NovelToon NovelToon
"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

PENGUMUMAN PENTING!

Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.

Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!

‎"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
‎Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
‎Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Fragmen Luka Sang Mawar Putih

​Keheningan di paviliun itu kini terasa begitu berat, seolah-olah oksigen telah habis dihisap oleh ketegangan yang memuncak. Cahaya matahari musim dingin yang pucat merembes masuk melalui celah jendela, menerangi debu-debu yang menari di udara, seolah mengejek kemelaratan yang menyelimuti Rosalind. Rosalind , yang masih bersandar lemas di bantal suteranya yang sudah menipis, menatap lurus ke arah Lady Clara Wiraatmadja.

​Di mata masyarakat luar dan para bangsawan ibu kota, Clara adalah simbol "pencuri keberuntungan"—wanita kelas bawah yang berhasil merangkak masuk ke dalam pelukan keluarga Duke yang agung.

Namun, di bawah pemindaian tajam Penglihatan Taktis milik Rosalind , angka-angka biometrik yang berkedip merah menunjukkan realita yang jauh lebih mengerikan. Di balik gaun sutra kelabu yang ia kenakan, Rosalind melihat jiwa yang sedang sekarat, setitik cahaya kehidupan yang hampir padam karena tekanan mental yang luar biasa.

​"Nana," panggil Rosalind dalam batinnya, suaranya terdengar dingin dan penuh otoritas. "[Aktifkan Diorama Memori. Aku tidak bisa menyusun strategi tempur jika aku tidak tahu kedalaman luka yang mereka tanam pada wanita ini. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku terperangkap dalam tubuh Rosalind yang malang ini."]

​[Sistem Peri Nana:]

{"Baik, Inang. Memulai protokol ekstraksi data memori kolektif dari sisa-sisa energi di Kediaman Wiraatmadja... Sinkronisasi fragmen emosi dimulai. Peringatan: Konten ini mengandung tingkat radiasi kesedihan yang sangat tinggi, Inang. Ini bisa merusak mood Nona sepanjang hari dan mungkin memicu keinginan untuk meledakkan gedung ini. Memutar memori sekarang!"}

​Seketika, pandangan Rosalind memudar. Dinding kayu paviliun yang lapuk menghilang, digantikan oleh kilasan balik yang terasa begitu nyata hingga Erika bisa mencium bau parfum mahal bercampur aroma anggur yang tumpah.

​[FLASHBACK: MALAM PENGHINAAN DI KEDIAMAN DUKE]

​Rosalind seolah berdiri sebagai hantu di sudut aula besar Kediaman Wiraatmadja sebulan yang lalu. Ruangan itu begitu megah, dengan lampu gantung kristal yang berkilauan, namun atmosfernya lebih dingin daripada makam di bawah tanah. Ia melihat Clara yang malang, mengenakan gaun pengantin yang seharusnya indah namun kini terasa seperti kain kafan yang dipaksakan. Tidak ada alunan musik pesta yang meriah, tidak ada tawa bahagia. Yang ada hanyalah ribuan tatapan mata yang tajam, dingin, dan penuh penghinaan yang bisa membekukan aliran darah.

​"Lihatlah wanita ini," suara Paman Baskara menggema di aula yang luas itu, penuh dengan nada jijik yang tak tertahankan. "Putri dari Baron Teddy Alaric yang miskin dan tak berdaya. Ia menggunakan cara paling kotor, paling rendah, untuk merangkak naik ke strata sosial keluarga kita. Menjebak putraku, Julian, di sebuah kedai kumuh? Benar-benar tidak punya harga diri, persis seperti ayahnya yang penjilat."

​Bibi Ratna menimpali sambil mengipasi wajahnya dengan gerakan sombong, seolah keberadaan Clara mencemari udara di sekitarnya. "Baron Teddy pasti sangat bangga sekarang. Dia pura-pura menjadi pria paling jujur di kementerian selama ini, tapi ternyata ia mendidik putrinya, Clara, untuk menjadi umpan ranjang bagi putra seorang Duke. Memuakkan. Rasanya aku ingin mencuci mataku setelah melihat wajahnya."

​Rosalind melihat Clara yang saat itu hanya bisa menunduk sangat dalam, bahunya berguncang hebat karena menahan isak tangis yang hampir meledak. Ia tidak diizinkan membela diri; setiap kali ia mencoba membuka mulut untuk menjelaskan tentang jebakan Ricardo, tatapan mematikan dan tekanan aura dari Duke Lyon membuatnya bungkam seketika. Lidahnya seolah kelu, dikunci oleh rasa takut dan rasa malu yang tidak seharusnya ia tanggung.

