NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Malam Pertama di Barak

Kegelapan malam akhirnya turun sepenuhnya di atas kompleks barak pelatihan Barat, menenggelamkan Trowulan dalam kesunyian yang mencekam. Di dalam barak hunian nomor empat, satu-satunya sumber cahaya hanya berasal dari sebilah lampu minyak kelapa yang digantung pada tiang tengah ruangan, memancarkan pendaran kuning redup yang menciptakan bayangan-bayangan panjang bergoyang di dinding anyaman bambu. Hawa dingin dari luar mulai berembus masuk melalui celah-celah dinding, membawa aroma tanah basah dan sisa kotoran kuda dari kandang yang terletak tidak jauh di belakang bangunan.

Mada berbaring telentang di atas amben bambunya yang berderit di sudut paling belakang ruangan. Kedua tangannya dilipat di belakang kepala, sementara pandangan matanya tampak menatap kosong ke arah langit-langit atap rumbia. Namun, di bawah permukaan ketenangan tersebut, Mada sedang mengaktifkan indra sakralnya dalam tingkat yang paling halus. Ia mendengarkan detak jantung dan tarikan napas dari tiga puluh sembilan pemuda lainnya di dalam ruangan. Sebagian besar dari mereka tidak bisa tidur; terdengar suara rintihan pelan menahan rindu rumah, bisikan doa yang gemetar, hingga derit konstan dari tubuh-tubuh gelisah yang membolak-balikkan badan di atas tikar pandan yang kasar.

Di bagian tengah barak yang lebih hangat, suasana justru terasa berbeda. Ragajaya duduk bersila di atas amben yang paling bagus, dikelilingi oleh tiga pemuda bertubuh kekar yang sejak sore tadi terus menempel di dekatnya. Ketiga pemuda itu adalah Wiranata, seorang anak mantan bintara daerah yang memiliki pembawaan tenang namun bermata tajam, Jaka Wulung, pemuda bertubuh pendek melebar dengan lengan sekokoh batang pohon yang berasal dari padepokan lereng gunung, dan Lembu Sora, seorang putra kepala desa kaya yang memiliki watak agak pongah dan gemar memamerkan cincin setu besi di jarinya.

"Ingat kata-kata saya," bisik Lembu Sora sambil membenarkan posisi duduknya, suaranya terdengar cukup jelas di tengah keheningan malam. "Pelatihan di Trowulan ini bukan hanya soal siapa yang bisa bertahan, tapi soal siapa yang memegang kendali sejak awal. Jika kita tidak menunjukkan taring kita kepada kelompok lain atau bahkan kepada para senior, kita hanya akan berakhir menjadi pelayan yang membersihkan kotoran mereka setiap pagi."

"Lembu Sora benar," timpal Jaka Wulung sambil mengepalkan tinjunya yang besar. "Tadi sore aku melihat beberapa senior dari barak sebelah menatap kita seperti serigala melihat anak ayam. Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menyambut kedatangan kita."

Ragajaya hanya tersenyum tipis, mengusap permukaan gagang tombak kayunya yang diletakkan di samping lutut. (Biarkan saja mereka datang. Hawa murni air milikku sudah mencapai tingkat kematangan yang cukup untuk menghadapi gertakan prajurit angkatan lama. Jika mereka mencoba memeras atau mengintimidasi kita, arena malam ini akan menjadi pembuktian pertama siapa yang layak dihormati di barak ini.)

Mada yang berada di sudut gelap mencatat setiap kata dari percakapan tersebut di dalam benaknya. (Jiwa muda yang penuh ambisi. Mereka mengira kehidupan militer di pusat kerajaan sama dengan hukum rimba di padepokan lokal. Mereka belum memahami bahwa di tempat seperti Trowulan, menonjolkan diri terlalu dini tanpa adanya perlindungan politik adalah cara tercepat untuk dipatahkan oleh sistem.)

Tepat ketika malam mencapai titik paling sunyi, suara langkah kaki yang berat dan tidak teratur terdengar mendekati pintu depan barak hunian nomor empat. Langkah-langkah kaki itu sengaja dihentakkan ke atas tanah berbatu, memberikan isyarat kedatangan yang mengancam. Pintu kayu barak yang besar mendadak ditendang dari luar hingga terbuka lebar, menghantam dinding bambu dengan suara dentuman yang keras yang membuat seluruh pemuda di dalam ruangan langsung tersentak kaget dan terduduk tegak di atas amben mereka.

