Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi itu, matahari baru saja muncul menyinari halaman hotel. Suasana masih segar dan tenang. Namun, di depan pintu kamar Aletta, sudah ada satu sosok cowok yang berdiri tegak dengan tangan di saku celananya, wajahnya datar tapi matanya waspada.
Itu Dilan. Dia sudah standby dari jam 7 pagi, seolah-olah dia adalah bodyguard pribadi Aletta yang tidak boleh ada yang mendekat.
Pintu kamar terbuka, keluar Aletta, Tamara, dan Ruby yang sedang buru-buru karena takut tidak mendapatkan sarapan pagi.
"Pagi Al," sapa Dilan langsung, pandangannya lurus ke Aletta tidak menghiraukan keberadaan Tamara dan Ruby yang sama sama ada di sana.
"Pagi juga Dilan," jawab Aletta sambil tersenyum licik. Tiba-tiba Aletta mendorong pelan bahu Tamara agar berjalan lebih dekat ke samping Dilan.
"Eh Dilan, nih Tamara juga mau jalan bareng kok. Loh temenin Tamara jalan ya, biar dia gak sendirian. Kan kalian sekelas juga," kata Aletta sengaja mendekatkan mereka berdua.
Aletta langsung pergi begitu saja menarik tangan Ruby membiarkan Tamara berduaan dengan Dilan didepan kamar perempuan.
Tamara langsung tersipu malu dan jantungnya berdegup kencang berada begitu dekat dengan Dilan.
Dia sangat terkejut dengan tindakan Aletta yang tiba-tiba ini namun di dalam hatinya dia sangat senang dan ingin melompat-lompat kegirangan.
"I-iya... pagi Dilan," sapa Tamara pelan, berharap Dilan akan menyapa balik atau setidaknya menoleh kepadanya.
"Pagi" Ucapnya canggung Dilan benci situasi ini dia merutuki kelakuan Aletta tetapi mau bagaimana lagi dia harus berjalan bersama dengannya.
Dilan berusaha menjaga jarak darinya, namun Tamara sepertinya memanfaatkan momen ini dengan berjalan bersebelahan dengannya.
Mereka langsung mengambil makanan karena takut tertinggi bus karena sebentar lagi akan berangkat.
"Loh duluan aja makannya gue mau cari Erik dulu" jawab Dilan menjauh tanpa menoleh ke Tamara. Hati Tamara langsung hancur lagi, tapi dia tetap berusaha tegar.
"Tamara duduk sini" Ucap Aletta memanggil Tamara yang masih mencari tempat duduk.
"Cie yang tadi jalan sama Dilan" Ucap Aletta menggoda Tamara "gimana tadi ngobrol apa aja" Ucap Aletta merasa kepo.
"Yah gitu deh" Ucap Tamara tersenyum dia tidak mau menunjukkan kesedihannya, karena Aletta sudah berusaha untuk mendekatkannya dengan Dilan.
Mungkin ini cuma masalah waktu aja dan juga kalau Dilan sudah terbiasa dia akan bisa menerimanya.
Mereka langsung melahap makannya karena para guru sudah memberikan peringatan kalau sebentar lagi akan berangkat.
Hari ini adalah hari yang cukup berat dan berbeda dari biasanya. Rombongan sekolah memutuskan untuk melakukan kunjungan sosial dan edukasi ke Rumah Sakit Jiwa di Yogyakarta.
Suasana di dalam Rumah Sakit tersebut terasa hening dan mencekam. Mereka diajak berkeliling melihat kondisi pasien, mendengarkan penjelasan dokter, dan berinteraksi sebentar.
Aletta merasa sangat terharu dan sedih melihat kondisi mereka. Ada yang tertawa sendiri, ada yang diam mematung, dan ada yang bercerita tentang hidup mereka.
"Gila ya... ternyata hidup itu gak mudah ya, gue nyesel selalu menyia-nyiakan hidup ini dengan bermalas-malasan" bisik Aletta pada Ruby.
"Iya Al, jadi bersyukur banget kita masih bisa mikir sehat dan punya keluarga," jawab Ruby pelan dia jadi lebih bersyukur memiliki sahabat dan keluarga yang baik kepadanya.
Dilan yang berjalan di sebelah Aletta langsung menggenggam tangan Aletta erat. "Pegang tangan gue jangan lepas. Jangan jalan jauh-jauh," ucapnya protektif, membuat Aletta merasa aman.
Karena di ruangan ini banyak pasien yang di berikan lepas keluar masuk sesuka hati mereka begitu saja sehingga membuat para siswa siswi siap siaga menjaga diri mereka sendiri.
Di sela-sela istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, Handphone Aletta berdering. Nama JONATHAN muncul di layar. Aletta segera menjauh sedikit untuk mengangkatnya.
"Halo Jo..." Belum sempat Aletta melanjutkan perkaranya Meldi langsung memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Halo sayang! " Ucap Jonathan dengan jelasnya melontarkan kata sayang.
