Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Tawuran di depan Markas.
Seorang gadis berada di tengah kerumunan tawuran antar pelajar usai pengumuman kelulusan. Karena terlalu ramai, masyarakat sampai meminta bantuan para tentara yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi tawuran.
"Astagaaa.. aku harus lewat mana???? Nada sudah mulas iniii." gerutu Bang Ronald.
"Beneran mau lahiran?? Gimana sih ting?? Nggak ngerti gue, bukannya masih enam bulan?" tanya Bang Rinto.
"Nggak tau, tapi Nada bilang perutnya mulas. Sudah mau lahiran katanya."
"Aaahh.. istrimu itu nggak bisa di percaya. Bukannya Nada selalu buat heboh Kompi ini. Heran gue, bisa-bisanya lu nikahin piyik macam begitu." gerutu Bang Rinto, tapi matanya terus menatap keramaian di sekitar wilayah dinasnya.
"Eehh.. jaga ya tuh moncong..!!! Jangan sampai kau kena karma, bagaimana kalau kau yang dapat 'pucuk daun' juga???" Omel Bang Ronald.
Bagai tak mendengar kata tersebut, Bang Rinto berjalan menghampiri kerumunan.
"Mau kemana kau?? Aku belum selesai bicara..!!!"
"Mau antar Nada, kan?? Ayo, aku buka jalan..!!!" ajak Bang Rinto.
Tanpa banyak bicara, Bang Ronald segera masuk kedalam mobil dan mengiring langkah sahabatnya dari jauh meskipun dengan wajah setengah cemberut.
"Ayo Rin, bisa atau tidak??" Tanya Bang Ronald tidak sabar karena Nada sudah sebegitu kesakitan dan membuatnya panik.
"Kau bisa tenang atau tidak?? Masa aku harus ikut tawuran dengan bayi-bayi itu."
Tak buang banyak waktu, atas arahan Letnan Rinto, para anggota memberi jalan pada Bang Ronald di tengah kerumunan. Tepat saat itu Bang Rinto melihat seorang gadis sedang kebingungan karena terkunci dalam situasi tersebut.
Tanpa alat apapun Bang Rinto maju hingga para pelajar 'tak terpelajar' itu mundur perlahan.
"Om siapa?" tanya gadis itu.
"Seharusnya saya yang tanya, kau siapa?? Kenapa ada di tengah kerumunan??? Kau satu-satunya perempuan di kerumunan ini. Atau jangan-jangan kau ketua genk nya????" tuduh Bang Rinto dengan tatapan tajam.
"Jangan asal tuduh." Gadis itu melipat kedua tangan di depan dada. Secepat itu ekspresi wajahnya berubah namun membuat kedua kubu pelajar saling terdiam tanpa kata dan mundur perlahan.
"Katakan, kau dari sekolah mana??" Tanya Bang Rinto mendesak.
"SMA 1 Rumpun bambu." jawab gadis itu.
Kedua bola mata Bang Rinto melihat kedua kubu pelajar. Keduanya dari SMK, Bang Rinto pun semakin bingung.
"Semua yang ada disini, ikut ke kompi..!!"
:
Hukuman di laksanakan, kedua kubu pelajar mendapatkan hukuman dari Bang Rinto untuk menghitung pagar kompi dan menghitung dua kilo biji kacang hijau sambil menunggu wali mereka untuk datang menjemput.
Kini arah mata Bang Rinto beralih pada gadis yang sedang mengunyah semangka tanpa kecemasan sedikit pun.
"Siapa yang akan menjemputmu??"
"Tidak ada, aku tidak punya orang tua. Tapi aku harus pulang karena ada kerjaan." jawab gadis itu.
"Kau kerja apa??" Tanya Bang Rinto.
"Penyanyi."
Bang Rinto melihat gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Terus terang perawakan gadis itu cukup bagus meskipun jauh dari kriteria seorang yang pantas untuk di publikasi.
"Nggak kebayang, suaramu cempreng seperti ompreng, memangnya bisa nyanyi?" ejek Bang Rinto mencibir malas.
"Begini juga, aku ini penyanyi dangdut profesional. Jangan sampai Om kayang dengar suara indahku." balas gadis itu.
Mendengar ocehan gadis kecil, para anggota menahan tawa, memberi muka pada Danton mereka karena 'kalah dalam perdebatan'.
Saat Bang Rinto masih jengkel, Danki datang meninjau suasana. Beliau hanya menggeleng melihat keadaan yang terjadi.
"Waahh.. ada gadis cantik disini. Boleh saya tau dengan siapa ini??" Bujuk Bang Rico.
"Beranikah begitu di depan istri." gumam Bang Rinto tapi masih terdengar di telinga.
Lirikan Danki seketika tajam tapi ia kembali terfokus pada gadis itu.
"Namaku Anye. Anyelir."
"Oya, nama yang indah." puji Bang Rico untuk melunakan hati Anyelir.
Anye mengangguk mantap. Sesaat kemudian ia celingukan seperti mencari sesuatu.
"Anye mau ke toilet, setelah itu Anye pamit pergi ya. Anye mau langsung kerja sore ini." Katanya berterus terang.
Bang Rico dan Bang Rinto masih terpaku, setelah Anye masuk toilet, mereka memperdebatkan sesuatu hingga mendengar teriakan Anye dari toilet.
"Aaaaaaaa.......... " pekiknya mengagetkan Bang Rinto.
Refleks Letnan gahar itu menghampiri arah suara berasal.
"Anye.. Dek..!!!"
"Oomm.. lampunya mati." teriak Anye dari dalam toilet.
"Astaga.. manusia satu ini." Bang Rinto menepuk keningnya, agaknya ia benar kesal harus berhadapan dengan gadis cilik macam Anye.
'Cepat pulang, deh. Malas sekali berurusan dengan makhluk Tuhan macam Anye.'
"Apa yang kalian lihat, hitung kacang hijaunya..!!!!! Sampai salah hitung, saya ganti kacang hijaunya pakai biji beras." bentak Bang Rinto pada beberapa orang pelajar yang mencuri pandang ke arahnya.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu
💪💪