NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUAH BAKSO YANG MENGUBAH TAKDIR

Jika ada yang mengatakan bahwa jalan menuju hati pria adalah melalui perutnya, maka Alya sedang membuktikan bahwa jalan menuju markas mafia adalah melalui kesalahpahaman lambung. Namun, ada satu masalah besar yang dihadapi Alya saat ini. Di depannya, di atas meja mahoni panjang yang harganya mungkin setara dengan satu komplek perumahan di Bekasi, tersaji makanan yang menurut orang Prancis adalah kemewahan, tapi menurut Alya adalah penghinaan terhadap rasa lapar.

​Ada sebuah piring porselen putih besar, dan di tengahnya hanya ada satu potong daging kecil yang disiram saus gelap, dihiasi dengan satu helai daun peterseli yang nampak kesepian.

​"Bang... ini makanan atau sampel laboratorium?" tanya Alya sambil menatap Lucien yang duduk di ujung meja dengan wibawa yang meluap-ragu.

​Lucien mengangkat alisnya. "Itu Filet Mignon dengan saus Bordelaise. Daging kualitas terbaik di Paris."

​"Daging terbaik tapi ukurannya kayak gigitan nyamuk begini? Bang, saya ini orang Indonesia. Kita kalau makan itu prinsipnya 'gunung nasi'. Kalau lauknya segini, nasinya harus segaban biar imbang," protes Alya. Dia melirik Marc, Julien, dan Etienne yang duduk di sisi meja lainnya. Mereka semua makan dengan anggun, memegang pisau dan garpu seolah-olah mereka sedang melakukan operasi bedah saraf.

​Alya menghela napas panjang. Dia merogoh tas selempang kecilnya yang sudah butut. Keempat pria itu langsung siaga. Julien bahkan sudah meletakkan tangannya di balik jas, siap mencabut senjata. Mereka mengira Alya akan mengeluarkan granat atau pisau tersembunyi.

​Namun, yang keluar dari tas Alya adalah sebuah bungkusan plastik kecil berisi cairan merah kecokelatan dan satu botol kecil plastik yang tutupnya sudah agak longgar.

​"Tenang, Bang. Ini bukan bom kimia. Ini adalah harta karun nasional," kata Alya dengan nada sakral. Dia membuka botol kecil itu. Aroma tajam, menyengat, dan sangat khas langsung memenuhi ruang makan mewah yang biasanya hanya berbau cerutu dan parfum mahal itu.

​" Mon Dieu... bau apa ini? Apakah ada bangkai tikus di dapur?" tanya Marc sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.

​"Sembarangan! Ini terasi, Bang Marc! Shrimp paste! Ini adalah jiwa dari segala rasa!" Alya dengan cueknya menuangkan sedikit sambal terasi buatannya sendiri ke atas daging mewah seharga jutaan rupiah itu. Tidak berhenti di situ, dia mengeluarkan sebuah mangkuk kecil dari tasnya—entah bagaimana caranya benda itu muat di sana—dan mengeluarkan plastik berisi kuah bakso instan yang dia beli di komunitas diaspora Indonesia kemarin sore.

​Dia meminta pelayan yang gemetar di sampingnya untuk mengambilkan air panas. Dengan gerakan ahli, Alya menyeduh bumbu bakso itu. Aroma bawang putih goreng dan kaldu sapi yang gurih seketika menabrak aroma saus wine Prancis yang elegan.

​"Nah, ini baru namanya hidup!" Alya menyesap kuahnya langsung dari mangkuk. "Slruuup! Ahhh... mantap!"

​Keempat bersaudara itu berhenti makan. Mereka menatap Alya dengan tatapan horor sekaligus penasaran. Di dunia mereka yang penuh dengan protokol, aturan, dan kemewahan yang kaku, mereka belum pernah melihat seseorang makan dengan begitu... berisik dan penuh gairah.

​"Kau... kau memakan itu?" tanya Etienne, si bungsu yang psikopat, matanya berkilat penuh minat. Dia mendekat ke arah Alya, hidungnya mengendus udara. "Baunya... aneh. Tapi merangsang saraf."

​"Mau coba, Bang Imut? Sini, ini namanya kuah bakso. Di negara saya, ini adalah obat segala penyakit. Putus cinta? Makan bakso. Pusing? Makan bakso. Mau ngebantai musuh? Ya sarapan bakso dulu biar tenaganya kuat buat nendang ginjal orang," tawar Alya sambil menyodorkan sendok plastiknya (dia bahkan membawa sendok plastik sendiri).

​Etienne, tanpa ragu, mencicipi kuah itu. Lucien ingin melarangnya, khawatir itu adalah racun, tapi terlambat. Etienne terdiam. Matanya membelalak.

​" C'est... c'est incroyable! (Ini... ini luar biasa!)" teriak Etienne. "Rasanya seperti ledakan di lidah. Ada rasa gurih, pedas, dan sesuatu yang... menendang!"