Empat orang prajurit senior melangkah masuk ke dalam barak dengan sikap tubuh yang sangat arogan. Mereka mengenakan kain kelat bahu hitam tanda angkatan lama, dan wajah mereka tampak kemerahan dengan aroma tuak murahan yang menyengat, pertanda bahwa mereka baru saja menyelesaikan giliran minum malam di kedai luar barak. Pemimpin rombongan tersebut adalah seorang pria bertubuh tinggi besar dengan janggut jarang bernama Kebo Winarang, yang memegang sebilah tongkat kayu pemukul di tangan kanannya.

"Bangun, kalian semua tikus tanah baru!" teriak Kebo Winarang, suaranya yang parau menggelegar memenuhi ruangan pengap tersebut. Ia memukulkan tongkat kayunya ke tiang tengah barak, membuat lampu minyak bergoyang hebat dan menjatuhkan jelaga hitam ke lantai. "Apakah kalian mengira tempat ini adalah rumah nenek kalian sehingga kalian bisa tidur mendengkur dengan nyaman? Setiap angkatan baru yang memasuki kompleks Barat harus membayar pajak penghormatan kepada para penguasa lama! Cepat kumpulkan setengah dari jatah roti kering dan dendeng yang kalian terima sore tadi ke depan lantai ini!"

Ketakutan langsung melanda mayoritas penghuni barak. Pemuda-pemuda desa yang miskin dan bertubuh kecil tampak gemetar, beberapa dari mereka langsung meraba buntalan kain mereka untuk mengambil sisa makanan karena tidak berani memicu kemarahan para senior yang tampak beringas.

Namun, di bagian tengah, Ragajaya perlahan bangkit berdiri dari ambennya. Gerakannya yang tenang dan teratur langsung menarik perhatian Kebo Winarang. Wiranata, Jaka Wulung, dan Lembu Sora juga ikut berdiri di belakang Ragajaya, membentuk barisan pertahanan kecil yang tampak menantang.

"Tuan-tuan senior," ucap Ragajaya, suaranya terdengar lantang dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Kami menghormati aturan militer Majapahit, dan kami tahu bahwa kami harus belajar banyak dari kalian. Namun, jatah makanan yang kami terima adalah hak yang diberikan langsung oleh bintara logistik atas perintah Senopati Kudamerta untuk menjaga kebugaran fisik kami. Memeras makanan kami di tengah malam seperti ini rasanya bukan bagian dari latihan resmi yang legal."

Kebo Winarang tertegun sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi sangat merah karena murka. Ia tertawa mengejek, menatap Ragajaya dengan pandangan mata yang menghina. "Lihat ini, teman-teman! Ternyata ada seekor anak ayam pesisir yang merasa sudah memiliki taring karena berhasil lolos seleksi tombak kayu! Kamu berani membawa-bawa nama Senopati di depanku, hah? Di dalam barak hunian ini, hukumnya adalah kata-kataku, bukan perkamen resmi istana!"

Kebo Winarang melangkah maju, mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi di udara dan mengayunkannya dengan kecepatan penuh ke arah pundak kiri Ragajaya, berniat untuk merobohkan pemuda itu dalam satu hantaman agar seluruh isi barak menjadi tunduk ketakutan.

Wus!

Ragajaya membuktikan bahwa kemampuannya bukan sekadar omong kosong. Dengan mengandalkan kelincahan alami dari hawa murni aliran airnya, ia menggeser tubuhnya setengah langkah ke kanan, membiarkan tongkat senior tersebut lewat di samping lengannya. Pada detik yang sama, Ragajaya menghentakkan telapak tangan kanannya yang sudah dilapisi pendaran tipis energi kebiruan tepat ke arah rusuk kanan Kebo Winarang.

Duk!

Hantaman telapak tangan Ragajaya mendarat dengan telak. Kebo Winarang yang bertubuh besar itu terengah mundur dua langkah, wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa karena energi air Ragajaya berhasil menembus lapisan kulit luarnya dan menekan titik pernapasan di ulu hatinya. Tiga orang senior lainnya yang melihat pemimpin mereka dipukul mundur langsung menggeram marah dan mencabut gada kayu latihan dari pinggang mereka.

"Kurang ajar! Habisi anak-anak sombong ini!" teriak salah seorang senior.

