Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1 Misteri Pesisir Pantai
Bau tanah basah mulai menyengat di tengah malam itu. Suara hewan buas saling bersahutan, ditemani pekikan burung hantu yang ikut memecahkan keheningan. Malam kelima belas ini menandakan bulan purnama pertama di bulan Juli. Semua warga di kawasan pesisir telah tertidur lelap. Desiran ombak sama sekali tidak mengusik tidur mereka, karena mereka sudah sangat terbiasa mendengarnya.
Namun, di ujung pesisir pantai, seorang lelaki tampak terbaring kaku layaknya mayat. Darah mengalir bebas dari tubuhnya, sementara ombak senantiasa membuat tubuh itu bergerak ke sana kemari.
Tak berselang lama, seorang nelayan paruh baya baru saja pulang dan menepikan sampannya ke daratan. Dari kejauhan, ia melihat sesosok tubuh. Ketika mencoba mendekat secara perlahan, barulah terlihat jelas bahwa orang tersebut sedang terluka parah.
Sontak, pria paruh baya itu berlari kecil menghampiri. Ia sangat terkejut melihat wajah sang pria yang sudah sangat pucat dengan darah yang terus mengalir dari tubuhnya. Beruntung, pria itu masih bernapas sedikit. Nelayan tersebut segera berlari menuju pos ronda untuk meminta bantuan warga lain.
"Tolong..! Tolong..!" teriak pria paruh baya itu dengan suara serak di usia senjanya.
"Ada apa, Pak Jalil?" tanya salah satu warga yang sedang berjaga malam itu.
"Tolong..! Di pesisir pantai ada orang yang terluka parah! Dia masih bernapas!" jelas Pak Jalil panik.
Dua orang warga yang menjaga pos ronda malam itu segera bergegas berlari mengikuti Pak Jalil menuju ujung pesisir pantai. Sesampainya di sana, mereka langsung menggotong tubuh korban yang terluka dan membawanya menuju Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).
Ketiga warga itu berjalan cepat memapah sang pria di bawah terangnya cahaya bulan purnama. Malam ini, rembulan menjadi satu-satunya bantuan penerangan mereka tanpa ada cahaya lain.
Sesampainya di Poskesdes, mereka berteriak memanggil dokter yang baru tiga bulan ini berpindah tugas ke desa mereka, Desa Sekar. Rumah dinas sang dokter berada tepat di samping Poskesdes. Tempat tinggalnya tidak mewah, hanya sebuah bangunan sederhana bantuan pemerintah yang terdiri dari satu kamar, ruang tamu, dan kamar mandi.
Namanya Hana. Ia baru saja mendapatkan gelar dokternya dan langsung ditugaskan di desa terpencil ini. Mendengar teriakan warga, Hana terkejut dan langsung terbangun. Ia melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul satu malam.
Hana segera beranjak dari kasur dan berjalan keluar. Ia hanya mengenakan kaos abu-abu, celana training hitam, dengan rambut yang diikat ekor kuda. Begitu keluar, ia terkejut melihat warga membawa seseorang yang terluka parah dengan darah yang terus mengalir.
"Ada apa ini?" tanya Hana cemas.
"Dokter Hana, tolong! Kami menemukannya di pesisir pantai," jelas Pak Jalil.
Hana segera membuka pintu Poskesdes dan meminta warga membaringkan pasien di atas ranjang. Kondisinya sangat darurat. Di tengah keterbatasan fasilitas desa terpencil seperti ini, Hana sempat bingung bagaimana harus bertindak.
Namun tanpa berpikir panjang, Hana segera mencari sarung tangan bedah dan kain kasa untuk menekan luka agar darahnya berhenti mengalir.
"Pak Deden, bantu saya menekan lukanya agar darah tidak terus keluar. Tapi sebelum itu, Pak Deden harus mencuci tangan terlebih dahulu," perintah Hana dengan suara tegas. Pak Deden pun langsung bergerak cepat mengikuti arahan Dokter Hana.
Setelah mensterilkan tangan, Pak Deden membantu Hana menghentikan pendarahan.
"Pak Jalil dan Pak Sabir, tolong bantu saya mengambil gunting dan benang di dalam lemari. Saya sudah menyusunnya dengan rapi di sana," ucap Hana tegas, yang kini beralih memasangkan selang infus di tangan sang pria.
