme persaudaraan yang belum pernah mereka rasakan sejak kecil.

"Rum, adegan ini... tokoh kakaknya jangan cuma marah. Dia harus merasa malu. Malu karena dia tahu dia salah, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengaku," ujar Siska sambil menyeruput tehnya.

Arumi mengangguk cepat, jemarinya menari di atas keyboard. "Benar, Kak. Itu jauh lebih manusiawi."

Namun, dinamika rumah itu berubah total ketika pihak rumah produksi, Ganesha Pictures, mengumumkan aktor yang akan memerankan tokoh utama pria—sang CEO dingin yang terinspirasi dari Adrian.

Namanya adalah Reza Rahardian (nama fiktif dalam cerita ini sebagai aktor papan atas). Reza dikenal sebagai "Raja Peran" yang memiliki tatapan mata intens dan kharisma yang mampu melelehkan hati penonton. Saat Reza datang ke rumah Adrian untuk sesi pendalaman karakter bersama penulis, suasana seketika menjadi... menarik.

Sore itu, Adrian pulang lebih awal dari kantor. Ia melonggarkan dasinya saat melangkah masuk, namun langkahnya terhenti di ambang pintu ruang tengah.

Di sana, di sofa favoritnya, Arumi sedang duduk sangat dekat dengan Reza. Mereka sedang mendiskusikan naskah. Reza sesekali tertawa kecil, menyentuh lengan Arumi pelan saat menanyakan latar belakang emosi di Bab 15.

"Jadi, maksudmu dia merasa bersalah tapi juga mulai jatuh cinta?" tanya Reza dengan suara baritonnya yang khas.

"Iya, persis. Dia terjebak di antara kesepakatan bisnis dan getaran jantung yang tidak bisa dikontrol," jawab Arumi antusias, matanya berbinar.

Adrian berdeham keras. Sangat keras.

Arumi dan Reza menoleh serempak. Arumi segera berdiri dengan senyum lebar. "Mas! Sudah pulang? Kenalkan, ini Reza. Dia yang akan memerankan tokoh 'Adrian' di film nanti."

Reza berdiri, mengulurkan tangan dengan sopan. "Sore, Pak Adrian. Kehormatan besar bagi saya bisa memerankan karakter yang terinspirasi dari Anda. Istri Anda benar-benar jenius dalam menggambarkan emosi."

Adrian menjabat tangan Reza. Genggamannya sangat kuat—mungkin sedikit terlalu kuat. "Adrian Pramoedya. Saya harap Anda bisa memerankannya dengan tepat. Karakter itu tidak hanya dingin, dia punya standar yang sangat tinggi."

"Tentu, Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," balas Reza tenang, seolah tidak terpengaruh oleh aura kompetitif yang tiba-tiba memenuhi ruangan.

Sepanjang sisa sore itu, Adrian tidak masuk ke ruang kerjanya. Ia memilih duduk di meja makan yang berdekatan dengan ruang tengah, berpura-pura membaca laporan di tabletnya, namun telinganya terpasang tajam ke arah percakapan di sofa.

"Arumi, bagaimana kalau di adegan ini kita tambahkan sedikit sentuhan? Seperti dia merapikan rambutmu?" usul Reza.

"Boleh juga, itu menambah kesan intim," jawab Arumi.

Prak! Adrian meletakkan gelas air mineralnya sedikit terlalu keras di atas meja. Arumi melirik suaminya, menahan senyum. Ia mulai menyadari sesuatu: suaminya yang perkasa sedang merasa terancam oleh seorang aktor.

Setelah Reza pulang, Adrian langsung mendekati Arumi yang sedang merapikan kertas-kertasnya.

"Apakah dia harus duduk sedekat itu tadi?" tanya Adrian, suaranya berusaha terdengar santai namun gagal total.

Arumi menatap suaminya dengan tatapan jahil. "Kami sedang bedah naskah, Mas. Dia perlu memahami kedekatan emosional karakternya."

"Dia aktor, Arumi. Dia seharusnya bisa membayangkan, bukan melakukan eksperimen sosial di sofaku," gerutu Adrian.

Arumi tertawa, melingkarkan lengannya di leher Adrian. "Mas cemburu ya? Padahal dia kan cuma memerankan dirimu."

"Justru itu masalahnya. Dia mencoba menjadi aku di depan istriku sendiri," Adrian menarik Arumi lebih dekat ke pelukannya. "Dan dia terlalu banyak tersenyum. Aku tidak sesering itu tersenyum di awal cerita kita."

"Memang tidak. Mas dulu sangat menyebalkan," goda Arumi. "Tapi tenang saja, Mas. Sehebat apa pun Reza berakting, dia tidak punya harum kayu cendana yang aku suka ini."

Adrian menghela napas, ketegangannya meluruh. Ia mencium kening Arumi lama. "Pastikan saja di lokasi syuting nanti, dia tahu batasan antara akting dan realita."

Minggu berikutnya, proses syuting dimulai. Lokasi pertama adalah sebuah gedung perkantoran mewah untuk menggambarkan kantor Adrian. Arumi hadir sebagai konsultan skenario, ditemani Siska yang tampak sangat menikmati suasana di balik layar.

Masalah muncul saat adegan penting: sang CEO memberikan jasnya kepada sang istri pengganti saat kedinginan di balkon.

