Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 [Bayangan yang Tak Memiliki Mana]
Langkah kaki terdengar pelan saat dua sosok keluar dari perpustakaan desa Hinomaru.
Udara sore terasa sejuk. Cahaya matahari mulai condong ke arah barat, menyelimuti desa kecil itu dengan warna keemasan yang tenang.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya masuk ke dalam hati mereka.
Shiranui Akihara berjalan di depan, sementara Liora Raizen mengikutinya beberapa langkah di belakang.
Keduanya diam.
Pikiran mereka masih terikat pada satu hal.
Nama itu.
Railer Zernaldha.
Dan sosok yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini
Argiel Lucifer.
Akihara akhirnya memecah keheningan.
“Kau tidak perlu berjalan terlalu mencolok di desa ini.”
Liora sedikit mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Akihara tidak langsung menoleh.
“Penduduk di sini… hanya mengenalku sebagai Akira.”
Langkah Liora berhenti sejenak.
Angin sore berhembus, mengibaskan rambut peraknya.
“…Akira?”
Nada suaranya berubah.
Lebih tajam.
Lebih dalam.
Akihara akhirnya berhenti.
Namun ia tidak berbalik.
Beberapa detik hening.
Lalu Liora tersenyum tipis.
Bukan senyum hangat.
Lebih seperti… senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu.
“Jadi itu caramu bersembunyi.”
Akihara tetap diam.
Liora melangkah mendekat.
“Kerajaan Solvaria mencarimu ke mana-mana.”
Langkahnya berhenti tepat di sampingnya.
“Semua orang mengira Grandmaster Api telah menghilang.”
Ia menatap Akihara dari samping.
“Atau… mati.”
Angin berhembus lebih kencang.
Namun Akihara tetap berdiri tenang.
“…Aku hanya ingin hidup dengan tenang.”
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa berat.
Liora menatapnya beberapa detik.
Lalu ia menghela napas pelan.
“Dasar bodoh…”
Namun suaranya melembut.
Dan mereka kembali berjalan.
Saat mereka sampai di rumah kecil itu, suasana berubah lagi.
Lebih ringan.
Lebih… pribadi.
Di dalam rumah, Noa sedang duduk di lantai kayu.
Bayi kecil itu mengeluarkan suara lucu sambil mencoba meraih sesuatu yang tidak ada.
“…Ba…”
Akihara langsung mendekat dan mengangkatnya.
Liora berdiri di dekat pintu.
Memperhatikan.
Diam.
Tatapannya perlahan berubah.
Ia berjalan mendekat.
“Anak itu…”
Akihara menoleh.
Liora menatap lurus ke arah bayi itu.
“Siapa dia sebenarnya?”
Akihara menjawab dengan santai.
“Aku menemukannya di belakang rumah.”
Jawaban itu terlalu sederhana.
Terlalu ringan.
Liora tidak puas.
Tatapannya menajam.
“Jangan bercanda.”
Akihara sedikit bingung.
“Kenapa aku harus bercanda?”
Liora melangkah lebih dekat.
Tatapannya kini langsung mengarah ke mata Akihara.
“Jangan bilang…”
Nada suaranya turun.
Lebih pelan.
Namun terasa menekan.
“…kau punya anak dengan wanita lain.”
Waktu seolah berhenti.
Akihara membeku.
“…Apa?”
“Jawab.”
Nada Liora dingin.
Tapi pipinya… sedikit memerah.
Akihara langsung panik.
“Bukan begitu!”
Ia mengangkat tangan, sedikit gugup.
“Aku benar-benar menemukannya di semak-semak belakang rumah!”
Liora tetap menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu
“Hmph.”
Ia memalingkan wajah.
“Baiklah.”
Namun jantungnya masih berdetak cepat.
Sementara itu Noa tertawa kecil.
Seolah menikmati situasi itu.
Malam perlahan turun.
Desa Hinomaru kembali menjadi desa yang tenang.
Lampu-lampu mulai menyala satu per satu.
Suara tawa warga terdengar dari kejauhan.
Semua terlihat normal.
Terlalu normal.
Hingga tiba-tiba
“AAAAA!!”
Teriakan memecah malam.
Akihara langsung berdiri dari kursinya.
Liora juga bergerak cepat.
Mereka saling pandang.
Tanpa kata.
Dan berlari keluar rumah.
Di tengah desa…
Beberapa warga berlari ketakutan.
Seorang wanita terjatuh di tanah.
Di depannya
Tiga sosok kecil berdiri.
Goblin.
Namun ada sesuatu yang salah.
Kulit mereka lebih gelap.
Mata mereka kosong.
Tidak ada cahaya kehidupan.
Liora langsung maju ke depan.
