Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Kara masuk ke area parkir dengan santai. Jaketnya setengah terbuka, helm masih menempel di kepala. Rambut pendeknya keluar berantakan, persis seperti pemiliknya yang juga belum jelas maunya apa.
Motor hasil nyicil papanya meluncur mulus ke satu spot kosong. Belum sempat membuka helm, satu timpukan mendarat di kepalanya.
Pletak.
Kara melirik ke bawah. Jepit rambut?
"Woy, Santen. Gw mau ngomong!"
Suara itu.
Kara langsung melepas helmnya dan menoleh dengan wajah kesal. Narisa. Cewek tanpa akhlak itu sudah berdiri sambil melipat tangan, ekspresinya jelas tak punya niat damai.
"Apaan lo, Bonar?" kara mendengus. "Masih pagi. Jangan ngajak adu bacot."
"Adu bacot?" Narisa mengulang, lalu terkekeh meremehkan, "Lapangan basket hari ini jangan dipake."
Kara mengernyit. Latihan sepulang sekolah sudah jadi rutinitasnya dengan anak klub.
"Apa hak lo ngelarang?"
"Hak gw karena ikut bayar uang sekolah." Narisa mengibaskan tangan seenaknya. "Pokoknya jangan dipake. Gue ada urusan."
"Gak bisa. Gw harus latihan,"
Narisa melotot, lalu melangkah mendekat. "Apa lo bilang? Udah berani ngelunjak ya?"
"Lah, emang kapan gw takut?" balas Kara santai, tapi nadanya sengaja tajam.
Narisa sudah mengangkat tangan, nyaris menarik jaket kara-
"Nanarrr!"
Dua temannya datang sambil berlari, langsung menarik Narisa menjauh. Beberapa siswa yang baru datang ikut berhenti, nonton gratis drama langganan pagi.
"Dia ini ngelunjak," tunjuk Narisa ke Kara. "Timbang lapangan doang. Emang cuma kalian yang boleh pake?"
"Jam sekolah kita gak pernah main. Kalian bebas mau pake kapan aja," kara membela diri.
Narisa mendengus. "Ya kali jam istirahat dipake buat keringetan. Ngomong pake otak, napa."
"Ngomong pake mulut, bego. Lo gak serem kalo otak bisa ngomong?"
Bibir Narisa berkedut. Kesal, tapi ditahan. "Pokoknya hari ini lapangan punya gw. Nolak, gw aduin ke wali kelas lo."
Alis kara langsung merapat. "Ngaduin apaan?"
Narisa cekikikan. "Lo kemarin bolos kan? Makan bakso di kang Cecep. Gw punya buktinya."
Kara langsung waspada. "Bukti apaan?"
"Foto."
"Siapa yang ngambil?"
"Ya gw sendiri lah." Narisa. mengangkat dagu bangga.
"Valid banget ini, coy."
Kara diam sebentar. Tatapannya berubah datar. "Lo foto sendiri di bakso kang Cecep.. " matanya menyipit. "Berarti lo juga bolos kan?"
Dua temannya langsung menepuk punggung Narisa gemas.
"Kita jadi ketauan juga, bego," gerutu Fahri.
"Iya, dia satu, kita mah empat. Lo pinter dikit napa, Nar," tambah Putri.
Narisa terdiam sesaat, lalu menatap Kara yang sudah nyengir ngeselin. Definisi menang tanpa usaha.
"Belajar dulu sana, biar gak bego," kata Kara sengaja menyiram bensin.
Bukannya mundur, Narisa malah makin santai. Senyum tipisnya muncul, tanda bahaya.
Dari saku rok super pendeknya, dia mengambil ponsel. Lalu disodorkan ke depan wajah kara. "Ini lo kan, Santen?" suaranya turun pelan, tapi menuduh.
Kara mendekat.. dan membeku. Di layar itu terlihat adegan dia ciuman dengan salah satu siswi junior. Pacar barunya-belum resmi sih. Cewek itu yang nembak duluan. Kara belum menjawab, tapi diminta satu ciuman. Dan Kara terlalu gampang tergoda hal gratis. Katanya, mumpung jomblo.
Rahang kara mengeras. "Lo dapet dari mana?" tanyanya datar.
Narisa menyeringai. "Penasaran? Santai. Gw calon intel."
Grep.
Kara langsung menyambar ponsel itu. Satu tangan masih pegang helm, satu lagi mencengkeram kuat.
"Eh-woy!" Narisa tersentak, lalu segera menarik kembali ponselnya. Tubuhnya ikut terdorong ke depan hampir menabrak Kara.
Dua temannya refleks mendekat.
"Begini kelakuan lo?" suara Narisa naik, antara kesal dan panik. "Dasar om-om ganjen, Sukanya nyosor anak perawan,"
"Lah, ngapa lo? Cemburu?"
"Najis. Cuih!"