NovelToon NovelToon
Pamali

Pamali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Spiritual / Komedi
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Samsya

Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.



Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Setelah lari cukup lama sampai membuat kedua kaki mereka kesakitan dan kram otot.

“Gila sih ini, kita ketemu hantu begitu. Gua pikir itu si Dinda sama Risma loh” Alfin langsung roboh, merebahkan tubuh nya di tanah yang kotor.

“lah sama jir, gua juga tadi nya mikir juga begitu. Gua baru sadar pas Dinda yang chat gua minta maaf karena gak bisa ikut kita.”

“Nah, dari situ lah gua sadar kalo yang sama kita dari tadi bukan Dinda sama Risma tapi melainkan hantu ternyata”

Seru Dinda merasakan hawa dingin sekitar membuat nya menggigil, Alfin yang melihat itu jadi heran.

Karena terbalik dengan bunga yang kedinginan, justru Alfin ia merasa begitu panas. Sampai baju nya hampir basah karena keringat.

“Lu kedinginan yah?” Tanya Alfin ia segera melepaskan jaket yang ia kenakan.

“Iya,ini dingin banget jir. Lebih dingin dari biasanya” jawab bunga masih merasakan hawa dingin itu bahkan setelah memakai jaket milik Alfin.

“Lu kedinginan tapi gua panas banget tau, lihat nih baju gua sampe basah begini” ujar Alfin tidak tahan dengan suhu tubuh nya yang memanas seperti penggorengan saja.

“Lah, iya jir sampe basah gitu. Coba lu rasain telapak tangan gua dingin banget”

Bunga meletakkan telapak tangannya di kening Alfin.

“Ouh, iya cuy dingin tapi enak bikin gua adem dikit nih” ujar Alfin kepikiran ide cemerlang untuk masalah ini.

“Gimana kalo kita gandengan tangan aja, biar bisa saling membantu?” Tanya Alfin.

Bunga memperhatikan sekitar, dan memikirkan sejenak pertanyaan itu. “Okelah, gak ada perumahan juga disini. Di situasi seperti ini kita memang harus saling membantu”

Alfin pun menggandeng erat-erat tangan bunga. Mereka berjalan kembali menelusuri jalan aspal, namun semakin jauh mereka berjalan.

Keadaan sekitar semakin berubah, yang tadinya mereka berjalan di aspal kini hanya jalan tanah setapak saja.

Melihat keanehan itu bunga tidak yakin kalau mereka sudah dekat. ‘ gua rasa ini makin nyasar sih, bukan ke jalan yang benar tapi ini malah makin tersesat’

Bunga langsung menghentikan langkahnya membuat Alfin keheranan. “Kenapa berhenti Cok? Ini bentar lagi nyampe loh”

“Sssstt …. Kecilkan volume suara lu, coba deh lu lihat sekitar kita. Emang iya jalan menuju kampung kayak gini? … Setahu gua mah kagak jir”. Bisik bunga ia merasa ada banyak mata yang memperhatikan nya dari balik batang pohon besar.

Alfin langsung mengedarkan pandangannya dan ia baru sadar jika jalan yang mereka ambil ternyata salah.

“Iya juga yah, tapi kan kita gak pernah belok ke jalan lain. Selain lurus aja, masa sih iya bisa nyasar ke hutan”

Suasana hening sesaat tidak ada yang berani bicara. Bunga semakin yakin hawa dingin yang ia alami dan rasa panas yang dialami Alfin, bukan sesuatu yang sengaja.

Melainkan di sengaja oleh sesuatu yang tidak terlihat oleh mata nya. Belum sempat Alfin mengatakan sesuatu.

Dari balik batang pohon besar didepan mereka terdengar jelas suara perempuan ketawa dengan nada yang nyaring.

“hihihihihi … kan aku yang bikin kalian nyasar sampai ke sini”

Reflek bunga dan Alfin menoleh ke arah suara itu. Di atas pohon besar itu ada kuntilanak yang sedang tertawa.

Dan ….

“Lah, anjir kuntilanak. Lari cuy!!!” kaget Alfin yang langsung lari terbirit-birit diikuti bunga dari belakang.

Sampai bunga tidak sengaja menginjak serpihan kaca di tanah, menyebabkan telapak kaki nya berdarah.

“Jangan berhenti woy, itu kuntilanak nya masih ngejar” mendengar bunga hanya bisa terus berlari sambil menahan rasa sakit di kaki nya.

Di saat mereka terus berlari ada banyak bayangan hitam yang nampak melompat dari satu batang pohon ke batang pohon yang lainnya.

“Aaaa … sampai kapan kita lari terus jir? … Kaki ku capek banget” keluh bunga sudah sangat lelah, ditambah telapak kaki nya sekarang terluka.

“Sampai semua makhluk ini gak ngejar ngejat kita lagi lah” jawab Alfin tapi tidak berani untuk berhenti lari, apalagi setelah melihat banyak sosok aneh yang mengikuti nya dari belakang.

“Anjir lah banyak amat makhluk yang ngejar kita dah, dikira kita maling apa” gerutu bunga terus berlari melewati semak belukar yang terkadang tumbuh di dekat akar pohon yang timbul dari tanah.

Selama berlari tawa kuntilanak itu terus menggema di udara, dan hawa dingin terus menusuk kulit bunga yang sudah memakai jaket dua lapis.

Setelah mendengar suara kuntilanak itu mulai menghilang dan tidak ada lagi sosok gelap yang lompat dari pohon ke pohon.

