NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 11: "Pasar Kota dan Diplomasi Panggilan Sayang"

​Langit Kediri sore itu berwarna jingga kemerahan, seperti semburat perona pipi yang dipoleskan Shania di wajahnya. Sesuai janji, Zain mengajaknya keluar dari gerbang pesantren. Meski hanya menggunakan sepeda motor matic sederhana milik operasional pesantren—bukan mobil mewah berlogo kuda jingkrak atau huruf 'B' bersayap yang biasa Shania tumpangi di Jakarta— Shania merasa seolah sedang menaiki kereta kencana menuju pesta dansa.

​Angin sore menerpa khimar instan berwarna dusty pink yang ia kenakan lengkap dengan cadar yang terpasang rapi di wajahnya atas permintaan Zain. Shania berpegangan erat pada jaket parka yang dipakai Zain, meski ada jarak sekitar lima sentimeter di antara mereka. Zain tetaplah Zain; ia berkendara dengan sangat sopan, namun ketegangannya terasa dari punggungnya yang kaku.

​"Mas, pelan-pelan sedikit! Kalau ngebut, hafalan paman-paman Nabi di otakku bisa mabuk darat terus muntah keluar semua!" teriak Shania.

​Zain melirik sedikit dari spion.

"Ini sudah empat puluh kilometer per jam, Shania. Itu kecepatan paling aman untuk setor hafalan. Ayo, mulai dari paman yang pertama."

​Shania menghela napas, mengumpulkan sisa-sisa memori dari buku hijau yang ia pelajari sampai larut malam.

"Oke, oke! Bismillah... Paman-paman Nabi itu ada sebelas, tapi yang paling terkenal dan Mas mau aku hafal kan? Ada Al-Harits, Qusam, Az-Zubair, Hamzah—sang Singa Allah yang keren banget itu—terus Al-Abbas, Abu Thalib yang baik banget jagain Nabi, dan... si antagonis Abu Lahab."

​"Lalu bibi-bibinya?" pancing Zain, suaranya agak teredam deru angin.

​"Safiyyah, Arwa, Atiqah, Ummu Hakim, Barrah, dan Umaimah! Lancar jaya kan, Mas? Kayak jalan tol arah Bandara Soetta jam dua pagi!"

Shania menepuk-nepuk pundak Zain dengan bangga.

​Zain terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Shania benar-benar serius.

"Satu lagi. Siapa nama asli Abu Thalib?"

​"Hah? Ada nama aslinya?"

Shania panik. Ia mencoba mengingat-ingat catatan kecil di pohon warna-warni yang ia buat.

"Aha! Abdu Manaf! Benar kan?"

​"Seratus untukmu," sahut Zain pendek.

​Shania bersorak kecil.

"Ingat ya Mas, taruhannya! Kalau nanti di pasar aku bisa sebutkan nama-nama istri Nabi tanpa cacat sedikitpun, Mas Zain harus panggil aku... 'Sayang'. Atau 'Dek' juga boleh kalau Mas masih terlalu gengsi."

​Zain tidak menjawab, namun Shania bisa melihat telinga suaminya yang tidak tertutup peci itu perlahan berubah warna menjadi merah jambu.

“​Riuh Pasar dan Ujian Terakhir”

​Pasar kota sore itu sangat ramai. Bau harum martabak manis beradu dengan aroma baju-baju murah dan suara klakson kendaraan. Bagi Shania, ini adalah pemandangan eksotis. Ia biasanya berbelanja di ruangan ber-AC dengan pelayan yang mengenakan sarung tangan putih. Di sini, ia harus berdesakan dengan ibu-ibu yang menawar harga cabai.

​"Kita, beli kebutuhanmu dulu," ujar Zain sambil memarkir motor.

​Mereka masuk ke sebuah toko perlengkapan muslimah yang cukup besar. Shania memilih beberapa gamis yang lebih kasual dan beberapa pasang kaos kaki. Saat sedang memilih warna, Zain berdiri di sampingnya, menjaga jarak agar tidak bersentuhan dengan pembeli lain, namun tetap cukup dekat untuk melindungi Shania.

