NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu Tipis Tipis

Hari itu kelas berakhir lebih awal dari jadwal biasanya. Cassie melihat jam di ponselnya, masih ada beberapa jam sebelum waktu penjemputan rutin Liam. Alih-alih menelepon Liam untuk minta dijemput lebih cepat, Cassie memutuskan untuk menikmati sedikit "kebebasannya".

​"Kalau aku pulang sekarang, yang ada aku malah sibuk memegang sapu dan lap," gumamnya pelan. Ia butuh ketenangan untuk menyelesaikan tugas analisisnya yang mulai menumpuk.

​Ia pun berjalan menuju perpustakaan kota. Namun, baru saja ia keluar dari area kampus, sebuah mobil berhenti di dekatnya. Bukan mobil sport hitam yang ia kenal, melainkan mobil pribadi yang dikendarai oleh seseorang yang sangat ia kenal.

​"Cassie?"

​Ethan turun dari mobilnya. Kali ini ia tidak memakai seragam polisi. Ia mengenakan kemeja santai dan celana chino, penampilannya sangat segar dan ramah.

"Kebetulan sekali. Aku sedang libur hari ini. Mau ke mana?"

​"Oh, hai Ethan. Aku mau ke perpustakaan," jawab Cassie dengan senyum canggung.

​"Mari, aku antar. Kebetulan aku juga tidak ada kegiatan. Siapa tahu ada bagian dari tugas kuliahmu yang sulit dan butuh bantuan perspektif dari... yah, seorang polisi?" Ethan menawarkan dengan nada bercanda yang hangat.

​Jika itu adalah Cassie yang dulu, ia pasti akan merasa hatinya melompat kegirangan. Dulu, tawaran Ethan adalah hal yang paling ia nantikan. Namun sekarang, ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dadanya. Ia merasa seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, atau lebih tepatnya, ia merasa bersalah pada "perjanjian" tak tertulisnya dengan Liam.

​"Ah... tidak perlu repot-repot sebenarnya, Ethan," tolak Cassie halus.

​"Tidak repot sama sekali, Cassie," Ethan menatapnya dengan tulus, tatapan pelindung yang dulu sangat Cassie sukai.

​Karena merasa tidak enak untuk menolak terus-menerus, Cassie akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah, terima kasih banyak, Ethan."

Sesampainya di perpustakaan, Ethan benar-benar membantu. Ia duduk di seberang Cassie, membantunya mencari referensi buku dan menjelaskan beberapa poin hukum yang rumit. Ethan sangat sabar dan sopan, benar-benar sosok pria idaman.

​Namun, fokus Cassie terus terpecah. Ia berkali-kali melirik jam tangan, merasa gelisah. Pikirannya tidak pada buku di depannya, melainkan pada gerbang kampus tempat Liam seharusnya menjemputnya nanti. Ia merasa seolah-olah sedang melakukan sebuah pengkhianatan kecil, meski sebenarnya ia hanya sedang belajar bersama seorang teman yang baik.

​"Cassie? Kau melamun?" tanya Ethan pelan, menyadari kegelisahan gadis itu.

​"Eh? Tidak, aku hanya... aku hanya sedikit pusing dengan tugas ini," bohong Cassie, padahal ia sedang membayangkan bagaimana rahang Liam akan mengeras jika pria itu tahu dia sedang bersama Ethan sekarang.

Di tengah keheningan perpustakaan yang hanya diisi suara gesekan kertas, Ethan menutup buku referensi di depannya dan menatap Cassie dengan intensitas yang berbeda. Pertanyaan yang sejak tadi ia simpan akhirnya meluncur juga.

​"Cassie, aku tidak mau mencampuri urusan pribadimu, tapi aku benar-benar ingin tahu... di mana kau tinggal sekarang? Apartemen itu sudah kosong, dan kau tidak mungkin tinggal di jalanan, kan?"

​Cassie meremas pulpennya. Ia tahu Ethan tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban yang masuk akal. Menghindar lebih lama justru akan membuat Ethan semakin curiga.

​"Aku... aku tinggal di rumah Liam, Ethan," jawab Cassie pelan, hampir berbisik.

​Ethan tertegun sejenak. Sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Di rumahnya? Maksudmu, kau tinggal satu atap dengan pria itu?" Ethan menjeda, lalu menarik napas panjang. "Jadi... kalian berdua benar-benar berkencan?"

