Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Telinga Ren Memerah
Perempuan elegan itu langsung mendekat beberapa langkah dengan ekspresi tidak percaya.
“Ini benar-benar kamu?”
Anjani mengerjap pelan, lalu matanya membesar perlahan. “Maria...?”
Maria adalah teman Anjani semasa kuliah di jurusan Desain Tata Busana. Sosok perempuan cantik, berkelas, dan selalu menjadi pusat perhatian dengan selera fashion-nya yang berani. Meski berasal dari keluarga berada dan memiliki lingkar pertemanan elite, Maria justru sangat dekat dengan Anjani yang berasal dari keluarga kalangan sederhana. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di studio desain hingga larut malam, saling membantu menyelesaikan proyek, bahkan pernah dijuluki pasangan 'otak dan wajah' oleh teman-teman kampus karena bakat mereka yang sama-sama menonjol.
Sae langsung melihat ke Ren dengan penuh tanda tanya. “Papa.”
“Hm.”
“Mereka saling kenal.”
“Aku tidak buta.”
Maria masih menatap Anjani seolah sedang melihat seseorang yang sudah lama hilang. Dan semakin diperhatikan, raut wajahnya justru makin berubah. Wanita itu kaget, bingung, dan perlahan sedih. Anjani yang dulu begitu bersinar sekarang terlihat menyedihkan.
“Kenapa kamu jadi seperti ini?”
Anjani refleks menunduk kecil, menyembunyikan rasa malu. "Sekarang aku jadi tua ya?"
"Bukan tua." Maria langsung menjawab. "Kamu kayak orang habis ditabrak kehidupan."
Sae langsung menoleh ke Ren. "Aku suka Tante Maria."
"Hm."
"Dia jujur."
Ren tidak membantah karena memang benar. Sepupunya itu memang terkenal tidak punya bakat berbasa-basi.
Maria masih berdiri di depan Anjani dengan wajah yang belum selesai terkejut. Tatapannya bergerak perlahan, mengamati dari wajah pucat Anjani ke mata sembabnya, bergeser ke jaket besar yang membungkus tubuh perempuan itu, lalu turun ke kaki yang hanya terbungkus kaos kaki dinosaurus.
Dan semakin lama Maria memandang, semakin jelas kerutan di dahinya. Ia sadar satu hal, Anjani tidak membawa apa-apa. Tidak ada tas, dompet, atau barang pribadi apa pun. Teman lamanya itu di luar hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya.
Tidak. Bahkan pakaian itu pun bukan sepenuhnya milik Anjani sekarang. Jaket yang membungkus tubuhnya jelas milik Ren. Yang tersisa hanya anting kecil peninggalan orang tuanya. Dan mungkin sisa harga diri yang masih berusaha ia pertahankan.
"Ya Tuhan..." Maria menatapnya tidak percaya. "Kamu kenapa?"
Anjani tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat hati orang lain ikut sakit.
Maria langsung memeluknya tanpa banyak tanya lagi. Kadang keadaan seseorang sudah terlalu jelas untuk dijelaskan.
"Aku nyari kamu bertahun-tahun, Nja." Suara Maria terdengar serak. "Aku serius."
Anjani diam dengan dada sesak.
Maria mengurai pelukannya pelan, lalu sedikit mundur. "Aku kirim pesan nggak pernah dibalas. Nomormu mati. Medsosmu hilang. Aku sampai nanya ke beberapa teman kampus."
Maria menunjuk wajahnya sendiri. "Aku kira kamu pindah negara."
Anjani menunduk. Jarinya perlahan saling menggenggam. Dulu ia memang menghilang. Namun bukan karena pindah ke mana-mana. Ia hanya perlahan menghapus dirinya sendiri. Demi seseorang.
"Dulu suamiku nggak suka." Suara Anjani pelan.
Maria mengernyit. "Nggak suka apa?"
"Sosial mediaku."
Maria langsung terdiam.
"Nggak suka aku masih sering kontak sama teman-teman lama," imbuh Anjani lagi.
Kerutan di dahi Maria semakin dalam.
Anjani tersenyum tipis. "Dulu dia sering cemburu. Sebenarnya bukan salah dia juga."
Anjani masih mencoba terdengar baik. "Zaman kuliah aku memang cukup aktif."
Maria langsung menyela. "Cukup aktif apanya?"
Anjani berkedip.
Sementara Maria malah mendelik tidak suka karena Anjani terlalu merendah.