​"Mas, lihat! Warna hijau ini bagus nggak? Kayak warna buku silsilah itu," goda Shania sambil menempelkan kain ke wajahnya.

​"Bagus. Cocok untukmu," jawab Zain singkat.

​"Mas, jangan cuma 'bagus-bagus' aja. Coba dong kasih pendapat yang lebih estetik. Aku ini mantan pembalap lho," protes Shania.

​Zain menghela napas, ia mendekat dan memperhatikan warna kain itu.

"Hijau emerald itu melambangkan kesejukan. Kamu sudah cukup 'panas' dengan kelakuanmu, jadi warna sejuk mungkin bisa menyeimbangkan."

​Shania mencibir.

"Itu pujian atau sindiran sih?"

​Setelah selesai membayar, mereka mampir ke sebuah kedai es campur di pinggir jalan yang nampak bersih. Sambil menunggu pesanan, Shania menaruh tangannya di meja, menatap Zain dengan tatapan menantang.

​"Sekarang, babak final. Istri-istri Nabi. Kalau aku berhasil, Mas Zain nggak boleh manggil 'kamu' lagi selama kita di rumah. Deal?"

​Zain menyesap teh hangatnya.

"Sebutkan sesuai urutan pernikahan mereka."

​Shania memejamkan mata, jemarinya bergerak-gerak seperti sedang mengetik di udara.

"Satu, Khadijah binti Khuwailid. Dua, Saudah binti Zam’ah. Tiga, Aisyah binti Abu Bakar. Empat, Hafshah binti Umar. Lima, Zainab binti Khuzaimah. Enam, Ummu Salamah alias Hindun binti Abi Umayyah..."

Shania mengambil napas dalam.

"...Tujuh, Zainab binti Jahsy. Delapan, Juwairiyah binti al-Harits. Sembilan, Ummu Habibah. Sepuluh, Shafiyyah binti Huyay. Dan terakhir, Maimunah binti al-Harits!"

​Shania membuka mata, nafasnya sedikit tersengal seolah habis lari maraton.

"Gimana? Kurang satu nggak? Maria Al-Qibthiyyah itu kan dari kalangan budak yang dimuliakan, jadi biasanya di list terpisah, tapi aku juga tahu kok!"

​Zain meletakkan gelasnya dengan perlahan. Ia menatap Shania cukup lama. Di mata Zain, Shania bukan lagi sekadar gadis kota yang manja. Ia melihat usaha yang luar biasa. Shania yang biasanya hanya menghafal merek kosmetik terbaru, kini bersusah payah menghafal sejarah orang-orang paling suci dalam Islam demi menyenangkan hatinya—atau mungkin demi sebuah panggilan "Sayang".

​"Kamu... benar semuanya," ucap Zain rendah.

​"Yesss!"

Shania hampir saja melompat kalau tidak ingat mereka sedang di tempat umum.

"Jadi, mana janjinya? Coba tes sekarang. Panggil, aku."

​Zain berdehem. Ia melihat ke sekeliling, merasa tidak nyaman jika ada orang yang mendengar.

"Nanti, kalau sudah di rumah."

​"Nggak mau! Sekarang! Minimal panggil 'Dek' gitu, Mas. Biar aku tahu Mas itu beneran punya perasaan, bukan robot yang diprogram buat ngajar di pesantren doang."

​Zain menunduk, memainkan tutup gelas es campurnya. Suasana di sekitar mereka yang bising seolah meredup di telinga Zain. Ia mengumpulkan keberanian yang bahkan lebih besar daripada saat ia harus menyampaikan khutbah di depan ribuan jamaah.

​"Terima kasih... Dek Shania, sudah mau belajar," bisik Zain sangat pelan.