Pertarungan kelompok malam hari pun pecah di bagian tengah barak. Jaka Wulung langsung menerjang maju menghadapi senior bertubuh pendek, menggunakan kekuatan fisiknya yang kasar untuk menahan hantaman gada kayu dengan sepasang lengannya yang tebal. Sementara itu, Wiranata bergerak dengan sangat taktis di samping Ragajaya, memberikan tendangan-tendangan sapuan rendah yang mengacaukan kuda-kuda kaki para senior. Lembu Sora tidak mau kalah; ia menggunakan berat tubuhnya untuk mendorong seorang senior hingga menabrak amben bambu hingga patah berderit.

Di sudut paling belakang yang gelap, Mada tetap duduk dengan tenang di atas ambennya. Ia melipat kedua kakinya, mengamati seluruh pergerakan di tengah barak dengan mata sakral Niti Sastra yang diaktifkan dalam kapasitas minimal. Di mata Mada, pertarungan itu terlihat sangat berantakan dan dipenuhi oleh gerakan-gerakan yang tidak efisien.

(Ragajaya terlalu banyak membuang hawa murninya untuk gerakan memutar yang tidak perlu hanya demi terlihat mengesankan di depan teman-temannya. Jaka Wulung memiliki pertahanan fisik yang bagus, namun posisinya terlalu terbuka terhadap serangan dari arah lambung kiri. Dan para senior itu, mereka bertarung dalam kondisi setengah mabuk; koordinasi gerakan mereka sangat kacau dan hanya mengandalkan gertakan otot kasar.)

Mada melihat salah seorang senior yang bertubuh kurus dengan mata juling mulai terdesak oleh kombinasi serangan Ragajaya dan Wiranata. Senior tersebut tampak panik dan mulai mundur ke arah belakang barak, matanya mencari target lain yang lebih lemah untuk dijadikan pelampiasan amarah atau sandera demi menghentikan tekanan Ragajaya. Pandangan mata senior itu akhirnya mengunci pada sosok Mada yang sedang duduk diam sendirian di sudut yang gelap dan pengap.

"Hei, anak jangkung penakut! Kamu juga harus merasakan akibatnya!" teriak senior bermata juling itu sambil mengayunkan gada kayunya secara serong, mengincar pelipis kanan Mada dengan ayunan yang cukup liar dan berbahaya.

Mada tidak mengubah ekspresi wajah keluguannya sedikit pun. Ia menampilkan reaksi seorang pemuda desa yang sangat panik dan ketakutan setengah mati melihat senjata yang mengarah ke arahnya. (Satu jengkal ke kiri, kecepatan tebasan lambat, sudut kemiringan terlalu tinggi. Aku bisa mematahkan lengannya dalam hitungan sepertiga napas, namun malam ini aku harus tetap menjadi korban yang beruntung.)

Tepat ketika gada kayu itu tinggal berjarak beberapa jari dari permukaan kulitnya, Mada sengaja menjatuhkan tubuhnya ke arah samping kiri dengan gerakan yang tampak sangat canggung dan tidak seimbang, seolah-olah ia kehilangan pijakan karena ketakutan. Gerakan menjatuhkan diri yang kasar itu membuat gada kayu senior melesat bebas menghantam tiang bambu di belakang kepala Mada dengan suara prak yang keras, menyebabkan tiang tersebut retak sedikit.

Namun, di saat tubuhnya terjatuh ke lantai tanah liat, siku tangan kanan Mada secara tidak sengaja menabrak bagian pergelangan kaki kiri senior tersebut yang sedang bertumpu dengan goyah. Tabrakan siku Mada sebenarnya tidak dilapisi hawa murni, namun kepadatan otot alaminya yang luar biasa membuat sentuhan itu memberikan dampak yang fatal bagi keseimbangan kaki sang senior.

"Aduh!" jerit senior bermata juling itu ketika pergelangan kakinya mendadak terasa ngilu luar biasa seolah menghantam sebongkah batu hitam purba. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan sepenuhnya, melayang ke depan, dan kepalanya menghantam pinggiran amben bambu yang keras dengan suara debuk yang sangat solid sebelum akhirnya ia jatuh telungkup di tanah dan pingsan seketika dengan mata mendelik.

Mada segera bangkit berdiri dengan tubuh yang gemetar palsu, memegang siku tangannya sambil menatap tubuh senior yang pingsan di dekat kakinya dengan wajah yang pucat pasi bercampur kebingungan yang dibuat-buat.

"Maaf... maafkan saya, Tuan Senior!" seru Mada dengan suara yang keras dan bergetar, memastikan suaranya terdengar oleh seluruh orang di dalam ruangan. "Saya tidak sengaja! Saya hanya terpeleset karena tikarnya sangat licin! Mohon jangan pukul saya lagi!"