​Cassie merasa tenggorokannya kering. Ia teringat bagaimana Liam memanggilnya "Honey" di depan Ethan tempo hari dan bagaimana Liam selalu menjemputnya. Jika ia bilang ia hanya pelayan di rumah Liam, Ethan pasti tidak akan percaya mengingat betapa protektifnya Liam. Akhirnya, dengan rasa canggung yang luar biasa, Cassie mengangguk kecil.

​"Iya," jawab Cassie singkat, tidak berani menatap mata Ethan.

​Hening sejenak.

Cassie bisa melihat rahang Ethan mengeras, namun ekspresinya perlahan berubah menjadi kekecewaan yang tulus. Ethan tersenyum pahit sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu perpustakaan.

​"Sayang sekali," gumam Ethan pelan. "Ternyata Liam jauh lebih cepat dariku. Jujur saja, aku berharap bisa mengenalmu lebih jauh."

​Cassie merasa sangat tidak enak. Ia tahu Ethan tulus, dan ia merasa seperti baru saja mematahkan hati pria yang selalu bersikap seperti pahlawan baginya.

​Ethan kemudian menegakkan duduknya, mencoba kembali ke sikap profesionalnya yang tenang. Ia meraih tangan Cassie sebentar, menepuknya pelan sebagai tanda dukungan.

​"Dengar, Cassie. Aku menghormati pilihanmu. Tapi pesanku masih sama," ucap Ethan dengan nada serius.

"Dunia Liam itu rumit. Kalau suatu saat kau merasa tidak nyaman, atau kau membutuhkan bantuan apa pun, jangan pernah sungkan untuk menghubungiku. Aku akan selalu ada untukmu."

​Cassie mengangguk, merasa terharu sekaligus terbebani oleh kebaikan Ethan.

Tepat saat itu, ponsel di dalam tas Cassie bergetar hebat. Itu telepon dari Liam. Cassie melirik jam dinding, waktu jemputnya sudah lewat sepuluh menit.

​"Aku harus pergi, Ethan. Dia sudah menjemputku," ujar Cassie terburu-buru sambil membereskan bukunya.

​"Liam?" tebak Ethan.

​Cassie hanya mengangguk canggung dan segera berlari keluar, meninggalkan Ethan yang menatap punggungnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di luar, ia sudah bisa membayangkan wajah Liam yang sedang "kebakaran" karena dia tidak ada di gerbang kampus.

Cassie berlari keluar dari gedung perpustakaan dengan jantung berdebar kencang.

Dari perpustakaan kota menuju gerbang kampus membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan berlari.

Di depan sana, mobil sport hitam Liam sudah terparkir di zona dilarang berhenti, menciptakan pemandangan yang mencolok di antara pejalan kaki. Liam tidak turun dari mobil, tapi aura kemarahannya terasa menembus kaca film yang gelap.

​Begitu Cassie membuka pintu dan duduk, aroma parfum kayu yang kuat langsung menyambutnya, bercampur dengan ketegangan yang pekat.

​"Dari mana saja kau?" suara Liam terdengar sangat rendah, tipe suara yang ia gunakan saat sedang menahan ledakan emosi.

​"Aku... tadi ada tugas tambahan di perpustakaan, Liam. Maaf, aku lupa mengabari," bohong Cassie sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal.

​Liam tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Cassie, matanya menyipit tajam. "Di perpustakaan? Sendirian?"

​"I-iya."

​"Lalu kenapa aku melihat mobil Ethan baru saja lewat?"

​Skakmat. Cassie terdiam. Ia lupa bahwa Liam punya mata yang sangat awas terhadap segala hal yang berhubungan dengan "wilayahnya".

​"Dia tadi cuma membantu tugas kuliahku, Liam! Kebetulan kami bertemu," bela Cassie dengan suara yang mulai meninggi karena gugup.

​Liam mendengus sinis, ia mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.

"Membantu tugas? Kau pikir aku sebodoh itu? Dia itu polisi, Cassie. Dia tidak membantu tugas, dia sedang menggali informasi!"

​Liam menjalankan mobilnya dengan sentakan yang kasar, membuat Cassie terlempar ke sandaran jok. Sepanjang jalan, Liam tidak berhenti mengoceh dengan nada menyindir yang sangat tajam.

​"Hebat sekali. Kau sedang bermain peran sebagai kekasih manis polisi itu? Kau tahu betapa bahayanya posisi kita sekarang kalau dia tahu kau tinggal bersamaku?"