“Pergi menjauh!”
Para warga mundur.
Akihara berdiri di belakang.
Memperhatikan.
Liora mengangkat tangannya.
Kilatan kecil listrik muncul di ujung jarinya.
Namun ia menahannya.
Ia tidak bisa menggunakan kekuatan penuh.
Identitasnya harus tetap tersembunyi.
Salah satu goblin melompat.
Liora bergerak.
Cepat.
Sangat cepat.
Ia menghindar dengan mudah.
Dan
CRACK!
Satu serangan.
Goblin itu terhempas ke tanah.
Liora tidak berhenti.
Dua goblin lainnya menyerang bersamaan.
Gerakannya mengalir seperti petir.
Ringan.
Tepat.
Efisien.
Beberapa detik kemudian
Ketiganya jatuh.
Hening.
Namun…
Tidak ada yang keluar.
Tidak ada inti mana.
Tidak ada sisa energi.
Tubuh goblin itu… retak.
Lalu
Hancur.
Menjadi abu hitam.
Terbawa angin.
Liora membeku.
Matanya melebar.
“…tidak mungkin.”
Ia mundur satu langkah.
Ini salah.
Sangat salah.
Semua makhluk hidup di dunia ini
Memiliki mana.
Itu hukum dasar.
Namun ini…
Kosong.
Akihara juga menyadari.
Tatapannya menjadi serius.
“Liora!”
Suara warga memanggil.
“Kau hebat sekali!”
“Terima kasih sudah menyelamatkan kami!”
Liora masih diam.
Namun warga mulai mendekat.
Wajah mereka penuh rasa terima kasih.
Dan lalu
“Eh?”
Seorang wanita tua tersenyum lebar.
“Mana suamimu? Akira!”
Semua orang menoleh.
Hening satu detik.
Wajah Liora langsung merah.
“…Apa?”
“Kalian kan keluarga!”
“Anaknya juga lucu!”
Liora membeku.
Pikirannya kosong.
“…Eh… aku…”
Lalu
Dia berbalik.
Dan lari.
“AKU PERGI DULU!”
Angin berhembus saat ia menghilang dari keramaian.
Pintu rumah terbuka keras.
Liora masuk dengan napas terengah-engah.
“Akihara!”
Akihara yang sedang menggendong Noa menoleh.
“Ada apa?”
Liora menatapnya serius.
“Goblin itu…”
Ia menarik napas.
“…tidak punya mana.”
Akihara langsung terdiam.
Suasana berubah.
Drastis.
“Itu tidak mungkin.”
“Aku melihatnya sendiri!”
Nada Liora tegas.
“Tubuhnya hancur menjadi abu. Tidak ada inti mana sama sekali.”
Akihara mengerutkan kening.
Ini bukan sekadar anomali kecil.
Ini sesuatu yang… mengancam.
Liora melanjutkan.
“Dan bukan itu saja.”
Ia menatap ke arah barat.
Meski terhalang dinding rumah.
“Ada sesuatu di sana.”
Akihara mengikuti arah pandangnya.
“Apa maksudmu?”
“Energi besar.”
Nada suaranya pelan.
Namun berat.
“Sangat besar.”
Ia menelan ludah.
“…dan berasal dari bawah tanah.”
Hening.
Akihara tidak langsung menjawab.
Namun ekspresinya berubah.
Serius.
“Raja Iblis sudah mati.”
Kalimat itu keluar perlahan.
Seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Aku yang melenyapkannya.”
Liora tidak langsung membantah.
Namun ia berkata pelan.
“…bagaimana jika tidak?”
Akihara menoleh.
Liora melanjutkan.
“Bagaimana jika… dia tidak sendirian?”
Angin malam terasa lebih dingin.
“…dengan istrinya.”
Pipinya sedikit memerah.
Namun kali ini bukan karena malu.
Lebih karena… perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Akihara membeku.
Satu nama muncul di kepalanya.
Railer Zernaldha.
Potongan-potongan itu mulai tersambung.
Namun justru membuat semuanya terasa lebih buruk.
Jauh di bawah tanah.
Sangat jauh.
Di tempat yang tidak tersentuh cahaya.
Kegelapan pekat menyelimuti segalanya.
Namun di tengah kegelapan itu…
Ada sesuatu.
Retakan.
Perlahan.
Merambat.
Seperti denyut.
Seperti… kehidupan.
Aura hitam menyebar.
Dingin.
Berat.
Dan dari dalamnya
Sebuah suara.
Samar.
Hampir tidak terdengar.
“…bangkit…”
Lalu
Suara lain.
Lebih lembut.
Namun lebih mengerikan.
“…Argiel…”
Kegelapan itu… bergerak.