"Nja, kamu tuh bukan cukup aktif. Kamu terkenal."
Dada Anjani berdenyut dalam. Ren yang berdiri tak jauh dari sana ikut mengangkat pandangan.
Maria langsung menunjuk Anjani tanpa ragu. "Seluruh kampus tahu kamu. Kamu ikut lomba desain. Kamu sering jadi model acara kampus. Banyak senior kenal kamu. Banyak junior juga. Bahkan aku masih ingat beberapa cowok yang terang-terangan ngejar kamu."
"Maria..."
"Apa? Aku bohong?"
Anjani kembali menunduk malu. Yang dikatakan Maria memang kenyataannya.
Maria menghela napas panjang. "Lalu?"
Anjani tersenyum samar. "Waktu menikah, aku pikir kalau itu bisa bikin rumah tanggaku tenang, kenapa nggak?"
Maria membeku.
"Demi menghargai suami, aku hapus banyak kontak. Pelan-pelan berhenti aktif. Jarang buka media sosial. Nomor juga beberapa kali ganti."
Setiap kalimat yang diucapkan Anjani keluar tenang. Ia seperti sedang menceritakan tentang orang lain. Padahal itu cerita tentang dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia memutus satu demi satu tali yang menghubungkannya dengan dunia lamanya. Tentang bagaimana ia mengecilkan dirinya sendiri agar orang yang dicintainya merasa nyaman.
Maria menatapnya lama sekali, lalu tertawa pendek. Tawa yang tidak terdengar lucu sama sekali.
"Anjani...Kamu itu dulu terlalu bersinar," ucapnya pelan.
Anjani terdiam. Sementara di sisi lain Ren dan Sae masih menjadi pendengar yang baik tanpa menanggalkan wajah datar mereka.
Dan Maria melanjutkan tanpa ampun. Manik matanya mulai memerah. "Mungkin itu sebabnya banyak orang suka sama kamu. Tapi sekarang aku baru sadar. Bukan orang lain yang memadamkan cahaya kamu."
Maria menatap tepat ke mata sahabat lamanya itu. "Kamu menyerahkan koreknya sendiri."
Sunyi dan menusuk karena itulah kenyataannya. Anjani tidak dihancurkan dalam satu malam. Ia padam sedikit demi sedikit. Tahun demi tahun. Sampai akhirnya suatu hari ia terbangun dan mendapati dirinya berdiri di depan butik mewah tanpa membawa apa-apa selain luka, anting peninggalan orang tua, dan hidup yang harus ia bangun lagi dari awal.
Suasana di dalam butik sempat menjadi hangat, mengharukan, dan sedikit menyedihkan. Lalu tiba-tiba suara datar seseorang menyela dari belakang.
"Dasar wanita."
Maria langsung menoleh. Ren berdiri dengan kedua tangan masuk saku celana. Wajah masam masih sama.
"Mau sampai kapan kalian bernostalgia?" celetuk Ren sembari melirik jam tangannya. "Kalian sudah menghabiskan lima belas menit membahas masa lalu."
Maria mendelik jengkel. "Terus kenapa?"
"Kalau diteruskan mungkin kalian bisa sampai wisuda kedua."
Anjani refleks menunduk menahan senyum.
Sementara Maria langsung menunjuk Ren. "Astaga. Bisa nggak sih kamu ngomong kayak manusia normal sekali aja?"
"Bisa."
Maria menunggu. Ren diam. Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik.
Maria mulai menggeram. "Kamu nggak ngomong apa-apa!"
"Itu versi paling normal."
"Ya Tuhan." Maria langsung menepuk jidat.
Anjani sampai benar-benar tertawa kali ini. Dan Ren diam-diam melirik sepersekian detik, lalu membuang pandangan lagi, seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal barusan perempuan itu tertawa. Senyuman yang entah mengapa selalu sukses membuat suasana di sekitar Ren terasa sedikit hidup.
Maria masih menggeleng kesal. "Aku heran gimana perusahaanmu bisa jalan."
"Karena aku yang menjalankannya."
"Bukan karena mukamu."
"Kalau karena muka, aku tetap unggul."
Maria sampai melotot. "Ya ampun! Siapa yang ngajarin kamu narsis?!"
Ren belum sempat menjawab ketika suara kecil tiba-tiba menyahut dari sudut ruangan. "Tante..."