​"Aku sudah bilang padanya kalau kita berkencan!" teriak Cassie frustrasi. "Supaya dia berhenti bertanya kenapa aku pindah ke rumahmu! Bukankah itu yang kau mau?"

​Mobil mendadak melambat. Liam melirik Cassie dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit keterkejutan di matanya, namun segera ia tutupi dengan seringai dingin.

​"Oh, jadi sekarang kau sudah mulai pandai berakting sebagai kekasihku?" Liam mencondongkan tubuhnya ke arah Cassie saat mereka berhenti di lampu merah, membuat jarak di antara mereka sangat tipis. "Hati-hati, Cassie. Jangan terlalu mendalami peranmu. Karena di dunia nyata, aku tidak semanis pahlawan polisimu itu."

​Cassie memalingkan wajah, merasa malu sekaligus kesal. "Aku melakukannya hanya untuk menyelamatkan bisnismu yang tidak jelas itu. Jangan kegeeran!"

​"Baguslah," sahut Liam sambil kembali memacu mobilnya. "Tapi karena kau sudah 'berkencan' dengan polisi tampanmu itu di perpustakaan, jangan harap ada makan malam mewah hari ini. Kau pulang, dan langsung kerjakan semua tumpukan cucian yang tertunda."

​Cassie hanya bisa menggerutu dalam hati. Meskipun Liam sangat menyebalkan, ada bagian dari dirinya yang merasa lega karena rahasianya dengan Ethan sudah terbuka.

***

Begitu pintu rumah tertutup di belakang mereka, suasana megah itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Cassie meletakkan tasnya di meja konsol dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang luas, mencari keberadaan dua penghuni lainnya yang biasanya meramaikan suasana.

​"Sepi sekali. Ke mana Marco dan Jino?" tanya Cassie tanpa prasangka, sambil mulai mengikat rambutnya, bersiap untuk melaksanakan "hukuman" mencuci tumpukan baju yang Liam katakan tadi.

​Liam yang sedang melempar kunci mobil ke atas meja mendadak berhenti. Ia berbalik dengan gerakan lambat, menatap Cassie dengan mata yang menyipit tajam. Rahangnya mengeras seketika.

​"Bisa tidak, satu menit saja, kau berhenti menanyakan laki-laki lain?" suara Liam terdengar lebih dingin dari sebelumnya, ada nada tersinggung yang ia coba bungkus dengan kemarahan.

​Cassie mengernyit bingung. "Aku kan cuma tanya, biasanya Jino sudah menyapaku kalau aku pulang. Apa ada yang salah?"

​"Semuanya salah!" Liam melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Cassie terdesak ke pinggiran meja.

"Tadi di perpustakaan kau sibuk dengan polisi itu, dan sekarang baru menginjakkan kaki di rumah, yang kau cari adalah Marco dan Jino? Apa rumah ini terasa terlalu sempit kalau hanya ada aku di sini?"

​Cassie ternganga melihat reaksi berlebihan Liam. "Liam, kau ini bicara apa sih?"

​"Aku tidak suka fokusmu terbagi, Cassie," desis Liam, suaranya rendah dan penuh tekanan. "Ingat posisimu. Di sini kau bekerja untukku, dan di depan Ethan kau adalah 'kekasihku'. Tidak ada ruang untuk Marco, Jino, apalagi polisi itu di dalam kepalamu saat kau sedang bersamaku. Paham?"

​Cassie terpaku, menatap mata gelap Liam yang tampak berkilat emosi. Ia bisa merasakan kecemburuan yang meledak-ledak di balik kata-kata "profesional" pria itu. Liam terlihat seperti anak kecil yang tidak mau berbagi mainannya.

​"Kau... cemburu ya?" tanya Cassie pelan, hampir tidak percaya dengan dugaannya sendiri.

​Liam terdiam sejenak, seolah tertampar oleh pertanyaan itu. Ia segera memundurkan tubuhnya dan mendengus kasar, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sempat goyah.

​"Jangan konyol," sahut Liam asal sambil berjalan menaiki tangga. "Cepat kerjakan tugasmu."

​Cassie menatap punggung Liam yang menghilang di balik pintu kamar dengan perasaan campur aduk. Ia ingin kesal, tapi melihat Liam yang "kebakaran jenggot" hanya karena dia menanyakan Jino dan Marco malah membuatnya ingin tersenyum kecil. Ternyata, pria sedingin Liam bisa bersikap sekonyol itu jika menyangkut wilayahnya.

1
Ella Elli
yeeh 😒
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!