NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Bayangan yang Mendekat

Bukit tandus di luar kota Pingxi biasanya sunyi. Hanya angin kering yang berhembus melewati batu-batu retak dan rumput liar yang nyaris mati.

Namun pagi itu—

udara tiba-tiba bergetar.

Bzzzzzt—

Fluktuasi Qi yang kuat menyebar dari sebuah bangunan batu tua di puncak bukit. Burung-burung yang hinggap di pepohonan langsung terbang ketakutan.

Tanah bergetar pelan.

Energi spiritual berputar seperti pusaran.

Di depan bangunan pengasingan itu, sekelompok pria kasar berdiri berjajar.

Mereka adalah para bandit yang terkenal di wilayah Pingxi.

Senjata tergantung di pinggang mereka.

Tatapan mereka tajam dan kejam.

Namun saat ini—

mereka semua berdiri dengan kepala menunduk hormat.

Di barisan paling depan— seorang pria berlutut.

Tubuhnya besar, namun wajahnya penuh luka. Satu matanya tertutup kain hitam.

Ia adalah bandit bermata satu.

Orang-orang memanggilnya Han Gou.

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tak lama kemudian—

Kreek…

Pintu bangunan pengasingan perlahan terbuka. Suara langkah berat terdengar dari dalam. Lalu muncul seorang pria besar dengan tubuh kekar.

Jenggot tebal menutupi rahangnya. Wajahnya garang. Matanya seperti binatang buas.

Namun saat ini—

ia tersenyum lebar.

Aura kuat memancar dari tubuhnya.

Seperti tekanan gunung yang menekan udara di sekitarnya.

Begitu sosok itu keluar—

semua bandit langsung berseru.

“Selamat atas kenaikan ranah Anda, Bos Lu!”

Sorakan mereka menggema di bukit tandus itu.

Pria bernama Lu Qiang tertawa keras.

“Hahahaha!”

Suaranya bergema seperti guntur.

Ia mengepalkan tangannya.

Qi merah pekat berputar di sekitar tubuhnya.

“Pil pencerahan yang diberikan oleh Walikota benar-benar manjur!”

Matanya berkilat penuh kebanggaan.

“Kultivasiku telah menembus Golden Core puncak!”

Ia menatap langit dengan angkuh.

“Sekarang aku hanya selangkah lagi menuju Nascent Soul!”

Sorakan bandit semakin keras.

“Bos Lu tak tertandingi!”

“Kita akan menguasai Pingxi!”

“Hidup Bos Lu!”

Lu Qiang mengangkat dagunya tinggi.

Senyum arogan terpampang di wajahnya.

“Dengan kekuatan ini…”

“Tidak ada lagi yang bisa menandingiku di kota Pingxi.”

Namun tiba-tiba—

tatapannya berhenti.

Matanya jatuh pada pria yang berlutut paling depan.

Alisnya sedikit mengernyit.

“Bukankah kau… Han Gou?”

Bandit bermata satu itu mengangkat kepalanya sedikit.

“Ya… Bos.”

Lu Qiang memiringkan kepalanya.

“Kenapa wajahmu seperti itu?”

Tatapannya menyapu tubuh Han Gou.

Lalu ia mulai mencari sesuatu.

“Di mana saudara-saudaramu?”

Suaranya menjadi berat.

“Bukankah kalian enam bersaudara selalu bersama?”

Han Gou menggertakkan giginya. Tangannya mengepal hingga gemetar.

Suaranya keluar seperti dipaksa.

“Tiga… sudah mati.”

“…”

“Satu sekarat. Dan satu lagi… lumpuh.”

Untuk sesaat—

udara menjadi sunyi.

Lalu—

BOOM!

Qi milik Lu Qiang meledak.

Tanah di sekitarnya retak.

Batu-batu kecil terangkat oleh tekanan energi.

“Apa maksudmu!?”

Suaranya penuh amarah.

“Apa yang terjadi selama aku mengasingkan diri!?”

Matanya membara.

“Bukankah seharusnya tidak ada yang bisa mengalahkan kalian di kota ini!?”

Ia melangkah maju.

Aura pembunuhnya semakin kuat.

“Atau…”

“Apakah Asosiasi Kultivator sudah datang ke Pingxi?”

Han Gou langsung menggeleng cepat.

“Tidak, Bos!”

Ia menunduk lebih dalam.

“Ini…”

Ia menggertakkan giginya.

“Ini semua ulah pemilik kedai.”

Semua bandit langsung terdiam.

Lu Qiang mengernyit.

“Pemilik… kedai?”

Suaranya terdengar tidak percaya.

“Kau yakin tidak salah lihat?”

