NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

briefing pagi

*Bab*11

Raditya berdiri tegap di hadapan barisan.

Pagi di Karang Wilis masih muda. Kabut tipis belum sepenuhnya pergi, tapi di lapangan itu, tidak ada yang peduli pada kabut.

Sepuluh prajurit berdiri tegap di depannya. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Mata lurus ke depan, punggung tegak, tangan rapi di sisi tubuh masing-masing.

Di sebelah kiri Raditya berdiri Sersan Dimas dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya.

Di sebelah kanannya, Letkol Aldi tampak tenang seperti biasa.

Raditya memindai barisan satu per satu—pelan, dari kiri ke kanan. Tidak ada yang bergerak tidak juga berkedip lebih dari seharusnya.

"Baik," suaranya datar. "Selamat pagi."

Hening.

"Dengarkan. Kita di sini bukan untuk berperang." Ia menjeda sebentar, membiarkan kalimat itu masuk sebelum melanjutkan. "Tujuan kita adalah meredakan ketegangan yang sedang terjadi antara desa ini dan desa sebelah. Bukan memperkeruh, apalagi memihak."

Matanya menyapu barisan sekali lagi.

"Kalian bukan provokator. Kalian penjaga. Dan kalian tahu bedanya. Saya harap kalian paham perbedaan itu sebelum kaki kalian keluar dari pos ini."

Raditya kembali memindai sekeliling.

"Beberapa hal yang harus diingat," suaranya tidak naik, tidak turun. "Pertama, tidak ada interaksi dengan pihak yang bersengketa tanpa seizin saya. Kedua, tidak ada tembakan peringatan tanpa perintah. Ketiga, warga sipil adalah prioritas. Anak-anak, lansia, perempuan—lindungi mereka bahkan dengan nyawa kalian sendiri kalau perlu."

"Saya tidak butuh pahlawan. Saya butuh kalian pulang utuh."

Lapangan itu sunyi.

Hanya angin yang lewat tipis, menggerakkan rumput di tepinya pelan-pelan.

Tiba-tiba, "Pak! Tunggu, Pak!"

Suara teriakan terdengar beberapa meter di belakang Raditya.

Di sana, Nayla datang tergesa-gesa. Jilbabnya sedikit miring, napasnya tersengal-sengal. Ia berjongkok sebentar, lalu berdiri.

"Pak maap saya telat".

"Dari mana kamu".

Nayla menggigit bibir bawahnya. _Mampus aku,_ batinnya.

Raditya belum berbalik, tapi bahunya terlihat terangkat, lalu turun pelan.

"Dimas."

"Siap."

"Bagikan tugas patroli pagi."

"Siap, Letnan."

Dimas melangkah maju, membuka kertas di tangannya, lalu mulai membagikannya ke barisan.

Raditya menoleh ke belakang.

"Dok dengar."

Nayla menegakkan punggungnya—refleks.

Raditya melangkah ke arahnya, lalu berhenti di depannya. Jaraknya satu setengah meter.

"Saya paling tidak suka keterlambatan," suaranya tetap datar. "Bukan karena soal disiplin semata."

Matanya tidak berkedip.

"Tapi karena di tempat seperti ini—" ia menjeda sebentar, "—keterlambatan satu menit bisa berarti nyawa yang tidak terselamatkan. Pasien yang tidak tertangani. Warga yang tidak terlindungi. Satu menit di sini bukan sama dengan satu menit di kota."

Nayla membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Jadi lain kali," Raditya melanjutkan, suaranya tidak naik satu nada pun, "saya tidak ingin mengulangi percakapan ini."

Ia membalikkan badan.

Nayla berdiri diam di tempatnya. Jilbabnya masih miring, tangan masih memegang lengan kiri, tapi kali ini bukan karena panik.

Karena tidak tahu harus bilang apa.

"Sudahlah," Raditya menarik napas. "Nanti pukul 12.25 saya mau patroli. Bukankah dokter akan melakukan pendataan warga?"

"Iya, Pak," jawab Nayla, suaranya masih gugup.

"Bagus. Kita berangkat bersama nanti."

Si siap pak

Lalu Raditya melangkah berjalan meninggalkan lapangan namun sejurus kemudian terlihat langkah nya sedikit melambat, diikuti Aldi dan Dimas.

"Dit," suara Letkol Aldi memanggil.

Raditya menoleh.

"loh nggak seharusnya ngomong seperti itu ke Dokter Nayla,"

"Iya, nih," balas Sersan Dimas. "Kasihan, kan?"

"Ngomong sama cewek tu harus lemah lembut," lanjutnya sambil menyenggol bahu Raditya.

"Kalau bapak ngomong kayak gitu ke Dokter Nayla nanti dia jadi takut sama bapak te???

"Bukan urusan lo berdua," jawab Raditya singkat.

Lalu dia melangkah sedikit lebih cepat, meninggalkan Aldi dan Dimas.

"Luka itu masih ada," ucap Aldi pelan.

Dimas hanya mengangguk.

sementara itu di lapangan

Setelah kepergian Raditya,

Nayla masih berdiri di tempatnya melihat Raditya yang sedang berjalan ke arah tendanya ​Lalu ia mengembuskan napas pelan, Kakinya mulai melangkah; bukan ke tenda medis, bukan pula ke pos komando, melainkan ke bangku kayu kecil di bawah pohon di tepi lapangan.

​Ia duduk.

​Angin pagi berembus pelan, menerpa wajahnya—sejuk, membawa aroma rumput basah dan tanah yang baru mulai kering. Nayla memejamkan mata sejenak, membiarkan angin itu menyentuhnya.

​"Kenapa dia nggak mau dengerin penjelasan aku dulu..." gumamnya pelan—bukan mengeluh, lebih seperti pertanyaan yang tidak butuh dijawab.

​Lalu, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

​"Dasar menyebalkan."

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!