Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kejutan di Gang Rumah
Jam dinding di pos ronda depan gang menunjukkan pukul lima sore lewat beberapa menit ketika Mahesa turun dari angkot merah yang mengantarnya pulang. Langit di atas pemukiman padat itu mulai meredup, menyisakan semburat jingga kemerahan yang perlahan tertutup jelaga polusi kota. Setelah seharian penuh menahan diri, memaksakan punggungnya membungkuk, dan berpura-pura menjadi office boy culun di bawah tatapan tajam Pak Bagus, Mahesa akhirnya bisa mengembuskan napas panjang yang lega. Tubuh barunya yang tegap terasa agak pegal bukan karena kelelahan bekerja, melainkan karena terlalu lama menahan postur tubuh yang tidak alami demi menjaga penyamarannya.
Ia membetulkan letak tas ransel kainnya yang terasa sangat ringan di pundak barunya yang lebar, lalu mulai melangkah memasuki mulut gang sempit menuju rumah petaknya. Pikirannya saat itu hanya tertuju pada sang nenek, ia ingin segera membelikan sayuran segar untuk makan malam mereka. Namun, atmosfer di dalam gang mendadak terasa berbeda ketika Mahesa melewati tikungan dekat pohon mangga tua yang rimbun. Suasana yang biasanya bising oleh suara anak-anak kecil bermain, sore ini tampak sepi senyap.
Di depan sebuah warung kelontong yang tutup, berdiri tiga orang pria berwajah garang dengan pakaian kaos oblong ketat dan celana jins belel. Mereka adalah kelompok preman kampung pimpinan bang jago, yang selama ini terkenal sering memeras para pedagang kecil dan warga yang lemah di lingkungan tersebut. Mahesa, dengan penampilannya yang dulu kurus kering dan penakut, selalu menjadi sasaran empuk bagi mereka setiap kali tanggal gajian tiba.
"Oi, Mahesa! Berhenti dulu lu!" seru Bang Jago dengan suara serak yang berat, melangkah maju memblokir jalan sempit sembari melinting sebatang rokok di sela jarinya yang penuh tato.
Mahesa refleks menghentikan langkah kakinya, kepalanya otomatis merunduk dalam-dalam seperti kebiasaan lamanya yang penakut. Bingkai kacamata tanpa lensa yang melorot di hidungnya ia betulkan dengan jari yang agak gemetar, bukan karena takut, melainkan karena naluri tubuh lamanya yang mendadak bangkit kembali menghadapi situasi intimidasi seperti ini.
"Eh... iya, Bang Jago. Ada apa ya, Bang?" tanya Mahesa dengan nada suara yang dicemprengkan, berusaha menyembunyikan getaran suara berat barunya di balik tudung jaket.
Dua anak buah Bang Jago yang bertubuh tambun bernama Gendut dan ringkih bernama ceking langsung melangkah maju, mengepung Mahesa dari sisi kiri dan kanan, mempersempit ruang geraknya di gang yang hanya selebar satu setengah meter itu.
"Halah, pakai nanya lagi lu! Hari ini kan tanggal sepuluh, waktunya lu bayar uang keamanan wilayah!" gertak Gendut dengan nada kasar, sengaja menyenggol bahu Mahesa hingga tas ranselnya bergoyang. "Buruan keluarin isi dompet lu! Jangan bikin kita-kita jadi darah tinggi di sore begini!"
Mahesa memundurkan langkahnya satu tapak, kedua telapak tangannya terbuka di depan dada sebagai isyarat memohon. "Aduh, maaf banget, Bang Jago, Mas Gendut. Mahesa beneran belum gajian penuh hari ini. Kemarin gaji Mahesa sempat dipotong karena ada insiden tumpahan kopi di kantor," bohong Mahesa, berusaha membela diri sekadar agar mereka melepaskannya. "Uang yang tersisa di dompet cuma cukup buat beli obat Nenek sama beras buat makan nanti malam, Bang."
Bang Jago meludah ke tanah, menatap Mahesa dengan pandangan mata yang penuh dengan penghinaan dan kilat amarah yang tersulut. "Gua nggak peduli urusan nenek lu atau kopi lu yang tumpah, Sa! Aturan di gang ini tetap aturan! Kalau lu nggak punya duit tunai, itu jaket lu sama tas lu sini gua sita buat jaminan!" bentak Bang Jago kasar, sembari mengulurkan tangan kanannya yang kekar untuk mencengkeram kerah seragam biru muda Mahesa di balik jaket.
Melihat tangan bertato itu bergerak cepat menuju lehernya, insting pertahanan diri Mahesa yang baru bangkit secara otomatis. Jalur energi murni yang mengalir dari Kitab Inti Jagat di bawah pusarnya mendadak bergolak hebat, menyalurkan gelombang tenaga tersembunyi yang teramat masif langsung menuju lengan kanan Mahesa dalam hitungan milidetik. Mahesa sendiri sama sekali tidak menyadari perubahan energi yang terjadi di dalam tubuhnya yang sekarang sudah menjelma menjadi sosok pria gagah nan perkasa.
