Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Tersesat
" Pak , ibu sudah capek banget , kita berjalan sudah cukup jauh tapi kita masih berputar - putar saja di hutan ini " . Ujar bu Wati sembari sesekali mengusap tengkuknya .
" Bapak juga capek bu tapi kita harus nyari tempat yang bisa kita gunakan untuk berteduh sementara " . Pak Soni pun sepertinya merasakan hal yang sama dengan bu Wati terlihat dari tangannya yang sesekali juga mengusap bagian belakang lehernya .
" Pak , apa kita salah jalan ya kok sepertinya kita berjalan semakin masuk kedalam hutan " .
" Iya ya bu , bapak juga enggak liat jalan setapak atau rumah - rumah warga , ini yang kita lewati seperti jalanan yang sama sekali enggak pernah dilewati orang " .
" Terus gimana ini pak ? " . Bu Wati semakin mengeratkan pegangan tangannya ke lengan pak Soni .
" Bu , di depan sepertinya ada jalan , kita kesana bu siapa tau itu jalan menuju rumah - rumah warga " .
Bu Wati diam dan hanya mengikuti arahan pak Soni dengan terus mengeratkan pegangan tangannya .
" Lah dalah , ini malah ada tiga jalan kita jalan kemana ini bu ? " .
" Aku ngikut bapak sajalah mau lewat jalan yang mana " .
" Bapak juga bingung bu " .
UHUK UHUK !!
Suara batuk tepat di belakang pak Soni dan bu Wati telah mengejutkan mereka .
" Astaghfirullah ! ". Bu Wati memekik saking terkejutnya .
Pak Soni pun tak kalah terkejutnya sehingga reflek membalikkan badan nya dengan cepat ke belakang menyebabkan bu Wati yang masih tertegun hampir saja terjungkal ke depan .
" Kenapa kalian ada di sini ? " . Suara berat dari seorang perempuan renta yang kurus dan setengah membungkuk di topang tongkat kayu di tangan nya .
" Ka .. kami tersesat mbok " . Jawab pak Soni tergagap .
" Kemana tujuan kalian ? " .
" Kami dari desa Wringin Anom ingin mencari kerja dan tempat tinggal di desa lain nya mbok " .
" Kalian lewat jalan yang lurus , jika kalian menemui jalan bercabang lagi , tetaplah kalian pilih jalan yang lurus , nanti kalian akan menemukan jalan menuju desa Rejo Sari " .
" Terima kasih mbok , tapi siapa nama mbok kenapa ada di hutan ini ? " .
" Panggil aku mbok Derep , pergilah kalian keluar dari hutan ini sebelum surup " .
Belum sempat menjawab lagi pak Soni dan bu Wati sudah melihat mbok Derep berjalan tertatih - tatih meninggalkan mereka berdua ke arah yang berlawanan .
" Pak " .
" Eh iya bu " .
" Ayo kita lanjut jalan , kok malah bengong " .
" " Bapak cuma bingung saja sama mbok Derep , jalan nya saja pelan - pelan gitu tapi kok bisa hampiri kita padahal bapak sama sekali enggak liat ada siapapun di sekitar kita " .
" Sudahlah pak mungkin kita nya saja yang memang enggak memperhatikan , dari tadi kan kita cuma fokus nyari jalan keluar " .
" Iya juga sih bu , ya sudah ayo bu jalan lebih cepat lagi " .
Setelah berjalan lebih dari setengah jam mereka dihadapkan kembali dengan jalan bercabang tapi kali ini cabang jalan hanya ada 2 yg satu ke kanan dan yang satu nya lagi ke kiri .
" Pak , kita mau lewat yang mana ini sedangkan tadi mbok Derep nyuruh kita lewati jalan yang lurus saja " .
" Lah iya ya bu " .
" Seperti nya kita bakal kemalaman di sini pak , coba liat langit nya '' .
Pak Soni pun melihat ke atas , di sela - sela pohon yang menjulang tinggi memang masih terlihat langit yang sudah kemerah - merahan tanda surup akan segera datang .