​Marc yang penasaran akhirnya ikut mencicipi. Kemudian Julien yang pendiam pun ikut-ikutan. Terakhir, sang raja dingin Lucien, dengan harga diri yang setinggi Menara Eiffel, akhirnya mengambil sesendok kecil.

​Hening sejenak.

​" Putain... (Sialan...)," gumam Lucien. "Kenapa saus koki bintang lima kita terasa seperti air tawar dibandingkan dengan cairan kuning ini?"

​Alya tertawa bangga. "Makanya Bang, jangan main sama saus yang kebanyakan gaya tapi kurang rasa. Ini rahasia kekuatan orang Indo. Kita boleh dijajah ratusan tahun, tapi lidah kita tetap raja!"

​Suasana yang tadinya mencekam dan penuh aura pembunuh, tiba-tiba berubah menjadi sesi "icip-icip kuliner nusantara". Marc mulai bertanya tentang komposisi bumbu, sementara Etienne bersikeras ingin tahu di mana bisa mendapatkan "bola-bola daging" yang disebut bakso itu.

​Namun, di tengah keriuhan itu, pintu ruang makan terbuka dengan kasar. Seorang anak buah mafia berlari masuk dengan wajah pucat pasi.

​" Monsieur Lucien! Maaf mengganggu, tapi keluarga mencurigai ada kebocoran informasi. Musuh dari klan Valois sedang menuju ke sini. Mereka tahu kita sedang menawan 'aset' baru!"

​Lucien langsung berdiri, aura dinginnya kembali dalam sekejap. "Berapa banyak?"

​"Tiga mobil, bersenjata lengkap!"

​Alya yang sedang asyik menyeruput sisa kuah bakso langsung tersedak. "Uhuk! Uhuk! Apaan nih? Baru juga mau nambah nasi, udah ada tamu tak diundang? Bang, itu Valois siapa? Tukang tagih utang?"

​"Bukan, sayang," kata Marc sambil mencabut dua pistol dari balik jasnya dengan gerakan yang sangat elegan. "Mereka adalah orang-orang yang ingin melihat kepalamu terpisah dari tubuhmu."

​"Hah?! Baru juga nikah kontrak beberapa menit, udah mau jadi janda berdarah aja gue!" Alya panik. Dia melihat Julien sudah menghilang ke arah jendela dengan senapan panjangnya, sementara Etienne tertawa riang sambil mengasah pisaunya.

​"Alya, ikut aku," perintah Lucien sambil menarik lengan Alya.

​"Bentar Bang! Mangkuk gue jangan ditinggal! Sayang bumbunya mahal!" Alya nekat menyambar mangkuk dan tasnya sebelum ditarik paksa oleh Lucien menuju ruang bawah tanah.

​Tiba-tiba, suara tembakan pecah. Tatatatata! Kaca-kaca jendela mansion yang harganya mungkin bisa buat beli mobil mewah hancur berkeping-keping. Alya menjerit, tapi bukan jeritan ketakutan yang biasa.

​"WOI! ITU JENDELA BAGUS BANGET KENAPA DIANCURIN?! SAYANG TAU!" teriak Alya di tengah desingan peluru.

​Lucien menarik Alya ke balik pilar marmer. "Diam! Fokus pada keselamatanmu!"

​"Gimana mau fokus kalau kuping saya budeg denger suara petasan raksasa begini, Bang!" Alya melihat seorang pria berpakaian hitam masuk lewat jendela yang hancur. Pria itu mengarahkan senjata ke arah mereka.

​Tanpa pikir panjang, karena insting bertahan hidup ala emak-emak Jakarta yang melihat diskon terakhir di pasar, Alya melakukan sesuatu yang tak terduga. Di tangannya masih ada mangkuk sisa kuah bakso yang masih panas—dan yang paling penting—penuh dengan ulekan sambal terasi ekstra pedas yang ia campurkan tadi.

​"RASAKAN KEKUATAN SAMBAL INDONESIA, CURUT!"

​Alya melemparkan sisa kuah bakso itu tepat ke wajah sang penyerang.

​" AAARGH! MES YEUX! MES YEUX! (Mataku! Mataku!)" teriak pria itu sambil terjatuh dan berguling-guling di lantai. Efek sambal terasi yang terkena mata jauh lebih menyakitkan daripada terkena gas air mata standar kepolisian. Perihnya sampai ke jiwa dan raga.

​Lucien terpaku. Dia melihat anak buah klan Valois yang terlatih itu sekarang lumpuh hanya karena cairan berwarna merah kecokelatan.

​"Kau... kau melumpuhkannya dengan sup?" tanya Lucien tak percaya.

​"Itu bukan sup, Bang. Itu senjata pemusnah massal bernama Sambal Terasi Level 10," kata Alya sambil terengah-engah. "Lain kali kalau mau berantem, kasih tau dulu, biar saya ulek cabai satu kilo!"

