Terlahir menjadi anak yang terbuang tak membuatnya berkecil hati. Semangat yang dimilikinya kembali berkobar kala melihat banyaknya orang yang menyayanginya.
Namun dunianya berubah kala dirinya memutuskan untuk menikah. Meski harus merasakan kepahitan akan cinta pertamanya. Denisa tetap bisa bertahan meski pada akhirnya dia memilih mematikan hatinya demi membuang rasa sakitnya.
~Kau tak pernah tahu perihnya luka yang tak nampak namun terasa sangat menyayat jiwa. Jika luka gores itu akan hilang dengan sendirinya namun tidak dengan luka hati, sampai kapanpun dia akan tetap kekal abadi.... Denisa
~ Kuakui aku bodoh. Seharusnya aku menggunakan akal dan hatiku bukan menggunakan emosiku... Raka.
Bagaimana kisah mereka mengarungi biduk rumah tangga dengan bayang bayang cinta lain yang masih melekat di hati Raka.
Mampukah Denisa kembali merasakan cinta dalam hatinya yang telah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Aneh
Kedua mata Denisa mengernyap pelan. Perlahan mata lentik itu mulai terbuka. Nampak sinar matahari malu malu mengintip dari gorden dengan hembusan angin yang terasa sangat sejuk ketika menyapu permukaan kulitnya dengan lembut.
"Kau tau apa yang paling indah di dunia ini?"
"Tentu saja ketika kita menjadi kaya, pada saat demikian apa yang kita inginkan akan selalu kita dapatkan dengan mudah tanpa harus bersusah-payah seperti sekarang."
"Itu benar, akan tetapi juga tak sepenuhnya benar. Kau tau mengapa?" Denisa menggeleng.
"Karena ada hal yang tak mungkin bisa kau beli dengan uang. Itulah mengapa sebagian orang pintar mengatakan jika uang bukanlah segalanya. Mereka berani berkata demikian karena telah mengalaminya sendiri."
"Memang ada hal yang tak pernah bisa dibeli dengan uang?"
"Tentu. Dan itu ada banyak, tak hanya satu. Meski sepele namun perannya sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Kamu ingin tahu apa saja hal itu?" Denisa mengangguk dengan antusias.
"Hal yang tak pernah bisa di beli dengan uang yang pertama adalah Rasa. Rasa senang, sedih, tertawa atau rasa lainnya yang kamu rasakan sendiri dari dalam dirimu tak akan pernah bisa di bayar oleh siapapun itu. Meski sudah kamu terima pembayaran dalam jumlah besar jika rasa sedih itu datang maka air matamu pun akan menetes dengan sendirinya tanpa kamu minta dan bahkan tanpa peduli dengan adanya uang yang telah masuk dalam dompetmu."
"Yang kedua adalah kenyamanan. Meski dirimu tinggal di sebuah rumah besar ataupun istana yang indah jika tak ada kenyamanan disana maka hidupmu akan tersiksa setiap harinya."
"Yang ke tiga adalah Ketulusan dan ke empat adalah Cinta. Dua hal ini saling berkaitan namun terkadang orang mengabaikan salah satunya demi mencapai tujuan dan pada akhirnya hancur berantakan. Menurutmu, jika sudah demikian apakah uang bisa mengembalikan semuanya?"
"Hal yang paling indah di dunia ini hanyalah mimpi. Kenapa demikian? karena di dunia mimpi kita bisa berekspresi seperti yang kita mau. Dunia bawa sadar kita sedang merangsang otak untuk berpikir bagaimana caranya membuat mimpi kita menjadi kenyataan. Hargai mimpimu, karena apa yang terjadi disana belum tentu akan kamu alami didunia nyatamu."
Denisa tersenyum dan kembali berguling ke kanan dan kekiri. Kata kata ibu panti saat dirinya masih kecil terngiang jelas di ingatannya. Dimana dirinya baru belajar menapaki kejamnya dunia ini. Rasa sabar yang terus menerus di pupuknya sejak kecil menjadikan dirinya kuat dan menjadi Denisa yang selalu ceria seolah tanpa ada beban.
Gadis itu masih menikmati paginya yang nyaman sampai dirinya mengingat sesuatu yang membuatnya langsung terlonjak duduk.
Denisa mengedarkan pandangan kesegala penjuru ruangan yang awalnya dia yakini adalah kamarnya sendiri. Namun matanya langsung terbelalak lebar kala menyadari di mana dirinya kini berada bahkan diatas kasur yang selama ini hanya disentuhnya ketika pagi untuk membereskannya.
"Astaga, apa yang ku lakukan? kenapa aku bisa tidur disini?"
Denisa segera beranjak dari tidurnya dan dengan segera membereskan kekacauan yang diciptakannya itu sebelum Raka pulang. Dengan cekatan dia merapikan semua nya dan bahkan mengganti sprei dengan yang baru karena khawatir Raka akan mencium baunya yang mungkin tertinggal disana. Tak ingin suaminya kembali marah padanya hingga membuat Denisa sekhawatir itu.
.
.