​Shania membeku. Meski ada embel-embel namanya di belakang, kata "Dek" yang keluar dari bibir Zain terasa seperti aliran listrik yang menyengat hatinya. Suara Zain yang berat dan dalam memberikan beban emosional yang berbeda.

​"Mas... tadi bilang apa? Nggak kedengeran, ketutupan suara tukang parkir," goda Shania, padahal hatinya sudah berdisko tidak karuan.

​"Tidak ada pengulangan untuk satu jawaban benar," ujar Zain kembali ke mode dinginnya, meski wajahnya kini benar-benar merah padam sampai ke leher.

“​Protes di Meja Makan: Diplomasi Kerupuk”

​Malam harinya, Shania merasa menang banyak. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus-menerus memanggil Zain dengan sebutan "Mas Sayang" hanya untuk melihat reaksi suaminya yang hampir menabrak gerobak bakso karena kaget.

​Sesampainya di rumah, Shania memutuskan untuk memasak menu yang sedikit lebih berani: oseng mercon. Ia ingin melihat apakah "Ustadz Es Batu"-nya ini kuat menahan pedas sebagaimana ia kuat menahan ekspresi cinta.

​Di meja makan, Zain menatap piringnya dengan ragu. Cabai rawit merah bertebaran di antara potongan daging.

​"Ini... tidak terlalu pedas?" tanya Zain.

​"Nggak kok, Mas. Ini level 'Cinta Shania', pedas-pedas nagih," jawab Shania sambil mengerlingkan mata.

​Baru suapan pertama, wajah Zain langsung berubah. Ia meraih gelas air putih dengan cepat. Shania tertawa terbahak-bahak melihat suaminya yang biasanya tenang kini sibuk mengipasi mulutnya sendiri.

​"Shania... ini... ini hukuman karena saya panggil 'Dek' tadi?" tanya Zain sambil terengah-engah.

​"Bukan hukuman, Mas! Itu apresiasi! Biar Mas Zain nggak kaku terus. Hidup itu perlu rasa, Mas. Kadang manis kayak silsilah tadi, kadang pedas kayak omongan tetangga soal aku yang belum bisa ngaji lancar."

​Zain terhenti. Ia meletakkan gelasnya. Rasa pedas itu seolah hilang digantikan oleh rasa sesak yang lain. Ia menyadari sesuatu; di balik keceriaan Shania, istrinya itu mendengar bisik-bisik di luar sana.

​"Apa ada yang bicara buruk padamu di pesantren?" tanya Zain serius.

​Shania mengedikkan bahu, mencoba terlihat santai sambil mengunyah kerupuk.

"Ya gitu deh, Mas. Tadi pas aku lewat jemuran, ada beberapa santriwati senior yang bilang kalau Ustadz Zain kasihan banget dapet istri yang cuma modal tampang, nggak tahu nasab, nggak bisa bahasa Arab. Katanya, aku cuma beban buat dakwah, Mas."

​Zain mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Siapa mereka?"

​"Nggak usah dicari, Mas. Mereka nggak salah juga sih. Aku emang beda jauh sama kriteria istri ustadz ideal. Aku nggak hafal Alfiyah, aku nggak jago masak lodeh yang pas rasanya..."

Shania menunduk, suaranya mulai bergetar.

"Tadi aku semangat banget hafal silsilah itu bukan cuma buat taruhan, Mas. Tapi biar aku nggak malu-maluin Mas Zain lagi."

​Suasana meja makan yang tadi penuh tawa mendadak hening. Shania yang biasanya cerewet kini diam seribu bahasa, fokus menghancurkan kerupuk di piringnya menjadi remah-remah kecil.

​Tiba-tiba, sebuah tangan besar dan hangat menggenggam tangan Shania yang sedang memegang kerupuk. Shania mendongak, terkejut.

​"Dengar, Shania," suara Zain terdengar sangat lembut, namun penuh penekanan. "Nasab itu penting untuk diketahui, tapi ketakwaan adalah yang utama. Kamu bukan beban. Kamu adalah warna baru di hidup saya. Dan soal mereka yang bicara buruk..."

