NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

BAB 12

Tanganku masih berada di atas permukaan kasar karung goni yang belum sempat kubuka. Napasku tertahan di tenggorokan. Sang pria raksasa menatapku dengan mata kelamnya yang tersembunyi di balik alis tebal.

Aku ingin segera membuka ikatan karung ini dan membuktikan tebakanku. Namun, kesadaran bahwa kami tidak berbicara dalam bahasa yang sama membuatku mengurungkan niat itu.

Sang raksasa akhirnya bergerak. Ia menghela napas panjang. Lalu menggumamkan kalimat dengan nada bariton yang berat.

"Shto ty zdes' delayesh, malyshka?"

(Apa yang sedang kau lakukan di sini, bocah kecil?)

Aku tidak mengerti satu kata pun. Namun dari intonasinya yang menurun, nadanya tidak memancarkan ancaman. Itu lebih terdengar seperti gerutuan pria yang kelelahan.

Dalam dua langkah lebar, ia sudah berada tepat di depanku.

Sebelum aku sempat bereaksi, tangan besarnya menyusup ke bawah lenganku. Tubuhku diangkat dengan mudah.

Ia memutar badan dan membawaku keluar dari ruang penyimpanan. Aku sempat meronta kecil dan menatap karung goni yang semakin menjauh, namun cengkeramannya terlalu kokoh. Di matanya, aku hanyalah seorang anak yang harus dijauhkan dari gudang berantakan. Aku belum menemukan apa pun, dan aku belum membuktikan apa pun.

Pria itu membawaku kembali ke ruang utama dan menurunkanku di atas selembar kulit hewan di dekat perapian tempat aku terbangun. Setelah memastikan aku duduk, ia berbalik.

Dengan gerakan cekatan, ia mengambil batu pemantik dari sakunya. Hanya dengan beberapa kali gesekan ke atas tumpukan lumut kering, nyala api kecil segera membesar di dalam tungku batu.

Ia kemudian mengambil sebongkah daging berlumuran darah kental yang kuyakin adalah bagian dari singa purba itu, lalu menusuknya dengan tongkat besi dan memanggangnya langsung di atas api.

Aroma daging gosong memenuhi ruangan.

Setelah matang, pria itu memotong sebagian dan melemparkannya ke depanku. Potongan daging itu mendarat dengan suara berdebum pelan di atas papan kayu. Ia memberi isyarat dengan dagunya agar aku memakannya.

Rasa lapar seketika memberontak. Meski daging itu sangat alot dan anyir, aku memaksa gigiku untuk mengunyah dan menelannya.

Sambil mengunyah, mataku terus mengawasi gerak-geriknya. Raksasa itu tidak memakan bagiannya sendiri.

Ia mengambil potongan daging yang paling lembut, mengoyaknya dengan jari-jarinya yang kasar, lalu memeras sari daging itu dan mencampurnya ke dalam mangkuk kayu berisi air hangat.

Dengan langkah berat yang diusahakan sepelan mungkin, ia berjalan mendekati tirai. Aku berhenti mengunyah. Perhatianku sepenuhnya tertuju padanya.

Pria itu berlutut di samping dipan. Tubuh masifnya terlihat sangat tidak pada tempatnya saat ia mengangkat kepala putri kecilnya dan menyandarkannya di lengan berototnya.

"Milaya moya... proshupaysya. Otets zdes'."

(Sayangku... bangunlah. Ayah di sini.)

Suaranya bergetar pelan.

Anak perempuan itu membuka kelopak matanya yang cekung. Rona wajahnya nyaris membiru. Dengan suara yang sangat parau, anak itu menjawab.

"Otets... bol'no... mne kholodno..."

(Ayah... sakit... aku kedinginan...)

"Vypey eto. Eto dast tebe sily."

(Minumlah ini. Ini akan memberimu tenaga.)

Sang raksasa menempelkan mangkuk kayu itu ke bibir putrinya.

Saat seteguk kaldu kotor itu berhasil masuk ke tenggorokannya, ususnya menolak keras. Tubuh kecil itu mengejang. Anak perempuan itu terbatuk hebat, lalu memuntahkan kembali seluruh cairan tersebut bersama cairan lain yang berbau asam, mengotori jubah kulit sang raksasa dan membasahi ranjangnya.

Anak itu terengah-engah, air mata menetes dari sudut matanya.

"Prosti menya, Otets..."

(Maafkan aku, Ayah...)

bisiknya putus asa, sebelum matanya kembali terpejam rapat. Kesadarannya kembali hilang.

