NovelToon NovelToon
Istri Solehot Dan Raket Nyamuk Komandan

Istri Solehot Dan Raket Nyamuk Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Kehidupan Tentara / Beda Usia / Perjodohan / Cinta setelah menikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

"Ini rumah apa museum, sih? Kok sepi banget kayak nggak ada kehidupan!"

​Calla berdiri di tengah ruang tamu rumah dinas Alaric sambil berkacak pinggang. Matanya menyipit, meneliti setiap sudut ruangan. Lantai tegel berwarna putih itu begitu mengilap sampai Calla bisa melihat pantulan wajah cantiknya sendiri di sana. Sofa berbahan kulit hitam tertata simetris sempurna, sejajar lurus dengan meja kayu di depannya. Bahkan pajangan berupa miniatur tank dan kapal perang di bufet tersusun tegak lurus tanpa miring satu derajat pun.

​Alaric yang baru saja meletakkan tas ransel Calla di dekat tangga hanya berdehem kaku. Ia melepas baret merahnya, lalu meletakkannya di atas meja kecil dekat pintu masuk—tentu saja dengan posisi yang sangat presisi.

​"Ini rumah dinas, bukan museum. Dan di sini memang hanya saya yang tinggal," jawab Alaric datar, suaranya berat bergema.

​"Wah, Paksu bohong ya? Pasti Paksu sewa agen pembersih nomor satu di kota ini sebelum jemput Calla, kan?" Calla berjalan mendekati meja, lalu mengusapkan jari telunjuknya ke permukaan kayu. Ia memeriksa jarinya dengan teliti. "Gila, nggak ada debu sama sekali! Bersih banget!"

​"Tidak ada agen pembersih. Saya yang menyapu, mengepel, dan merapikan semuanya sendiri setiap pagi sebelum apel."

​Calla langsung melotot. Ia menatap Alaric dari atas sampai bawah, seolah-olah suaminya itu baru saja mengaku bisa terbang. "Hah?! Paksu bisa pegang sapu?! Umur tiga puluh delapan tahun, jenderal tentara, tapi bisa mengepel?!"

​"Saya Komandan, bukan Jenderal. Dan itu hal dasar. Memangnya kenapa?" Alaric mengernyit bingung melihat reaksi heboh istrinya.

​Calla bertepuk tangan heboh, melompat-lompat kecil dengan wajah tanpa dosa. "Hebat banget! Seumur hidup, Calla nggak pernah tahu bentuk asli sapu kalau dipegang langsung! Waktu kuliah di Australia, Papa sewa apartemen mewah yang udah lengkap sama pelayan. Di rumah utama keluarga Davis, Papa bahkan tugasin khusus sepuluh pelayan cuma buat urusin kebutuhan Calla!"

​Alaric mendadak merasa kepalanya berdenyut lebih nyeri dari biasanya. Pria itu memijat pangkal hidungnya, menatap gadis di depannya dengan tatapan pasrah. Sepuluh pelayan? Sementara di rumah ini, jangankan pelayan, mesin cuci pun tipe manual yang harus dikuras sendiri.

​"Di sini tidak ada pelayan, Calla. Jadi kamu harus belajar mandiri," ujar Alaric tegas, mencoba menanamkan kedisiplinan sejak hari pertama.

​"Enggak mau! Kan Calla udah janji tadi di mobil, tugas Calla di sini cuma satu: jadi istri solehot! Tugas istri solehot itu berdandan cantik dan melayani Paksu di kasur, bukan pegang sapu!" sahut Calla dengan nada enteng, sambil mengibaskan rambut panjangnya.

​Alaric tersedak ludahnya sendiri untuk yang kedua kali hari ini. Wajah garangnya mendadak kaku, dan semburat merah samar kembali muncul di telinganya. "Jaga bicaramu, Callanta. Ini masih siang."

​"Ih, Paksu denger ya, daster mini Calla di koper ada banyak, lho! Nanti malam Paksu pasti langsung tobat jadi galak!" Calla mengedipkan sebelah matanya jahil, benar-benar menikmati ekspresi salah tingkah sang Komandan yang sangat langka itu.

​"Cukup. Masuk ke kamar kamu di lantai atas, bersihkan badan, dan ganti pakaian yang sopan," perintah Alaric cepat, mengalihkan pembicaraan sebelum imajinasi istrinya semakin liar.

​Malam harinya, pangkalan militer itu menjadi sangat sunyi. Angin malam berembus cukup kencang, menggoyang pohon-pohon mangga di sekitar rumah dinas.