Baru lah Alfin dan bunga akhirnya berhenti berlari. Namun saat mereka melihat sekelilingnya semua tampak seperti hutan belantara yang tidak ada pulang nya.

“Kita makin jauh kayaknya mah ini” ujar Alfin mulai frustasi sekaligus bingung kenapa semua bisa terjadi sampai seperti ini.

“Gua juga gak tau, tapi yang pasti ini karena kita keluar malam waktu itu gak sih” sahut bunga, wajah nya sudah begitu pucat menahan rasa sakit dari kaca yang menancap di telapak kaki nya.

Di tengah ras frustasi yang melanda bunga menatap lurus ke depan. Bunga melihat ada sebuah gubuk tua yang tidak jauh dari hadapannya. “Cuy, ada gubuk kita istirahat dulu yu”

“Ayolah, gua juga capek banget sebenarnya. Lagi pula kayaknya tuh kuntilanak gak ngejar kita lagi”

Bunga berjalan tertatih menuju gubuk itu, ia dan Alfin dapat melihat ada makanan yang ditinggalkan oleh pemilik gubuk di depan pintu.

“Eh, kok ada makanan yah?” tanya bunga yang tidak tahu, melihat itu Alfin hanya diam.

“Hm, itu sesajen cuy. Katanya buat persembahan untuk leluhur atau apa lah itu, gue gak paham banget sih. Tapi makan aja sih daripada mati kelaparan”

Belum sempat Alfin mengambil sesajen itu, bunga sudah langsung mencegah nya. “Eh, jangan sembarang makanan yang gak punya lu. Biar ini sesajen kek, bukan kek. Kalo ngambil tanpa izin namanya maling Cok”

Mendengar itu Alfin hanya bisa menggerutu, memakai dalam hati dan tanpa sadar perilaku nya itu seolah menantang sesuatu yang tidak kasat mata.

“Tunggu dulu deh, lu nyium bau aneh ini gak?” Tanya bunga menghirup ada aroma amis dan seperti daging gosong terbakar api.

Alfin mencoba menajamkan indra penciuman nya dan benar ada bau amis serta daging gosong terbakar.

Bau nya semakin lama semakin menyengat sampai membuat bulu kuduk bunga berdiri.

“Ya, Allah. Perasaan gua gak enak ini mah. Kayaknya pengen ngumpet aja gitu” bisik bunga yang kali ini ia yakin harus mengikuti perasaan nya.

“Tapi ngumpet dimana jir? Masa di gubuk yah ketahuan dong” tanya Alfin yang mulai ikut panik, sampai membuat nya hampir menangis.

Bunga melihat ada batang pohon besar yang tengah nya bolong, seperti dimakan rayap pohon.

“Disitu aja yu, tar tinggal kit tutup pake semak belukar yang itu tuh” usul bunga dan langsung dibalas anggukan kecil oleh Alfin.

Alfin mengambil semua semak belukar itu, sedang kan bunga langsung masuk ke dalam batang pohon yang berlubang itu.

“Ayo, lu masuk” kata bunga membantu Alfin menutup semak belukar di di tempat persembunyiannya mereka.

“Lumayan gede juga yah bolong nya” Gumam Alfin membenarkan semak semak nya agar tertutup rapat dan tidak ada celah untuk mengintip.

Untuk sesaat suasana hening, hanya ada suara jangkrik dan bau amis yang semakin menyengat di hidung.

“Tidak lama kemudian sebuah getaran hebat terjadi, membuat bunga dan Alfin kaget.

“Jangan berbisik, nih gigit aja ranting kayu yang kecil, biar gak teriak kita” bisik Alfin menyerah ranting kayu ke bunga.

Tanpa banyak bicara bunga langsung mengambilnya dan menggigit di mulut nya, begitu pula dengan Alfin.

Getaran itu terus terjadi sampai berhenti di sekitar mereka.

"Dimana anak anak kurang ajar itu, berani sekali mereka melanggar pamali yang sudah ada ... keluar kalian!!"

teriak sosok itu dengan badan yang besar ia menghentakkan kedua kakinya, membuat tanah terus terguncang hebat oleh nya.

Bunga yang penasaran ia mengintip dari celah paling kecil dan betapa terkejutnya melihat sosok tersebut.

1
you're mine
Aamin, semoga aja mereka gak kenapa Napa pas berhasil ditemukan 🤭
cila_aa
mau tanya kak, lembing itu apa yaa kak
cila_aa
baru setan bisa kurus😭
you're mine: bisa dong, ini setan nya lain dari yang lain 🤣
total 2 replies
cila_aa
semoga bunga dan alfin selamat thor🥺
cila_aa
sadis amat thor setannya
cila_aa
aaa ikut deg degan nihh tiba ada yang cari disituasi ke gini
cila_aa
berarti tersesat dong 2 anak itu🥺
cila_aa
ngide banget sih bunga sama alfin kan jadi ketemu setan😭
cila_aa
thor mau nanya nih kenapa warga diem kalau suasana jadi aneh😞
cila_aa: jadi penasaran nihh
total 2 replies
you're mine
agak serem dikit emang, tapi itu sebenarnya bukan Risma. melainkan sosok astral yang lagi menyerupai Risma gitu deh 😄
cila_aa
ih takutt rismaa, ko bisa gitu thor?
you're mine
bisa aja nih, itu belum lama loh. Masih belajar juga aku itu, btw aku masih setia nungguin bab selanjutnya novel kamu itu loh 🤭.
cila_aa: semangat kak nulisnya, aku juga masih harus banyak belajar hehe🤍
total 1 replies
Parmata Author
Pemula(pemain udah lama😭). btw sengat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!