Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: Detik-Detik Terakhir di Sektor 4
Suara geraman itu datang dari segala arah, memantul di dinding kaca dan pilar beton atap mal yang luas ini. Puluhan zombi berpakaian seragam pelayan, staf kebersihan, hingga petugas keamanan mal merayap keluar dari pintu darurat yang hancur. Mereka bukan lagi manusia; mereka hanyalah wadah kosong yang digerakkan oleh rasa lapar yang abadi. Tapi yang membuat bulu kudukku berdiri bukan mereka, melainkan dua sosok Crawler yang merayap cepat di langit-langit kanopi, mengincar posisi di atas kepala kami.
"Zidan, mereka terlalu banyak! Kita tidak bisa lewat!" Kurumi berteriak, suaranya hampir tertutup oleh deru mesin pesawat pembom yang terdengar semakin dekat di langit timur.
"Berhenti mengeluh dan fokus pada targetmu!" bentakku sambil mengokang shotgun. "Ambil granat asap dari kantong tas itu, sekarang!"
"Tapi buat apa asap? Kita tidak butuh sembunyi, kita butuh lari!"
"Jangan membantah! Lakukan saja!"
Logikaku sudah menghitung semuanya. Zombi biasa mengandalkan suara dan bau, tapi Crawler—berdasarkan pengamatanku di gedung tadi—sangat sensitif terhadap gerakan. Dengan kabut asap, aku bisa mengacaukan navigasi visual mereka sementara kami menerobos kerumunan.
Kurumi dengan tangan gemetar menarik pin granat asap dan melemparkannya ke depan kerumunan zombi. Pshhhhh! Asap putih pekat mulai menyembur, menutupi pandangan dalam sekejap.
"Sekarang, lari di belakangku! Jangan lepas dari tas punggungku!"
Aku menerjang masuk ke dalam kabut asap. DOR! Aku menembak zombi pertama yang muncul dari balik putihnya asap. Tubuhnya terpental, memberi jalan bagi kami. Aku tidak membidik kepala jika tidak perlu; di tengah kerumunan seperti ini, yang penting adalah membuat mereka jatuh agar bisa dilompati.
DOR! DOR!
Dua tembakan lagi meratakan barisan staf mal yang menghalangi jalan menuju tangga turun. Aku bisa merasakan Kurumi mencengkeram erat ujung tasku, langkah kakinya tidak beraturan tapi dia tetap berusaha mengimbangi kecepatanku.
Tiba-tiba, suara kriet-kriet tajam terdengar dari atas. Salah satu Crawler meluncur turun menembus asap, cakarnya hanya meleset beberapa senti dari bahu Kurumi.
"AAAAHHH!" Kurumi menjerit.
Tanpa menoleh sepenuhnya, aku mengayunkan laras shotgun ke atas dan melepaskan tembakan buta. DOR! Aku mendengar suara lengkingan kesakitan. Makhluk itu jatuh, tapi aku tidak berhenti untuk memastikannya mati. Logika keberlangsungan hidup nomor satu: Jangan pernah berhenti di zona merah.
Kami mencapai tangga darurat mal. Aku menendang pintu besinya hingga terbuka. Di dalam, suasananya gelap gulita. Hanya cahaya senter ponselku yang membelah kegelapan, menyinari eskalator yang sudah mati dan toko-toko mewah yang sudah dijarah.
"Zidan, waktu kita tinggal satu jam!" Kurumi melihat jam tangannya dengan panik. "Rumah sakit itu masih di seberang mal ini!"
"Kita lewat skybridge di lantai tiga. Itu jalur tercepat menuju area rumah sakit," kataku sambil terus berlari menuruni anak tangga.
Lantai mal ini terasa seperti labirin hantu. Patung-patung manekin yang jatuh berserakan di lantai seringkali mengejutkan Kurumi, mengira itu adalah zombi. Tapi aku tetap tenang. Mataku terus memindai setiap bayangan.
Saat kami sampai di lantai tiga, sebuah pemandangan mengerikan menghadang. Jalur skybridge yang menghubungkan mal dengan kompleks medis rumah sakit dipenuhi oleh barikade darurat yang terbuat dari meja-meja resto dan lemari besi. Dan di baliknya... ada sekelompok orang.
Mereka bukan zombi. Mereka manusia. Sekitar lima orang pria dengan senjata tajam dan satu orang memegang pistol rakitan.
"Berhenti di sana!" teriak salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh besar dengan jaket kulit yang kusam. "Jalur ini tertutup! Tidak ada lagi yang boleh lewat ke rumah sakit!"
