Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Bumi telah hancur, atau itulah yang seharusnya terjadi.
Pada masa awal kehancuran, langit-langit hancur—dipenuhi oleh retakan aneh. Para monster dari berbagai dunia mulai memporak-porandakan bumi, memakan banyak korban jiwa, hingga tatanan dunia pun jatuh.
Di tengah ambang kehancuran itu, muncul sosok penyelamat—Sang Awakened. Atau yang dikenal sebagai The First Savior. Berkat kehadiran mereka, bumi menghindari kehancurannya. Tapi apakah benar seperti itu?
Ratusan tahun telah berlalu sejak masa kehancuran itu. Kini, bumi telah berubah total; bukan lagi pemerintahan yang dipenuhi oleh para konglomerat, tapi oleh administrasi yang dipimpin langsung oleh para Savior—para Awakened.
Tidak ada yang berubah. Sungguh. Hanya tatanan dunia yang diperbarui oleh kelompok baru. Tapi apakah dunia telah jauh dari kehancuran? Tidak, justru dunia sekarang dipenuhi oleh retakan-retakan yang disebut Rift.
Ren, Protagonis kita, adalah seorang pegawai kantoran biasa. Dia bukan Awakened, dia hanyalah pegawai kantoran yang kebetulan dapat jabatan di bidang Administrasi yang bernama Awakened Force Control—Disingkat AFC.
"Hah~ Capeknya hari ini," keluh Ren. "... Sisa satu pekerjaan lagi."
Kini dia sedang mengawasi Organisasi Mercenary, sekaligus membantu mereka mengemas barang-barang yang mereka jual kepada AFC.
Dia menatap ke arah kesibukan para pekerja, mereka berlalu-lalang; mengemas beberapa sumber daya berharga, hingga menghitung artefak yang mereka temukan di Rift.
Kembali ke tempatnya, dia menghadap kepada wanita dengan pakaian tempur modern di depannya—pemimpin dari Mercenary yang bertransaksi pada mereka. Dia terlihat sangat cantik meskipun tak berdandan; bahkan luka di bibirnya seolah menjadi hiasan.
Dia adalah pelanggan tetap di AFC dan entah kenapa selalu dirinya yang mengurusi bagian transaksi mereka.
Ren menghembuskan napas pelan. "Oke, seharusnya semua menjadi ... 200 biji Scarstone," katanya pelan.
Pelanggannya itu menepuk meja, tidak begitu keras, tapi cukup untuk mengagetkan orang.
"200 Scarstone!" balasnya, matanya cukup tajam, tapi tidak menunjukkan amarah sama sekali. "Tidak bisakah kau menaikkan harganya sedikit saja?"
"Nona Hwaran, kau sudah sering menjual kepada kami, apalagi kepadaku. Kau tahu kan hal seperti itu sudah ada ketetapan nominalnya?"
Pelanggan itu melihat langsung ke matanya, dia terlihat ingin sekali memaksa. Namun, sesuatu menahannya. Pelanggan itu kemudian menunduk. Terdengar sedikit geraman pada suaranya.
'Seolah ada yang mendesaknya, huh,' gumam Ren.
"... Sial! Sial ... Sialan!!!" gerutu pelanggan itu, dia menghentakkan kakinya cukup keras. "Apa yang harus kami lakukan?"
Teman-teman Nona itu menatap kepada ketua mereka.
"Ketua ..."
"Tunggu, pasti ada solusi," pungkasnya, mukanya terlihat berkerut, tegas. Sambil menggigit ujung kuku jarinya.
Melihat itu, Ren jadi merasa bersalah. Dia lalu membuka tabletnya; Melihat daftar misi yang tertata jelas. Kemudian menangkap satu misi.
"Kami tahu Ketua khawatir, tapi ..."
"Kalau kalian memang sangat butuh pekerjaan," celetuk Ren, suaranya naik satu oktaf. "Bagaimana kalau kalian—"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Hwaran menghampirinya dengan cepat—memegang pundak Ren dengan kuat, bahkan Ren sedikit tersentak. Tabletnya hampir terjatuh dari tangannya. Posisi mereka cukup dekat.
"Ya, kami akan terima, langsung saja," potongnya, binar antusias tersirat jelas dari matanya.
Pandangan antusias itu membuat Ren tersipu malu, sebagai seorang pria lajang yang belum menemukan jodoh selama ini. Dipegang oleh wanita kuat dan cantik seperti Hwaran membuatnya sangat malu, bahkan mengabaikan bahwa kekuatan dari pegangan wanita itu cukup kuat.
"... N-nona Hwaran," tutur Ren, berusaha mengendalikan dirinya sebagai seorang profesional. "Sebelum aku menjelaskan, tolong lepaskan tanganmu."
Hwaran, menyadari perbuatannya, melepaskan tangannya. Kemudian menepuk pundak Ren seolah aksi itu akan menyembuhkan rasa sakitnya.
"O-oh ... Maafkan aku."
Ren berdehem, mengatur napasnya.
"Jadi, yang ingin aku katakan ... Misi yang aku tawarkan adalah sebuah ekspedisi artefak, tepatnya di sektor Rift 13 yang baru saja terbuka."
Mereka menatap dengan saksama. Hwaran mengangguk.
"Sebuah ekspedisi ... baiklah, apa yang harus kami lakukan?" tanggapnya.
Ren menutup tabletnya.
"Cukup sederhana, kalian hanya perlu menjadi pengawalku untuk mengidentifikasi artefak itu," balas Ren, menghela napas sekali lagi, melepaskan sedikit keluh dalam hatinya. 'Malam ini harus lembur lagi.'