"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"
"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."
Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.
"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.
"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 [ Layaknya Anak tiri ]
Kediaman yang besar dan cukup mewah, sesosok Wanita sedikit tua terlihat bersantai sambil menonton siaran televisi, tiba-tiba sesosok suara muncul, Wanita itu gelagapan berdiri menghampiri sang Putri, hadirnya Nayla yang tiba-tiba datang tanpa mengucapkan salam langsung memeluk Wanita itu membuatnya ikut bertanya-tanya.
"Sayang? Ada apa? Kenapa kamu menangis, ada apa?"panik Mamanya.
"Mam! Aku tidak mau dipenjara...aku tidak mau dipenjara!"ujar Nayla masih tak berterus terang, Mamanya nampak bingung dengan perkataan sang putri
"Katakan, apa maksud kamu Mama tidak mengerti?"
"Aku tidak sengaja menabrak seorang Wanita hamil bersama dengan seorang putrinya, aku takut dan langsung memutuskan kabur meninggalkannya aku takut Mam! Aku takut."
"Sudah berapa jam kamu menabrak Wanita itu?"
"Sekiranya 1 jam yang lalu, lokasinya sepi aku tidak tau apa mereka bisa tertolong aku takut, Mam! Aku sangat takut!"
"Percayakan semuanya pada Mama, apa saat kejadian seseorang sempat melihat wajah kamu?"
"Sepertinya tidak, Mam! Apa Mama memiliki ide lain?"
"Kamu menabrak mengunakan mobil yang mana?"
"Beruntungnya aku mengunakan mobilnya si Cantika, kenapa memangnya?"
"Kamu janganlah cemas semua akan baik-baik saya, kamu tidak akan dipenjara dan tidak akan ada seorang pun akan tau kalau kamu yang telah menabrak, Mama memiliki ide."
"Apa kalian semunafik itu tidak mau mempertanggung jawabkan kesalahan yang barusan kau perbuat?"
Datangnya Wanita cantik berambut panjang hitam yang terurai dengan cantiknya. wajahnya amat memancarkan aura kecantikan yang digadang-gadang setiap lelaki pasti akan terpesona, namun tidak untuk Wanita bernama Cantika Alkyara Putri, selaku saudara tirinya dalam hatinya akan selalu menyimpan iri dan dengki dan menginginkan kehancuran saudara tirinya itu.
"Cantika? Sejak kapan kamu disana?"
"Sejak kalian memikirkan ide gimana cara untuk mengelabuhi seseorang! Kenapa Nenek lampir? Apa anda bermaksud menjadikan aku sebagai senjata utama untuk pengganti Putrimu seusai menabrak seorang Wanita?"
"Dasar anak kurang ajar! Mamamu sudah mati kenapa kau tidak ikut nyusul agar Papamu tidak memiliki tanggungan membiayai putri tidak tau diri seperti anda?"
"Jika anda mau menyuruhku untuk menyusul Mamaku, tunggulah sampai aku yang akan terlebih dulu mendorongmu kejalan sana!"
"Dasar gadis tidak tau diuntung! Kau harusnya bangga sejak Mamamu mati! Ada Mamaku yang siap menjadi istrinya agar Papamu tidak terus-menerus menjadi duda! Bayangkan jika mereka tidak nikah dipastikan Papamu akan mati muda karena tersiksa memiliki putri seperti anda!"
Perdebatan yang tak kunjung terhenti. Sosok Pria tua dengan didampingi dua asisten menghampiri keributan yang jelas sangat terdengar. Sosok pria yang tak lain Papa kandung Cantika, dan Papa tiri Nayla.
Cantika... Putri kandung dari Victor dengan tegas menatap sang Papa, tubuhnya gemetar, namun wajahnya tetap penuh dengan keberanian. Dia menolak untuk tunduk pada perintah sang Papa dan dengan langkah mantap, ia melangkah maju menuju ruangan penting di mana sang Papa berada
Saat Papanya memasuki ruangan itu, suasana seketika berubah, keributan pun terhenti. Papanya yang selalu dihormati oleh semua orang termasuk istri dan Anak tirinya, berbeda dengan Cantika, dihadapan sang Papa Gadis itu sama sekali tak memberikan hormat.