​Julien yang menembak dari lantai atas pun sempat melirik ke bawah dan memberikan jempol tipis ke arah Alya sebelum kembali menembak kepala musuh lainnya. Etienne yang sedang asyik menyayat lengan lawan pun berhenti sejenak untuk bertepuk tangan.

​"Aku suka istri baru kita! Dia sangat kreatif!" seru Etienne gembira.

​Pertempuran itu berlangsung singkat. Berkat peringatan dini dan bantuan "senjata kimia" tidak sengaja dari Alya, klan Valois berhasil dipukul mundur. Sisanya diurus dengan cepat oleh para pengawal pribadi Si Kembar Empat.

​Setelah suasana tenang, ruang makan itu kini berantakan. Pecahan kaca ada di mana-mana, dan ada noda kuah bakso di lantai yang bercampur dengan debu. Lucien berdiri di tengah ruangan, merapikan jasnya yang sedikit terkena cipratan kuah. Dia menatap Alya yang sedang duduk di lantai sambil memeluk tasnya erat-erat, wajahnya masih merah karena emosi dan rasa lapar yang belum tuntas.

​Lucien mendekat, lalu berjongkok di depan Alya. Dia mengambil tangan Alya yang gemetar (sebenarnya gemetar karena kurang asupan gula).

​"Alya," suaranya melunak, sebuah nada yang jarang sekali didengar oleh saudara-saudaranya. "Mungkin kakek benar. Kau bukan hanya sekadar wanita. Kau adalah bencana yang kita butuhkan untuk menghancurkan musuh-musuh kita."

​"Bang, pujiannya kok rada miring ya?" sahut Alya sinis. "Terus gimana nih? Rumah berantakan begini. Mana laper gue makin parah."

​Marc berjalan mendekat, menyeka kacamatanya yang terkena debu. "Jangan khawatir. Kita akan pindah ke penthouse rahasia di dekat Menara Eiffel. Dan di sana..." Marc tersenyum penuh arti. "Ada dapur yang lengkap. Kau bisa memasak apa pun yang kau sebut sebagai 'senjata' tadi."

​"Beneran? Ada nasi?" mata Alya berbinar.

​"Apapun untukmu, Ma Chérie," jawab Marc.

​Alya berdiri, menepuk-nepuk celananya. "Oke. Tapi denger ya, Bang Lucien, Bang Marc, Bang Julien, sama Bang Imut... eh, Etienne. Kalau kita mau lanjutin pernikahan gila ini, ada aturan pertama: Jangan pernah ganggu saya kalau lagi makan. Dan aturan kedua: Sediain stok cabai yang banyak. Karena di Paris ini, kayaknya peluru nggak lebih mematikan daripada sambal ulek gue."

​Keempat saudara itu saling pandang, lalu serentak mereka sedikit menundukkan kepala—sebuah tanda hormat yang biasanya hanya diberikan kepada sang Don.

​" D'accord, Madame, " ucap mereka serempak.

​Alya tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Ya udah, ayok jalan! Gue udah ngebayangin nasi anget pake telor dadar nih. Allons-y! (Ayo pergi!)"

​Saat mereka berjalan keluar dari mansion yang hancur itu, dikawal oleh puluhan pria bersenjata lengkap, Alya menyadari satu hal. Takdirnya memang sudah berubah total. Dia datang ke Paris untuk mencari masa depan, tapi malah menemukan empat suami mafia kejam yang ternyata sangat mudah ditaklukkan oleh semangkuk kuah bakso.

​"Sialan," batin Alya sambil melirik Lucien yang berjalan di sampingnya dengan sangat protektif. "Gue kayaknya bakal jadi bos mafia paling semprul se-Eropa nih."

​Dan di bawah langit Paris yang kini mulai menampakkan bintang, langkah kaki Alya terdengar mantap. Dia bukan lagi turis yang tersesat. Dia adalah permaisuri baru dari penguasa bawah tanah Paris, bersenjatakan keberanian, selera humor yang hancur, dan tentu saja, resep rahasia sambal terasi yang akan mengubah sejarah mafia Prancis selamanya.

​"Bang Lucien, entar malem kerokan ya? Kayaknya Abang masuk angin tuh, mukanya pucat bener," celetuk Alya memecah keheningan romantis.

​Lucien hanya bisa menghela napas pasrah. "Apa itu... 'kerokan'?"

​"Nanti Abang tau sendiri. Rasanya kayak disiksa tapi enak. Cocoklah buat mafia kayak kalian."

​Ketiga saudara lainnya tertawa kecil, sementara Lucien hanya bisa membayangkan apa lagi kegilaan yang akan dibawa wanita Indonesia ini ke dalam hidup mereka yang biasanya penuh dengan darah dan air mata. Tapi satu hal yang pasti, hidup mereka tidak akan pernah membosankan lagi.

1
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!