Di Daejeon, dua polisi dengan masa lalu rumit dipertemukan kembali sebagai partner kerja. Kim Da Eun yang dingin dan tegas harus bekerja sama dengan Lee Hyejin yang ceroboh namun cerdas.
Di tengah hubungan mereka yang penuh pertengkaran dan rahasia masa lalu, muncul kasus pembunuhan berantai misterius dengan jejak sepatu pendaki bertanda api sebagai petunjuk utama. Saat penyelidikan semakin berbahaya, keduanya mulai kembali dekat dan menyadari bahwa perasaan lama belum benar-benar hilang.
PARTNER OF JUSTICE adalah novel kriminal romantis tentang misteri, kepercayaan, dan dua polisi yang harus menghadapi penjahat sekaligus perasaan mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eun_Byeol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU TIDAK AKAN MENYERAH.
"Kya kau… apa kau tuli?" Da Eun terus meneriaki Hyejin.
"Huft… kenapa? Apa? Ha?" Hyejin masih merasa kesal.
"Tidak… hanya saja aku ingin mengatakan sesuatu padamu…" ucap Da Eun yang suaranya semakin terdengar rendah.
"Apa kata anda?" Hyejin tidak mendengar nya.
"Itu… aku mau meminta maaf pada mu.." ucap Da Eun dengan spontan.
"Ya? Apa yang anda katakan?saya tidak bisa mendengarnya.." Hyejin berpura-pura untuk tidak mendengarnya agar Da Eun meminta maaf dengan benar.
"Aishhh kau tuli? Aku ingin meminta maaf kepada mu… jadi maafkan aku… apa kau puas?" Da Eun meminta maaf kepada Hyejin walau agak kesal.
"Apakah anda tulus mengatakannya?" Hyejin masih meragukan permintaan maafnya.
"Engg apakah kau tidak mempercayainya?" Tanya Da Eun.
"Bukannya begitu… kau seperti agak terpaksa untuk mengatakannya.." ucapnya dengan melirik tajam ke arah Kim Da Eun.
"Kya apa maksudmu? Aku sudah tulus dalam mengucapkannya, kenapa kau masih tidak percaya? Apa aku harus berlutut untuk meminta maaf ke kamu? Ha?" Da Eun tidak percaya dengan ucapan Hyejin.
"Jika kau mau tidak masalah.." Hyejin berjalan meninggalkan nya.
Da Eun hanya melongo dan memicingkan matanya karena merasa tidak percaya dengan Hyejin yang tidak menghormatinya sebagai atasan dan juga seniornya.
Dan Da Eun hanya bisa tertawa kecil melihat tingkahnya yang amat sangat diluar nalar.
Da Eun mulai berjalan di dekat Hyejin,
"Kenapa kau tadi berlari saat aku memanggilmu?" Tanya Da Eun penasaran.
"Engg hanya saja aku perlu menangkap seseorang.." jelas Hyejin.
"Siapa? Apakah berhubungan dengan kasus kita?" Da Eun bertanya-tanya.
"Ya.. dia sepertinya pembunuh yang sebenarnya.." Hyejin menebak-nebak.
"Dia? Kenapa? Apa alasanmu mengatakan hal itu?" Da Eun menatap Hyejin dengan penuh tanda tanya.
Hyejin terdiam sebelum memberikan jawaban yang pasti kepada Da Eun dan ia juga sebenarnya sedang ragu apakah benar dia pembunuhnya dan bagaimana dengan pelaku yang hampir saja memukuli Han Eun Seook. Hyejin terus memikirkannya dengan teliti dan takut dengan tebakannya.
"Ah tidak usah di pikirkan,.. mari kita kembali ke kantor kepolisian Daejeon…" Hyejin mengelak dan mengejak Da Eun untuk kembali ke kantor.
Di sepanjang jalan mereka hanya saling terdiam tanpa mengatakan atau bertatap dan suasananya kembali canggung. Sehingga membuat mereka merasa tidak nyaman satu sama lain.
"Hei Lee Hyejin… apa kau sedang menyelidiki kasus ini sendirian tanpa mendiskusikannya dengan ku?" Tiba-tiba Da Eun mengatakan hal itu.
