Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~13 Bendungan yang retak
Pagi berikutnya, di taman dalam Istana Jaya Wijaya
Matahari baru naik setinggi atap. Bau melati dan kue lapis legit menguar dari dapur. Tapi udara di taman terasa berat, bukan karena panas.
Ratu Yasmin berdiri di bawah pohon sawo kecik. Kotak kayu jati itu terasa berat di tangannya. Tasbih kayu cendana di dalamnya masih menyimpan sisa hangat tangan Raja Gustaf.
Di depannya, Layla sedang menyiram bunga mawar putih. Kebaya biru mudanya sederhana. Tanpa mahkota, tanpa rias. Tapi justru itu yang membuat Ratu Yasmin, semakin sesak. Layla terlihat... tenang. Tenang yang didapat setelah semalaman menangis.
“Ratu Layla,” panggil Ratu Yasmin. Suaranya dipaksa lembut.
Layla menoleh, buru-buru meletakkan gayung. Ia menunduk hormat. “Permaisuri Yasmin. Ada yang bisa hamba bantu?”
Ratu Yasmin membuka kotak itu. Tasbih cendana berwarna cokelat tua, butirannya halus. Baunya menenangkan.
“Baginda titip ini untukmu,” katanya. Tenggorokannya tercekat saat ngomong “Baginda”. “Katanya... dari seorang raja yang baru belajar jadi manusia.”
Tangan Layla gemetar saat menerima tasbih itu. Ia menciumnya pelan, lalu menempelkan ke dahi. Air matanya jatuh lagi. “Ini tasbih Ibu Ratu,” bisiknya. “Hamba tidak layak...”
Ratu Yasmin memaksa dirinya tersenyum. Senyum yang ia latih bertahun-tahun untuk menutupi iri, pada semua pemukiman selir “Kau layak, Ratu Layla. Kemarin kau buktikan. Kau berani menahan pedang dengan dadamu sendiri.”
Kalimat itu keluar pahit di lidahnya. Karena semalam, ia sadar: selama ini ia cuma jadi “permaisuri” di atas kertas. Tapi Layla, tanpa minta apa-apa, jadi “ratu” di hati rakyat.
Layla menggenggam tangan Yasmin. Tangannya dingin.
“Hamba mohon, Permaisuri... jangan benci hamba. Hamba tidak ingin merebut apa-apa. Hamba hanya ingin semua orang di istana ini selamat.”
Yasmin terkejut. Selama ini ia pikir Layla akan jadi saingan. Tapi gadis ini malah memintanya jangan benci.
Untuk sesaat, Yasmin ingat dirinya 10 tahun lalu. Gadis desa yang dibawa ke istana karena cantik, bukan karena bijak. Ia tidak pernah diajarin jadi “jembatan”. Ia cuma diajarin jadi “hiasan”.
Ia menarik napas, lalu memeluk Layla. Pelukan itu begitu kaku.
“Aku tidak benci kamu, Layla. Namun, jika kehadiranmu yang akan membuat Baginda berubah, secepatnya aku harus menyingkirkan mu, karena posisiku akan terusik.” batin Ratu Yasmin.
Dari kejauhan, Raja Gustaf dan Ibu Ratu berdiri di serambi. Melihat itu, Ibu Ratu mengangguk pelan sambil berbisik: “Lihat, Gustaf. Damai tidak cuma menghentikan genderang. Damai juga mendamaikan hati perempuan-perempuan di istana ini.” pikir ibu ratu.
Gustaf diam. Tapi kali ini, tatapannya ke Yasmin tidak kosong. Ada rasa terima kasih karena Yasmin mau menundukkan egonya pagi ini.
__
Siang itu, di kamar Ratu Yasmin, sayap timur istana. Raja Gustaf datang ke kamarnya.
Tirai sutra merah digulung setengah. Cahaya masuk miring, menerangi debu yang beterbangan. Wangi melati dari taman pagi tadi masih menyangkut di kain gorden.
Ratu Yasmin duduk di depan cermin perak. Ia baru selesai mengganti kebaya. Kali ini bukan ungu muda yang menggoda. Tapi kebaya hijau zamrud—warna yang dulu bikin Raja Gustaf paling sering mampir ke kamarnya.
