Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11
Satu detik kemudian, Alisa baru sadar jika ada yang aneh. Alisa menyesali tindakannya yang mengangguk duluan sebelum ia mencerna semua ucapan Harlan.
Seolah-olah, ia setuju untuk tinggal di kamar hotel itu, berdua saja dengan Harlan. Iya, berdua saja. Hanya ada mereka di kamar itu.
“Iya. Kamar ini sengaja di pesan oleh sepupu-sepupuku sebagai kado pernikahan. Pernikahanku ini, sudah mereka nantikan sejak lama. Makanya, mereka begitu antusias saat mendengar kalau aku setuju untuk menikah dengan Marisa. Mereka pun akhirnya patungan untuk membooking kamar residence suit ini.” jelas Harlan, semakin membuat bola mata Alisa semakin membulat sempurna.
“Lalu… bagaimana respon mereka saat tahu kalau Mas gagal menikah dengan Kak Marisa,”
“Tentu saja mereka kecewa dan menuntut penjelasan dari aku. Makanya, setelah tiga hari kita disini, kita pulang dulu ke rumah orang tuaku untuk menjelaskan semuanya.”
Alisa terdiam sesaat. Ada sedikit rasa tegang dan gugup, menyusup ke dalam dadanya.
“Lalu… setelah itu? Apa yang akan terjadi?” tanyanya hati-hati.
Harlan menghela nafas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Pandangannya lurus ke depan, seolah sedang menerawang apa yang akan terjadi setelahnya.
“Sepertinya… tidak akan terjadi apa-apa. Tih mereka tahu, jika yang salah adalah Marisa. Bukan aku, apalagi kamu. Jadi, tidak perlu dipikirkan. Mungkin di awal-awal mereka akan sedikit sinis kepadamu karena akan menganggap kamu sama dengan Marisa, karena kalian Kakak beradik,”
Harlan mendeja ucapanya, lalu menghela nafas panjang sebelum melanjutkan.
“Awalnya pasti akan terasa sulit dan berat saat menghadapi mereka. Tapi… aku yakin, ketulusanmu bisa merubah pandangan mereka terhadapmu,” lanjut Harlan.
“Jika begitu, kenapa kita tidak cerai saja? Sejak awal, pernikahan ini tidak seharusnya terjadi.” lirih Alisa yang kini sudah menundukkan kepalanya, dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas pangkuannya.
Refleks, Harlan langsung menoleh ke arah Alisa saat wanita itu membahas perceraian.
“Kenapa… tiba-tiba membicarakan perceraian. Memang ada, ya? Orang menikah untuk bercerai?”
“Ada… dan itu… kita.”
Harlan terdiam, tidak langsung menjawab. Mereka memang belum saling mengenal satu sama lain. Bahkan, bertemu pun setelah ijab kabul selesai.
Mereka sama-sama baru bertemu dan bertatap muka pun setelah resmi menjadi suami istri. Namun, tidak terbesit sedikitpun kalau Harlan akan menceraikan Alisa.
Harlan, tidak ingin mengulang sejarah kedua orang tuanya yang memilih jalan hidup masing-masing dengan bercerai. Baginya, pernikahan terlalu suci dan sakral untuk dipermainkan.
“Apa… aku pernah mengatakan jika aku akan menceraikanmu?” tanya Harlan, mencoba menahan diri dari amarah, saat tiba-tiba Alisa membahas perceraian.
Padahal, belum genap 24 jam mereka resmi menikah. Sah secara hukum dan agama. Namun Alisa sudah membahas perpisahan. Sungguh... Tidak masuk akal.
Alisa segera menggelengkan kepalanya. Sejak tahu jika pengantin wanitanya kabur dan digantikan. Pria itu memang tidak pernah menolak kehadirannya dan tidak pernah melakukan hal yang menyakitinya.
Akan tetapi, Alisa selalu mengingat kata Bu Yuni, jika Alisa hanya sebatas pengganti dan setelah Marisa kembali, posisi istri Harlan akan kembali kepada Marisa.
Jika itu terjadi, tentu saja Harlan dan Alisa harus bercerai. Karena Alisa tidak akan pernah mau di madu. Apalagi menjadi madu Kakak sambungnya sendiri.
“Tapi… Ibu bilang… aku hanya menggantikan Kak Marisa. Setelah Kak Marisa kembali… maka, kita harus berpisah,”
“Itukan kata Ibumu, bukan aku yang mengakatakannya. Alisa... bukankah, yang menjalani pernikahan ini adalah kita. Kenapa harus mendengarkan kata orang?”
“Tapi…”
“Tidak akan pernah ada berubah Alisa. Selama kamu menerima pernikahan ini, maka, selamanya pernikahan ini akan tetap menjadi pernikahan kita. Aku dan kamu, bukan aku dan Marisa,” potong Harlan membuat Alisa akhirnya mengangkat kepalanya.
“Tapi kenapa? Bukan kah, wanita yang Mas cintai itu Kak Marisa?”
Harlan terkekeh saat mendengar kata ‘cinta’ dari mulut Alisa. Jangankan jatuh cinta, tertarik sedikitpun terhadap wanita itu pun tidak.
