"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Terjebak di Ruang Arsip
"Lepaskan aku. Kontrak sudah ditandatangani, sekarang menyingkir dari jalanku." Keysa mendorong dada Arga dengan satu sentakan terukur. Perempuan itu menarik kedua lembar kertas kesepakatan dari tangan suaminya, lalu berjalan lurus menuju mesin penghancur kertas di sudut ruangan untuk melenyapkan draf cerai yang lama.
Arga tertawa pelan melihat ketegasan istrinya. "Aku selalu menyukai efisiensi kerjamu."
"Simpan pujian palsumu. Aku harus turun ke ruang arsip bawah tanah sekarang juga." Keysa membereskan tablet dan mengambil kartu akses khusus dari laci mejanya dengan gerakan cepat. "Orang tua licik seperti Pak Hendra pasti masih menyimpan bukti fisik mutasi vendor bodong itu di lemari arsip divisi operasional. Data digitalnya sudah dia hapus tadi pagi, tapi dia terlalu malas untuk menghancurkan kertas fisiknya."
"Aku ikut." Arga menyambar jas abu-abunya dari sandaran kursi.
"Tidak perlu. Ruang arsip itu kotor, gelap, dan berdebu. Jahitan di kepalamu bisa infeksi kalau terkena kuman." Keysa menolak mentah-mentah ide konyol tersebut. "Kamu diam saja di ruangan ini sampai urusanku selesai."
"Aku CEO di gedung ini, Keysa. Aku bebas pergi ke lantai mana pun. Apalagi ini menyangkut bukti penggelapan uang perusahaanku sendiri." Arga melangkah pasti mendahului Keysa menuju lift khusus.
Keysa memutar bola matanya dengan sangat kesal menatap tingkah suaminya itu, merutuki sifat keras kepala suaminya, namun ia tidak punya waktu untuk berdebat. Waktu terus berjalan, ia harus mendapatkan bukti itu sebelum loyalis Pak Hendra memusnahkannya.
Mereka masuk ke dalam lift khusus. Lift khusus itu meluncur dengan sangat cepat menembus puluhan lantai gedung, membawa mereka ke level dasar bawah tanah ketiga. Pintu besi lift terbuka, menampilkan lorong bercahaya remang-remang yang terasa jauh lebih dingin daripada ruangan atas.
"Di mana letak rak divisi operasional?" tanya Arga saat mereka tiba di depan pintu baja otomatis bertuliskan Ruang Arsip Utama.
Keysa menempelkan kartu aksesnya pada panel kaca. Pintu baja bergeser terbuka dengan desisan berat. "Rak blok D, deretan paling ujung. Ikuti langkahku dan jangan menyentuh dokumen divisi lain sembarangan."
Ruangan arsip utama itu terlihat sangat luas, dipenuhi rak-rak besi tinggi yang berbaris rapat menyerupai labirin raksasa. Bau kertas tua dan tinta kering menusuk penciuman. Keysa berjalan cepat membelah rak, matanya meneliti label tahun yang tertempel di setiap ujung besi. Arga mengekor tepat di belakangnya, mengawasi cara kerja istrinya yang sangat tangkas.
"Ketemu. Arsip vendor tahun lalu," ucap Keysa seraya menarik laci besi berukuran besar. Ia mulai membongkar tumpukan map berdebu, membolak-balik halamannya dengan teliti.
Arga berjongkok di sebelahnya, membantu menarik tumpukan map lain dari sudut laci. "Kamu mencari kop surat perusahaan apa?"
"Bumi Konstruksi," jawab Keysa tanpa menoleh. "Cari map warna merah pudar. Angkanya pasti tidak wajar karena ada selisih pembelian beton."
Mereka berdua larut dalam pencarian dokumen. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan kertas. Kerja sama mereka terjadi secara sangat alami. Arga menyortir map berdasarkan bulan, lalu menyerahkannya pada Keysa untuk dianalisis. Tidak ada obrolan canggung. Hanya fokus mutlak pada satu tujuan yang sama.
Tiba-tiba, suara dentuman yang sangat keras bergema dari arah pintu masuk utama.
Slam!
Keysa dan Arga serentak menoleh. Suara logam bergesekan kasar terdengar memekakkan telinga, disusul bunyi klik ganda pertanda kunci pengaman baja otomatis aktif secara paksa.
Detik berikutnya, seluruh lampu tabung neon di langit-langit berkedip dua kali sebelum akhirnya mati total. Kegelapan pekat seketika menelan ruangan luas tersebut.
"Apa yang terjadi?" Arga bangkit berdiri, suaranya menggema di antara celah rak-rak besi.
Keysa merogoh saku celananya dan menyalakan lampu senter ponsel. Cahaya terang itu menyorot wajah Arga yang waspada.
"Sistem keamanannya diretas," desis Keysa tajam. "Sisa loyalis Pak Hendra pasti memantau pergerakan kita dari kamera pengawas di lorong luar. Mereka sengaja mengunci kita dari luar supaya kita tidak bisa membawa bukti ini keluar."