"Astaga, apakah aku bisa menyelamatkannya? Alat medis di sini hanya seadanya," gumam Hana dalam hati.
Namun, ia berusaha tetap berpikir jernih. Ia akan melakukan apa pun demi menyelamatkan pasien di hadapannya. Sebagai seorang dokter, ia tahu betul bahwa nyawa pasien sangat berharga, dan saat ini hidup atau mati pria itu ada di tangannya.
"Dokter Hana, ini barang-barang yang dokter minta," ujar Pak Jalil sambil memberikan nampan besi berisi benang, gunting, serta peralatan medis lainnya.
Hana segera mengambilnya. Beruntung, sebelum beristirahat tadi ia sempat mensterilkan barang-barang tersebut untuk mengantisipasi kejadian mendadak seperti ini.
"Yang lainnya boleh tunggu di luar, terima kasih sudah membantu saya," ucap Dokter Hana.
Pak Jalil, Pak Deden, dan Pak Sabir akhirnya menunggu di luar dengan wajah cemas dan khawatir. Sebagai warga desa, mereka memang memiliki rasa empati kemanusiaan yang sangat tinggi.
Di dalam ruangan, Hana mengambil gunting dan merobek baju pria itu. Betapa terkejutnya Hana saat melihat berbagai bekas jahitan luka sobek yang memenuhi tubuh sang pria.
"Apakah dia seorang buronan?" gumam Hana curiga.
Namun, Hana menggelengkan kepalanya dengan cepat. Saat ini, identitas pria itu tidaklah penting. Menyelamatkan nyawa seseorang adalah sumpah seorang dokter, tidak peduli siapa pun orangnya.
Hana mulai memeriksa titik luka parah sang pria. Ia memperhatikannya dengan saksama sebelum mulai menjahit, memastikan apakah ada organ dalam yang terluka atau pecah.
"Sial, luka tusukannya cukup dalam," batin Hana.
Ia segera mengambil peralatan medis dan menjahit luka bagian dalam terlebih dahulu. Setelah dirasa aman, Hana melanjutkan menjahit luka luar dengan telaten. Hana menghabiskan waktu hingga satu jam penuh untuk mengobati pria itu.
"Ini akan terasa sangat sakit saat kau terbangun nanti. Tidak ada dokter anestesi yang bisa membantu operasi dadakan seperti ini," gumam Hana pelan.
Setelah selesai, Hana mengecek detak jantung pasien. Karena tidak ada alat medis modern untuk mengukur tensi darah dan hal lainnya, ia terpaksa mengukurnya secara manual. Begitu semua tindakan selesai, Hana merapikan kembali peralatan medisnya dan memperhatikan selang infus yang terus mengalir.
Napas pria itu perlahan mulai teratur. Wajahnya yang semula pucat pasi kini sedikit kembali memerah, walau sisa-sisa pucatnya masih terlihat. Hana merasa sedikit lega, sepertinya ia berhasil melewati masa kritis pasiennya. Tinggal menunggu pria itu siuman.
Hana melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Ia lalu keluar untuk meminta para warga pulang beristirahat dan kembali berterima kasih karena telah menyelamatkan pria itu.
Jam terus berjalan, namun Hana tidak tidur. Ia terus berjaga dan memperhatikan pasien di hadapannya. Malam ini benar-benar menjadi malam yang sangat panjang bagi dokter muda itu.
"Sepertinya aku harus mengeluh kepada pemerintah agar fasilitas alat kesehatan medis bisa merata di seluruh desa," keluh Hana sambil menyandarkan tubuhnya di kursi plastik yang terletak tidak jauh dari ranjang pasien.
✨✨✨✨✨
Pagi yang cerah pun tiba. Matahari mulai menampakkan dirinya dan lautan kembali tenang. Warga yang bekerja sebagai nelayan mulai menarik sampan mereka dari pinggir pantai menuju laut demi mencari sesuap nasi.
Sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah jendela Poskesdes. Berkas cahayanya mengenai wajah Hana yang tertidur di kursi plastik dengan posisi kedua tangan melipat.
Perlahan, Hana mengerjapkan matanya. Ia melihat sosok pria yang semalam ia tolong masih terbaring lemah di ranjang. Hana melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Rasanya, tubuhnya belum mendapatkan waktu yang cukup untuk beristirahat.
