Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tim yang Berantakan
Pagi kedua di Hamptons terasa jauh lebih tegang. Arthur dan Manuel baru saja selesai menikmati sarapan di hotel kecil tempat mereka menginap ketika sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan halaman. Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Kulitnya putih bersih laksana porselen, rambut pirangnya yang panjang diikat ekor kuda dengan sederhana, dan sepasang mata birunya menatap tajam seolah sanggup membaca kode komputer sekaligus jiwa orang di hadapannya.
Elena Kuznetsova.
Wanita itu mengenakan jaket kulit hitam, celana jins, dan sepasang sepatu bot. Di bahunya tergantung sebuah tas laptop yang terlihat sangat mahal. Agen Harper yang menyambut kedatangannya langsung memperkenalkan wanita itu kepada tim.
"Ini Elena Kuznetsova. Ahli forensik digital dan cybersecurity terbaik yang kami miliki. Ia biasa dipanggil Queen of Hack oleh komunitas bawah tanah. Mulai hari ini, dia akan resmi bergabung dengan tim kita."
Elena tersenyum tipis sambil mengulurkan tangannya kepada Manuel. "Senang bertemu dengan Anda, Detektif Vin." Detik berikutnya, pandangan matanya beralih kepada Arthur. Senyuman di bibirnya langsung memudar seketika. "Dan ini pasti Arthur Rutherford, si mantan pembunuh berantai dari Wales yang suka memamerkan IQ-nya."
Arthur yang sedang asyik meminum kopinya langsung tersedak. Ia menatap Elena dengan sebelah alis terangkat, lalu senyum miring khasnya kembali muncul. "Wah, rupanya ceritaku sudah tersebar luas, ya? Senang bertemu denganmu, Miss Kuznetsova. Aku tidak menyangka pihak Rusia akan mengirimkan malaikat secantik ini untuk membantuku. Namun, sayang sekali, malaikatnya ternyata cukup galak."
Elena menyipitkan matanya. "Aku bukan malaikat. Dan aku di sini bukan untuk membantumu, melainkan untuk memastikan bahwa kau tidak akan merusak bukti digital penting dengan otak psikopatmu itu."
Manuel sudah mulai memijat pelipisnya sejak detik pertama interaksi mereka. "Astaga… baru lima detik kalian bertemu dan sudah langsung mulai bertengkar."
Elena berjalan mendekat ke arah Arthur sambil menjinjing laptop-nya. "Aku dengar kau memang jenius. Namun, di dalam dunia digital, kau hanyalah orang gua yang isi otaknya masih menggunakan Windows XP."
Arthur tertawa kecil, dengan mata hijau yang berkilat senang karena mendapatkan tantangan baru. "Dan aku dengar kau sering disewa oleh para hacker kelas tinggi. Berarti kau sudah biasa bekerja sama dengan penjahat yang jauh lebih parah daripada diriku. Kalau begitu, posisi kita seimbang, bukan?"
"Cukup!" potong Manuel tegas sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Kita berangkat ke TKP sekarang juga. Kalian berdua tolong bekerja sama untuk menyelesaikan kasus ini, bukan malah saling menyerang."
Perjalanan menuju rumah kediaman Senator Grant pun kembali dipenuhi oleh riak-riak pertengkaran kecil di antara mereka.
"Kau berasal dari Wales, kan?" tanya Elena tiba-tiba. "Orang Wales biasanya suka minum teh dan berpura-pura sopan, tetapi di belakang mereka sangat suka menusuk."
Arthur menyeringai lebar. "Dan orang Rusia suka minum vodka sambil meretas sistem keamanan orang lain. Kita berdua impas."
Manuel yang duduk di kursi kemudi hanya bisa menghela napas panjang. "Aku lebih suka suasana waktu hanya ada aku dan Arthur saja. Minimal dia hanya membuatku kesal sendirian, bukan dua orang sekaligus seperti sekarang."
Sesampainya di TKP, Elena langsung memosisikan diri untuk bekerja. Ia membuka laptop-nya di atas meja ruang tamu, lalu jari-jarinya mulai menari dengan sangat cepat di atas keyboard. "Sistem kamera pengawas mati bukan karena kabelnya diputus secara manual. Ada serangan siber yang sangat canggih di sini. Aku bisa memulihkan sebagian dari rekaman tersebut."
Arthur berdiri tepat di belakang kursi Elena, memperhatikan pergerakan layar monitor dengan saksama. "Wah, gerakan tanganmu cepat juga. Namun, coba lihat bagian metadatanya. Ada jejak yang sengaja ditinggalkan di sana. Pembunuh ini ingin kita tahu bahwa dia adalah orang yang pintar."
