NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.

Keesokan harinya, Zee Salsabila berdiri di depan pagar rumahnya sambil memandangi cat yang mulai mengelupas, warna yang dulu cerah kini tampak kusam, bahkan di beberapa bagian terlihat retak dan berjamur. Dia menghela nafas pelan, lalu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

"Kalau dibiarkan terus begini, maka rumah ini makin kelihatan tak terurus..." gumamnya lirih.

Setelah selesai menyapu halaman dan merapikan beberapa pot bunga yang mulai berantakan, Zee melangkah menuju rumah tetangga di sebelah. Dia sudah beberapa kali melihat ada aktifitas perbaikan di sana dua hari yang lalu, dan sepertinya hasilnya cukup rapi.

Zee mengetuk pintu dengan sopan.

"TOK... TOK... TOK"

"CEKLEK."

Tak lama kemudian, pintu terbuka, seorang wanita paruh baya muncul dengan senyum ramah.

"Iya, ada apa, Nak Zee?" tanyanya hangat.

Zee tersenyum sedikit canggung. "Maaf mengganggu Bu, Saya mau tanya, waktu rumah ibu di renovasi itu pakai jasa siapa ya? Soalnya saya mau memperbaiki rumah saya juga. Catnya sudah pudar dan beberapa bagian tembok mulai rusak."

"Oh, yang kemarin itu ya..." ibu itu mengangguk pelan. "Saya pakai tukang langganan, namanya pak Rahman, orangnya telaten, kerjanya juga rapi."

Mata Zee sedikit berbinar. "Masih bisa dipanggil, Bu?"

"Masih kok, kebetulan dia tinggal tidak jauh dari sini juga," jawabnya sambil masuk sebentar ke dalam rumah. Tak lama kemudian, dia kembali membawa secarik kertas kecil.

"Nih, ini nomor teleponnya. Kamu coba hubungi saja dulu, biasanya dia bisa datang lihat kondisi rumah sebelum mulai kerja."

Zee menerima kertas itu dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak ya Bu. Ini sangat membantu."

"Sama-sama. Oh ya, kalau mau lebih cepat, kamu bilang saja direkomendasikan dari saya," tambahnya sambil tersenyum.

Zee mengangguk. "Baik Bu, nanti saya hubungi beliau hari ini juga."

Setelah berpamitan, Zee kembali ke rumahnya. Dia berdiri sejenak di depan halaman, menatap rumah yang menjadi tempat pulangnya. Meski sederhana, rumah ini menyimpan banyak kenangan.

Dengan perlahan, dia menggenggam kertas kecil berisi nomor tukang itu. "Pelan-pelan saja... yang penting mulai dulu," ucapnya dalam hati.

Zee lalu masuk ke dalam rumah, mengambil ponselnya dan bersiap menghubungi pak Rahman. Langkah awal untuk menghidupkan kembali rumah yang kehilangan warnanya.

Zee duduk di kursi kayu dekat jendela, ponsel di tangannya terasa sedikit dingin. Dia menatap nomor yang baru saja dia dapatkan, menarik nafas pelan sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

Tuut... tuut...

Beberapa detik terasa cukup lama, hingga akhirnya terdengar suara di seberang.

"Assalamualaikum, dengan Pak Rahman."

Zee langsung duduk lebih tegap.

"Wa'alaikum salam pak. Maaf mengganggu, saya Zee... Tetangga Bu Sari yang rumahnya disebelah. Kata beliau, bapak bisa membantu renovasi rumah..."

"Oh iya, Bu Sari yang cat rumahnya warna hijau itu ya?" suara Pak Rahman terdengar ramah.

"iya, betul Pak," jawab Zee cepat. "Saya juga mau memperbaiki rumah saya. Cat temboknya sudah pada pudar, pagar juga mulai berkarat... mungkin ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki juga pak."

