NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak kematian

Lampu-lampu pasar malam mulai redup satu per satu. Riuh suara anak-anak dan tawa orang dewasa perlahan menghilang, digantikan derit besi komidi putar yang berhenti berputar. Bau jagung bakar dan gorengan masih menggantung di udara, mengangkat tas kainnya dengan puas. Kosong. Dagangannya habis tak bersisa.

“Alhamdulillah…” gumamnya pelan, senyum lelah mengembang di wajahnya.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya hasil jualan kecil. Tapi bagi Aning, itu berarti seminggu, biaya listrik, dan sedikit tabungan yang ia simpan untuk keperluan darurat yang ia persiapkan.

"Udah mau pulang, Neng?" tanya Ibu Narumi ramah saat melihat kesibukan di lapak sebelah.

Aning mendongak, menyeka keringat di dahi dengan ujung jilbabnya, lalu tersenyum lebar. "Iya, Bu. Jualan Aning sudah laku semua, Alhamdulillah," jawabnya sambil memasukkan sisa plastik pembungkus ke dalam wadah. Tangannya cekatan mengemasi barang-barang, memastikan tidak ada yang tertinggal di sudut meja kayu yang disewanya.

Sebagai wanita desa yang gigih, Aning tidak ingin melewatkan kesempatan saat pasar malam hadir di desanya. Sudah dua minggu ini, riuh suara komidi putar dan aroma jajanan memenuhi udara malam, menjadi sumber rezeki tambahan baginya. Meski harus bekerja hingga larut, rasa lelahnya seolah menguap setiap kali melihat dagangannya tandas tak bersisa.

Baginya, menyewa tempat di pasar malam ini adalah pertaruhan yang manis. Di tengah kerlip lampu warna-warni dan kerumunan warga, Aning berjuang mengumpulkan rupiah demi menyambung hidupnya bersama dengan ibunya yang sering sakit-sakitan.

"Syukurlah, Neng. Hati-hati di jalan ya, ini sudah larut," pesan Bu Narumi yang dibalas Aning dengan anggukan sopan sebelum melangkah pergi.

Setelah ia pamit pada beberapa pedagang yang masih sibuk membereskan lapak, Aning lalu melangkah menuju jalan setapak yang membelah sawah. Rumahnya berada di ujung desa, cukup jauh dari pusat keramaian.

Malam sudah larut.

Langit gelap, hanya ditemani bulan yang tertutup awan tipis. Lampu jalan berdiri jarang-jarang, sebagian bahkan mati.

Aning menarik napas panjang. Ia sudah sering pulang sendiri seperti ini. Tak ada yang perlu ditakutkan.

Langkahnya ringan. Pikirannya masih teringat para pembeli dagangannya. Ia tersenyum sendiri.

Namun, semakin jauh ia berjalan, semakin sunyi suasana di sekitarnya.

Suara pasar malam kini hanya seperti gema samar.

Angin berdesir lebih dingin.

Krek.

Bunyi ranting patah seperti terinjak terdengar.

Langkah Aning terhenti.

Ia menoleh.

Kosong.

Yang terlihat hanya hamparan sawah dan bayangan pohon yang memanjang di tanah.

“Mungkin ranting,” bisiknya.

Ia melanjutkan langkah.

Krek.

Kali ini suara itu terdengar lagi.

Jantung Aning berdegup lebih cepat. Ia berhenti lagi.

“Siapa?” tanyanya, suaranya berusaha terdengar tegas.

Tak ada jawaban.

Aning menelan ludah. Mungkin hanya mungkin kucing hutan atau tikus sawah. Ia mencoba berpikir logis.

Langkahnya pun dia percepat.

Tiba-tiba.

"Aning.."

Dari balik pohon besar di sisi jalan di depannya, satu sosok keluar.

Aning terlonjak.

Seorang pria.

Ia berdiri santai, bersandar pada batang pohon.