Cantika menatap Papanya dengan penuh keberanian, membuat semua orang tercengang dan tak bisa berkata-kata.
"Ada apa ini? Ada keributan apa sampai-sampai suara ribut kalian terdengar dari luar?"
"Pah! Mama bingung mau mulai mengatakan ini dari mana, tapi...."
"Tapi, apa, Ma? Katakan!"
"Cantika, habis menabrak orang! Parahnya dia tidak bertanggung jawab dan langsung kabur tanpa peduli kondisi seseorang itu."
Sudah menduga tanpa ragu, Cantika memberikan protes yang keras pada Wanita tua yang berstatus Mama tirinya itu, memberikan pembelaan yang jelas pasti bukankah dia pelakunya, sebuah rasa tidak terima dirinya akibat tuduhan yang bisa jadi akan menyimpan ketenangan hidupnya.
Lelaki itu terdiam sama sekali tak mempercayai kata demi kata pembelaan putrinya, tak bisa berkata apa-apa Pria itu hanya diam, sedangkan kedua ular hanya mengamati keberanian Gadis itu dengan senyum liciknya, kini lelaki itu tak tahan akhirnya memberikan tamparan agar ocehan Cantika terhenti dengan sesaat.
Alih-alih pembelaan yang Cantika ucapkan akan memberikan kepercayaan dan memahami maksud Putrinya, namun yang terjadi Victor berbalik melayangkan tamparan. Bahkan tak segan-segan memberikan tamparannya hingga kedua kalinya.
Kini sekejap, Cantika merasakan dunianya telah hancur berantakan menjadi puing-puing. Hati dan pikirannya seakan-akan sudah menjadi abu akibat tindakan sang pria yang seharusnya melindungi dan mencintainya sebagaimana seorang Papa kandung yang memperlakukan Putri kandungnya sendiri dengan kasih sayangnya.
Perlakukan inilah yang ditunjukkan Pria itu dan menyadarkan Cantika jika sosok Papanya sudah tidak menganggap akan kehadirannya yang masih ada, sungguh rasa sakit ini menghantamnya seperti badai yang datang tak terduga.
Cantika terdiam dan merenung dalam kehampaan, mencari jawaban atas pengkhianatan yang ia alami. Kenapa sosok Papa kandung, darah dagingnya sendiri tega bersikap begitu dingin dan tak berbelas kasih padanya?
Mengapa ia harus menerima perlakuan seperti ini dari seorang yang seharusnya memberikan kasih sayang dan perlindungan yang tulus. Rasa kecewa dan kebencian muncul dalam diri Cantika.
Jika Nayla yang hanya berstatus Anak tiri selalu diperlakukan khusus penuh dengan kasih sayang. Bahkan tidak pernah sekalipun diberikan tamparan, berbeda dengan Cantika yang jelas putri kandungnya, tamparan berulang-ulang menurutnya sudah jadi menu makanan setiap harinya.
Ia hanya tersenyum palsu, Cantika mengusap air bercak darah pada sudut bibirnya, mengusap air matanya sekali dan tak menunjukkan akan kelemahannya.
"Papa? Apa yang Papa lakukan Papa tidak berhak menampar Cantika, dia tidak pantas mendapatkannya,"
Sebaliknya Cantika sendiri sangat risi dengan perlakukan palsu yang ditunjukkan Nayla ketika hanya didepan Papanya, tapi dibelakangnya sudah tak bisa terhitung berapa umpatan dan hinaan yang dilayangkannya.
"Stop, menjauh lah! Aku bukanlah gadis bodoh yang akan tertipu dengan perkataan palsu mu itu, jujur saja kau bahagia kan? Kau bahagia karena Papa kandung ku sendiri memberikan tamparan ini, kau puaskan?"