​Alaric sedang duduk di tepi ranjang kamarnya, fokus membaca beberapa dokumen dokumen taktis di bawah pendar lampu meja. Ia sudah berganti pakaian menggunakan kaus oblong hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot dada dan lengannya, dipadukan dengan celana panjang loreng.

​KREKKK.

​Pintu kamar Alaric terbuka perlahan. Alaric mendongak, dan seketika itu juga, napasnya tertahan di tenggorokan. Jakunnya naik turun dengan cepat.

​Calla berdiri di ambang pintu. Gadis itu baru saja selesai mandi, rambutnya yang setengah basah dibiarkan terurai berantakan, wangi sabun stroberi langsung menguar memenuhi kamar Alaric. Tapi yang membuat Alaric mematung adalah pakaiannya. Calla memakai gaun tidur berbahan satin tipis berwarna merah menyala, dengan tali yang sangat kecil di pundaknya. Panjang gaun itu bahkan tidak sampai menyentuh lututnya, mengekspos kaki jenjangnya yang putih mulus.

​"Paksu... Calla kedinginan di kamar sebelah. AC-nya nggak bisa dimatiin, Calla nggak tahu tombolnya yang mana," rengek Calla sambil berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja dibuat manja.

​Alaric langsung berdiri tegak seperti sedang melakukan posisi siap di depan jenderal. Seluruh otot tubuhnya menegang. Sebagai pria matang normal, pemandangan di depannya ini benar-benar cobaan iman tingkat tinggi. Namun, akal sehatnya berteriak bahwa Calla masih terlalu muda, dan gadis ini baru saja kehilangan ayahnya tadi siang.

​"Calla, balik ke kamarmu. Pakai baju yang benar. Angin malam di sini tidak bagus untuk kesehatan," ujar Alaric, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serak dan berat karena menahan hasrat.

​"Nggak mau! Ini kan baju dinas malam Calla! Ini bukti kalau Calla menepati janji buat jadi istri solehot biar nggak dikurung di barak! Ayo dong, Paksu, masa kaku banget sih sama istri sendiri?" Calla makin mendekat, mengerucutkan bibirnya yang ranum, berniat memeluk lengan kekar Alaric.

​Satu detik sebelum kulit mulus Calla menyentuh lengannya, panik melanda insting Alaric. Dengan gerakan refleks kilat khas Pasukan Khusus, Alaric menyambar mantel dinasnya yang tebal dan besar yang tergantung di kapstok dekat kasur.

​WUSH!

​"Eh! Kok gelap?!" Jerit Calla bingung.

​Dalam sekejap, Alaric sudah membungkus tubuh mungil Calla dengan mantel dinas tersebut, lalu mengancingkannya dari atas sampai bawah hingga Calla tenggelam seperti buntalan kain besar yang kedodoran. Hanya menyisakan kepala dan kaki kecilnya yang menyembul.

​"Ikut saya keluar sekarang!" perintah Alaric dengan muka merah padam, napasnya memburu.

​"Hah?! Mau ngapain, Paksu? Malam pertama kok malah diajak keluar?! Kita mau tidur di barak luar ya? Hwaaa, nggak mau!" Calla mulai panik, tangannya berontak di dalam mantel yang kaku itu.

​"Diam atau saya hukum benar-benar!" gertak Alaric dengan suara baritonnya yang menggelegar.

​Gertakan itu sukses membuat Calla langsung bungkam, matanya berkaca-kaca siap menumpahkan tangisan bombay dalam hitungan detik. Melihat istrinya mulai sesenggukan, Alaric menghela napas, lalu menarik pergelangan tangan Calla lembut untuk mengikutinya keluar rumah.

​Lima menit kemudian, mereka sudah berada di tepi lapangan pangkalan militer yang sangat luas. Lapangan itu diterangi oleh beberapa lampu sorot raksasa dari pos jaga.

​"Duduk di sini. Jangan ke mana-mana," perintah Alaric, mendudukkan Calla di sebuah kursi tribun portabel di pinggir lapangan.

​"Paksu mau ngapain? Calla takut..." Bisik Calla sambil mengeratkan mantel besar Alaric di tubuhnya. Hidungnya sudah memerah karena hawa dingin pangkalan.

​Tanpa menjawab, Alaric berjalan ke tengah lapangan. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang bayangan lekuk tubuh Calla dari otaknya. Cara terbaik untuk menyalurkan energi dan hasrat tertahannya sebagai tentara hanya satu: menguras fisik.

​TAP! TAP! TAP!

​Alaric langsung mengambil langkah seribu, berlari maraton memutari lapangan dengan kecepatan penuh di tengah malam yang dingin.

