NovelToon NovelToon
Mawar Beracun Sang Menantu

Mawar Beracun Sang Menantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh
Popularitas:24.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna Nellys

Warning!!

***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.

Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.

Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.

Pernikahannya bukan tentang cinta.

Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.

Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.

Suaminya.

Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.

Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.

***

“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.

Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”

Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.

Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Godaan Menantu

0o0__0o0

Mawar turun dari ranjang. Ia merasa sangat haus setelah malam pertama yang begitu melelahkan bersama suami'nya.

Di sisi lain tempat tidur, Arestio Vincent Black sudah tertidur pulas. Laki-laki itu tampak sangat lelah setelah “menggempur” tubuh istrinya selama berjam-jam.

"Sssst… pinggang ku rasanya mau patah," desis Mawar lirih. Ia juga merasakan bagian bawah tubuhnya masih terasa panas dan sedikit perih.

"Kamu benar-benar balas dendam padaku, Res," gumam-nya pelan. Dengan wajah masam.

Selama bertahun-tahun mereka berpacaran, Ares tidak pernah menyentuh Mawar melewati batas. Laki-laki itu benar-benar menjaga kehormatan gadisnya.

Paling jauh, Ares hanya mencium kening atau tangan-nya. Bahkan mencium bibir Mawar pun tidak pernah dia lakukan, meskipun jelas terlihat betapa laki-laki itu menginginkan-nya.

Padahal Mawar adalah gadis yang sangat cantik, tinggi, seksi, dan juga pintar. Banyak laki-laki di luar sana yang mengincar-nya dan berharap bisa memiliki gadis itu.

Namun Ares memiliki prinsip yang sangat kuat. Dia berjanji hanya akan menyentuh Mawar setelah gadis itu sah menjadi istrinya.

Dan kini…

Semua keinginan-nya sudah terwujud.

"Hufft…"

Mawar menarik napas panjang.

Ia memungut kemeja putih milik Ares yang tergeletak di lantai, lalu memakai-nya dan mengancingkan-nya asal-asalan. Setelah itu ia berjalan keluar kamar.

Langkah-nya pelan.

Sedikit mengangkang karena rasa pegal bercampur nyeri yang masih terasa di tubuhnya.

Toh sekarang sudah pukul tiga dini hari. Semua penghuni Mansion Black pasti masih tertidur di kamarnya masing-masing.

0o0__0o0

Di dapur, berdiri seorang pria paruh baya yang sedang mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas.

Laki-laki itu menegakkan rakus airnya seakan habis lari maraton berkilo-kilo meter.

Mawar menghentikan langkahnya saat melihat sosok itu. Matanya menyipit di tengah cahaya remang-remang.

Ternyata papa mertuanya masih terjaga.

"Papa…" panggil Mawar pelan sambil mendekat.

Pria itu adalah Harrison Parker Black, pria berusia empat puluh sembilan tahun yang masih terlihat sangat gagah.

Tubuhnya tegap, bahkan perutnya masih membentuk six-pack karena dia rutin berolahraga.

Rison—begitu ia biasa dipanggil—langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil.

Namun detik berikutnya matanya melebar.

Bukan karena kehadiran Mawar.

Melainkan karena penampilan menantunya. Sangat menggoda tanpa perlu repot-repot berlenggak-lenggok.

Mawar hanya mengenakan kemeja putih kebesaran milik Ares. Kain tipis itu jatuh longgar di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas.

Dan di balik kemeja itu…

Sepertinya tidak ada pakaian lain.

Mawar berdiri canggung, wajahnya memerah.

"Pa… bolehkah aku mengambil air dingin ?" tanyanya lirih.

Rison terdiam. Tatapan-nya tanpa sadar mengamati Mawar dari ujung kepala sampai kaki.

Mawar yang merasa di perhatikan segera mengikuti arah pandang mertuanya itu.

"Astaga!" Ia tersentak kaget. "Maaf, Pa… aku tidak tahu kalau Papa masih bangun."

Dengan cepat Mawar menyilangkan kedua tangan-nya di dada ketika menyadari tiga kancing kemeja yang ia pakai belum terpasang.