Tangan sang pria raksasa membeku di udara. Mangkuk kayunya bergetar sebelum akhirnya terlepas dan jatuh berguling di lantai.

Bahu besarnya merosot turun. Pria yang bisa membelah singa buas itu kini tampak sangat rapuh. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengusap dahi putrinya. Semua kekuatan dan senjatanya sama sekali tidak berguna untuk melawan apa pun yang sedang membunuh anak ini.

Aku tahu ini adalah kesempatanku.

Aku bangkit berdiri. Kulangkahkan kakiku mendekati area dipan tersebut.

Mendengar langkahku, ia menoleh cepat. Tatapan matanya berubah tajam. Ia mengangkat sebelah tangannya, menghalangi jalanku dengan gestur posesif.

Aku menghentikan langkahku. Aku berdiri hanya dua jengkal dari tangannya. Aku menatap lurus ke arah matanya yang kelam, membiarkan suaraku mengalir menembus kesunyian.

"Dengar, Tuan Raksasa," ucapku dalam bahasa Arab dengan nada senormal mungkin. "Aku tahu kau tidak mengerti kalimatku. Tapi kaldu berlemak itu hanya akan membunuhnya lebih cepat. Ususnya meradang."

Pria raksasa itu mengerutkan kening. Ia menatapku kebingungan, tidak paham mengapa tawanannya tiba-tiba berbicara panjang lebar dengan nada tenang. Namun, suaraku yang tidak memancarkan ancaman membuatnya tidak segera mengusirku.

"Anakmu kehabisan cairan. Dia butuh garam, air, dan pemanis," lanjutku.

Ia masih diam.

Aku mendadak teringat satu kata yang pernah diteriakkannya saat menyerang kafilah dulu. Kakek Ilyas pernah mengatakan arti kata itu: obat. Aku mengangkat tangan kananku, menunjuk ke arah dadaku sendiri. Lalu, telunjukku berpindah menunjuk ke arah anak perempuannya.

Aku menarik napas panjang.

"Lekarstvo!"

Gerakan pria itu seketika terhenti. Matanya membelalak, terkejut mendengar kata itu keluar dari mulutku.

"Lekarstvo," ulangku sekali lagi, kali ini menunjuk ke arah ruang penyimpanan di belakang. "Ikut aku."

Aku berbalik dan berjalan menuju lorong. Aku berhenti di ambang pintu, menoleh, dan memberi isyarat dengan kepalaku.

Raksasa itu perlahan bangkit. Langkah beratnya mengikutiku masuk kembali ke ruang harta.

Begitu kami berada di dalam, aku langsung menunjuk karung goni di dasar peti. Ia merobek ujung ikatannya. Butiran kristal putih keabu-abuan tumpah ke tangannya. Aku meraup sedikit butiran itu dan mencicipinya. Asin. Ini benar-benar garam laut.

Aku memberi isyarat agar ia membawanya. Dengan satu tangan, ia mengangkat karung itu dan membawanya kembali ke ruang utama.

Aku menunjuk panci berisi air mendidih di perapian, memintanya menjauhkannya dari api. Ia menuruti arahanku. Aku lalu beralih ke tumpukan barang di atas mejanya, menyingkirkan dedaunan kering hingga akhirnya aku menemukan sebuah toples tanah liat berisi madu hutan.

Semua yang dibutuhkan ternyata sudah ada di rumah ini sejak awal.

Garam. Air bersih. Madu.

Di zamanku, pengetahuan seperti ini bahkan diajarkan kepada anak sekolah.

Di sini, ketidaktahuan bisa membunuh lebih cepat daripada pedang.

Setelahnya aku meminta mangkuk bersih dan sendok. Sang raksasa mengambilkannya dari rak. Matanya tidak lepas sedetik pun dari pergerakanku.

Tanpa membuang waktu, aku meracik takarannya. Air hangat, sejumput garam, dan satu sendok madu. Aku mengaduknya cepat hingga larut menjadi cairan kekuningan bening.

Aku mengangkat mangkuk itu dan berjalan mendekati dipan.

Lengan berotot sang raksasa kembali terulur, menghalangi dadaku. Ia menatap mangkuk itu dengan kecurigaan.

Tanpa mengalihkan pandangan dari matanya, aku membawa mangkuk itu ke bibirku. Aku menenggak cairan itu dengan dua tegukan besar, menelan sisa cairan di mulutku, lalu menatapnya dalam diam.