"Hmm, begitu ya. Baik, kalau begitu saya bisa datang dulu untuk lihat kondisi rumahnya. Biar nanti kita bisa hitung kebutuhan dan pengerjaannya." jelas pak Rahman.

Wajah Zee sedikit lega. "Kalau Bapak tidak sibuk, kira-kira bisa datang kapan, ya?"

"Sore ini saya ada pekerjaan, tapi besok pagi saya kosong. Sekitar jam delapan saya bisa ke sana. Bagaimana?"

Zee mengangguk meski lawan bicaranya tak bisa melihat. "Baik pak, saya tunggu besok pagi ya."

"Siap, nanti saya ke sana. Terima kasih sudah mau menghubungi saya."

"Sama-sama pak, terima kasih kembali juga pak."

Telepon pun berakhir. Zee meletakkan ponselnya perlahan, lalu menatap sekeliling rumahnya. Dinding yang mulai kusam, sudut-sudut yang berdebu, dan pagar yang warnanya tak lagi jelas. namun kali ini, perasaannya berbeda. Bukan lagi sekedar lelah melihat keadaan, tapi ada harapan kecil yang mulai tumbuh.

Keesokan paginya, matahari baru saja naik, Zee sudah berada di halaman rumahnya. Dia menyapu lagi bagian depan rumah, memastikan semuanya tampak lebih rapi saat Pak Rahman datang. Tak lama kemudian, suara motor terdengar mendekat dan berhenti di depan rumahnya.

Seorang pria paru baya turun dari motornya, membawa tas kecil berisi alat ukur.

"Assalamualaikum," sapanya.

"Wa'alaikum salam, Pak Rahman?" tanya Zee memastikan.

"iya betul." jawab pak Rahman

Zee tersenyum ramah. "Silakan Pak, mari masuk."

Pak Rahman mulai mengamati rumah itu dari depan. Dia menyentuh dinding yang catnya mulai mengelupas, memperhatikan bagian pagar yang berkarat, hingga melihat beberapa retak kecil di sudut tembok.

"Untuk cat, memang sudah waktunya diperbarui, kalau mau hasilnya bagus, sebaiknya dikupas dulu bagian yang mengelupas, lalu dilapisi ulang. pagar juga perlu dicat ulang biar tidak cepat rusak". Kata Pak Rahman sambil mengangguk pelan

Zee mendengarkan dengan serius. "Kalau semuanya dikerjakan, kira-kira butuh waktu berapa lama pak?"

"Kalau cuaca mendukung, mungkin sekitar tiga sampai lima hari, tergantung juga nanti bagian mana saja yang ingin diperbaiki." jawab pak Rahman

Zee terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap. "Baik Pak, saya ingin rumah ini diperbaiki pelan-pelan saja tapi rapi, tidak apa-apa kalau tidak langsung selesai semuanya."

Pak Rahman tersenyum tipis. "Yang penting niatnya sudah ada, sisanya biasa kita kerjakan bersama."

Zee menatap rumahnya sekali lagi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa rumah itu bukan hanya tentang tinggal... tapi sesuatu yang ingin dia rawat kembali, perlahan, dengan usahanya sendiri.

Dan hari itu menjadi awal perubahan kecil, yang mungkin akan membawa banyak hal baru ke dalam hidupnya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang sibuk namun teratur. Sejak pagi, suara ketukan palu dan gesekan amplas memenuhi sudut-sudut rumah Zee. pak Rahman bersama beberapa karyawannya bekerja dengan telaten, memulai dari lantai atas mengusap cat lama yang mengelupas, memperbaiki retakan-retakan kecil di dinding, lalu melapisinya kembali dengan warna baru yang lebih hidup.

Zee beberapa kali memperhatikan dari bawah, sesekali membantu membersihkan sisa-sisa pekerjaan. Aroma cat baru perlahan mengantikan bau lembap yang sebelumnya melekat di rumah itu.