Pernikahan itu terjadi karena puncak rasa lelang Bu Hesti yang menunggu Harlan Menikah. Namun pria itu tak kunjung memperkenalkan seorang wanita pun sebagai wanita spesial di hidupnya.
Hal itu membuat Bu Hesti khawatir, takut jika sang putra tercintanya itu menyimpang. Karena itulah, Bu Hesti pun mencarikan jodoh untuk putranya lewat perjodohan antar rekan bisnis.
Disaat itulah Marisa dan Bu Yuni mendekat. Dan melakukan berbagai cara agar bisa membuat Bu Hesti tertarik dan mau menjodohkan Harlan dengan Marisa.
Mereka pun akhirnya berhasil, baik Bu Hesti maupun Harlan, sama-sama mau menerima Marisa. Sayangnya, entah apa yang terjadi pada wanita itu hingga nekat kabur dari pernikahannya sendiri.
“Pernikahan ini hasil perjodohan. Aku juga hanya bertemu dua kali dengannya. Mana mungkin aku mencintainya hanya dengan dua kali pertemuan saja,” jawab Harlan santai, lalu kembali melanjutkan sarapannya.
“Tapi…”
“Sudah. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kepalamu bisa meledak. Ayo, habiskan sarapannya, kita lanjut ngobrolnya setelah selesai makan.”
***
“Setelah ini, apa rencanamu?” tanya Harla, mengalihkan perhatian Alisa, dari layar tv, ke arah pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Kini… pengantin baru itu sudah duduk santai di sofa depan tv berukuran cukup besar yang sedang menayangkan acara random yang ditayangkan oleh youtube.
Jika pengantin baru lainnya akan melakukan kegiatan romantis, maka tidak dengan Harlan dan Alisa. Keduanya bahkan terlihat bosan terkurung seharian di dalam kamar.
Mau pergi ke luar pun sama bingungnya. Entah harus pergi kemana. Harlan yang gila kerja, cuma tahu lingkungan rumah dan kantor.
Sementara Alisa, jelas dia kebingungan karena ini bukan kota tempat dia tumbuh. Sudah tentu dia tidak tahu harus kemana dan mau apa.
“Kalau dulu… setelah acara pernikahan ini selesai, aku akan pulang ke kotaku dan melanjutkan kuliah disana. Tapi sekarang… aku tidak tahu,” jawab Alisa sengaja menjeda ucapanya untuk mengambil nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan.
“Sekarang… aku sudah terikat hubungan denganmu, Mas. Dan mulai sekarang, apapun yang akan aku lakukan harus melalui persetujuan mu. Termasuk pulang dan kuliah disana.” lanjut Alisa dengan nada yang lirih.
Harlan menegakkan duduknya, pria itu menyimpan ponsel yang sejak tadi ada di tangannya ke atas meja, lalu mengganti posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Alisa.
“Jika… pindah dan lanjut kuliah disini, gimana? Mau tidak?” tanya Harlan dengan nada yang jauh lebih serius dari sebelumnya.
“Pindah kemari?” Tanya balik Alisa dengan nada kaget.
“Iya. Aku harus kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku juga tidak mungkin pindah ke kotamu karena tanggung jawabku banyak sekali di kota ini. Jadi, solusinya adalah… kamu yang harus pindah dan melanjutkan kuliah di sini. Bagaimana?”
Ada jeda untuk pembahasan kali ini. Keduanya sama-sama terdiam, mencerna apa yang baru saja mereka bahas.
Sejujurnya… Alisa merasa ragu. Namun, bagaimanapun jalan cerita mereka di awal, kini dirinya sudah resmi menjadi seorang istri dan seorang istri, wajib mematuhi suaminya.
“Apa… aku harus pindah ke sini?” tanya Alisa, mempertanyakan kembali, apakah ia harus pindah atau… mereka menjalani hubungan jarak jauh.
Harlan menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawabnya dengan nada yang lebih serius.
“Kita ini baru memulai hubungan ini. Akan sangat sulit jika kita berjauhan. Aku bukan tipe cowok yang selalu intens memberi kabar kepada pasangan. Bahkan, aku hampir tidak punya waktu untuk memikirkan pasangan, namun dengan kamu tinggal disini, setidaknya kita masih bisa bertemu dan berkomunikasi secara langsung saat aku pulang kerja. Dan… jika kita berjauhan, maka akan terasa sulit untuk menjalaninya. Aku tahu, kalau kamu masih sulit untuk menerima pernikahan ini. Tetapi, bisakah, kita mulai dengan saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu?”
Alisa mengangkat pandangannya. Menatap serius ke arah Harlan. Perlahan, Harlan kembali menggeser duduknya, semakin mendekatkan diri kepada Alisa.
“Maksud Mas, apa?” tanya Alisa setelah Harlan duduk di sampingnya.
“Bagaimana, kalau kita mulai hubungan ini dengan sebuah pendekatan? Jika kita cocok, kita bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya. Orang yang berta’aruf bilang, pacaran setelah halal.”
Alisa menelan ludah, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Untuk pertama kalinya, ia diajak pacaran oleh pria yang berstatuskan suami untuknya.