Elena menoleh ke belakang dengan alis yang terangkat. "Kau mengerti tentang metadata? Aku kira kau hanya mengerti bagaimana cara menusuk orang dari belakang."
"Menusuk dari belakang itu adalah sebuah seni," balas Arthur dengan nada santai. "Sama seperti aksi peretasan yang kau lakukan. Namun, aku pribadi lebih menyukai metode yang bersifat personal."
Manuel kembali memijat pelipisnya sambil berdiri lesu di sudut ruangan. "Kalian berdua ini benar-benar menyerupai anjing dan kucing yang dipaksa untuk bekerja sama. Aku butuh aspirin sekarang."
Setelah beberapa menit, Elena akhirnya berhasil memulihkan sebagian rekaman video yang tadinya buram. Di layar monitor, terlihat siluet bayangan seseorang berpakaian hitam yang bergerak dengan sangat cepat di koridor, tepat beberapa detik sebelum kamera mati total.
"Dia sangat profesional," kata Elena dengan ekspresi serius. "Namun, ada pola yang jelas di sini. Dia sengaja meninggalkan jejak digital berukuran kecil, seolah-olah sedang melempar sebuah tantangan kepada kita."
Arthur mengangguk pelan, dan ekspresi wajahnya yang santai seketika berubah menjadi dingin. "Ini bukan pembunuhan biasa. Ini sebuah pesan. Pembunuhnya ingin mengatakan kepada publik bahwa keluarga Grant ini hanyalah kartu palsu dalam permainan kekuasaan mereka. King dan Queen yang sebenarnya di dunia ini sudah lama rusak."
Elena melirik ke arah Arthur, dan kali ini tatapannya bersih dari nada ejekan. "Kau memang mahir dalam membaca psikologi pelaku. Namun, jangan sekali-kali sok tahu di bidangku."
"Aku tidak sok tahu," jawab Arthur sambil menyunggingkan senyuman tipis. "Aku hanya bilang bahwa kau terlihat sangat cantik saat sedang serius seperti ini. Sayang sekali mulutmu terlalu tajam."
Elena memutar bola matanya, tetapi permukaan pipinya tampak sedikit merona merah. "Orang Wales memang suka melontarkan rayuan murahan."
Manuel yang berdiri di dekat jendela akhirnya memutuskan untuk angkat tangan. "Cukup! Kita harus fokus pada kasus ini. Elena, kau lanjutkan memulihkan sisa data. Arthur, kau analisis lagi simbol kartu remi itu. Aku akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan pihak FBI."
Sepanjang siang itu, pertengkaran kecil di antara keduanya terus berlanjut. Namun, di balik semua adu mulut tersebut, ritme kerja sama mereka mulai terlihat sangat efektif. Elena berhasil menemukan jejak alamat IP yang mengarah ke sebuah server di luar negeri, sementara Arthur sukses menguraikan makna psikologis dari setiap letak kartu remi.
Sore harinya, saat mereka bertiga sedang duduk beristirahat di teras belakang rumah Grant yang menghadap langsung ke hamparan laut, Arthur tiba-tiba berkata dengan suara pelan, "Kalian tahu tidak… aku dulu sering membayangkan memiliki sebuah keluarga kecil. Rumah sederhana yang hangat, bukan rumah mewah seperti ini yang justru dipenuhi oleh mayat."
Elena menoleh ke arahnya, dan ekspresi wajahnya melunak sejenak. "Dan aku juga sering membayangkan bisa hidup tenang tanpa harus membersihkan jejak peretas setiap hari. Namun, kenyataannya kita berdua sama-sama terjebak di dalam dunia ini."
Manuel memijat pelipisnya untuk kesekian kali hari itu. "Aku yang paling terjebak karena harus mengawasi kalian berdua di sini. Besok kita lanjutkan penyelidikan ini. Dan tolong, kurangi pertengkaran kalian, atau aku yang akan menjadi korban berikutnya di rumah ini akibat serangan tekanan darah tinggi."
Arthur dan Elena saling berpandangan satu sama lain, lalu berkata secara bersamaan, "Dia yang mulai."
Manuel hanya bisa mendesah pasrah ke arah langit. "Tuhan, tolong aku…"
Matahari mulai terbenam di ufuk Hamptons. Kasus pembunuhan Senator Grant terbukti menjadi semakin rumit, tetapi tim yang baru terbentuk ini, meskipun penuh dengan riak pertengkaran, mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka bisa menjadi kombinasi yang luar biasa untuk memecahkan misteri besar tersebut.
Arthur melirik kembali ke arah Elena yang sedang kembali sibuk mengetik di depan laptop-nya. Sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya. Perjalanan kali ini tampaknya akan jauh lebih menarik daripada yang ia kira sebelumnya.