"Engg? Kenapa anda berpikir begitu?" Hyejin dan Da Eun berhenti berjalan dan saling menatap satu sama lain.
"Hanya saja aku merasa begitu.. karena kau terus mengejar seseorang yang sebenarnya berhubungan dengan kasus ini… bukan begitu?" Da Eun mendesaknya.
"Jika memang begitu apa peduli anda?" Hyejin menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Kenapa kau bilang seperti itu? Jelas aku akan sangat peduli karena kasus ini adalah kasus besar yang membuat seluruh media bertanya-tanya dan menebak-nebak di luar sana jelasnya." Da Eun menyilangkan kedua tangannya di antara perut dan dadanya.
"Jika anda ingin tahu kelanjutannya mari kita setelah menyelesaikan semua tugas di kantor minum beer bersama." Hyejin tiba-tiba mengajak Da Eun untuk minum bersama.
"Oke setuju.. aku ku nantikan.." Da Eun menyeringai.
Mereka berdua kembali ke kantor bersama dan membuat para rekan kerja yang lain bertanya-tanya dan terkejut sehingga kesenangan.
"Kamu kembali…" ucap Da Eun pada semuanya.
"Ya…" ucap semuanya dengan senyum yang mencurigakan.
Hyejin yang langsung berjalan menuju ke pantry untuk membuat minuman membuat semuanya menatapnya dan memberikan kode satu sama lain. Begitu juga dengan kepala Kim Da Eun yang lasung memasuki ruangannya membuat mereka bertanya-tanya apakah yang sedang terjadi dengan mereka setelah kejadian itu…
"Ohh apakah mereka berbaikan?" Wakil kepala Nam langsung mendekati petugas Park dan petugas Choi.
"Entah, tapi sepertinya memang mereka sudah berbaikan dan melanjutkan aktivitas mereka sendiri-sendiri."ucap petugas Choi.
"Semudah itukah untuk berbaikan?" Petugas Park penasaran.
Wakil kepala Nam dan petugas Choi menatap petugas Park dengan tatapan bingung.
"Mungkin saja…" ucap wakil kepala Nam dengan menganggukkan kepalanya.
"Ehh mana mungkin semudah itu… tapi kenapa mereka sudah kembali ke kantor bersama?" Petugas Choi yang awalnya tidak percaya tetapi juga penasaran.
"Ishh sudahlah lanjutkan pekerjaan kita agar cepat selesai.." perintah wakil kepala Nam.
"Oke agar cepat pulang jadi harus cepat dikerjakan…" ucap petugas Park .
"Benar aku juga ingin sekali pulang untuk bertemu pacar ku…" sahut petugas Choi.
Mendengar ucapan petugas Choi mereka berdua memicingkan matanya dan merasa tidak percaya.
"Cih yang benar saja.." seringai wakil kepala Nam.
"Kenapa? Anda tidak percaya?" Tanya petugas Choi.
"Kya memangnya kau memiliki pacar?" Tanya petugas Park dengan sinis.
"Eyyy jangan salah gini-gini juga aku laku dan memiliki pacar yang cantik jadi jangan asal menghina." Petugas Choi berlagak.
"Hei sudahlah biarkan saja dia.." ucap wakil kepala Nam pada petugas Park dengan menggelengkan kepalanya dan kemudian fokus pada komputernya.
Setelah beberapa jam berlalu malam pun tiba, sehingga semua berganti baju untuk kembali pulang.
Wakil kepala Nam menunggu petugas Park dan petugas Choi untuk merapikan barang-barang nya dan mereka terkejut bahwa Hyejin dan kepala Kim pulang bersamaan.
"Hei wakil kepala Nam dan semuanya kami berdua duluan ya.." ucap Da Eun pada mereka,
"Kalau begitu selamat malam semuanya dan sampai jumpa besok pagi.." ucap Hyejin dengan tersenyum.
Semua terkejut dan tidak bisa menjawab ucapan mereka semua karena saking terkejutnya.
"Ha.. yang benar saja mereka setelah berbaikan langsung pulang bersama? Wah Daebak…" wakil kepala Nam merasa tidak percaya dan juga merasa kagum dengan mereka berdua.