Aku berhenti, menurunkan sedikit moncong shotgun-ku tapi tetap siaga. Kurumi bersembunyi di belakangku, gemetar.
"Dengar, pria besar," suaraku terdengar sangat dingin, bahkan bagiku sendiri. "Pesawat pembom akan meratakan tempat ini dalam waktu kurang dari satu jam. Kalau kalian tetap di sini untuk menjaga wilayah yang akan jadi debu, itu hak kalian. Tapi jangan halangi jalan kami."
"Halah! Bohong! Militer bilang evakuasi masih berlangsung sampai sore!" teriak pria lain yang memegang pistol.
"Militer berbohong untuk mencegah kepanikan massal di pusat kota. Gunakan otakmu jika masih punya. Dengar suara mesin di langit itu? Itu bukan suara helikopter penyelamat, itu suara kematian," aku menunjuk ke arah langit-langit kaca mal.
Mereka tampak ragu. Ketakutan mulai merayap di wajah mereka. Itulah celah yang kubutuhkan.
"Zidan, tolong... kita harus cepat," bisik Kurumi.
"Minggir, atau aku akan memastikan kalian mati lebih dulu sebelum bom itu jatuh," kataku sambil mengarahkan kembali shotgun tepat ke dada pemimpin mereka.
Dalam dunia yang hancur, diplomasi hanyalah penundaan kematian. Kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami semua orang.
Pria bertubuh besar itu menatap mataku. Dia mencari keraguan di sana, tapi dia tidak menemukan apa-apa kecuali kekosongan yang dingin. Dia tahu aku tidak menggertak. Seseorang yang memiliki mata seperti itu tidak akan ragu untuk menarik pelatuk.
"Buka barikadenya," perintahnya dengan suara pelan pada anak buahnya.
Kami melewati mereka dengan cepat. Aku tidak menurunkan senjataku sampai kami benar-benar masuk ke jalur skybridge. Begitu sampai di tengah jembatan kaca yang menggantung di atas jalan raya, aku bisa melihat Rumah Sakit Pusat di depan sana. Halamannya dipenuhi oleh ribuan zombi yang mencoba mendobrak gerbang utama, tapi di atap gedung, sebuah helikopter Chinook besar milik militer sedang memutar baling-balingnya.
"Itu dia! Kurumi, lihat! Mereka masih di sana!" seruku.
Namun, harapan itu hancur dalam sekejap saat sebuah ledakan besar terdengar dari arah gerbang rumah sakit. Zombi-zombi itu berhasil meledakkan—atau entah bagaimana menghancurkan—pintu masuk utama. Aliran mayat hidup mulai membanjiri lobi rumah sakit.
"Oh tidak... mereka masuk ke dalam gedung," Kurumi menutup mulutnya dengan tangan.
"Artinya kita harus lewat jalur eksternal. Tangga darurat luar gedung," kataku, memacu langkah lagi.
Kami sampai di ujung skybridge yang menempel pada sisi rumah sakit. Kami harus melompat ke tangga besi darurat. Di bawah kami, ribuan zombi menengadah, mengeluarkan suara parau yang mengerikan, tangan-tangan mereka menggapai-gapai seolah memohon untuk ditarik ke atas.
"Zidan, lihat langit!" Kurumi menunjuk ke ufuk timur.
Tiga titik hitam besar kini sudah terlihat jelas. Pesawat pembom strategis. Mereka sudah dalam formasi serangan. Suara gemuruhnya kini terasa sampai ke dada, menggetarkan kaca-kaca gedung di sekitar kami.
"Waktu habis. Kita harus sampai ke atap dalam lima menit!"
Aku menarik tangan Kurumi, memaksanya menaiki tangga besi yang berkarat itu. Setiap langkah terasa berat. Otot kakiku terasa terbakar, tapi logikaku terus berteriak: Lari atau mati! Lari atau mati!
Saat kami mencapai lantai delapan, pintu darurat di samping tangga meledak terbuka. Sesosok zombi dengan seragam dokter yang sudah hancur menerjang keluar. Aku tidak punya waktu untuk menembak. Aku menghantamkan popor shotgun ke rahangnya hingga hancur, lalu menendangnya jatuh ke bawah, menimpa kerumunan zombi di dasar gedung.
"Lantai sepuluh! Sedikit lagi!" teriakku.
Kami sampai di pintu menuju atap. Pintu itu terkunci dari dalam.