"Jangan, Bang! Tolong jangan diambil!" seru Mahesa refleks, sembari mengibaskan tangan kanannya ke samping luar untuk menepis tangan Bang Jago yang hendak mencengkeram kerahnya.
Wusss! Brakk!
Kibasan tangan Mahesa yang murni diniatkan untuk menepis biasa itu ternyata menghasilkan gelombang tekanan angin yang sangat pekat dan bertenaga dahsyat. Begitu punggung tangan Mahesa mengenai lengan bertato Bang Jago, suara benturan yang padat terdengar menggema di sepanjang gang sempit itu. Tubuh kekar Bang Jago yang memiliki bobot hampir delapan puluh kilogram itu seketika kehilangan keseimbangan, melayang mundur sejauh tiga meter di udara, lalu terhempas keras menghantam tumpukan sisa kayu papan di pojok dinding warung kelontong hingga hancur berantakan.
"Aduuuh! Tangan gua!" jerit Bang Jago kesakitan, berguling-guling di tanah memegangi lengan kanannya yang mendadak mati rasa dan memar kebiruan.
Suasana di gang sempit itu mendadak menjadi luar biasa hening. Gendut dan Ceking yang berdiri di samping Mahesa langsung mematung dengan mulut terbuka lebar dan mata yang hampir melompat keluar dari kelopaknya. Mereka menatap bos mereka yang terkapar tak berdaya hanya karena satu kibasan tangan dari seorang pemuda yang selama ini mereka anggap sebagai sampah masyarakat yang lemah.
Mahesa sendiri tidak kalah terkejutnya. Ia menatap telapak tangan kanannya sendiri dengan pandangan tidak percaya, membolak-balik jemarinya yang bersih tanpa ada luka sedikit pun akibat benturan tadi. "Lho... kok... kok Bang Jago bisa mental jauh begitu?" tanya Mahesa pada dirinya sendiri dengan nada kebingungan yang teramat sangat mendalam, mematung di tempatnya berdiri dengan jantung yang berdegup kencang.
Ia benar-benar tidak menyadari bahwa struktur otot dan tenaganya kini telah setara dengan seorang ahli bela diri tingkat tinggi berkat proses pembersihan luhur semalam. Baginya, ia hanya melakukan gerakan menepis yang biasa ia lakukan saat mengusir lalat di lobi kantor, namun akibatnya luar biasa mengejutkan.
Gendut yang melihat bosnya mengerang kesakitan, mencoba memberanikan diri. Dengan wajah merah padam karena malu dan marah, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil yang tajam. "Bajingan lu, Sa! Lu berani main fisik sekarang ya?! Lu apain Bang Jago, hah?!" teriak Gendut histeris, melangkah maju dengan pisau terhunus ke arah dada Mahesa.
Melihat senjata tajam berkilat di depan matanya, Mahesa panik. Tanpa sadar ia kembali mengibaskan tangan kirinya ke depan, berniat menjauhkan Gendut dari hadapannya agar tidak terluka.
Bumm!
Dampak yang sama kembali terjadi. Kibasan tangan kiri Mahesa menciptakan hempasan energi tak kasatmata yang begitu padat. Tubuh tambun Gendut langsung terpental ke belakang bagai dihantam oleh bemper mobil boks yang melaju kencang, menabrak Ceking yang berdiri di belakangnya hingga mereka berdua jatuh terjungkal saling tumpang tindih di atas tumpukan sampah gang dengan suara debuman yang sangat keras. Pisau lipat di tangan Gendut terlempar jauh, jatuh berdenting di dalam selokan air yang kotor.
"Aduh... ampun, Sa! Ampun!" rintih Ceking yang tertindih tubuh tambun Gendut, wajahnya pucat pasi bagai mayat karena ketakutan yang luar biasa melihat kekuatan monster di balik penampilan culun Mahesa.
Mahesa yang menyadari situasinya telah berbalik total, segera melangkah mundur beberapa tapak, membetulkan tudung jaketnya yang sempat tersingkap dan memperlihatkan garis rahang machonya yang tegas. Ada rasa haru sekaligus kepuasan emosional yang mendalam merayap di dadanya, untuk pertama kalinya seumur hidup, ia tidak perlu lagi menyerahkan uang hasil keringatnya kepada para penindas. Kekuatan dari kitab kuno itu bukan sekadar mitos, melainkan sebuah pelindung nyata bagi kehidupannya dan sang nenek.
"Ma... maaf, Bang Jago, Mas Gendut. Mahesa nggak sengaja, Mahesa beneran nggak maksud bikin kalian jatuh," ujar Mahesa dengan suara rendah yang sengaja dibuat tetap terdengar sopan namun sarat akan ketegasan tersembunyi, menatap ketiga preman yang kini memandanginya dengan tatapan penuh kengerian yang teramat sangat.
Tanpa menunggu jawaban dari para preman yang masih mengerang kesakitan di atas tanah semen, Mahesa berbalik dan melanjutkan langkah kakinya menuju rumah petaknya dengan kecepatan yang teratur. Langkah kakinya terasa begitu ringan, membawa sosok barunya pulang dengan kepala yang tegak dan keyakinan baru yang mendalam bahwa hari-hari penindasan terhadap dirinya telah resmi berakhir di sore yang jingga ini.