Perempuan bernama Angel yang tengah kecelakaan kini meninggalkan jasadnya dan menjadi hantu, dia diberi kesempatan untuk mengumpulkan 3 tetes airmata orang yang tulus mencintainya selain keluarga kandungnya.
"Itu gampang, aku akan mendapatkan nya dengan muda" Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Bagus jika seperti itu, dapatkanlah".
Angel dengan semangat untuk mendatangi orang-orang yang dia cintai namun dia lah yang mendapat kan kejutan tak terduga.
Akankah Angel bisa hidup kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Wajah Erwin memucat sempurna, tubuhnya menegang kaku menatapnya dengan horor
"Apa benar dia katakan, mati aku". Ucapnya dalam hati.
Dia menggeleng berusaha menyangkal apa yang dikatakan Steven barusan walau dalam hatinya dia sungguh ketakutan setengah mati.
Sedangkan didalam mobil Mentari yang juga mendengar hal itu mem ulat kan matanya, hancur sudah semua rencana mereka jika benar dia mengetahuinya apalagi sampai Angel bangun nanti.
"Jangan bicara sembarangan, jangan menyebar fitnah kamu! ". Bentak Erwin berusaha menjaga suaranya walau terdengar seperti gugup.
Dia tidak mau menampakkan ketakutannya agar lelaki sialan ini tidak tahu jika dia sangat takut.
Mata Steven berkilat murka, lelaki penipu dan hanya memanfaatkan sahabatnya memang sangat lihai dalam bicara omong kosong ditambah dia juga pembohongan besar.
"Oh yah?, tapi sayangnya saya punya buktinya jika kalian punya hubungan khusus dibelakang Angel, dan aku pastikan kalian berdua menyingkir dari hidupnya dan juga keluarganya". Ucap Steven dengan sinis.
Dia memang memiliki bukti yang akurat karena orang suruhannya selalu mengawasi dan menjaga Angel dari jauh serta mengikuti kemanapun gadis itu pergi, dia juga menugaskan beberapa orang untuk mengawasi pergerakan kekasih Angel itu karena sejak awal dia tidak suka padanya.
Dia tidak mau menyebar fitnah itu sebabnya dia mengumpulkan banyak bukti agar keluarga Angel nantinya tahu seperti apa lelaki yang menjadi tunangan anaknya itu.
Sedangkan Erwin sudah gemetaran begitu juga dengan Mentari yang berada didalam mobil, jika bukti itu memang ada dan sampai ke tangan keluarga Angel, habislah mereka berdua.
"Aku tidak percaya, jangan bicara sembarangan apalagi mengadu domba, kami murni sahabat sejak kecil jadi jangan pernah bicara sembarangan". Ucapnya berusaha menutupi kegugupannya.
Steven tertawa pelan terkesan mengejek lelaki didepannya ini.
"Oh yah? ". Jawabnya mengejek.
"Tentu saja, jangan berusaha menghancurkan hubungan orang, aku tahu kamu berusaha menghancurkannya karena kMu menyukai Angel jadi kamu melakukan segala cara untuk memisahkan kami". Jawabnya dengan muka menantang.
Lagi-lagi Steven tertawa sarkas menatap Erwin dengan tatapan jijik sekaligus kasihan.
"Ya ampun Erwin, Erwin sekalipun aku menyukai Angel, aku bukan kamu yang gila harta, kamu kira aku tidak tahu jika kamu mendekati Angel karena hartanya, kau itu hanya gembel yang dipungut olehnya tidak sebanding denganku yang sama dengan Angel dari kalangan atas". Ucapnya penuh penghinaan.
Wajah Erwin memerah dan tangannya mengepal erat, dia tidak terima dihina seperti ini, dia harus membalas lelaki sialan ini.
Dia berusaha melayangkan pukulan tapi ditangkap baik olehnya, dia adalah mantan atlet bela diri dan pemegang sabuk hitam, pukulan Erwin padanya tidak akan berefek sama sekali.
Steven memelintir tangan Erwin hingga dia menjerit keras karena merasa kesakitan. Dia memajukan wajahnya kemudian berbisik dengan nada paling dingin yang dia punya.
"Dulu aku diam saja karena Angel begitu mencintaimu dan dia terlihat bahagia tapi sekarang aku tidak akan tinggal diam jika kamu membahayakan apalagi menyakitinya, kau akan tahu apa yang bisa kulakukan padamu nanti". Ucapnya menghempaskan kasar Erwin hingga dia terjatuh di tanah.