Han Gou langsung membanting dahinya ke tanah.

Duk!

“Saya bersumpah tidak berbohong!”

Ia mencabut penutup matanya.

Lu Qiang yang melihatnya langsung tercengang.

Kelopak mata itu— kosong.

Hanya lubang hitam yang tersisa.

Han Gou berkata dengan suara penuh kebencian.

“Pemilik kedai itu membantai kami tanpa ampun!”

“Mataku juga diambil olehnya! Ketika kami datang menagih uang keamanan…”

Ia menggertakkan giginya keras.

“Dia berpura-pura seperti domba!”

“Tapi sebenarnya dia adalah serigala mengerikan!”

Urat di dahi Lu Qiang langsung menonjol.

“Berani sekali!”

Ia menggeram.

“Bajingan itu berani menyentuh Bandit Eye milikku!?”

“Apakah dia meremehkan kita!?”

Han Gou menunduk.

“Mungkin karena dia baru di kota ini… Dia membuka kedai makan beberapa waktu lalu.”

Lu Qiang tiba-tiba tertawa.

“Hah!”

“Itu bukan alasan yang bagus.”

Ia menyeringai dingin.

“Jika dia membunuh anak buahku… Berarti dia menyinggung ku.”

Matanya penuh niat membunuh.

“Aku akan meminta bayaran yang sangat mahal.”

Para bandit langsung bersorak.

“Bos Lu akan membalas!”

“Hancurkan kedainya!”

“Bunuh dia!”

Namun tiba-tiba—

Lu Qiang terdiam.

Senyumnya perlahan menghilang.

Ia mengerutkan kening.

“Tunggu…”

Ia menatap Han Gou lagi.

Keenam saudara itu bukan orang sembarangan.

Mereka semua berada di Golden Core awal.

Jika bekerja sama—

bahkan kultivator Nascent Soul awal pun bisa mereka tekan.

Namun sekarang— mereka kalah secara sepihak.

Lu Qiang berbalik.

“Apa kau tahu ranahnya?”

“Atau ada seseorang yang kuat di sisinya?”

Han Gou menjawab cepat.

“Saya tidak tahu pasti ranahnya… Tapi kemungkinan dia Golden Core puncak atau Nascent Soul awal.”

Ia menelan ludah.

“Dia juga mungkin memiliki teknik bela diri tingkat tinggi.”

Lu Qiang menyipitkan mata.

“Lalu?”

Han Gou menggeleng.

“Tidak ada siapa-siapa di sisinya.”

“Hanya… istrinya.”

Lu Qiang langsung menghembuskan napas lega.

“Ah.”

Ia tertawa meremehkan.

“Heh…”

“Hanya orang beruntung dengan beberapa trik kecil.”

Ia melambaikan tangan.

“Lalu namanya?”

Han Gou menjawab,

“Dari yang kudengar…”

“Marganya Zhao.”

Seketika—

tubuh Lu Qiang membeku.

Senyumnya menghilang.

Wajahnya berubah pucat.

Keringat dingin muncul di dahinya.

“Zhao…”

Ia menatap Han Gou dengan mata melebar.

“Kau bilang… Zhao!?”

Han Gou terkejut.

“A-Apa ada yang salah, Bos?”

Lu Qiang langsung berteriak.

“Apakah kau tidak pernah mendengar tentang klan kuno Zhao di Benua Tengah!?”

Semua bandit langsung terdiam.

Wajah mereka berubah pucat.

Lu Qiang terlihat panik.

“Sial! Jika dia benar berasal dari klan itu…”

Ia menggertakkan giginya.

“Tidak ada yang lebih baik daripada mati dengan tenang!”

Para bandit langsung panik.

“Bos…!”

“Kalau begitu kita harus kabur!”

Namun Han Gou buru-buru berkata,

“Ta-Tapi Bos!”

Lu Qiang menatapnya tajam.

Han Gou berkata cepat.

“Jika dia benar berasal dari klan kuno itu…”

“Kenapa dia berada di kota kecil seperti Pingxi?”

Lu Qiang terdiam.

Han Gou melanjutkan.

“Orang kuat dari klan kuno tidak mungkin datang ke kota yang dilupakan ini hanya untuk membuka kedai.”

“Jika mereka ingin membuka restoran…”

“Kenapa tidak di Ibukota Kekaisaran?”

Beberapa bandit mulai mengangguk.

“Benar juga…”

“Masuk akal…”

Han Gou melanjutkan dengan penuh keyakinan.

“Mungkin saja keluarganya hanya memiliki marga yang sama.”

“Bukankah banyak keluarga memakai marga itu agar terlihat hebat?”

“Untuk terkenal secara instan?”