"Hah sayang" Ucap Aletta merasa terkejut namun dia juga sangat senang.
"Iya sayang gak papa kan" Ucap Jonathan meminta izin takutnya Aletta tidak merasa nyaman.
"Iya gak papa" Ucap Aletta tak kalah senang di sana, jujur saja mereka belum mempunyai status apa-apa namun entah kemana Aletta tidak keberatan dipanggil sayang oleh Jonathan
"Gimana kabarnya? Udah mendingan belum? Jangan kecapean lagi ya!" suara Jonathan terdengar ceria dan lembut, dia sangat perhatian dan peduli kepada Aletta bahkan sekarang dia tidak memusingkan lagi soal statusnya yang biasa saja.
"Alhamdulillah udah enakan kok Jo. Tadi kita baru aja dari Rumah Sakit Jiwa, sedih banget rasanya," cerita Aletta dengan penuh semangat dengan apa yang ada di sekitar sana.
"Ya ampun... pasti bikin terharu banget ya. Al, aku cuma nelpon sebentar yah soalnya aku tahu kamu harus lanjut jalan lagi kan? Kamu cuma mau ingetin, makan yang teratur, minum obatnya jangan lupa. Pokoknya jaga diri baik-baik ya. Nanti kalau udah nyampe hotel atau pulang kabarin akh terus ya!" pesan Jonathan panjang lebar penuh perhatian.
"Iya Jo... makasih banyak ya udah perhatian banget sama aku. Sayang kamu deh," jawab Aletta tersipu malu menutup mukanya seolah Jonathan bisa melihat reaksinya saat ini.
"Sama-sama sayangku. Yaudah sana lanjut jalan, bye bye!" Ucap Jonathan bahagia ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Aletta menutup telepon dengan hati yang hangat. Perhatian Jonathan itu manis dan menenangkan, berbeda dengan perhatian Dilan yang lebih ke arah posesif dan galak.
Dari tadi tak henti henti tersenyum kata sayang yang di lontarkan oleh Meldi bahan dari tadi Aletta dibuat tidak fokus dengan karya wisatannya.
"Cie dari tadi senyum senyum sendiri lagi mikirin apaan sih" Ucap Ruby menggoda Aletta yang terus melirik handphone nya seperti sedang menunggu pesan dari seseorang.
"Baik anak anak kegiatan kali ini ibu akhir sampai disini yah kalian bisa istirahat sebentar untuk bermain cuma ibu akan mengerikan tugas kelompok untuk membuat laporan yang tadi di rumah sakit jiwa" Ucap Ibu Siska.
"Untuk kelompoknya bagaimana buk" Ucap Luna dengan centilnya sambil menyelipkan rambutnya ke daun telinga nya.
"Nanti saya kirimkan ke grup sekolah yah" Ucap Ibu Siska dana para siswa pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil foto karena pihak laki laki hari melaksanakan ibadah sholat jumat.
Cahaya matahari siang itu menyinari halaman wisata yang asri di Yogyakarta. Angin lembut meniup rambut Aletta dan Tamara saat mereka bergantian berpose di depan latar taman yang penuh bunga berwarna-warni dan bangunan tradisional yang indah. Ruby sibuk memegang ponselnya, mengatur sudut pengambilan gambar agar setiap foto terlihat sempurna.
"Wah, bagus banget ini! Lihat deh, latarnya bikin wajah kita makin cerah," seru Ruby sambil menunjukkan hasil jepretannya kepada kedua sahabatnya.
Teman-teman perempuan yang lain juga tidak kalah seru. Ada yang saling memotret, ada yang tertawa sambil mengatur posisi pakaian, dan ada pula yang duduk santai di bangku kayu sambil bercerita. Suasana begitu riang dan hangat, diisi suara tawa dan canda mereka yang memecah keheningan halaman itu.
Sementara itu, dari arah masjid kecil yang letaknya tidak jauh dari lokasi foto, terdengar suara kumandang bacaan Al-Qur'an yang lembut dan khusyuk. Para laki-laki yang ikut dalam perjalanan karyawisata itu sedang melaksanakan salat Jumat berjamaah. Suasana di sana terasa tenang dan damai, sangat berbeda dengan keriuhan di tempat para gadis itu berada.
"Senang ya, bisa bersenang-senang begini sambil para teman laki-laki kita beribadah dengan tenang," kata Aletta pelan sambil melihat ke arah masjid.
Tamara mengangguk setuju. "Iya betul. Kita bisa menikmati waktu kita dengan nyaman, dan mereka pun bisa menjalankan kewajibannya tanpa terganggu. Ini momen yang indah sekali."
Ruby kembali mengangkat ponselnya, kali ini mengabadikan pemandangan yang unik di satu sisi ada keriuhan kebahagiaan para gadis, di sisi lain ada ketenangan ibadah para laki-laki, semuanya menyatu dalam satu perjalanan yang berkesan di kota istimewa ini.
