NovelToon NovelToon
Setelah Lima Tahun Berlalu

Setelah Lima Tahun Berlalu

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Tamat
Popularitas:288.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.

Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.

Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.

" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Kyra kembali bekerja seperti biasa, putranya Aldian sudah sembuh dan sehat kembali. Kyra duduk di meja, mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda. Rambutnya dikuncir rapi ke belakang, sementara di seberangnya, Aldian duduk manis di kursi tinggi, masih mengenakan piyama bergambar dinosaurus. Bocah itu tampak ceria, menatap bundanya sambil menggoyang-goyangkan kakinya kecilnya.

Pagi itu, aroma harum telur goreng memenuhi seluruh ruangan kecil kontrakan Kyra. Asap tipis mengepul dari wajan, sementara suara desis minyak membuat suasana dapur terdengar hidup.

“Bunda, baunya enak banget,” katanya sambil menarik napas dalam-dalam.

Kyra tersenyum sambil membalik telur di wajan. “Iya dong, ini telur spesial buat Aldian yang udah sembuh.”

“Telur spesial?” tanya Aldian penasaran, matanya berbinar.

“Iya,” jawab Kyra sambil tersenyum menggoda. “Soalnya Bunda tambahin cinta.”

Aldian langsung terkekeh. “Telur pakai cinta? Ih, lucu banget, Bun!”

Kyra ikut tertawa pelan, lalu mematikan kompor dan memindahkan telur ke piring. Ia menaruhnya di meja bersama dua piring nasi hangat, kecap manis, dan segelas susu untuk Aldian. Sederhana, tapi suasana di meja itu terasa begitu hangat.

“Yuk, makan,” ucap Kyra sambil duduk di hadapan putranya.

Aldian langsung menyendok nasi dan potongan telur gorengnya. “Hmm… enak banget!” katanya dengan mata berbinar. “Telur cinta Bunda paling enak di dunia.”

Biasanya, pada jam-jam begini, Kyra akan terburu-buru menitipkan Aldian kepada Bu Lilis sebelum berangkat kerja. Namun, hari ini berbeda. Bu Lilis memberi tahu Kyra bahwa ia harus pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk mengunjungi cucunya yang sakit.

“Bunda, nanti Aldian main sama siapa?” tanya Aldian, menyendok nasi goreng dengan lahap.

Kyra duduk di hadapan putranya, mengelus rambut hitam Aldian. “Karena Oma Lilis pergi, hari ini Aldian harus main sendiri di kontrakan, ya.”

Wajah Aldian sedikit murung. “Main sendiri?”

“Iya, Sayang. Tapi janji sama Bunda, Aldian enggak boleh keluar dari kontrakan. Main mobil-mobilan saja di dalam, ya. Semua pintu dan jendela nanti di kunci yaa, jangan biarin orang lain masuk ” bujuk Kyra.

Aldian mengangguk pelan. Meskipun agak kecewa tidak bisa bermain dengan Bu Lilis, ia mengerti bundanya harus bekerja. “Iya, Bunda. Aldian janji di dalam terus!”

Kyra merasa lega, meskipun sedikit khawatir meninggalkan putranya sendirian. Ia segera memastikan semua mainan Aldian sudah siap, bekal makanan kecil dan minuman sudah tersedia di meja, serta pintu dan jendela terkunci rapat setelah ia keluar.

“Jaga diri baik-baik, Nak. Bunda pergi kerja dulu, ya,” ujar Kyra.

Kyra mencium kening putranya, lalu beranjak ke pintu. “Bunda sayang Aldian.”

“Aldian juga sayang Bunda!” balas bocah itu riang sambil melambai.

“Dah, Bunda!”

Kyra pun berangkat menuju kantor megah tempat ia bekerja. Setibanya di sana, ia segera menuju ruang ganti, meletakkan tasnya, dan mengambil peralatan kebersihan.

“Wah, Nyonya Besar sudah kembali!”

Kyra menoleh dan mendapati Arya dan Amel, rekan kerjanya, sudah berdiri di ambang pintu, menyambutnya dengan senyum lebar.

“Apaan sih, Nyonya Besar,” Kyra terkekeh pelan. “Biasa aja, aku kan cuma cuti sebentar.”

“Syukurlah Aldian sudah sehat. Jadi lega denger kabar baiknya,” kata Amel tulus.

“Iya, Alhamdulillah, sudah sehat total,” jawab Kyra.

Kyra segera mengambil lap dan mulai membersihkan meja-meja di lantai itu. Amel dan Arya pun segera menyusulnya. Ketiganya kembali larut dalam rutinitas membersihkan kantor. Kyra mencoba fokus, menyapu lantai dengan gerakan yang teratur, membersihkan setiap sudut ruangan dengan teliti.