Belum sempat Arga melontarkan makian, desingan mesin terdengar menderu nyaring dari celah ventilasi udara di atas kepala mereka. Hembusan angin yang turun bukan lagi udara sejuk pendingin ruangan biasa, melainkan hawa beku ekstrem yang sangat menusuk tulang.
"Sialan. Mereka menurunkan suhu sentral ruang arsip ini ke tingkat suhu terendah," rutuk Keysa menyorotkan senter ke kipas ventilasi. "Ruangan ini dirancang kedap udara mencegah potensi kebakaran merusak dokumen. Kalau pendinginnya diubah menjadi mode beku paksa, kita tidak akan bertahan lama."
Bukannya menjerit ketakutan, Keysa langsung berjalan setengah berlari menuju pintu baja utama. Langkahnya mantap.
"Sorotkan cahaya ponselmu ke panel kontrol dinding sebelah pintu, Arga!" perintah Keysa tanpa ragu.
Arga segera menyalakan lampu senter ponselnya sendiri, menyorotkan cahaya terang tepat ke kotak logam kecil di samping pintu baja.
"Pintu ini dikunci lewat sistem utama dari ruang kontrol lantai atas," ucap Keysa cepat, meraba ujung kotak panel. "Kita harus memutus kabel sirkuitnya manual agar pintu bisa didorong paksa."
"Kau punya alat pencungkil atau obeng?" tanya Arga.
"Tidak ada obeng. Aku akan pakai penjepit rambutku." Keysa mencabut paksa jepit besi runcing dari sanggulnya, membiarkan rambut lurus panjangnya tergerai berantakan ke punggung.
Keysa mulai mencongkel celah sempit penutup panel dinding dengan sekuat tenaga. Arga berdiri sangat dekat, menjaga posisi cahaya agar stabil menyorot pergerakan tangan Keysa. Saat penutup logam itu sulit terbuka, Arga menyisipkan ujung kunci mobilnya yang kebetulan ada di saku ke dalam celah yang dibuat Keysa, menekan kuat ke bawah berfungsi sebagai tuas pembuka.
Bunyi patahan pelan terdengar nyaring. Penutup panel terlepas jatuh ke lantai, menampilkan kerumunan kabel aneka warna yang rumit.
"Bagus," puji Keysa singkat. "Bantu aku mencari kabel utama warna merah dan biru. Kita harus menyatukan ujung potongannya supaya terjadi korsleting sistem lokal."
"Kau bisa mati tersengat aliran listrik, Keysa," Arga memperingatkan dengan nada berat.
"Risikonya lebih baik daripada membeku menjadi es di tempat penumpukan kertas ini." Keysa mulai menarik rentetan kabel itu paksa.
Suhu ruangan anjlok cepat bagai mesin pembeku. Udara dingin ekstrem menembus lapisan kemeja kerja Keysa yang tipis. Tangan perempuan itu gemetar saat berusaha menarik kabel tembaga yang alot. Giginya bergemeletuk pelan menahan beku.
Arga mengamati penderitaan istrinya dalam diam. Kemeja kerja elegan Keysa sama sekali tidak dirancang menahan suhu beku ruang arsip yang kini menyerupai lemari pendingin daging raksasa.
Arga melepas jas abu-abunya dengan satu tangan, menyampirkannya paksa ke bahu Keysa. "Pakai ini sekarang."
Keysa menggeleng keras, membuang jas itu ke lantai agar tangannya bebas bermanuver. Ia tetap fokus pada panel sirkuit. "Tanganmu butuh kehangatan supaya ototmu tidak kaku, Arga! Kamu sedang dalam pemulihan jahitan operasi otak!"
"Aku laki-laki. Aku tidak akan mati hanya karena kedinginan," Arga membalas keras kepala.
Suhu terus turun mendekati titik minus. Jari-jari Keysa terlalu kaku memelintir ujung kabel pelapis tersebut. Tubuhnya menggigil hebat di luar kendali logikanya. Napas Keysa mengeluarkan asap putih setiap membuang udara. Senter di genggaman Arga juga bergetar karena menahan ngilu hawa beku yang menusuk tulang rusuknya yang masih cedera.
"Kabelnya... terlalu tebal," gumam Keysa putus asa dengan bibir memucat biru. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan limbung sedikit ke belakang.
Arga langsung membuang ponselnya berdebum ke lantai. Udara semakin beku menyerang kulit mereka. Arga menarik Keysa yang mulai menggigil parah ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh ramping itu erat-erat dengan kedua lengannya.
"Apa yang kamu lakukan... lepaskan aku, Arga! Kita harus membuka pintu baja ini!" Keysa memberontak keras, memukul dada bidang suaminya dengan tangan bergetar hebat.
Arga menolak melepaskan pelukannya sedikit pun. Ia semakin mengencangkan lengannya, menyalurkan seluruh sisa panas tubuhnya untuk menghangatkan Keysa. Laki-laki itu menundukkan kepalanya dengan penuh otoritas, menekan dagunya kuat-kuat di puncak rambut Keysa, mengunci pergerakan perlawanan istrinya di tengah kegelapan pekat yang membekukan.
"Diam, atau kita berdua mati kedinginan sebelum petugas keamanan sadar kita hilang."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..