Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Mencari Tahu
"Kelv, apa kau sudah menemukan orang yang tidur denganku di Hotel Delaar?" tanya sang tuan sambil membelakangi asistennya.
"Sudah, tuan. Kami sudah mencari keberadaan nona itu," jawab Kelvin.
"Bagaimana hasil pencariannya?"
Sambil menyerahkan berkas yang sudah dia cari, ia berucap, "Wanita itu merupakan anak kedua dari Tuan Alexander. Orang yang berhutang miliaran dollar pada Anda."
Sang tuan membalikkan badannya, membuka berkas itu, tak lama sang tuan pun tersenyum. "Bagus. Buat mereka kesusahan untuk membayarnya, kecuali mereka membayarnya dengan menikahkan anaknya itu denganku."
"Baik, tuan. Kami akan langsung bergegas," ucap Kelvin.
Kelvin, sang asisten pun pergi menuju ruangannya dan memulai aksinya kepada keluarga Alexander agar segera melunasi hutangnya.
Sedangkan sang tuan, ia menatap sebuah foto yang asistennya ambil dari kamera CCTV Hotel Delaar.
"Gadis yang cantik, menarik sekali," gumamnya.
...****************...
Mulai hari ini, kita panggil Irene dengan Violet ya...
Saat ini, di kediaman Alexander, Ayah Darius, Mama Viony dan juga kakaknya Agnesia tengah sarapan di meja makan. Mereka seolah-olah benar-benar melupakan keberadaan Violet. Padahal Violet juga anak mereka.
Sedangkan saat ini, pintu gudang belumlah terbuka. Tetapi ada salah satu pelayan yang diam-diam memberikannya sarapan melalui sebuah jendela yang sudah hancur.
"Nona! Ssthhh! Nona!" bisik-bisik sang pelayan.
Tetapi Violet sepertinya tidak mendengarnya. Hingga akhirnya pelayan itu menggunakan cara lain. Ia melihat ke sekitar dan menemukan sebuah batu kecil.
"Pluk!"
Violet langsung tersadar dan melihat ke sekeliling.
"Ssthhh! Nona! Sini!"
Violet pun langsung berdiri mendengar suara yang sangat kecil itu.
Ia melihat seseorang tengah melambaikan tangannya di sebuah jendela. Violet pun menghampiri orang itu.
Ketika sampai di jendela yang rusak, ia melihat seseorang tengah berdiri menatapnya dengan tatapan iba.
"Nona! Saya bawakan makanan untuk Anda! Tapi maaf jika makanannya tidak sesuai dengan selera nona!"
"Ini apa? Kenapa bibi memberikannya padaku?" Violet memiringkan kepalanya seolah bertanya-tanya.
"Pokoknya nona habiskan saja semuanya. Saya harus segera pergi. Takut ada orang lain yang melihat."
"Eummm... Terima kasih, bi."
Setelah itu, pelayan itu pun pergi dengan cara mengendap-endap melewati kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut.
Violet pun membuka bungkus nasi itu. Dan melihat nasi beserta lauk pauknya. Violet merasa bersyukur masih ada orang yang peduli dengannya. Ia pun makan dengan penuh khidmat, seolah ia baru saja mendapatkan makanan yang luar biasa.
Karena dulu, pernah sekali Violet asli makan sebuah paha ayam untuk ia makan dengan nasi.
Tetapi, hal itu ketahuan oleh Mama Viony. Ia langsung melemparkan makanan yang hendak di makan oleh Violet.
Makanan itu berhamburan dan bercampur dengan pecahan piring.
Seorang pelayan, melihat itu dengan tatapan iba. Ia pun terkadang sedikit-sedikit mencari celah untuk menyediakan sarapan untuk Violet.
"Aku harus segera pergi dari sini. Kalau saja ada sesuatu yang terjadi yang bisa membuatku pergi dari rumah ini, maka aku akan berterima kasih padanya," gumam Violet.
......................
Kembali ke ruang makan...
Ketika keluarga Alexander sedang makan, tiba-tiba saja telepon Darius berbunyi.
Ia pun segera mengangkat telepon takutnya ada hal yang penting.
📞 "Halo?" ucap Tuan Darius
"Halo Tuan Darius, apa kau masih ingat dengan saya?" jawab seseorang di seberang sana
Tuan Darius terkejut mendengar suara itu. Ia pun segera melihat siapa orang yang menelponnya.
📞"I-iya iya, saya masih ingat, Tuan Kelvin."
"Bagus. Kami akan segera datang ke rumah Anda untuk menagih hutang Anda sebanyak 100 miliar dollar."
📞"Tu-tuan... bisakah Anda memberiku tambahan waktu? Kami pasti akan segera melunasinya."