Di dapur, Raka yang telah selesai menyiapkan sarapan bergegas menyimpan celemeknya. Dia yang memang sudah terbiasa sendiri di LA tak pernah kerepotan berada di tempat yang menjadi favorit para wanita ketika sedang berada di rumah.
Sepiring Sandwich dan segelas susu coklat untuk Denisa serta kopi susu untuk dirinya sendiri telah tertata dalam nampan. Saatnya membawa semua itu ke kamar dimana sang istri masih terlelap ketika ditinggalkan nya tadi.
Raka yang memang hanya tidur sebentar saja tentu masih mengantuk. Namun entah mengapa matanya justru terbuka pagi pagi sekali. Selain sudah terbiasa mungkin memang dirinya juga yang enggan terpejam terlalu lama.
Ulasan senyum nampak di bibir tipisnya. Dengan langkah pasti Raka menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2.
Sementara di dalam kamar, Denisa menghapus keringat di dahinya. Gadis itu mengistirahatkan dirinya di lantai dan menyandarkan kepalanya di tepi kasur sambil melepas lelah.
Matanya kembali terpejam mencoba mengingat bagaimana dirinya bisa tertidur di kamar Raka sementara seingatnya dia menunggu kepulangan suaminya itu di ruang tengah.
"Apa mas Raka semalam tak pulang? terus aku bisa sampai ke sini karena terlalu memikirkannya?" Gumamnya.
"Memikirkan siapa?"
Suara pintu terbuka bersamaan dengan suara Raka yang membuat Denisa terlonjak kaget. Dengan sigap Denisa berdiri menjauh dari kasur dan menundukkan pandangannya tak berani menatap Raka.
"Bodoh kau Nisa!! kenapa tak langsung keluar saja tadi malah masih bertahan disini? kalau dia marah bagaimana?" Omel nya pada diri sendiri dengan ke dua tangan saling meremas.
Raka meletakkan nampan yang di bawahnya diatas narkas. Ditatapnya seluruh ruangan yang telah rapih termasuk kasur tempat keduanya semalam tidur bersama. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, dia berusaha secepatnya menyelesaikan pekerjaannya di dapur tadi, namun ternyata sang istri lebih cepat dari yang dia kira.
"Kamu mengganti seprei nya? kenapa?"
"I.. iya mas, sudah waktunya ganti."
Raka menatap lekat Denisa yang senantiasa menunduk. Seingatnya baru kemarin sprei itu di ganti kenapa hari ini sudah diganti lagi?. Raka tersenyum miring, itu pasti akal akalan sang istri karena takut dimarahinya karena terkejut saat tersadar dari tidurnya berada disana.
"Maaf, mas."
"Untuk?"
"Aku.. aku."
"Sudahlah!! kemari temani aku sarapan. Aku sudah menyiapkannya untukmu."
"Ha!!"
Raka membawa kembali nampan yang disimpannya tadi ke arah meja dengan sofa sudut disana. Sementara Denisa masih mencerna apa yang didengarnya tadi. Otaknya blank kali ini.
"Denis!!" Suara Raka mengembalikan kesadaran Denisa. Gadis itu mengernyap pelan sebelum menoleh ke arah Raka yang sedang menunggunya disana.
"Kemari!! kau kenapa sebenarnya, hem?"
Raka menarik lembut lengan Denisa, membimbingnya menuju sofa.
"Ayo makan!! aku sudah lapar."
Keduanya makan dengan tenang, hening tercipta dalam kamar itu. Rencananya tadi jika Denisa belum bangun maka Raka akan membangunkannya dan mengajak gadis itu sarapan di balkon kamarnya. Namun rencananya berubah setelah melihat Denisa telah bangun bahkan kamarnya sudah kembali rapih.
Denisa yang sudah selesai dengan sarapannya beranjak. Dia ingin segera kabur dari kamar sang suami yang merupakan ruangan terlarang baginya untuk berlama-lama tinggal didalamnya apalagi selagi ada Raka didalam sana. Perjanjian itu masih terus diingatnya karena tak ingin Raka kembali marah dan berubah dingin padanya seperti di awal.
"Mau kemana?"
"Mau menyimpan ini di dapur, mas. Mas mau disiapkan sesuatu?"
"Tidak!! tetap disini temani aku. Aku ngantuk sekali, semalam hanya tidur sebentar."
"Tap... tapi mas, aku harus bekerja."
"Ijinlah untuk hari ini!!"
"Baiklah, aku akan mencari ponselku dulu."
"Pakai ini!!" Raka menyodorkan ponselnya. Setelahnya lelaki itu melangkah menuju ka arah kasur dan merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Sementara Denisa masih terpaku ditempatnya.
tpi rayyan udah sama jennie kan thor di kota B..
selamat ya ren
jangan menunda momongan lah.. biar kan berjalan sesuai kehendak yg kuasa.. kalian cukup ngadon aja 🤭
mau liat live streaming ini 🤣🤣
gass yok
ibu telat 🤭🤭
akhirnya rencana berjalan lancar.
selamat untuk rena dan radit