Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Beberapa tamu yang tadi memenuhi rumah Gerson akhirnya mulai berpamitan satu per satu hingga suasana menjadi jauh lebih tenang.
Di ruang tamu, Austin duduk santai di sofa sambil memandang sebuah lukisan yang baru saja diletakkan Gerson di atas karpet.
Lukisan itu adalah hadiah dari seorang teman kolektor.
Austin memang sesekali mengoleksi barang antik, kaligrafi, dan lukisan langka untuk disimpan di rumahnya. Awalnya ia mengira hadiah itu adalah karya seni elegan yang cocok dipajang.
Namun begitu dibuka, isi lukisan itu ternyata jauh lebih vulgar daripada yang ia bayangkan, meski di sisi lain tetap memiliki nilai artistik tinggi.
Temannya yang memberikannya jelas sengaja menggoda.
Pria itu bahkan sempat berkata sambil menggigit cerutu di bibirnya,
“Aku mendapatkan lukisan ini khusus dari seorang pelukis terkenal. Banyak orang menawarnya dengan harga tinggi, tapi tidak kulepas. Anggap saja hadiah balasan karena kau pernah membantuku.”
Sebelumnya Austin memang pernah menghadiahkan batu giok mahal kepada ayah pria itu, jadi kini hadiah itu dianggap sebagai balasan.
Austin mengangkat kain tipis yang menutupi kanvas, lalu menatap lukisan tersebut beberapa saat.
Meski gambarnya cukup eksplisit, harus diakui komposisi dan tekniknya luar biasa indah. Sayangnya, karena temanya terlalu intim antara pria dan wanita, lukisan itu lebih cocok dijadikan koleksi pribadi daripada dipajang terang-terangan.
Gerson yang berdiri di dekatnya langsung bersiul pelan.
“Kalau begitu kenapa tidak kau berikan saja padaku?”
Austin nyaris menjawab “ambil saja” ketika bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Gerson langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah cerah.
“Pasti Yurika.”
Ia bergegas membuka pintu dan benar saja, Yurika berdiri di sana sambil membawa lukisan yang dibungkus rapi.
“Kau datang juga.”
Gerson tersenyum lebar. “Masuk cepat.”
Yurika mengangguk kecil lalu masuk ke dalam rumah sambil memegang lukisan “Water Moon Guanyin” di tangannya.
Namun baru beberapa langkah berjalan, ia menyadari Austin juga berada di sana.
Yurika sedikit tertegun sebelum akhirnya menyapa dengan sopan.
“Selamat malam, Tuan Austin.”
Gerson yang berdiri di belakangnya sengaja menambahkan dengan nada menggoda,
“Yurika khusus datang mengantarkan lukisan untukku hari ini.”
Austin kembali duduk di sofa. Dengan tenang ia menunduk membetulkan kancing manset di pergelangan tangannya sebelum berkata datar,
“Rajin sekali.”
Nada bicaranya terdengar santai, tapi entah kenapa membuat Yurika merasa sedikit salah tingkah.
“Dia yang memintaku datang..” jelas Yurika cepat.
Namun sebelum kalimatnya selesai, pandangannya tertarik pada sebuah lukisan besar yang tergeletak di lantai ruang tamu.
Kanvas itu hanya tertutup kain tipis transparan sehingga tampak samar-samar, menciptakan kesan misterius yang justru membuat orang semakin penasaran.
Yurika tertawa kecil.
“Senior, jangan bilang kau akhirnya mau memesan lukisanku juga?”
“Bukan.” Gerson terkekeh. “Itu barang langka milik Austin. Katanya mahal sekali.”
“Masa?”
Rasa penasaran Yurika langsung muncul. Ia melangkah mendekat tanpa curiga sedikit pun.
Kain kasa tipis itu membuat isi lukisan terlihat samar, seolah sengaja mengundang orang untuk mengintip.
Yurika mencondongkan tubuh sedikit dan baru melihat sebagian kecil sudut lukisan..
Detik berikutnya wajahnya langsung memerah.
Panas menjalar sampai ke telinga.
Gerson yang sadar situasinya terlambat berseru, “Eh, tunggu..”
Namun semuanya sudah telanjur.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan Yurika dengan lembut namun cepat.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh mundur ke dada seseorang.
Aroma kayu cedar yang samar langsung memenuhi indra penciumannya.
Austin.
Sebelum Yurika sempat bereaksi, telapak tangan pria itu sudah menutupi matanya.
Suara rendah Austin terdengar tepat di dekat telinganya.
“Kau yakin ingin melihatnya?”
Jantung Yurika langsung berdegup kacau.
Sementara itu Austin tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tanpa melepas tangannya dari mata Yurika, ia berkata kepada Gerson, “Bawa lukisan itu ke atas.”
Gerson menatapnya dengan heran. “Serius? Kau jadi memberikannya padaku?”
Austin menunduk sedikit.
Tatapannya jatuh pada daun telinga Yurika yang sudah merah sepenuhnya. Jelas gadis itu sempat melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Austin.
“Kau sudah membuat gadis kecil ini kaget,” katanya santai. “Memangnya kau mau bertanggung jawab?”
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