Dadanya hampir saja terlihat jelas. Atau mungkin Rison sudah melihatnya sedari tadi.

"Glek."

Rison menelan ludah kasar. Ia segera memalingkan wajahnya dan berdehem singkat, mencoba meredakan suasana yang mendadak canggung.

"Ambil saja," ucapnya datar. Ia bergeser sedikit memberi jalan di depan kulkas.

Mawar mengangguk kecil. Namun ia masih berdiri di tempat, merasa tidak enak hati.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Sampai akhirnya suara datar Rison kembali terdengar.

"Bukankah kamu ingin minum, Mawar ?" katanya. "Kenapa masih berdiri di sana ?" Ia membuka pintu kulkas lebih lebar, lalu menatap menantu-nya dengan tenang.

"Kemarilah. Tidak perlu sungkan." Senyumnya tipis. "Bukankah sekarang kita sudah menjadi satu keluarga ?"

Mawar menelan ludah pelan.

Suasana di dapur terasa aneh dan menekan, padahal hanya ada mereka berdua.

Ia akhirnya melangkah mendekat, meskipun langkah-nya masih sedikit kaku karena rasa pegal dan nyeri di tubuhnya.

Kulkas terbuka lebar di hadapan-nya.

Udara dingin langsung menyentuh kulit pahanya yang terekspos di balik kemeja panjang milik Ares.

Mawar buru-buru mengambil sebotol air mineral. Ia menunduk , sedikit menungging.

Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena dingin.

Melainkan karena ia masih merasakan tatapan mertuanya yang terasa menelanjangi dirinya.

Rison memperhatikan Mawar dari samping, bahkan saat paha dalam menantu-nya terekspos dari balik kemeja yang tersigap.

Hampir menampakkan bokong sintal-nya.

"Terima kasih, Pa…" ucap Mawar pelan.

Ia langsung membuka tutup botol dan meneguk air itu dengan cepat. Tenggorokan-nya terasa sangat kering.

Rison berdiri di samping kulkas, mencoba terlihat biasa saja, meskipun pikiran-nya tadi sempat kacau sesaat. Apalagi ia tanpa sengaja mendengar suara desahan Mawar dari balik pintunya.

Matanya tanpa sengaja kembali melirik.

Kemeja putih itu terlalu besar untuk tubuh Mawar. Ujungnya hanya menutupi sebagian paha. Rambut panjang Mawar juga terlihat sedikit berantakan, seolah baru saja keluar dari Medan tempur.

Atau…

Baru saja melewati malam panjang.

Bahkan jejak merah di leher jenjang putihnya terlihat jelas. Hampir penuh sampai ke bagian atas dada sintal-nya.

Rison segera mengalihkan pandangan-nya ke arah meja dapur. Ia merasakan miliknya berdenyut. Dan membuat-nya pusing tujuh keliling.

"Ares sudah tidur ?" tanyanya datar.

Mawar mengangguk kecil sambil menutup botol airnya.

"Iya, Pa. Dia sudah sangat kelelahan."

Kalimat itu keluar begitu saja, tapi setelah mengucapkan-nya Mawar langsung menyadari bagaimana arti kalimat itu terdengar.

Pipi Mawar kembali memerah.

Rison berdehem kecil.

"Tentu saja," gumamnya pendek. "Kalian pasti habis melewati malam yang panjang."

Hening lagi.

Mawar merasa suasana itu terlalu canggung. Ia buru-buru meletak-kan botolnya di atas meja.

"Kalau begitu… aku kembali ke kamar dulu, Pa."

Namun baru saja ia berbalik—

Langkah Mawar sedikit goyah.

"Sst—"

Ia spontan memegang meja dapur. Tubuhnya sedikit condong ke depan, mencengkram kuat ujung meja sebagai pertahanan agar tubuhnya tidak limbung.

Rison langsung refleks menoleh. "Kamu kenapa ?"

"Tidak apa-apa," jawab Mawar cepat, wajahnya makin merah. "Cuma… sedikit tersandung."