"Sayang apa maksud kamu? Nayla hanya bermaksud meredakan amarah papa kamu, tapi kenapa kamu malah membalasnya begini?"
"Sayang... katakan sekali lagi ucapan kamu yang tidak menyebutkan jika Cantika habis menabrak seseorang?"
"Iya, pah! Mobil Cantika terlihat ringsek, sebenarnya ini hanya dugaan Mama karena Mama sungguh takut jika dia akan dipenjara jika sampai ketahuan ia melarikan diri, ini kasus akan besar yang mungkin akan ikut menjerat nama Papa, Mama hanya khawatir, Pa."
"Sekali lagi Papa tanya apa benar kau telah menabrak seseorang?"
"Jika aku balas, tidak! Apa Papa akan percaya? Jawabannya tidak, kan?"
"Entah kenapa Papa memang lebih percaya dengan perkataan Wanita berstatus istriku? Papa benar-benar merasa beruntung bisa menikahinya, Papa tidak tau jika saja tidak ada mereka sebagai penggantinya seberapa kecewanya Papa menghadapi tantangan setiap hari Papa hanya memiliki sosok Putri tidak tau diri seperti kamu! Entah apa kesalahan Papa kenapa semua fasilitas sudah Papa berikan, kamu masih susah dikendalikan dan tidak bisa berbakti seperti mereka?"
"Apa Papa ingin tau apa balasan dari pertanyaan Papa itu? Aku tidak butuh semua itu? Apa gunanya memiliki banyak kekayaan jika nyatanya Papa kandungku sendiri tidak pernah memperlakukan aku layaknya seorang Putri kandung?
Papa hanya buta kekayaan. Aku putri kandung Papa! Aku juga ingin mendapatkan perlakukan tulus, tapi apa? Apa Papa pernah sekali saja memperlakukan aku layaknya seorang Putri kandung bukan malah memperlakukan aku layaknya aku ini malah seperti Putri dari musuh Papa?"
Kembali memberikan tamparan lagi, namun Cantika tak sudi lagi mengeluarkan air matanya.
"Jaga bicaramu! Papa sudah cukup sabar! Kau tau Papa paling tidak suka dikekang! Kau orang pertama yang berani menentang. Bahkan pada Papa kandungmu sendiri kapan sikapmu akan sama seperti saudara tiri kamu?
Dia cerdas! Pintar selalu mematuhi apa perintah Papa, tapi kamu! Kamu bukanlah anak kebanggaan Papa, Papa bahkan tidak percaya memiliki Putri b*doh suka manipulatif bahkan tidak cerdas sepertimu!"
Seperti itulah kata-kata umpatan yang hampir setiap hari ia dengar, sosok Papa kandung yang biasa menjadikan Putrinya layaknya seperti Cinderella berbeda terbalik dengan Nayla yang tak pernah sekalipun ia mendapatkan perlakukan khusus itu.
"Apa Papa sudah cukup menghina dan melontarkan kata-kata umpatan itu? Jika aku bodoh dan 00n apa bedanya sama Gadis pelacur kebanggaan Papa yang hidupnya suka mabuk-mabukan? Bahkan tak lebih dari seorang jalang! Dan perusak!"
Emosinya Cantika yang kian semakin meledak-ledak, tapi tak ada sentuhan lembut pada sosok Papa untuk mendinginkan emosi Putrinya.
Kata-kata yang semakin membangkitkan emosi lelaki tua itu. Darahnya seakan-akan mendidih. Kata-kata itu berani Putrinya lontarkan. bahkan kali ini bukan hanya tamparan tapi lelaki berumur itu bahkan berani memberikan dugemannya biarpun seseorang yang ia siksa Putri kandungnya sendiri.
Tubuh itu pun seketika tersungkur, anak buah seakan-akan kasihan ingin menolong namun mereka sadar tindakannya akan berbalik menimpa mereka.
"Ingat! Jangan pernah sekali lagi anda berani berkata yang mengakibatkan emosiku memuncak! Sekarang keluarlah!"
BERSAMBUNG