Mentari melihat kejadian itu langsung keluar dari mobil dan menolong Erwin yang terjatuh.
"Kakak tidak apa-apa? ". Tanyanya dengan khawatir sambil membantu Erwin berdiri.
Steven yang melihat itu menatap mereka semakin sinis, mereka memang sangat pandai berakting .
"Inilah pasangan memalukan yang suka memanfaatkan orang baik, kalian berdua memang sangat cocok". Ucapnya sambil bertepuk tangan mengejek.
"Jangan bicara sembarangan Steven, aku sahabat angel juga bukan hanya kamu, aku tidak mungkin melakukan hal itu padanya". Ucapnya dengan pelan berusaha meyakinkan.
Steven menggeleng pelan sambil tertawa pelan, wajahnya memerah menahan emosinya, andai bukan karena permintaan Angel saat itu untuk tidak menyakiti Erwin dan sahabatnya itu, dia sudah lama menyingkirkan mereka.
"Aku akan pastikan kalian menerima akibatnya, aku sudah mengantongi rahasia utama kalian, aku akan mencari tahu kinerja kalian berdua diperusahaan, kalian akan tamat karena keserakahan kalian sendiri, kalian lihat saja dalam waktu dekat".
Dia maju ke hadapan Erwin kemudian melemparkan banyak foto kepada mereka berdua sambil pergi dari sana dengan keadaan penuh emosi.
Keduanya segera memungut foto yang dilepaskan Steven barusan, wajah mereka berubah pucat ketakutan seakan mereka berdua tidak memiliki darah, benar saja foto saat mereka berciuman dan bermesraan jelas terlihat disana.
Tangan keduanya bergetar hebat dan ketakutan setengah mati, mereka saling memandang dan tidak menyangka.
"Kak bagaimana ini, kita dalam masalah besar sekarang, kalau foto ini sampai pada keluarga Angel habislah kita". Ucapnya dengan nafas memburu.
Erwin mengepalkan tangannya, dia tidak akan tinggal diam, dia harus menyingkirkan lelaki sialan itu bagaimanapun caranya sebelum dia menghancurkan segalanya.
"Aku pasti akan menyingkirkannya lebih dulu sebelum dia bisa membawanya pada kelaurga Angel, aku tidak akan tinggal diam".
Dia seakan lupa berhadapan dengan siapa, dia yang rakyat biasa melawan para konglomerat negeri.
"Ya sudah, aku antar kakak dulu yah". Ucapnya sambil merapat Erwin masuk kedalam mobil.
"Kamu kembali saja kekantor, aku akan mengurus bajingan sialan itu, aku tidak akan biarkan dia menghancurkan kita". Ucapnya menutup pintu mobil setelah memberikan tas Mentari tanpa mendengar apapun perkataannya.
"Kak". Teriak Mentari dengan tidak percaya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? ". Ucapnya frustasi.
Dia sangat mengenal baik watak Erwin, dia akan menyingkirkan orang yang berusaha menggagalkan rencananya dan dia yakin dia akan mencelakai Steven, dia tidak bisa memikirkan bagaimana jika kelaurga Steven tahu kalau mereka yang melakukannya.
Dia menyetop taxi untuk kembali kekantor karena dia harus bekerja, tetapi saat dia sampai dia langsung menunduk karena mendapatkan tatapan tajam dari ayah Angel.
Dia tidak menyangka jika ayah Angel akan kembali kekantor, dia pikir beliau akan berada dirumah sakit dalam jangka cukup lama.
"Darimana kamu, ini masih jam kantor, kamu pikir kantor ini milikmu sampai kamu bisa seenaknya keluar masuk kantor? ". Tanyanya dengan tegas.
"Maaf om, saya tadi ada urusan sebentar jadi keluar, tapi saya kembali lagi, saya belum satu jam diluar om, hanya mengurus beberapa keperluan". Jawabnya ketakutan.
"Tetap saja, jangan betingkah seenaknya disini, jika kamu tidak suka dan tidak mematuhi aturan silahkan keluar dari perusahaan saya dan telpon Erwin sekarang suruh dia menghadap saya". Bentaknya dengan kesal.
Hutama berjalan meninggalkan Mentari yang mematung karena bentakannya barusan, entah mengapa dia mulai tidak menyukai teman putrinya itu,
"Sialan tua bangka, lihat saja jika aku mendapatkan hartamu maka kamu akan kubuat seperti anjing yang hina". Ucapnya dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
" Aku harus memberitahu kak Erwin sekarang, jika dia tidak balik ke kantor dia akan dalam masalah"