Sekitar pukul sepuluh pagi, ketika Kyra sedang membersihkan area pantry, pintu lift berbunyi dan seseorang keluar dengan langkah cepat. Itu adalah Dika, sekretaris pribadi Bagas yang terkenal dengan wajah datarnya.

Dika langsung berjalan menuju Kyra yang sedang mengelap meja, tatapannya tegas tanpa basa-basi.

“Kyra,” panggil Dika, suaranya pelan tapi bernada perintah.

Kyra terkejut dan segera berdiri tegak, menjauhkan lap di tangannya. “Iya, Pak Dika?”

“Ikut saya sekarang,” ujar Dika singkat.

“Ke mana, Pak?” tanya Kyra, jantungnya mulai berdebar kencang. Apakah ia melakukan kesalahan?

“Pak Bagas memanggilmu. Dia ada di ruangannya,” jawab Dika, lalu berbalik tanpa menunggu Kyra.

Kyra terdiam sejenak, menatap punggung Dika yang sudah melangkah cepat menuju lift. Ia hanya bisa saling pandang cemas dengan Amel dan Arya. Ia menelan ludah, meletakkan peralatan kerjanya di sudut, dan dengan langkah ragu-ragu, ia mengikuti Dika menuju area paling eksklusif di kantor itu: lantai eksekutif, tempat ruangan Bagas berada.

Kyra bergegas masuk ke dalam lift, berdiri agak jauh di belakang Dika. Lift mulai bergerak naik, menuju lantai eksekutif yang terasa begitu asing dan mewah bagi Kyra. Keheningan di dalam lift terasa memekakkan telinga. Hanya suara dentingan halus yang menandakan pergerakan lift yang terdengar.

Kyra menarik napas dalam-dalam, menguatkan dirinya. Statusnya hanyalah seorang office girl, tidak ada salahnya bertanya pada sekretaris atasannya.

“Pak Dika,” panggil Kyra pelan.

Dika, yang sedari tadi hanya menatap lurus ke pintu lift, menoleh sedikit tanpa mengubah ekspresi datarnya. “Ya?”

“Maaf mengganggu, Pak. Bolehkah saya tahu... mengapa Pak Bagas memanggil saya? Apakah ada masalah dengan pekerjaan saya di lantai bawah?” tanya Kyra hati-hati, berusaha terdengar profesional meskipun suaranya sedikit bergetar.

Dika menoleh sepenuhnya, menatap Kyra sekilas. Matanya terlihat menilai, seolah ia baru menyadari keberadaan Kyra.

“Bukan masalah pekerjaan,” jawab Dika singkat.

Kyra sedikit lega, tapi juga semakin bingung. Jika bukan pekerjaan, lalu apa?

TING!

Pintu lift terbuka. Mereka sudah tiba di lantai eksekutif. Lantai ini sunyi, karpetnya tebal, dan udara dingin AC terasa begitu menusuk kulit Kyra yang hanya mengenakan seragam tipis.

“Ayo,” ajak Dika, memberi isyarat agar Kyra mengikutinya.

“Pak, Kyra sudah datang,” lapor Dika.

Kyra melangkah masuk. Ruangan itu begitu besar, didominasi warna monokrom elegan, dengan dinding kaca lebar yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian yang memukau.

Di tengah ruangan, di balik meja kerja kayu gelap yang rapi, duduklah Bagas.

Pria itu mendongak dari dokumen yang sedang ia baca. Pandangan matanya yang tajam langsung bertemu dengan mata Kyra.

“Terima kasih, Dika. Kau boleh kembali bekerja,” ujar Bagas.

“Baik, Pak.” Dika membungkuk sedikit, lalu segera menutup pintu, meninggalkan Kyra dan Bagas berdua dalam keheningan yang tegang.

Kyra berdiri membeku di ambang pintu, menunggu.

Bagas meletakkan pulpennya dan mencondongkan tubuh ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja.

“Duduk, Kyra,” perintah Bagas, suaranya tenang namun mengandung otoritas mutlak.

Kyra menuruti perintah itu, berjalan perlahan dan duduk di kursi tamu yang empuk di hadapan Bagas.

“Bagaimana kabar Aldian? Dia sudah benar-benar sehat?” tanya Bagas, tanpa basa-basi.

“Sudah, Pak. Alhamdulillah. Terima kasih atas perhatian Bapak,” jawab Kyra, menunduk sedikit.