Teriakan ketakutan Mada mendadak menghentikan seluruh pertempuran di bagian tengah barak. Ragajaya yang baru saja berhasil menjatuhkan Kebo Winarang dengan sebuah tendangan telak di dada langsung menoleh ke arah sudut belakang. Begitu pula dengan dua senior tersisa yang kini melihat salah satu rekan mereka sudah terkapar tidak sadarkan diri di dekat amben si anak desa jangkung.

Melihat satu rekan mereka pingsan dengan kepala membentur amben dan pemimpin mereka, Kebo Winarang, sudah terengah-engah memegang ulu hatinya yang kesakitan akibat pukulan Ragajaya, dua senior yang tersisa akhirnya kehilangan seluruh keberanian mereka. Mereka menyadari bahwa angkatan baru di barak nomor empat ini diisi oleh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk diperas secara liar.

"Sialan! Kalian semua akan menerima akibatnya besok pagi di lapangan latihan!" ancam Kebo Winarang sambil memegangi dadanya yang sesak. Ia dibantu oleh dua rekannya untuk berdiri, lalu mereka memungut tubuh rekan mereka yang pingsan dan menyeretnya keluar dari barak dengan terburu-buru melalui pintu depan yang masih terbuka lebar.

Setelah para senior itu menghilang di balik kegelapan malam, sorak-sorai kemenangan langsung pecah di antara para penghuni barak nomor empat. Banyak pemuda desa yang melompat kegirangan dan langsung mendekati amben Ragajaya, memuji-muji keberanian dan kekuatan hawa murni aliran air yang dimilikinya. Lembu Sora tampak menepuk-nepuk dadanya dengan bangga, sementara Jaka Wulung tertawa lebar sambil merapikan kembali pakaian latihannya yang sedikit kusut.

Ragajaya menerima semua pujian itu dengan dagu yang semakin terangkat tinggi. Namun, pandangan matanya sempat beralih kembali ke sudut paling belakang barak, menatap Mada yang saat ini sedang sibuk merapikan kembali buntalan kain kumalnya dengan tangan yang masih tampak sedikit gemetar palsu.

"Kamu benar-benar orang yang sangat beruntung, nomor nol empat puluh tujuh," seru Ragajaya dari tengah ruangan, suaranya dipenuhi oleh nada meremehkan yang sangat kental. "Jika kepalamu yang menghantam pinggiran amben itu tadi, kamu pasti sudah digotong ke ruang pengobatan sekarang. Jaga dirimu baik-baik di sudut gelap itu, kerbau desa. Besok pagi, instruktur militer yang asli tidak akan membiarkanmu menang hanya karena terpeleset di atas tikar."

Mada hanya membalas kata-kata Ragajaya dengan sebuah senyuman polos yang tampak sangat bodoh dan anggukan kepala yang patuh beberapa kali. "Terima kasih atas peringatannya, Tuan Ragajaya. Saya akan lebih berhati-hati besok pagi."

Ragajaya mendengus remeh lalu membalikkan tubuhnya, kembali larut dalam obrolan taktis bersama Wiranata dan Lembu Sora mengenai persiapan latihan fisik hari pertama yang akan dipimpin oleh para perwira instruktur senior besok fajar.

Ketika seluruh penghuni barak akhirnya mulai kembali ke amben masing-masing dan kegelapan malam kembali menyelimuti barak hunian nomor empat dengan keheningan yang dingin, Mada perlahan merebahkan kembali tubuh jangkungnya di atas amben bambunya yang berjamur hitam. Wajah keluguan yang sejak sore tadi dipakainya mendadak luntur dalam sekejap, digantikan oleh sepasang mata tajam yang memancarkan pendaran batin emas yang sangat tipis di dalam kegelapan.

(Malam pertama telah selesai. Ragajaya dan kelompoknya telah berhasil menarik perhatian seluruh kompleks senior sebagai target utama yang harus dihancurkan dalam latihan besok pagi. Itu sangat bagus. Selama perhatian seluruh barak tertuju pada kesombongan Ragajaya, pergerakanku di bawah tanah akan tetap aman dari deteksi mata-mata Mahapati.)

Mada memejamkan matanya, membiarkan energi Batara Niti Mandala mengalir lambat di dalam jalur sukmanya, memulihkan kebugaran otot-otot alaminya untuk menyambut ujian seratus ember yang sudah menantinya di fajar pertama Trowulan.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!