Aning menarik napas lega, meski sedikit heran.

“Maaf, Mas. Saya kira siapa,” ucapnya, tersenyum sopan. Dia kenal pria itu, pria yang cukup baik dan ramah padanya.

Pria itu tersenyum menatap Aning.

"Pulang kok malam sekali Ning?" Tanyanya pada Aning dengan senyum yang ramah.

"Jualan baru habis mas." Ucap Aning sekenanya.

"Mas mau kemana?" Tanya Aning ramah.

"Mau kerumah teman." Jawab pria itu.

"Oh, kalau begitu Aning duluan ya mas." Aning pun pamit. Dia harus segera sampai rumah sebelum malam semakin larut. Di rumah juga ibunya pasti sudah menunggu dengan khawatir.

"Kenapa buru-buru Ning, nanti saja." Kata pria itu sambil berjalan mendekat ke arah Aning.

"Ini sudah malam sekali mas, di rumah juga ibu pasti sudah menunggu Aning." Kata Aning.

"Permisi mas." Aning lalu berjalan pergi. Namun, pria itu menahan tangannya.

“Ma… maksudnya apa ini mas?” suara Aning bergetar.

"Nanti sajalah. Mas antar kamu pulang, kita sama-sama saja." Kata pria itu yang kini membuat Aning menjadi takut.

"Aning harus pulang sekarang mas. Lagipula mas kan mau kerumah teman. Nggak enak kalau cuman gara-gara Aning jadi batal." Aning mencoba melepaskan tangannya.

“Tenang saja, Ning. Dia itu cuma mau nemenin pulang.” seorang pria kini muncul dari arah belakang yang membuat Aning menoleh.

"Iya Ning, bisakan, kita-kita ini mengantar kamu pulang." Kini muncul lagi seorang.

Perasaan Aning mulai tak enak.

"Aning pulang sendiri saja." Kata Aning lalu melangkah, meskipun dia sudah sangat takut.

Salah satu pria melangkah mendekat

"Ning bagaimana kalau sebelum pulang kita bersenang-senang dulu." Pria ketiga berkata.

"Nggak, Aning bisa pulang sendiri." Kata Aning mencoba pergi.

Pria kedua mengejar lalu menarik tangan Aning dengan kasar.

"Lepas! Aning mau pulang." Aning mulai marah.

"Jangan marah-marah begitu, nanti cantiknya luntur Ning." Kata pria itu tersenyum miring. Seperti menyimpan niat jahat.

"Lepas.." Aning menarik tangannya.

Namun, tangan pria itu lebih kuat mencengkram tangan Aning, sehingga tenaga Aning tak cukup kuat untuk melepaskan tangannya.

“Lepaskan!” Tangannya meronta. Tapi, semakin kuat Aning mencoba, semakin kuat pula pria itu mencengkram.

"Mas, tolong Aning." Aning menatap pria pertama, berharap pria itu akan membantunya.

Namun, pria justru membuang wajah.

"Ayolah, kita bersenang-senang." Pria yang mencengangkan mulai mencoba menciumi leher Aning.

"Lepas... Lepaskan!" Aning berteriak. Bawaannya kini sudah berserakan di tanah.

“Diam! Jangan teriak!” bentak pria itu, lalu Kembali menciumi Aning.

Air mata Aning mengalir jatuh. Dengan penuh ketakutan ia memohon.

"Tolong.....!!!" Aning berteriak.

"Diam!"

"Hei, ayo bantu aku." Kata pria itu kepada pria yang lainnya.

Pria kedua mendekat lalu membekap mulut Aning.

Dibawanya Aning kedalam semak-semak di sisi sawah. Aning yang sudah terbaring masih mencoba meronta, mencoba melepaskan diri. Tapi, sepertinya usaha itu sia-sia. Kedua pria itu tidak memberi Aning kesempatan untuk lepas.