​Lalu, mata Rosalind menangkap sosok Julian. Pria yang baru saja sah menjadi suami Clara itu menatapnya dengan tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pedang manapun—tatapan jijik yang murni dan tanpa ampun. Julian meludah ke samping saat Clara mencoba meraih tangannya, sebuah gestur kecil untuk meminta sedikit perlindungan di tengah lautan kebencian itu.

​"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor mu," desis Julian dengan nada suara yang rendah namun menusuk hingga ke jantung. "Kau mungkin mendapatkan gelar menantu Duke ini lewat jebakan murahanmu, tapi jangan pernah harap kau akan mendapatkan hatiku. Bagiku, kau tidak lebih baik dari wanita penghibur yang menjajakan diri di pinggiran kota untuk sekeping perak."

​Bahkan Celine, kakak sepupunya yang sombong, ikut melangkah maju. Dengan senyum meremehkan yang menghiasi bibir merahnya, Celine sengaja menumpahkan segelas anggur merah ke ujung gaun pengantin Clara yang putih bersih. "Ops, tanganku terpeleset. Tapi kurasa gaunmu memang pantas mendapat noda yang kotor, sama seperti reputasi mu yang sudah berlumpur sejak malam itu."

​Puncak dari segala penderitaan itu adalah keberadaan Maid Esra. Pelayan senior yang kini sudah dibuat bisu oleh Rosalind itu, berdiri tepat di belakang Clara dan berbisik dengan nada penuh kemenangan yang keji. "Jangan harap Nona akan bisa bernapas tenang di kediaman ini. Saya sendiri yang akan memastikan setiap inci paviliun ini terasa seperti neraka pribadi untuk Anda, Nona Jalang."

​[MEMORI BERPINDAH: KEDIAMAN BARON ALARIC]

​Kilasan memori berubah secara drastis. Rosalind kini melihat sebuah rumah sederhana namun rapi milik keluarga Alaric di pinggiran kota. Di sana, Baron Teddy Alaric, sang ayah yang dikenal sebagai pria paling tulus dan jujur, kini duduk di ruang tamu yang gelap tanpa lampu. Ia baru saja dipecat secara tidak hormat dari posisinya di kementerian karena "skandal asusila putrinya" yang merusak citra keluarga.

​"Ayah..." suara Clara (dalam memori) terdengar sangat parau dan hancur saat ia mengunjungi ayahnya secara rahasia di tengah malam.

​Baron Teddy tidak marah. Ia tidak memaki Clara seperti yang dilakukan keluarga Wiraatmadja.

Sebaliknya, pria tua itu justru menangis tersedu-sedu. Ia menggenggam tangan Clara yang gemetar dengan penuh kasih sayang.

​"Clara, putriku... Ayah tahu kau tidak pernah melakukan hal sehina itu. Ayah tahu hatimu semurni bunga mawar putih," isak Teddy. "Tapi dunia... dunia yang kejam ini lebih suka percaya pada cerita yang kotor dan skandal yang menghebohkan daripada kebenaran yang sunyi. Maafkan Ayah, Nak... maafkan Ayah yang tidak punya kuasa, harta, maupun jabatan untuk melindungi mu dari serigala-serigala haus darah di keluarga Wiraatmadja itu."

​Di sudut ruangan, Rosalind melihat Sera, ibu Clara, yang hanya bisa terduduk lemah di kursi goyang sambil mendekap foto keluarga mereka, air matanya tak kunjung berhenti mengalir.

Sementara itu, adik laki-laki Clara, Leo Alaric, seorang remaja berbakat yang seharusnya sedang menempuh ujian akademi, kini duduk dengan wajah lebam. Ia terpaksa berhenti sekolah karena setiap hari dipukuli dan dihina oleh teman-temannya sebagai "adik dari wanita penggoda".

Seluruh keluarga Alaric kini dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dituduh sebagai keluarga oportunis yang menjajakan kehormatan putri mereka demi harta karun Duke.

1
acep maulana
hari ini author izin tidak tayang mungkin jam 9 malam tayangan nya hehe
Manusia Ikan
sistem b like :
Manusia Ikan
ooh ada sistem nya😏👍
Manusia Ikan
bro kena mag :v
Manusia Ikan
jangan remehkan kekuatan dari lantai yang licin di kamar mandi😂
Manusia Ikan
ah biasa ini mah😏
Rina Yuli
celana dalam lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
urusan celana dalam pakek mau dibongkar segala lagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
acep maulana
sama 2 kk maaf kalau cerita sebelumnya saya hapus 🤣🤣🤣🤣
acep maulana: rekomendasi untuk bab berikutnya hehehe
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Manusia Ikan: hadir thor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!