Untuk membuktikan bahwa ini bukan racun.

Melihatku baik-baik saja, lengannya ditarik mundur. Ia bergeser, memberiku ruang.

Aku berlutut di tepi dipan. Sang raksasa membantu mengangkat kepala putrinya.

Aku meraup sedikit larutan itu menggunakan ujung sendok, lalu mengarahkannya ke bibir sang anak.

Satu tetes cairan menetes masuk.

Dan seketika itu juga, bencana terjadi.

Cairan itu baru saja menyentuh tenggorokannya ketika tubuh kecil itu mendadak mengejang hebat. Matanya terbuka lebar karena terkejut, lalu ia terbatuk sangat keras.

Cairan rehidrasi racikanku menyembur keluar dari mulutnya, membasahi wajahku dan dada sang raksasa.

Gadis kecil itu merintih histeris, napasnya tersedak hebat seolah ia baru saja dicekik.

Raksasa itu mengaum marah.

Tangan besarnya melesat secepat kilat, mencengkeram lengan atasku dengan kekuatan yang mengerikan.

Tubuh mungilku terangkat dari lantai. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di lenganku, tulangku serasa hampir remuk. Matanya yang merah menyala menatapku penuh murka, mengira aku baru saja memasukkan racun maut ke mulut putrinya.

Kepanikan menghantam dadaku. Otakku berputar liar. Apakah takarannya salah? Apakah lambungnya sudah tidak bisa menerima cairan apa pun? Keringat dingin mengucur deras di punggungku. Jika aku gagal, pria ini akan meremukkan kepalaku detik ini juga.

Mataku melirik bibir anak itu yang pecah-pecah. Lidahnya bahkan nyaris tidak terlihat lembap.

Tidak mungkin.

Takarannya benar.

Air, garam, dan pemanis.

Bahkan di zamanku, ini adalah pertolongan pertama paling dasar.

Jadi kenapa dia memuntahkannya?

Tunggu...

Bukan larutannya.

Tenggorokannya terlalu kering.

Sambil menahan rasa sakit di lenganku, aku tidak meronta. Aku tidak menangis. Aku menatap lurus ke dalam mata merah raksasa itu. Tangan kiriku yang bebas terulur, dengan pelan menggenggam jari telunjuknya yang kasar dan bergetar.

Aku menggeleng perlahan, memberinya isyarat paling universal dari ketenangan.

Napas raksasa itu memburu keras. Dadanya naik turun. Namun, melihat balita di cengkeramannya tidak menjerit ketakutan, amarah liarnya sedikit mereda. Ia menatap wajah putrinya yang masih terengah-engah, lalu menatapku lagi. Perlahan, cengkeramannya di lenganku mengendur. Ia menurunkanku kembali ke lantai, meski matanya masih menyiratkan ancaman kematian.

Aku menelan ludah, mengatur napasku yang gemetar.

Aku meraih kembali sendok kayu itu. Kali ini, aku meminta raksasa itu memiringkan sedikit kepala putrinya.

Aku tidak lagi menyuapkan satu sendok penuh. Aku hanya meneteskan tiga tetes larutan itu tepat di ujung lidahnya. Sangat pelan.

Satu detik berlalu. Anak itu tidak terbatuk.

Aku meneteskan tiga tetes lagi.

Kali ini, cairan hangat itu menyapu lidahnya dengan lembut. Refleks tubuhnya merespons. Otot tenggorokannya bergerak lambat. Ia menelan cairan itu.

Gadis kecil itu tidak mengejang. Ia tidak memuntahkannya. Bibirnya yang pucat justru sedikit bergetar, tanpa sadar mengecap sisa rasa asin dan manis di mulutnya. Insting bertahannya menuntut lebih.

Aku menyuapkan setengah sendok, lalu satu sendok penuh dengan ritme yang sangat hati-hati. Sang anak mulai menelan cairan itu dengan stabil. Matanya memang masih terpejam, tetapi napasnya tidak lagi seberat dan sekasar sebelumnya. Tubuhnya akhirnya menerima air.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat pria raksasa itu membeku.

Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak, memerah saat melihat putrinya berhasil menelan sesuatu dan perlahan kembali tenang. Ia menatap putrinya cukup lama, memastikan napas anak itu teratur. Lalu, perlahan, ia menoleh menatapku.

Tidak ada lagi sorot membunuh di matanya.

Perlahan, pria raksasa itu berlutut di hadapanku.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Namun untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya, ia menundukkan kepala.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!