Tak lama kemudian, suara salam penutup salat terdengar dari masjid. Tidak lama lagi, mereka semua akan berkumpul kembali, saling berbagi cerita dan tawa sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat wisata berikutnya.
Sore harinya, saat kegiatan mengerjakan tugas laporan kelompok, Aletta kebetulan mendapat tugas untuk didampingi bekerja sama dengan seorang adik kelas bernama Aldo.
Aldo ini cowok yang lumayan ganteng, ramah, sopan, dan asik diajak ngobrol. Dia juga cukup aktif dalam memberikan pendapat dan ide ide yang menarik sehingga memudahkan Aletta untuk mengerjakan tugasnya dengan cepat.
"Kak Aletta, sini Kak, tugasnya bagian ini loh," ajak Aldo ramah memberikan catatannya yang dia tuliskan sewaktu di rumah sakit jiwa tentang data-data Pasien beserta kegiatan mereka selama di rumah sakit.
"Oh iya Do, makasih ya," jawab Aletta senang dan membaca catatan yang Aldo buat.
Aldo mereka senang karena catatannya ternyata berguna juga untuk tugas laporan kelompoknya sendiri.
Mereka berdua pun menghabiskan waktu seharian bersama. Bercanda, diskusi, makan siang sebangku lagi, dan Aldo sangat membantu Aletta yang masih terlihat agak lemas. Aldo sangat gentleman dan perhatian.
"Kak Aletta jangan capek-capek dong, biar saya yang angkat tasnya," tawar Aldo sopan karena melihat Aletta yang sudah kelelahan.
"Ah enggak kok Do, gue kuat kok," jawab Aletta tertawa. Mereka terlihat sangat akrab dan serasi.
Karena memang Aldo itu orangnya sangat cepat berinteraksi apalagi dia termasuk cowok yang banyak bicara jadi tak heran mereka bisa langsung akrab dengan sangat cepat.
Di sisi lain, Dilan sedang tidak enak hati. Sejak tadi matanya terus melirik ke arah Aletta yang sedang tertawa lebar bersama Aldo si adik kelas itu. Dilan kesal, cemburu, dan ingin marah tapi tidak bisa karena mereka sedang tugas.
Dilan berjalan menjauh, berusaha mengabaikan pemandangan itu. Tapi... dia merasa ada yang mengikuti dari belakang.
Dilan belok kanan... orang di belakang ikut belok kanan.
Dilan berhenti... orang di belakang ikut berhenti.
Dilan menoleh dengan kesal, dan ternyata itu Tamara. Dilan menarik nafasnya dengan kasar disaat dia sedang kesal karena melihat Aletta dengan Aldo dan sekarang dia harus dibuntuti oleh orang yang telah membuat dia jauh dari Aletta
"LOH NGAPAIN SIH BUNTUTI GUE TERUS?!!" tanya Dilan akhirnya meledak juga, suaranya keras dan kesal sehingga membuat semua orang langsung menolak kepadanya.
Tamara kaget dan mundur selangkah, matanya berkaca-kaca. "Gue... gue cuma mau temenin loh Dil. Loh kan sendirian, gue kasihan liat loh ngambek sendiri. Lagian kan kita temen..." jawab Tamara pelan dengan suara bergetar.
"GUE GAK BUTUH TEMEN KAYA LOH! JADI MENDINGAN SEKARANG LOH PERGI KESANA AJA SAMA YANG LAIN! JANGAN IKUTAN GUE TERUS! NGERTI GAK?!" bentak Dilan tanpa sadar.
Tamara langsung menunduk dalam, air matanya jatuh menetes ke tanah. Dia merasa sangat tidak berguna dan dicampakkan. Dia hanya ingin dekat dengan orang yang dia sayang, tapi malah dimarahi habis-habisan.
Banyak Orang-orang berbisik bisik membicarakan Tamara dan Dilan sehingga membuat Tamara malu dan berlari begitu saja meninggal Dilan yang masih terdiam di tempat.
"Apa loh liat liat bubar" Ucap Dilan lalu pergi dengan kesal, dia sudah muak dengan semuanya tak memperdulikan tatapan tak suka dari orang orang.
Aletta menyaksikannya Tamara dan Dilan jujur saja dia ikut sedih dengan sahabatnya tapi dia juga kasihan dengan Dilan.
Aletta bingung mana yang harus dia temui terlebih dahulu apakah Tamara yang sudah 3 tahun menjadi sahabatnya, atau Dilan yang dari kecil selalu bersamanya.
Tetap keduanya adalah orang yang paling berarti di hidupnya jadi apa yang harus dia lakukan sekarang, tidak mungkin kan dia harus menutup mata seorang tidak ada yang terjadi diantara mereka.
~back to continue~