Rison sebenarnya bisa menebak. Ia bahkan tidak perlu bertanya.

Tatapan pria itu berubah agak tajam, lalu ia menggeleng kecil seolah menertawakan sesuatu dalam pikiran-nya.

"Ares memang keras kepala sejak kecil," ujarnya santai. "Kalau dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan berhenti sebelum puas."

Mawar langsung tersedak kecil.

"Pa, aku...."

Rison tersenyum tipis, untuk pertama kalinya sejak tadi. "Tenang saja," katanya. "Papa hanya bercanda."

Ia lalu mengambil gelas dari rak dapur, menuangkan air hangat dari dispenser, lalu menyerahkan-nya pada Mawar.

"Minum ini juga. Air hangat biasanya lebih membantu kondisi mu saat ini."

Mawar menatap gelas itu sedikit terkejut.

"Terima kasih, Pa…"

Ia menerima-nya dengan kedua tangan.

Untuk sesaat, suasana di dapur terasa jauh lebih hangat di bandingkan tadi.

Namun tanpa Mawar sadari—

Saat wanita itu meneguk minuman-nya…

Rison masih berdiri di tempatnya. Memperhatikan setiap teguk air yang mengalir di tenggorokan Mawar. Dan itu terlihat semakin menggoda.

0o0__0o0

Di dalam kamar.

Ares terbangun dengan napas berat.

Matanya masih setengah terpejam ketika tangan-nya bergerak mencari sesuatu di sampingnya—kebiasaan-nya setiap kali bangun tidur.

Namun yang ia sentuh hanyalah seprai dingin.

Kosong.

Alisnya langsung berkerut.

"Sayang…?"

Ares membuka mata sepenuh-nya. Ia menoleh ke sisi ranjang.

Tidak ada Mawar di sana.

Padahal beberapa saat lalu wanita itu masih berada dalam pelukan-nya.

"Apa dia ke kamar mandi ?"

Ares duduk tegak. Tangan-nya menyibak rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi.

Sepi.

Tidak ada suara air.

Tidak ada cahaya.

Dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman.

"Aneh…"

Ares turun dari ranjang. Ia bahkan tidak repot mengenakan pakaian dengan benar, hanya menarik celana panjang yang tergeletak di lantai.

"Mawar ?" panggilnya serak, suaranya masih berat karena baru bangun.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintunya.

Kosong.

Rasa panik mulai merambat di dadanya.

"Mawar ?" Kali ini suaranya lebih keras. "Dimana kamu sayang ?"

Tetap tidak ada jawaban.

Detik berikutnya Ares benar-benar melangkah lebar. Ia berjalan cepat menuju pintu kamar, membuka-nya dengan kasar.

Lorong mansion gelap dan sunyi.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Pikiran-nya langsung di penuhi berbagai kemungkinan buruk.

"Mawar!" panggilnya lagi.

Langkahnya kini lebih tergesa menuruni tangga besar mansion.

Saat kakinya mencapai anak tangga terakhir—

Ia mendengar suara dari arah dapur.

Ares langsung menoleh tajam.

Lampu dapur menyala.

Tanpa berpikir panjang, ia berjalan cepat ke sana.

Namun langkahnya tiba-tiba melambat ketika sampai di ambang pintu dapur.

Di sana—

Ia melihat Mawar berdiri di samping meja. Masih mengenakan kemejanya.

Dan di depannya… Berdiri sang ayah.

Ares terdiam sesaat. Tatapan-nya berpindah dari ayahnya… lalu ke Mawar… lalu kembali lagi.

"Sayang ?"

Mawar langsung menoleh kaget ketika mendengar suara suaminya.

"Ares ?"

Rison juga menoleh pelan.

Sedangkan Ares berdiri di sana dengan napas sedikit terengah. Wajahnya jelas menunjukkan kepanikan yang belum sepenuhnya hilang.

"Kamu… Kenapa tidak bilang jika kesini." katanya pelan. "Aku pikir kamu menghilang."

Mawar langsung merasa bersalah.

"Aku cuma haus," jawabnya cepat sambil mengangkat botol air di tangannya. "Aku tidak tega membangunkan mu, Yank."