"Tidak bisa, Tuan Darius. Hari ini adalah jatuh tempo waktu hutang Anda harus dibayar."
📞"B-baik, Tuan. kami akan segera melunasinya."
"Jam 10, kami akan tiba di kediaman Anda. Dan jangan pernah coba-coba untuk kabur," ancamnya di seberang telepon.
Telepon itu pun langsung dimatikan, lalu diletakkan dengan kasar.
"Bagaimana ini? Bagaimana cara aku untuk membayarnya?" ucap dalam hati Tuan Darius yang perlahan mulai kehilangan selera makannya.
Agnes dan Mama Viony yang melihat raut wajah papa/suaminya langsung bertanya-tanya.
"Mas, apa ada sesuatu? Kami lihat, raut wajah mas terlihat seperti memikirkan sesuatu yang berat," ucap Ibu Viony.
"Bagaimana aku bisa tenang! Jika Tuan Kelvin akan datang ke sini untuk menagih hutang kita 100 miliar dolar!" seru Tuan Darius.
"Kenapa papa malah membentak mama! Mama tanya juga baik-baik!" jawab Ibu Viony dengan keras.
Sedangkan Agnes, ia duduk dengan gelisah. Ia sedang memikirkan sesuatu.
" Pa, bolehkah aku pergi ke kamar sekarang?" tanya Agnes pelan-pelan.
"Kamu duduk di sini, Agnes," jawab tegas Papa Darius.
Papa Darius pun mulai mencoba mencari jalan keluar dalam otaknya. "Eummm..." sesekali melirik Agnes.
Sedangkan Agnes yang merasakan itu, seketika bulu kuduk nya berdiri.
"Sekarang, papa sudah mencari jalan keluarnya," ucap Papa Darius sambil memukul meja pelan.
Agnes mulai merasakan perasaan yang tidak enak. Tangannya semakin bertautan.
"Agnes, demi membantu keluarga, sebaiknya kamu menikah dengan Tuan X," ucap Papa Darius sambil tersenyum.
"Enggak, Pa. Mama gak setuju. Apalagi yang mama tau, Tuan X itu seorang asisten yang memiliki wajah buruk rupa. Dan dia juga selalu memakai topeng untuk menutupi wajahnya yang jelek itu," bantah sang mama.
"Tapi ini demi melunasi hutang kita. Memangnya mama mau kalau kita pindah dari rumah ini ke tempat perumahan yang suntuk?" tanya Papa Darius.
" Y-ya... Pokoknya mama gak mau tau. Mama gak rela kalau Agnes harus menikah-" belum selesai berucap Mama Viony, Agnes langsung menggebrakkan meja makan dengan keras.
" Cukup! Pokoknya Agnes gak mau menikah dengan Tuan X itu. Agnes juga sudah mencari tau tentang orang itu. Dia pasti sudah tua, wajahnya jelek dan perutnya gendut seperti orang hamil. Pokoknya Agnes menolak..." potongnya.
" Ini demi kebaikan keluarga kita. Kamu seharusnya membantu papa mu ini," ucap Papa Darius.
" Enggak... Pokoknya sampai kapanpun aku gak mau menikah dengan orang itu. Lebih baik Agnes pergi dari rumah ini," ucapnya sambil berbalik menuju kamarnya.
Bruk.
Pintu kamar tertutup dengan keras.
"Lihatkan , Pa. Agnes menolak menikah dengan orang itu," ucap Mama Viony.
"Pokoknya papa akan terus memaksa Agnes untuk menikah dengan Tuan X. Kalau tidak mau ditaruh dimana wajah Papa ini. Kalau kita bangkrut, Papa yakin, papa tidak akan diterima di perusahaan manapun," bentak Papa Darius.
Sedangkan di dalam kamar Agnes...
Saat ini, ia tengah mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari.
Sambil berjalan bolak-balik lemari-kasur seperti itu terus, Agnes menggerutu pelan.
" Pokoknya, aku tidak akan mau menikah dengan Tuan X itu. Aku harus segera keluar dari sini."
Setelah selesai, Agnes pun memasukkan semua buku pelajarannya ke dalam tas gendongnya.
Agnes pun mulai mengikat semua tali yang ada di dalam kamar itu. Ia menurunkan tali itu melalui jendela kamarnya.
Sebelum ia turun, ia memastikan terlebih dahulu koper dan tasnya telah mendarat dengan pas.
Barulah, setelah di rasa aman, Agnes pun turun.
Agnes pun mulai berjalan mengendap-endap melalui pagar belakang rumah yang masih terhubung dengan jalan.
...... to be continued ......