​Sementara itu, dua prajurit yang sedang piket jaga di pos luar melotot tak percaya menatap pemandangan di depan mereka. Mereka saling berbisik dengan wajah tegang.

​"Sersan, itu Komandan Alaric, kan? Kenapa lari jam segini?"

​"Nggak tahu, mungkin lagi latihan fisik dadakan. Tapi... lihat yang di tribun itu siapa?"

​Kedua prajurit itu makin melotot saat melihat Calla. Gadis cantik itu awalnya cemberut, namun pandangannya mendadak teralih pada sebuah benda di bawah kursi tribun—sebuah raket nyamuk listrik berwarna hijau dengan lampu indikator merah yang menyala.

​"Wah! Ada mainan gila!" Seru Calla girang, melupakan kesedihannya.

​Calla langsung menyambar raket tersebut. Bukannya mengantuk, Calla justru mendadak super aktif karena melihat banyak nyamuk kebun pangkalan yang mulai berdatangan. Dengan mantel dinas Alaric yang kedodoran bergoyang-goyang mengikuti gerakannya, Calla melompat ke sana kemari di atas tribun.

​CUPING! PLAK! CETARRR!

​"Hahaha! Rasain lu nyamuk nakal! Mengganggu ketenangan istri solehot ya!" Teriak Calla riang gembira.

​Alaric yang baru saja menyelesaikan putaran kesepuluh lewat di depan tribun dengan napas terengah-engah dan kaus yang sudah basah kuyup oleh keringat.

​"Paksu! Lihat! Calla dapat lima belas nyamuk gila! Banyak banget!" Teriak Calla sambil mengacungkan raket nyamuknya tinggi-tinggi ke arah Alaric, memamerkan percikan listrik merahnya dengan wajah bangga luar biasa.

​Alaric yang sedang berlari hampir saja tersandung kakinya sendiri mendengar teriakan itu. Ia melirik ke arah pos jaga, di mana dua anak buahnya sedang membusungkan dada dengan sangat kaku—berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak kena sanksi jemur besok pagi.

​Alaric hanya bisa menggelengkan kepala pasrah, sambil terus berlari memutari lapangan demi mendinginkan kepalanya yang semakin panas akibat tingkah ajaib sang Ismut. Hidupnya sebagai Komandan Pasukan Khusus yang tenang, dipastikan sudah tamat sejak malam ini.

1
Fitra Sari
lanjut lagi kk 🙏🙏🙏pleasee 😊😊
Muft Smoker
sabar pak suu ,,
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
umie chaby_ba
Michelle lo lagian ngapain disitu 🤣🤣🤣
Muft Smoker: jdii nyamuk dy kak ,, 🤭🤭🤭
total 2 replies
umie chaby_ba
lanjutkan thor ...
Ariska Kamisa: siap komandan 👍
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
gangguannya ada aja ya cal
Ariska Kamisa: begitulah ketika keimanan kita diuji🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
cap paten 🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: paten no debat🤭🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
akhirnya kesampaian ya cal🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calla calla kamu kok lucu banget sumpah 😄
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
yang sabar ya pak komandan 🤭
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
umie chaby_ba
Calla kayanya paling muda sendiri kali yaa...
Ariska Kamisa: seperti begitu makanya keliatan masih kaya bocah yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kocak ya calla ini... kaya bocah banget🤣🤣
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk ..ga sabarr nunggu resepsi nya 🥰🥰🥰🙏🙏🙏
Ariska Kamisa: siap kak...
lagi nyiapin resepsinya nih🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak. ,,



pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
Ariska Kamisa: siap laksanakan 💪
total 1 replies
Fitra Sari
uluh2 ...pak alaric mulai2 bucin 😊lanjut lagi pkoknya KK ...TK tunggu slalu 🥰🥰🥰🥰🥰
Fitra Sari: semangat 💪💪 KK ...aku tunggu KK up nya lagi ..minimal sore ini 😊😊
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, pinjem kabel ny ke kak author calla ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: mungkin sapu lidi pak komandan di sangka ny sapu lidi portable kak🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣


kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
Muft Smoker: sama2 kak 😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
tu si pak komandan lngsung nyebur ke kolam air kah🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: ooo kirain pak komandan langsung nyemplung ke bak mandiii 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣 pertahanan bpa komandan udh hancuur lebur 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak ,, krn dy udh sedia air dingiin dkamar mandii🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
"Novel ini menyajikan kisah komedi romantis yang ringan, manis, dan menghibur antara seorang komandan berusia 38 tahun yang tegas, kaku, dan disiplin dengan istrinya yang berusia 21 tahun, seorang cegil ceria yang genit, usil, dan selalu berhasil membuat hidup sang komandan jungkir balik.
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!