NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:851
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11.Kebingungan yang Makin Menumpuk

   ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

Aisyah berjalan di samping Zea menuju tangga menuju lantai kelas, namun langkahnya terasa berat dan kepalanya terasa pening luar biasa. Ribuan pertanyaan besar berputar kacau di dalam pikirannya, membentuk tanda tanya yang tak berujung.

"Tadi Zea bilang 'calon'... Calon apa coba? Calon teman ngopi? Atau jangan-jangan dia mau bilang calon ipar? Atau... atau jangan-jangan calon istri resmi yang sudah disiapkan keluarga?!" batin Aisyah terus menerka-nerka dengan perasaan tidak enak yang semakin mengganjal di dada.

Ia melirik sekilas ke arah Zea yang berjalan dengan santai dan ceria, sesekali bersenandung kecil. Mata Aisyah meneliti wajah Zea, lalu membandingkannya dengan wajah Gus Aqlan yang tadi ia lihat.

"Ya Allah... wajah mereka itu mirip banget sih! Hidungnya sama, bentuk matanya sama, bahkan senyumnya pun punya kemiripan yang kuat," gumam Aisyah dalam hati makin bingung. "Biasanya sih kalau pacaran kan pengennya terlihat beda-beda manis gitu, saling melengkapi. Tapi ini kok mirip banget kayak kembar siam? Tapi Papa bilang itu pacarnya... dan kemarin sore Papa lihat mereka barengan terus, sangat akrab sekali."

Kebingungan ini membuat pikiran Aisyah jadi gelap. Ia tidak tahu harus percaya pada apa.

"Kak Aisyah... kok diam saja dari tadi? Kenapa kak? Mulutnya manyun gitu," tanya Zea polos sambil menatap wajah Aisyah yang terlihat murung dan pucat.

"Eh... enggak apa-apa kok Ze," jawab Aisyah cepat, berusaha menyembunyikan kekalutannya. Ia mencoba basa-basi agar tidak terus berpikir negatif. "Cuma... tadi kamu bilang kuliah di sini juga?"

Zea tertawa kecil, lalu menggeleng. "Enggak Kak, mana mungkin. Saya kan masih kuliah di Semarang, jurusan yang beda jauh sama Mas Aqlan. Ini cumaa numpang lewat doang nih. Soalnya Mas Aqlan mau berangkat ke Kairo kan, jadi saya minta izin sama Bunda buat ikut ke Jakarta nemenin dia sebentar sebelum dia terbang. Jadi ya saya ikut ke kampus juga nih buat antar-jemput."

"Oh... jadi dia nemenin pacarnya yang mau pergi jauh. Pantesan kemarin barengan terus, manja-manja terus," pikir Aisyah makin merasa sakit hati dan perih. Dadanya terasa sesak sekali.

Ia merasa posisinya sekarang ini sangat canggung dan aneh. Berjalan berdampingan dengan "pacar" orang yang diam-diam ia sukai, rasanya seperti menusuk hati sendiri. Kenapa harus ada situasi menyiksa macam ini?

"Terus... Zea sama Kak Aqlan itu emang sering banget jalan bareng gitu ya? Kemana-mana berdua terus?" tanya Aisyah memberanikan diri, suaranya pelan dan matanya menunduk memandangi lantai keramik yang mereka injak, tak berani menatap mata Zea.

Zea tertawa renyah mendengar pertanyaan itu, suaranya terdengar sangat wajar dan polos.

"Iya dong Kak! Masa enggak? Kan kami serumah dari bayi, dari kecil sampai besar gak pernah lepas. Mas Aqlan itu kakak yang paling protektif banget lho sama saya, dia itU kayak ayah kedua buat saya. Jadi kalau pergi jauh atau kemana-mana, mana bisa saya sendirian, pasti dia yang ngurusin dan nemenin."

DEG!

Jawaban Zea itu bagaikan palu godam yang menghantam kepala Aisyah. Tubuhnya langsung terpaku kaku, keningnya berkerut dalam, dan ia merasa dunia seakan berputar.

"Serumah? Dari kecil? Protektif banget? Apa... apa maksudnya mereka sudah tinggal serumah? Tapi kan belum nikah? Atau jangan-jangan... jangan-jangan mereka memang sudah dijodohkan sejak kecil oleh orang tua mereka? Jadi mereka tinggal satu atap sebagai keluarga yang sudah ditakdirkan menikah?!"

Imajinasi Aisyah semakin liar dan negatif. Ia merasa dunia seakan runtuh dan hancur berkeping-keping tepat di hadapannya.

Di matanya yang sedang tertutup kabut kesedihan, semua sikap baik Gus Aqlan kemarin—yang menolongnya, yang mengantarnya pulang, yang tersenyum manis padanya—tiba-tiba terasa seperti mimpi buruk.

"Kenapa sih dia harus bersikap begitu manis? Kenapa harus perhatian banget? Kenapa harus bikin hati ini bergetar kalau ternyata dia sudah memiliki seseorang yang sangat dekat, bahkan serumah dan satu keluarga seakrab ini?!" batin Aisyah menjerit kesal dan kecewa.

"Kak Aisyah... ih kok mukanya pucat banget sih? Keringat dingin juga keluar. Kakak gak sakit atau kurang darah kan?" tanya Zea lagi, kali ini ia menyentuh lengan Aisyah pelan dengan wajah khawatir.

"Enggak... enggak apa-apa Ze... Cuma... cuma sedikit pusing tadi pagi," jawab Aisyah terbata-bata, suaranya hampir tak terdengar.

Ia benar-benar tidak mengerti situasi ini. Ia ingin marah, ingin kecewa, ingin menangis, tapi di depan mata Zea yang terlihat begitu polos, begitu baik hati, dan tidak tahu menahu, Aisyah tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, bingung, dan merasa tersisih.

"Ya Allah... kenapa sih rumit sekali ini ujian cinta? Kalau memang dia sudah punya pasangan seakrab dan sedekat itu, kenapa harus Engkau pertemukan lagi kami? Kenapa harus ada getaran hati macam ini? Kenapa harus bikin haru lalu hancur begini?" rintih Aisyah dalam hati, air mata hampir menetes namun ia tahan kuat-kuat.

Mereka akhirnya sampai di depan pintu kelas. Aisyah menarik napas panjang sekali, mengembuskan pelan, mencoba menguatkan diri dan merapikan penampilan sebaik mungkin untuk masuk dan menghadapi kenyataan pahit itu dengan kepala tegak.

BERSAMBUNG.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!