Hari demi hari, perubahan mulai terlihat jelas. Dinding yang dulu kusam kini tampak bersih dan cerah. Pagar yang berkarat telah kembali kokoh dengan lapisan cat baru. Lantai satu pun tak luput dari perbaikan. tapi, bersih, dan terasa lebih hidup seperti rumah yang baru bangun.

Dalam waktu satu minggu saja, seluruh proses renovasi selesai. Zee berdiri di depan rumahnya, memandangi hasil kerja itu dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Ada rasa lega, bangga, sekaligus haru yang diam-diam mengendap.

"Terima kasih banyak pak," ucapan Zee tulus saat menyerahkan pembayaran terakhir kepada pak Rahman.

"Iya Nak, semoga rumahnya makin nyaman ditempati ya," jawab Pak Rahman sambil tersenyum.

Setelah mereka berpamitan dan pergi, rumah itu terasa berbeda. Lebih terang, hangat, seolah-olah ikut bernapas kembali bersama Zee.

Namun pekerjaan Zee belum selesai. Beberapa hari berikutnya, dia mulai mengganti peralatan rumah tangga yang sudah tidak layak di pakai. Tanpa ingin membuang banyak waktu, dia memilih memesan semuanya secara online dari peralatan dapur hingga beberapa furnitur kecil.

Setelah semua pesanan selesai di lakukan, Zee beralih ke tugas berikutnya yaitu membereskan barang-barang lama.

Dia membawa satu per satu benda yang sudah tak terpakai ke gudang belakang rumahnya. Gudang itu tidak pernah dibuka. Pintu kayunya sedikit berderit saat di dorong, dan aroma debu langsung menyambut begitu dia melangkah masuk.

Cahaya dari luar hanya masuk sedikit, menembus celah-celah papan tua. Di dalamnya, kardus-kardus usang tersusun tidak beraturan, sebagian sudah robek dan di tumbuhi sarang laba-laba.

Zee menghela nafas pelan, lalu mulai merapikan, Dia menggeser beberapa kotak, membersihkan debu yang menumpuk dan memilah mana yang masih bisa digunakan dan mana yang harus dibuang.

Hingga kemudian, tangannya berhenti pada sebuah benda kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kardus lama, sebuah kamera analog tua.

Zee mengernyit pelan, Dia mengangkatnya, meniup debu yang menempel di permukaannya. Kamera itu tampak tua, namun masih utuh dan anehnya dia sama sekali tidak mengingat orang tuanya maupun dia pernah memiliki benda itu.

"Ini punya siapa...?" gumamnya pelan.

Dia membalik kamera itu, memeriksa bagian-bagiannya, saat membukanya perlahan, Dia menyadari sesuatu masih ada, yaitu gulungan film di dalamnya.

Rasa penasaran mulai tumbuh, tampak berpikir panjang, Zee keluar dari gudang. Cahaya sore menyambutnya, membuat matanya sedikit menyipit. Dia berdiri sejenak di halaman belakang lalu mengarahkan kamera itu ke arah sumur lama yang sudah lama kering, sumur yang sejak dulu jarang dia dekati.

KLIK... KLIK...

Suara rana terdengar jelas, kameranya masih berfungsi, tidak ada yang aneh, tak ada juga perasaan berbeda, semuanya terasa biasa saja.

Namun beberapa saat kemudian, ketika hasil cetakan foto itu muncul di tangannya, napas Zee seketika tertahan, matanya membelalak. Di dalam foto itu, tepat di atas mulut sumur yang kosong terlihat sebuah pintu transparan. Samar namun nyata.

Bentuknya seperti bingkai pintu berdiri tegak, seolah menempel di udara kosong. permukaannya berkilau tipis, hampir seperti kaca tembus pandang, tetapi memantulkan cahaya dengan cara yang aneh.

Dan yang membuat Zee semakin gemetar adalah pintu itu tidak ada saat dia mengambil gambar dan saat dia melihat kembali tanpa kamera, sumur itu tetap kosong tidak ada pintu transparan itu dan memang sumur itu seharusnya kosong.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!