Ares menghembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya sedikit mereda. Ia berjalan mendekat lalu tanpa ragu menarik Mawar ke dalam pelukannya.

"Tadi aku bangun dan kamu tidak ada," gumamnya pelan di atas kepala istrinya. "Aku hampir membuat seluruh mansion ini bangun hanya untuk mencarimu."

Mawar terkekeh kecil meski pipinya memerah. "Maaf… aku tidak bermaksud membuat mu panik."

Ares menghela napas lagi, kali ini lebih tenang. Namun saat ia mengangkat wajahnya— Tatapan-nya bertemu dengan mata ayahnya.

Dan untuk sesaat…

Ada sesuatu yang aneh melintas di antara mereka.

Sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.

Rison hanya berdiri dengan ekspresi tenang seperti biasa.

Namun Ares tidak tahu kenapa… Ia tiba-tiba merasa tidak terlalu suka melihat ayahnya berdiri terlalu dekat dengan istrinya.

"Ayo kembali ke kamar," ujar Ares akhirnya. Tangan-nya masih melingkar protektif di pinggang Mawar. "Lain kali jika kamu butuh apapun... Jangan sungkan membangunkan ku."

Ia lalu menoleh singkat pada ayahnya.

"Papa juga sebaiknya tidur." Tegurnya pelan. "Jangan sering begadang. Itu bisa mempengaruhi kesehatan."

Rison hanya mengangguk tipis.

Sedangkan Ares sudah meng-gendong Mawar berjalan menuju tangga.

Namun sebelum benar-benar pergi—

Rison berkata santai dari belakang mereka.

"Ares."

Langkah Ares berhenti.

"Jangan terlalu menyiksa istrimu di malam pertama."

Mawar langsung tersedak kecil.

Sedangkan Ares memutar bola matanya sebal.

"Pa…" gumamnya pasrah.

Dapur yang tadi sunyi kini di penuhi suasana canggung yang aneh.

Antara mertua. Anak. Dan juga menantu.

0o0__0o0

1
Jojo Marjoko
ngesot gak tuh 🤭🤭🤭🤭 othornya melawak di tengah ketegangan 🤭🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
si presto mintak di sleding otaknya tuh 🤣🤣🤣🤣 jahat bet dah mah Ares
mrahboy Hboy
bagus ares😍😍😍😍 jadi laki jangan lembek...apalagi istrimu banyak yang ngincer👍👍👍
Selindia Morenas
Anjai, Ares mengerikan sekali epribady 🤣🤣🤣🤣 tapi gue suka 😍😍
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
antara tegang dan pengen ngakak bayangin LC ngesot kayak suster🤣Aresmu setia Mawar gak akan tergoda selain dengan mu Dreso lebih jahat dari iblis dan binatang emang
Selindia Morenas
gas.. update nya Thor 💪💪💪
mrahboy Hboy
ayo rose....cepat selamatkan suamimu😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
kasihan Ares tak tau apa-apa malah jadi korban
Selindia Morenas: gue heran, mereka adik kakak tapi kayak musuh bebuyutan 🤭🤭🤭
total 1 replies
Qorey
lanjut thor
Selindia Morenas
siapakah itu ?
Selindia Morenas
mangkanya jaga suaminya yang bener....entar di gondol perempuan lain ... ngamok 🤣🤣🤣
Selindia Morenas
mawar benar-benar pemain 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪 semakipenasaran akoh🙏 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
Mawar memang pintar 😍😍😍😍
mrahboy Hboy
menyala mawar 😍😍😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
salfok sama Mawar apa sudah pakai celana dalam 🤭🤭🤭
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣
Jojo Marjoko
Terkadang perhatian kecil yang di abaikan justru nampak sangat berarti 😄😄😄😄 dan mawar pintar mencari cela itu 😍😍💪💪
Mita Paramita
🔥🔥🔥
sasip
sama seperti kejahatan, perselingkuhan pun bisa terjadi karena ada kesempatan.. 😉🤭😅
Qorey
bermain cantik kau mawar😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!