"Sialan!" aku mencoba mendobraknya dengan bahu, tapi pintu itu diperkuat dengan baja.
Dari balik pintu, terdengar suara teriakan manusia dan tembakan senapan mesin. Militer sedang bertahan mati-matian di atas sana untuk melindungi helikopter.
"TOLONG! BUKA PINTUNYA! KAMI PENYINTAS!" Kurumi menggedor-gedor pintu dengan sekopnya.
Tidak ada jawaban. Tembakan di atas semakin membabi buta.
"Minggir, Kurumi!" aku mengambil granat kedua dari tas—granat yang tadi kupikir adalah granat asap, tapi ternyata beratnya berbeda. Aku melihat labelnya: M67 Fragmentation.
"Zidan, apa yang kamu lakukan?!"
"Aku akan meledakkan pintu ini. Tiarap!"
Aku menarik pinnya, menghitung tiga detik, lalu meletakkannya di celah engsel pintu. Aku menarik Kurumi jatuh ke lantai tangga darurat, menutupinya dengan tubuhku.
BOOOM!
Ledakan itu memekakkan telinga. Serpihan baja dan debu beton beterbangan. Pintu itu terlepas dari engselnya, menyisakan lubang besar yang mengarah langsung ke landasan helikopter di atap.
Aku segera bangkit, menarik Kurumi yang masih linglung karena ledakan. Kami merangkak keluar menuju atap.
Di sana, pemandangannya luar biasa kacau. Sekelompok tentara dengan seragam lengkap sedang membentuk perimeter melingkar di sekitar helikopter Chinook. Mereka menembaki setiap zombi yang mencoba merayap naik dari tepian gedung.
"BERHENTI! JANGAN MENEMBAK! KAMI MANUSIA!" teriakku sambil mengangkat tangan, sementara tangan lainnya masih memegang shotgun.
Seorang sersan dengan wajah penuh jelaga menoleh ke arah kami. "Cepat masuk ke heli! Kita berangkat sekarang! Pesawat pembom sudah masuk fase drop zone!"
Kami berlari menuju pintu belakang helikopter yang terbuka. Angin dari baling-baling helikopter terasa sangat kuat, hampir menerbangkan tubuh mungil Kurumi. Begitu kami sampai di ramp heli, dua orang tentara menarik kami masuk dengan kasar.
"Ada lagi?!" teriak pilot melalui interkom.
"Negatif! Tutup pintu! Sekarang!" perintah sersan itu.
Pintu ramp mulai tertutup perlahan. Saat helikopter mulai terangkat dari atap rumah sakit, aku merangkak menuju jendela kecil di sisi heli. Kurumi duduk di sampingku, masih menangis, tapi kali ini tangisannya adalah tangisan lega.
Aku melihat ke bawah. Kota yang selama ini kutinggali, jalanan tempat aku dulu berangkat sekolah, mal tempat aku dulu menghabiskan waktu... semuanya dipenuhi oleh lautan zombi. Dan di langit, tiga pesawat pembom itu membuka pintu kompartemen mereka.
Ratusan tabung kecil jatuh seperti tetesan air hujan hitam.
"Tutup mata kalian!" teriak salah satu tentara.
Beberapa detik kemudian, dunia seolah kehilangan warnanya. Sebuah kilatan putih yang membutakan menyelimuti seluruh sektor 4. Gelombang kejutnya menghantam helikopter kami, membuatnya terguncang hebat di udara. Suara ledakannya bukan lagi suara dentuman, melainkan suara raungan rendah yang menggetarkan organ dalam tubuhku.
Sektor 4 sudah lenyap. Menjadi lautan api dan debu dalam sekejap mata.
Aku bersandar pada dinding helikopter yang dingin, memejamkan mata. Logikaku berkata bahwa aku telah melakukan hal yang benar. Aku selamat. Kurumi selamat. Tapi saat aku melihat tangan Kurumi yang masih gemetar memegang ujung jaketku, aku menyadari satu hal.
Petualangan kami yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan di luar Sektor 4, dunia mungkin jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.
Catatan Penulis:
Chapter 13 menjadi penutup epik untuk arc Sektor 4. Zidan dan Kurumi berhasil lolos dari pengeboman udara di detik-detik terakhir. Namun, di manakah helikopter itu akan membawa mereka? Dan kejutan apa yang menanti di markas militer utama? Jangan lupa Like, Favorit, dan Komentar kalian untuk mendukung Zidan yang anti-naif ini!