"Diaman dia sekarang, bukannya kalian tinggal berdua. Dan setahu saya Aldian tidak sekolah, lalu dimana kamu menitipkannya" cecar Bagas.

Kyra mengangkat kepalanya " Maaf pak, ini jam kerja dan saya tidak bisa menjawabnya. Dan jika bapak ingin menanyakan hal pribadi dan bukan masalah tentang pekerjaan saya izin kembali bekerja pak"

Kyra segera membalikkan badan, mengambil dua langkah menuju pintu, berniat untuk melarikan diri dari ruangan yang mencekiknya ini.

“Tunggu!”

Suara Bagas terdengar lebih keras dan tajam, penuh perintah yang mutlak. Pria itu bergerak cepat, memutar mejanya, dan hanya dalam beberapa langkah sudah berdiri di hadapan Kyra, menghalangi jalannya. Postur tubuhnya yang tinggi dan besar membuat Kyra harus mendongak.

Wajah Bagas terlihat tegang. Ia berusaha keras menahan gejolak emosi yang terlihat jelas di rahangnya yang mengeras.

Bagas melipat kedua tangannya di dada, tatapan tajamnya mengunci Kyra.

“Jawab aku, Kyra. Kau tinggalkan anak sekecil itu sendirian di kontrakan? Aku memanggilmu ke sini bukan untuk bermain-main. Aku tahu Bu Lilis pergi keluar kota. Sekarang, jawab aku!” Bagas terlihat menahan emosi.

Kyra merasakan air mata mendesak keluar, tetapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. Ia merasa terpojok, marah karena Bagas melanggar privasinya begitu jauh.

“Bapak tidak berhak mencampuri urusan saya!” balas Kyra, suaranya bergetar tetapi ia berusaha mempertahankan nada kerasnya. “Dia adalah anak saya! Saya sudah mengurusnya sendirian bertahun-tahun tanpa bantuan dari siapapun! Saya tahu cara menjaga anak saya!”

“Mengurus sendirian?” Bagas menyeringai pahit. “Kau pikir meninggalkan anak berusia lima tahun sendirian di kontrakan terkunci adalah cara mengurus anak? Kyra, kau bekerja untukku, aku tahu berapa gajimu. Apa yang bisa kau berikan pada anak itu? Tempat tinggal yang layak? Keamanan? Fasilitas kesehatan yang terbaik?”

Bagas mencondongkan tubuh sedikit, memaksa Kyra mundur selangkah.

“Dan yang paling penting,” lanjut Bagas, suaranya mengancam, “Kau menyembunyikan dia dariku selama ini. Kau tahu, atau setidaknya kau pasti sudah menduganya, bahwa Aldian adalah anakku. Aku tidak akan membiarkan putraku tinggal dalam keadaan seperti ini. Katakan, dimana dia sekarang?"

Kyra kini benar-benar terdesak, nafasnya memburu. Ia tidak menyangka Bagas akan sekeras dan setegas ini.

1
Lilik Juhariah
miris
ayu cantik
gantung
Lisa
Terimakasih y Kak utk karyanya..kita tunggu karya² selanjutnya y..👍😊
Atmita Gajiwi
/Heart//Heart//Rose/
Lisa
Wah sekarang rumahnya Bagas & Kyra selalu ramai tuh 😊
Nuri 73749473729
lanjut
Eno Pahlevi
LANJUTT.... DITUNGGU TRIPLE UPDATENYA THOR 🥰🥰🥰🥰
Muji Lestari
🤣🤣🤣lucu rewan
Nuri 73749473729
lanjut
Mazree Gati
SORRY THORR KLO AKHIRNYA BALIKAN SAMA BAGAS,,,END, UNSUB,,
Hari Saktiawan
lama banget update nya
Lisa
Happy wedding Revan & Dira..bahagia selalu & labggeng ya 🙏
Erna Riyanto
cerita Damian dan Dewi lanjutin dong thorrr....lama bgt lho...digantung
Uthie
Mampir untuk genre cerita seperti ini 👍👍👍
Boby The Blind Massage Entertaiment AND Freelance (BOBY_freelance)
Kalau sudah begini jalan ceritanya, kayaknya ini Prepare to ending.
Hari Saktiawan
dinovel nama arka kok banget Thor lu suka ya
ig: denaa_127: nama gebetan, jujurr🤭
total 1 replies
Arwondo Arni
jujur aja kl kamu mencintai Dira lgsg nikah aja biar ngak sepi
Lisa
😊 Kalau lagi sakit Revan baru inget tuh sama Dira 🤭
Lisa
Sehat selalu y Kyra, debaynya juga..
Maria Anyela Rosa
kok jadi melow begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!