"Potong!" teriak sutradara. "Reza, tatapanmu kurang dalam. Bayangkan wanita di depanmu ini adalah satu-satunya alasan kamu ingin pulang kerja."

Reza mengangguk, lalu ia menoleh ke arah Arumi yang berdiri di samping sutradara. "Arumi, boleh bantu aku sebentar? Bisa berdiri di posisi pemeran wanita? Aku butuh merasakan tatapan asli penulisnya agar aku bisa menirunya."

Arumi ragu, namun sutradara mengiyakan. Arumi melangkah ke set balkon. Saat Reza menatapnya dalam-dalam sambil menyampirkan jas ke bahunya, Arumi merasa profesionalisme sebagai penulis. Namun, tiba-tiba sebuah suara familiar memecah keheningan set.

"Jasnya kurang rapi. Biar saya tunjukkan bagaimana cara yang benar."

Adrian muncul dari balik kerumunan kru dengan setelan jas mahalnya yang asli. Ia berjalan masuk ke area set seolah-olah itu adalah kantornya sendiri (memang benar, itu adalah salah satu anak perusahaan Pramoedya Group).

Adrian mengambil jas dari tangan Reza, lalu memakaikannya ke bahu Arumi dengan gerakan yang sangat posesif dan elegan. Ia menatap Arumi dengan tatapan yang begitu intens, begitu nyata, hingga seluruh kru terdiam.

"Begini seharusnya tatapan pria yang sedang jatuh cinta," ujar Adrian dingin pada Reza. "Bukan sekadar akting, tapi sebuah janji."

Sutradara justru bertepuk tangan. "Luar biasa! Itu dia! Reza, kamu lihat itu? Itu emosi yang kita cari!"

Reza tertawa kecil, ia tampak terkesan. "Terima kasih, Pak Adrian. Pelajaran yang sangat berharga."

Setelah adegan itu selesai, Arumi menarik Adrian ke sudut ruangan. "Mas! Kamu membuat semua orang tegang. Ini lokasi syuting, bukan ruang rapat."

"Aku hanya membantu, Arumi," jawab Adrian santai sambil merapikan lengan kemejanya. "Aku tidak ingin aktor itu memberikan interpretasi yang salah tentang bagaimana aku mencintaimu."

Arumi menggelengkan kepalanya, namun hatinya terasa penuh. Kecemburuan Adrian adalah bumbu yang tidak pernah ia sangka akan hadir dalam hidupnya, dan ia menyukainya.

Sore hari setelah syuting berakhir, Siska mendekati Arumi. "Rum, kamu lihat tadi? Adrian benar-benar gila padamu. Aku dulu berpikir dia pria yang robotik, tapi ternyata dia hanya butuh orang yang tepat untuk mengaktifkan sirkuit emosinya."

"Aku juga tidak menyangka, Kak," bisik Arumi.

"Ngomong-ngomong, Rum... produser tadi menawariku peran kecil. Sebagai teman dari tokoh kakak. Aku... aku berpikir untuk mengambilnya. Bukan karena aku ingin jadi model lagi, tapi karena aku merasa melalui peran ini, aku bisa benar-benar melepaskan masa laluku."

Arumi memeluk Siska. "Ambil, Kak. Aku akan menuliskan dialog yang paling keren untukmu."

Malam itu, saat mereka pulang, Adrian tampak lebih tenang. Di dalam mobil, ia menggenggam tangan Arumi erat.

"Arumi," panggilnya.

"Ya, Mas?"

"Jika film ini selesai nanti, aku ingin kita mengambil liburan panjang. Benar-benar panjang. Tanpa kamera, tanpa naskah, dan tanpa aktor tampan mana pun."

Arumi tersenyum manis. "Ke mana pun Mas mau."

"Aku sedang berpikir tentang sebuah pulau kecil di Maladewa. Hanya ada kita, laut, dan buku-buku yang ingin kamu tulis selanjutnya."

Arumi menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Ia menyadari bahwa hidupnya sekarang jauh lebih indah daripada skenario film mana pun.

Konflik ringan dengan Reza sang aktor hanyalah sebuah pengingat bahwa apa yang ia miliki sekarang sangat berharga untuk dijaga.

Ia bukan lagi pengganti. Ia adalah sang tokoh utama dalam hidupnya sendiri, didampingi oleh pria yang rela merusak set film hanya untuk menunjukkan betapa besar cintanya.

Tiba-tiba, ponsel Arumi bergetar. Sebuah pesan dari Pandu.

“Rum, draf skenario bab terakhir sudah oke. Tapi sutradara tanya, apakah kita perlu adegan ciuman di akhir cerita?”

Arumi melirik Adrian yang sedang fokus menyetir. Ia segera mengetik balasan.

“Tidak perlu. Biarkan penonton membayangkan sendiri. Ada beberapa hal yang terlalu berharga untuk dibagikan pada dunia.”

Adrian melirik ponsel Arumi. "Apa kata Pandu?"

"Hanya soal teknis, Mas. Tidak ada yang penting," jawab Arumi sambil tersenyum misterius.

Cinta mereka memang tidak butuh sorotan lampu kamera untuk menjadi nyata. Di dalam keheningan malam Jakarta, di dalam genggaman tangan yang erat, Arumi tahu bahwa akhir ceritanya sudah sempurna—bahkan sebelum kata "Tamat" muncul di layar lebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!