Semua menoleh. Dan di situlah Sae muncul. Anak itu berjalan sambil membawa tiga hanger pakaian sekaligus. Tubuhnya kecil, namun ekspresinya tetap serius seperti direktur perusahaan tekstil yang sedang memimpin rapat anggaran.
Satu dress. Satu cardigan. Satu set pakaian santai.
Anjani langsung membelalak. "Sae?"
Anak itu berhenti tepat di depannya, lalu menyerahkan semuanya. "Ini."
"Hah?"
"Pakai."
Anjani masih bengong. "Kamu yang pilih?"
Sae mengangguk. "Tapi aku dibantu Mbak Sela." Ia menunjuk salah satu pegawai butik yang kini terlihat gemas sendiri melihat tingkahnya.
Maria langsung tertawa. "Ya ampun. Dia lebih cepat dari kalian semua."
Sae menoleh pada Ren, lalu berkata datar. "Papa memang agak lelet kalau urusan beginian."
Anjani spontan menutup mulut. Maria langsung membalikkan badan. Bahu perempuan itu bergetar menahan tawa.
Sementara Ren terdiam beberapa detik, kemudian menatap anaknya dingin sekali. "Siapa yang tadi nyasar ke rak piyama?"
"Itu strategi."
"Kamu milih baju tidur."
"Aku mempertimbangkan kenyamanan."
"Kamu tidak tahu beda dress dan piyama."
"Aku masih kecil."
Anjani benar-benar gagal menahan tawanya. Dan Sae terlihat bangga seperti baru memenangkan medali emas olimpiade.
"Pokoknya Tante ganti dulu."
Anjani akhirnya menerima hanger-hanger itu. Dadanya terasa hangat karena sejak pagi tidak ada satu pun orang yang benar-benar memikirkan dirinya, lalu muncul anak kecil yang bahkan baru dikenalnya kemarin. Namun justru bergerak paling cepat.
"Tante terima kasih ya."
Sae mengangguk kecil, lalu menambahkan. "Kalau sudah selesai keluar lagi."
"Hm?"
"Aku mau lihat."
Anjani tertawa kecil. "Kok mau lihat?"
Sae berpikir beberapa detik sebelum menjawab serius. "Aku ingin memastikan pilihanku tidak gagal."
Anak ini benar-benar seperti miniatur CEO menyebalkan. Beberapa menit kemudian pintu ruang ganti terbuka dan dunia mendadak hening. Bahkan musik butik yang sejak tadi terdengar pelan seolah ikut menjauh.
Anjani keluar perlahan. Dress midi warna sage lembut membungkus tubuhnya. Potongannya sederhana, tiidak mencolok, tapi justru karena itulah kecantikannya terlihat elegan dan anggun. Rambut panjangnya yang tadi sedikit berantakan kini sudah dirapikan sederhana. Wajahnya masih pucat. Mata masih sedikit sembab. Namun sekarang ia terlihat seperti seseorang yang perlahan menemukan dirinya kembali.
Maria sampai memegang dadanya sendiri, terkesima. "Ya Tuhan... Ini Anjani yang aku kenal."
Sae juga diam. Padahal biasanya anak itu selalu punya komentar. Sekarang malah hanya berkedip, lalu berkedip lagi, dan akhirnya berkata. "Cantik."
Anjani langsung tersenyum, tersipu. "Terima kasih."
Sae mengangguk puas. "Berarti aku tidak gagal."
Sementara itu, Ren masih berdiri di tempatnya dengan wajah datar seperti biasa. Masam seperti biasa. Dingin seperti biasa. Tidak ada perubahan sama sekali kalau dilihat sekilas.
Namun Maria mengenal sepupunya terlalu lama. Sampai ia menangkap sesuatu yang orang lain mungkin tidak akan sadar.
Telinga Ren memerah.
Senyum Maria langsung melebar perlahan. Oh. Oh, ini menarik. Sangat menarik. Maria melangkah mendekati Ren, lalu berbisik sangat pelan. Cukup untuk mereka berdua.
"Jantungmu masih aman, kan?"
Deg.
Ren langsung menoleh dengan tatapan maut. Tatapan yang biasanya bisa membuat pegawai baru mengundurkan diri sebelum masa probation selesai.
Sayangnya Maria tidak takut sama sekali. Justru senyumnya makin lebar.
Sedangkan Ren hanya menjawab pendek. Khas Ren Aksara. "Tutup mulutmu."
Sikap Ren justru membuat Maria semakin ingin tertawa.
Bersambung~~