Mulut Aning di bekap dengan kain jilbab miliknya. Sementara tangan dan kakinya di pegangi oleh kedua pria itu.

"Hei, siapa duluan." Tanya pria ketiga.

"Terserah, aku yang mana saja, yang penting enak." Ujar pria kedua dengan tawa renya yang membuat Aning merasa jijik.

"Kau mau duluan?" Tanya pria ketiga pada pria pertama.

Pria pertama pun mendekat.

Aning menatap pria itu dengan linangan air mata. Dengan matanya Aning memohon pertolongan.

Namun, tatapan memohon itu di balas pria itu dengan membuka celananya.

Aning menggelengkan kepala, dengan tubuh tak berdaya dia masih mencoba untuk melepaskan diri.

"Tenang saja, Ning. Sebentar lagi kamu akan merasakan nikmat dunia." Kata pria ketiga.

Aning tidak menyangka pria yang selama ini baik dan ramah padanya ternyata begitu busuk.

Malam itu menjadi malam kelam bagi Aning. Satu persatu pria itu mulai menggilirnya.

Hentakan kepuasan para pria itu membuat Aning tersiksa. Suara tawa mereka menggema bagaikan neraka untuk Aning. Rasa jijik dan kebencian menyatu. Malam bahagia karena mendapatkan penghasilan yang banyak dari jualannya, kini berubah menjadi tangisan maut..

"Aku bersumpah.... Akan aku kembalikan rasa sakit ini... Akan aku bawa mati dendam kesumat ini.."

1
Gadis misterius
Jaka udin gk usah dbntu biarin aza'di urus warsito dan kau karmin cs akan mati lebih mengenaskan di tngan aning
Gadis misterius
Sdh berkurang nunggu yg lainya
Gadis misterius
Giliranmu yg akan mati anton
Aisyah Ashik
kenapa aning balas dendamnya lambat bgt😄, keburu keluarga jaka dan undin jadi korban
Gadis misterius
kepala desa tdk adil.pilih kasih mentang2 budarsia miskin dan karmin kaya jd condong ke yg kaya pkoknya jngn kasih ampun semua aning
Maple latte
🤗🤗🤗
Gadis misterius
Apa sih yg ditunggu aning knp gk langsng dibunuh karmin cs
Gadis misterius
Jngn smpai jaka udin knp2 cukup budarsia aza
Gadis misterius
Ya Allah sungguh pilu dan sedih tk terasa air mata menetes,Selamatkan budarsis dan jaka udin semoga mereka tdk knp2....blas ning jngn kasih ampun apa lg yg kau tunggu bunuh mereka yg menyiksa ibumu bak hewan
Santi mutia Rahayu
lanjut thor🤭cerita nya sungguh menarik👍
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
untung BPK nya Seno gk ikutan .. mngkin msh bsa selamat ..
Yati Susilawati
sampai ngeri bacanya.
tega kalian!!
Srikandi_putri
It's a good story 👍👍👍👍
Delisa
Keren sih ini. dari awal menengangkan banget. suka aku sama cerita ini
Gadis misterius
Jngn kasih ampun aning bikin mereka mati berbarengan ,melebihi iblis dngn alasan balas dendam tp sesungguhnya mreka hnya mencari pelampiasan krn sejatinya mereka bertiga adalah iblis berwujud manusia,,,siksa mereka aning sebelum mati tarik tubuhnya dijalan yg berbatu menyesalpun tiada guna
Gadis misterius
pak warsito udin dan jaka yg paling waras dan yg baik tnpa pamrih dan yg paling sibuk mengurus orang2 mati walaupun takut masih aza'membntu smpai selesai
Gadis misterius
Karmin cs jngn lma2 ning sdh cukup mereka memfitnah dan menyiksa ibumu
Mega Arum
terasa ikut nyesek
Mega Arum
semakin menegangkan... Lanjuut thor
Gadis misterius
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!