Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12.
Restu kembali ke meja makan.
" Mas..ada yang ingin aku bicarakan." kata Anisa.
" Mau bicara apa. Mas sebentar lagi mau berangkat." kata Restu sambil melihat ke arah pergelangan tangannya.
(Masih ada 30 menit lagi) batin Restu.
Anisa menghela nafas.
"Ini menyangkut mbak Arista dan bayinya."
" Oh...iya, nanti sore kita ke sana. Mas juga ingin melihat anak mbak Arista." kata Restu sambil tersenyum.
" Kalau begitu nanti kita bicara langsung aja di rumah mbak Arista." jawab Anisa datar.
" Ya..sudah, mas berangkat. Kalau kamu mau berangkat ke rumah mbak Arista dulu juga nggak apa-apa. Pas pesanan ojek, ya.." kata Restu sambil mengutak atik hpnya.
" Nggak usah, mas. Aku mau beresin rumah dulu. Kita berangkat bareng aja ke sana" jawab Anisa.
" Ya...sudah kamu hati-hati di rumah. Nanti mas pulang kita langsung ke rumah mbak Arista." kata Restu.
Anisa mengangguk , tak lupa mencium tangan suaminya. Jujur dia merasa risih melakukannya.
Saat Restu mau mencium kening istrinya, tanpa sadar Anisa menghindar dengan memundurkan kepada ke belakang.
Anisa sendiri pun merasa kaget dengan sikapnya. Tapi dia mencoba menutupinya.
" Maaf, mas. Tadi ada serangga yang lewat." kata Anisa sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan keningnya.
Restu terdiam, dia pun mengambil tas kerjanya dan menghidupkan motor maticnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Dinda melambaikan tangan sambil tersenyum.
Seketika senyum itu hilang, bersamaan dengan menghilangnya punggung suaminya di ujung jalan.
Anisa duduk termenung di sofa. Dia tak tahu apakah keputusannya sudah benar, dengan membawa Hanif ke dalam kehidupan rumah tangganya.
Tapi Anisa sudah bertekad, akan membawa Hanif bersamanya. Dia merasa kasihan dengan mbak Arista. Dia tahu betul, mbak Arista sangat mencintai mas Pramono. Walaupun dulu hubungan mereka di tentang oleh bapak dan ibu.
Mbak Arista tetap pada pilihannya dan nekat diam-diam tetap menjalin hubungan dengan mas Pram di luar. Sampai peristiwa itu terjadi.
Ternyata mbak Arista hamil dan mau tidak mau, setuju tidak setuju, bapak dan ibu merestui hubungan mereka.
Justru awal dari sana, bapak sakit sakitan. Bapak sering sesak nafas dan mengeluh dadanya sakit.
Suatu hari bapak mengeluh sakit kepala, dan dadanya kembali sesak. Kami buru-buru membawanya ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit bapak sempat mendapat penanganan di ICU.
Namun tak lama , dokter bilang kalau bapak sudah pergi.
Mbak Arista meraung, dia merasa bersalah. Dia merasa dialah penyebab kematian bapak
Sedangkan aku. Aku hanya bisa diam. Sosok yang selalu bersikap dingin padaku , kini sudah pergi. Aku menangis dalam diam.
Ibu terkulai lemas di sampingku. Aku berteriak memanggil perawat. Dan ibu langsung di tangani.
Enam bulan setelah kepergian bapak, ibu pun menyusul. Sejak bapak meninggal , ibu selalu menyendiri. Aku selalu berusaha menghiburnya.
Sedang mbak Arista sibuk dengan bayinya.Aku pun tak banyak protes, merawat dan menghibur ibu yang kadang masih suka menangis sendiri.
Ibu pun jatuh sakit. Tak mau makan, dalam tidurnya selalu memanggil nama bapak.
Hingga pagi itu, saat aku mau membasuh badan ibu. Ibu masih tidur pulas, aku pun biarkan saja tak berani membangunkannya.
Hingga siang perasaanku mulai tak enak. Aku mencoba membangunkan ibu. Tubuh ibu dingin , aku mencoba memeriksa denyut nadinya. Seolah tak percaya aku menghubungi dokter di puskesmas. Dan dokter menyatakan kalau ibu sudah meninggal.
Tubuhku melorot ke lantai. Mbak Arista pun datang, tapi dia datang hanya berdua dengan bayinya saja. Entah ke mana mas Pram. Aku saat itu tak peduli.
Mengingat semua kejadian pilu, membuat mata Anisa lelah. Tak lama dia pun terlelap di sofa.
Anisa terbangun oleh suara notif masuk ke hpnya.
Dari nomor tak di kenal. Anisa termangu. Pandangannya datar tak ada ekspresi.
Satu tekadnya membawa Hanif bersamanya.