"Wahh… wahh.." petugas Park hanya terkagum-kagum.
Sedangkan petugas Choi hanya bisa menyeringai dan memakluminya.
Hyejin dan Da Eun mencari kedai untuk minum beer dan makan bersama, dan mereka menemukannya di salah satu tempat yang menurut mereka itu adalah tempat yang cocok.
"Itu disana.." Hyejin menunjuk kedai itu.
"Itu? Oke ayo kesana.." ucap Da Eun sembari berjalan menuju kedai itu.
"Bu kami pesan 2 gelas beer gelas yang besar dan juga toppoki 2 porsi.." ucap Hyejin pada pemilik kedai.
"Ya.." jawabnya.
"Yang besar? Kya kau akan mabuk jika menghabiskan nanti.." Da Eun tertawa karena takut Hyejin mabuk nantinya.
"Tidak apa-apa justru saya ingin mabuk karena hari ini saya sangat kesal.."Hyejin mengucapkan kata itu tanpa berfikir panjang.
"Kesal? Kenapa? Karena perkataan ku?atau hal lain?" Da Eun penasaran.
"Permisi ini pesanan anda.." Bu pemilik kedai menyelah.
"Ah ya terimakasih.." ucap Da Eun.
Hyejin mulai meminum beernya sampai dengan cepat dan membuat Da Eun terkejut.
"Kya perlahan.." Da Eun khawatir.
"Sunbae anda tahu… kenapa aku kesal?" Hyejin sudah mulai mabuk karena ia sebenarnya tidak bisa minum beer walau itu sedikit.
"Ah kau sudah mulai mabuk ternyata…" Da Eun mengeluh,
"Kenapa? Kenapa kau kesal? Dan pada siapa?" Lanjutnya.
"Saya… saya kesal.. pada diri saya sendiri.. kenapa? Karena…. Karena saya tidak bisa menangkap bedebah itu ya bedebah yang membunuh para wanita itu…" Hyejin mulai terengah-engah saat berbicara.
Walau sudah mabuk Hyejin masih menikmati makanannya dan begitu juga dengan Da Eun.
"Kya kenapa kau kesal pada dirimu sendiri… jangan kesal.. karena… karena kau sudah berusaha dengan semampumu jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.. ha?" Da Eun juga sudah mulai mabuk.
Beberapa menit mereka di kedai dan mereka langsung menghabiskan satu gelas besar beer mereka dan kali ini mereka memesan beer lagi untuk kedua kalinya,
"Bu..tambah dua gelas beer lagi.." pinta Kim Da Eun.
"Kya kau bilang kau akan menceritakan bagaimana kau akan menangkap gaejasik itu?" Da Eun mulai bertanya tentang badebah itu..
"Saya? Ah benar saya akan memberi tahu anda.. saya mengejarnya dengan cara saya sendiri yaitu mencari informasi dimana-mana untuk menemukan nya dan untuk menangkapnya kembali." Hyejin menjelaskan.
"Terus kenapa kau tidak mengajak ku?" Da Eun kesal karena Hyejin bekerja sendiri.
"Ishh saya kira anda juga bekerja sendiri jadi saya tidak ingin mengajak anda.." Hyejin mulai kehilangan kesadarannya karena mabuk.
"Kya bagaimana kalau kita bekerjasama?" Tanya Da Eun.
"Ya? Kerjasama? Untuk apa?" Hyejin bertanya balik.
"Ishh untuk menangkap badebah itu jelasnya,.." Da Eun menekankan kata badebah.
"Wahh Daebak… oke jika anda mau.."Hyejin bertepuk tangan dan membuat orang lain menatapnya dan Da Eun yang sadar langsung memberhentikan Hyejin yang bertepuk tangan.
"Kya berhenti.. benar kita adalah partner sekarang," ucap Da Eun untuk menghentikan Hyejin.
"Ahh hormat untuk partner baru saya.. mari kita jangan menyerah dalam menangkap badebah itu.." Hyejin berteriak..
"Kya cukup hentikan itu.." Da Eun meminta maaf ke semua orang.