Hana bangkit dari kursi, lalu memeriksa selang infus yang masih berjalan. Napas pria itu kini sudah teratur dengan sangat baik.
"Syukurlah, dia baik-baik saja," gumam Hana lega.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar. Hana segera berjalan untuk membukanya. Ternyata, ketiga warga semalam datang kembali bersama Pak Kades.
"Dokter Hana, kata Pak Sabir semalam ada pasien yang ditemukan di pesisir pantai?" tanya Pak Kades langsung.
"Iya, Pak. Bersyukur keadaannya sekarang sudah stabil," balas Hana dengan senyuman manis di wajahnya.
"Wah, Dokter Hana kalau tersenyum seperti ini, bisa-bisa saya jodohkan dengan anak saya," celetuk Pak Deden, membuat Hana tertawa kecil.
Hana sudah terbiasa dengan candaan warga di sana. Hampir tiga bulan bertugas di desa terpencil ini membuatnya sudah mengenal karakter warga desa dengan baik.
"Kalau begitu, boleh saya melihatnya?" tanya Pak Kades.
Hana mempersilakan mereka masuk. Pria itu tampak masih terbaring, kini sudah mengenakan baju pasien yang dipasangkan sendiri oleh Hana.
"Saya begitu kaget saat kembali dari laut dan melihat pria itu terombang-ambing di pinggir pantai," jelas Pak Jalil menceritakan kembali kejadian semalam.
"Kenapa dia bisa berada di sana, ya?" tanya Pak Deden penasaran.
"Atau jangan-jangan... dia seorang buronan?" tambah Pak Sabir menduga-duga.
"Kita jangan menduga-duga dulu. Sebaiknya kita menunggu dia siuman dan bertanya kepadanya langsung," terang Pak Kades menenangkan.
"Pak Sabir bicaranya asal saja," ucap Pak Deden sambil langsung menarik mulut Pak Sabir.
"Hey, kau itu—" Belum sempat Pak Sabir membalas, mereka berdua sudah ditatap tajam oleh Pak Kades.
"Maaf, Dokter Hana. Hmm, nanti kalau dia sudah siuman, segera informasikan kepada saya agar saya bisa menanyakan asal-usulnya," pinta Pak Kades.
"Siap, Pak," sahut Hana patuh.
Mereka semua pun pamit pulang. Sementara itu, Hana kembali ke rumah dinasnya untuk berganti pakaian karena tubuhnya sudah terasa cukup gerah. Setelah satu jam membersihkan diri, Hana keluar dari rumahnya yang terletak persis di sebelah Poskesdes.
Saat keluar, Hana melihat sosok anak kecil bernama Rani. Gadis yatim itu sedang mengintip ke arah jendela Poskesdes yang posisinya memang tidak terlalu tinggi. Hana pun berjalan mendekati anak itu.
"Rani, kamu tidak ke sekolah?" tanya Hana lembut.
Rani menoleh. Tanpa membalas ucapan Hana, ia hanya menggelengkan kepalanya. Hana menghela napas panjang. Ia sempat bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan Rani. Ya, anak itu memiliki kekurangan sejak kecil sehingga tidak bisa berbicara dengan baik, dan di desa terpencil seperti ini tidak ada fasilitas pendidikan khusus untuk anak-anak istimewa seperti dirinya.
"Rani harus tetap ke sekolah, supaya bisa jadi anak pintar seperti Kakak," ucap Hana lembut sambil mengusap rambut Rani perlahan.
Anak kecil itu tersenyum manis hingga memamerkan gigi ompong bagian depannya. Gadis kecil itu kemudian bersiap berlari. Namun sebelum melangkah pergi, Rani menoleh sebentar, kembali menatap ke arah pria yang terbaring di dalam Poskesdes.
"Dia baik-baik saja, Kakak Hana sudah membantunya," ucap Hana seolah mengerti kekhawatiran Rani.
Rani tersenyum kecil ke arah Hana, lalu berlari kecil meninggalkan Poskesdes menuju sekolahnya.
Hana segera masuk kembali ke dalam ruangan. Namun, saat ia sedang mengecek selang infus, Hana mendadak terkejut. Ia melihat jari-jari tangan pasiennya perlahan-lahan bergerak, meskipun itu hanya sebuah gerakan yang sangat kecil.
"Dia sudah mulai sadar..."
Bersambung...