​Zain menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata cokelat Shania yang mulai berkaca-kaca.

​"...biar itu jadi urusan saya. Tugasmu hanya satu: tetaplah menjadi Shania yang berani. Kalau mereka bilang kamu tidak pantas jadi istri ustadz, tunjukkan bahwa kamu adalah istri yang paling dicintai oleh ustadznya."

​Shania terpaku.

"Mas Zain... barusan itu rayuan ya? Mas Zain, belajar dari mana? Apa ada kitabnya?"

​Zain langsung menarik tangannya kembali, merasa salah tingkah karena baru saja melakukan hal yang sangat impulsif.

"Itu... itu fakta, bukan rayuan. Selesaikan makanmu. Dan besok, saya tidak mau ada oseng mercon lagi. Perut saya bukan tempat latihan perang."

​Shania tersenyum lebar, air matanya batal jatuh. Ia merasa harga dirinya pulih seketika.

"Siap, Mas Ustadz Sayang! Besok aku masak yang manis-manis aja, semanis janji Mas tadi."

“​Di Bawah Cahaya Rembulan”

​Malam semakin larut. Shania berdiri di balkon lantai dua rumah mereka, menatap ke arah komplek pesantren yang sudah mulai sepi. Lampu-lampu taman berpendar temaram. Ia memegang buku hijau itu di dadanya.

​Zain muncul dari belakang, membawakan sebuah selimut tipis dan menyampirkannya ke bahu Shania.

​"Mas, belum tidur?"

​"Belum. Masih ada jadwal simaan besok pagi, saya harus persiapan," jawab Zain.

​"Mas... makasih ya buat hari ini. Makasih sudah mau ajak aku keluar, dan makasih sudah... panggil 'Dek'."

​Zain berdiri di sampingnya, ikut menatap rembulan.

"Belajarlah karena kamu butuh ilmu itu untuk dirimu sendiri, Shania. Bukan karena ingin membungkam mulut orang lain. Ilmu itu cahaya. Kalau cahayamu terang, kegelapan di sekitar—termasuk komentar buruk orang—akan hilang dengan sendirinya."

​Shania mengangguk pelan.

"Iya, Mas. Aku bakal belajar lagi. Tapi pelan-pelan ya? Jangan langsung disuruh hafal Kitab Kuning dalam semalam."

​Zain terkekeh, kali ini lebih lepas.

"Tentu tidak. Tapi untuk besok, ada tantangan baru."

​Shania langsung waspada.

"Apa lagi?"

​"Hafalkan biografi singkat empat Imam Madzhab. Kalau lancar..."

Zain menggantung kalimatnya, membuat Shania penasaran setengah mati.

​"Kalau lancar apa, Mas? Hadiahnya apa?"

​Zain mendekat ke telinga Shania, membisikkan sesuatu yang membuat jantung Shania seolah berhenti berdetak sesaat.

​"Kalau lancar, saya akan ajak kamu jalan-jalan ke Malang. Kita beli tas yang kamu inginkan itu. Dan... saya akan memanggilmu 'Sayang' seharian penuh."

​Zain kemudian berbalik dan berjalan masuk ke kamar dengan langkah tenang, meninggalkan Shania yang berdiri mematung dengan wajah yang panasnya melebihi oseng mercon tadi.

​"Mas Zaiiiiinnn! Itu curang! Itu namanya serangan jantung!" teriak Shania histeris namun bahagia.

​Di dalam kamar, di balik pintu yang tertutup, Zain bersandar sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia tersenyum tipis. Ternyata, mendidik istri seperti Shania tidak hanya mengubah Shania menjadi lebih baik, tapi juga mengubah dirinya menjadi pria yang lebih berani mengekspresikan rasa.

​Di meja makan tadi, mereka mungkin memprotes rasa makanan, tapi di dalam hati, mereka mulai menyepakati satu rasa yang sama: Cinta yang tumbuh di antara tumpukan kitab dan silsilah suci.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!