Jantungnya berdebar kencang, saat melihat kedatangan Raja Gustaf. "Pagi tadi aku berikan tasbih itu. Sekarang giliran aku yang diuji. Kalau Baginda berubah karena Layla... aku harus rebut kembali, hatinya agar segera melahirkan keturunan Yang mulia." batin Ratu Yasmin. Karena selama 10 tahun pernikahan, ia yang paling sering di datangi oleh Raja, namun ia belum juga memiliki keturunan.
Ketukan pintu 3 kali. Pelan, tapi tegas.
“Silakan masuk, Baginda,” katanya, suaranya dibuat manis.
Raja Gustaf masuk. Bukan dengan jubah kebesaran. Hanya baju dalam kerajaan, lengan digulung. Di tangannya tidak ada hadiah, tidak ada anggur. Hanya gulungan perkamen dan raut wajah lelah.
Yasmin berdiri, senyumnya sudah siap. Ia melangkah mendekat, mau menuang teh melati. “Baginda pasti haus setelah rapat dengan para panglima. Duduklah, hamba tuangkan—”
Gustaf mengangkat tangan, menghentikan. Ia tidak duduk di pembaringan. Ia duduk di kursi kayu dekat jendela. Jaraknya aman. Jarak seorang raja ke permaisurinya, bukan suami ke istri.
“Yasmin,” panggilnya. Tanpa basa-basi. “Aku ke sini bukan untuk teh.”
Senyum Ratu Yasmin retak sedikit. Tapi ia tetap menuang teh. Tangan tuangnya gemetar. Berarti benar. Dia datang karena Layla.
Gustaf meletakkan gulungan perkamen di meja. Itu daftar pembagian tugas istana yang baru. Nama “Layla binti Batara” tertulis di kolom “Penjaga Gudang Zakat & Dapur Umum”. Bukan di sayap barat tempat selir. Tapi di sayap tengah, dekat Ibu Ratu.
“Aku minta kau yang ajari Layla adat Jaya Wijaya,” kata Gustaf, matanya menatap lurus ke mata Ratu Yasmin. “Bukan karena aku meragukan Ibu Ratu. Tapi karena aku mau kau lihat sendiri... perempuan yang kau pikir ‘mengusik posisimu’ itu, seperti apa hatinya.” Raja Gustaf tersenyum tipis.
Yasmin mengepalkan ujung selendangnya di bawah meja. Kalimat batinnya siang tadi menusuk telinganya sendiri: "secepatnya aku harus menyingkirkan mu..."
Gustaf berdiri. Ia berjalan ke ambang pintu, lalu berhenti.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Yasmin. Kau pikir aku berubah karena Layla. Kau salah. Aku berubah karena malu. Malu pada diriku sendiri yang 15 tahun jadi raja tapi baru mengerti arti ‘melindungi’ setelah melihat gadis 18 tahun menahan perang.” Raja Gustaf berdesis.
Ia menoleh sebentar. Tatapannya tidak marah. Tidak dingin. Hanya... jujur.
“Kalau posisimu terusik karena kebaikan, Yasmin... berarti posisimu memang dibangun di atas pasir. Tapi kalau posisimu kuat karena kau mau jadi seperti Layla—jembatan, bukan pisau—maka takhta ini akan selalu ada tempat untukmu.” senyum Raja Gustaf nampak mengembang.
Pintu ditutup pelan. Tidak dibanting. Tidak dikunci dari luar.
Yasmin terduduk. Teh melati di cangkirnya tumpah, mengotori daftar tugas Layla. Ia menatap nama “Layla” yang basah oleh teh.
Di kepalanya berperang: 'Singkirkan dia... atau belajar darinya?'
Dari balik jendela, terdengar suara Layla tertawa kecil sambil mengajari pelayan dapur membaca doa sebelum masak. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tawa orang yang hatinya sudah damai, meski hidupnya belum.
Yasmin memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, ia tidak berdoa minta dicintai raja.
Melihat tawa Layla, entah menggapa? Hatinya seolah tercabik-cabik.
Layla bukanlah wanita pertama yang dibawa suaminya sebagai Aliansi, dirinya, selir Dewi kirana dan beberapa selir lainya, dibawa ke istana Jaya Wijaya juga karena aliansi. Terkecuali Ratu Anaya ia adalah permaisuri kedua Yang Mulia. Dia adalah sepupu Raja Gustaf sendiri.
"Aku tidak iri pada mereka semua, namun kenapa saat Layla datang aku merasa terusik?" Ratu Yasmin mengamuk ia mengobrak abrik isi meja, yang ada di depannya.