Lu Qiang terdiam beberapa detik.

Lalu—

ia tiba-tiba tertawa keras.

“HAHAHAHA!”

Ia menepuk bahu Han Gou dengan keras.

“Kau benar!”

“Dasar bajingan! Sudah membuatku takut tanpa alasan!”

Ia menyeringai lebar.

“Semakin kupikirkan…”

“Semakin aku marah.”

Matanya dipenuhi niat membunuh.

Ia memandang ke arah kota Pingxi yang jauh di bawah bukit.

“Kedai kecil…”

“Berani menyentuh anak buahku…”

Ia mengepalkan tangan.

Qi bergetar di sekitarnya.

“Baik. Kalau begitu…”

Senyumnya berubah dingin.

“Mari kita lihat…”

“Bagaimana aku menghancurkan hidupnya.”

Hari itu di kota Pingxi terasa panas bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.

Debu tipis melayang di jalanan tanah yang retak. Angin yang bertiup tidak membawa kesejukan—hanya udara kering yang membuat tenggorokan terasa kasar.

Di tengah pasar kecil kota itu, Zhao Tianyu berjalan perlahan sambil membawa keranjang anyaman.

Pasar Pingxi tidak besar.

Hanya beberapa deret lapak kayu sederhana dengan kain usang sebagai peneduh. Beberapa pedagang duduk lesu di belakang dagangan mereka.

Tidak banyak pembeli.

Tidak banyak suara.

Suasananya jauh berbeda dari pasar di kota-kota besar.

Zhao berhenti di salah satu lapak sayuran.

Ia mengambil sebuah wortel.

Memeriksanya.

Lalu mengembalikannya perlahan. Kemudian ia memeriksa beberapa daun sawi.

Daunnya layu. Beberapa bahkan menguning di bagian ujung.

Zhao menghela napas pelan.

Ia menatap buah-buahan di sisi lain.

Apel kecil.

Pir yang kulitnya sedikit keriput.

Tidak ada yang benar-benar segar.

Ia menghela napas lagi.

“Pantas saja…”

gumamnya pelan.

“Para pelanggan kemarin merasa seperti berada di surga saat makan.”

Ia menatap sayuran di depannya.

“Jika dibandingkan dengan ini…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun pikirannya sudah menyelesaikannya.

Hidup di kota ini… benar-benar keras.

Zhao perlahan menoleh.

Matanya menyapu sekeliling pasar.

Jalan tanah retak. Debu beterbangan.

Langit biru pucat tanpa satu awan pun.

Cuaca panas seperti ini bahkan terjadi sejak pagi.

Saat berjalan ke pasar tadi, Zhao juga melewati beberapa ladang.

Tanahnya kering.

Retak seperti pecahan keramik.

Beberapa petani masih mencoba bekerja di sana. Namun tubuh mereka terlihat lesu. Gerakan mereka lambat.

Seperti orang yang sudah terlalu lama kelelahan.

Zhao terdiam cukup lama memikirkan pemandangan itu.

Namun sebelum lamunannya semakin jauh—

sebuah suara tiba-tiba terdengar.

“Sungguh menyedihkan bukan?”

Zhao tersentak sedikit.

Ia menoleh.

Pedagang sayur di depan lapak sedang menatapnya.

Seorang pria paruh baya dengan wajah lelah.

Zhao tersenyum kecil.

“Ah… maaf.”

Pedagang itu menggeleng pelan.

Ia menatap sayuran di lapaknya dengan wajah murung. “Panen beberapa tahun terakhir benar-benar kacau.”

Suaranya berat.

“Hanya sejauh ini yang bisa kami lakukan.”

Ia mengambil satu sayur dan menatapnya sejenak.

“Kalau dilihat dari ekspresi Anda… Anda pasti kecewa tidak menemukan bahan segar.”

Zhao tersenyum canggung.

“Ah, tidak juga.”

Pedagang itu tertawa kecil. Namun tawanya terdengar kosong.

“Tuan tidak perlu repot-repot menghibur saya.”

Ia menunjuk wajah Zhao.

“Ekspresi Anda sudah menjelaskan semuanya.”

Zhao langsung tertegun. Di dalam hatinya ia menggerutu.

Wajah sialan ini…

Ia menahan napas sebentar.

Sepertinya aku benar-benar harus belajar mengendalikan ekspresi.

Pedagang itu menghela napas panjang.

“Tidak heran kota ini perlahan ditinggalkan.”

Kata-katanya membuat Zhao tersentak.

“Apa maksudmu?”

Pedagang itu sedikit terkejut melihat reaksinya.

“Kau tidak tahu?”

Zhao menggeleng pelan.

Pedagang itu menatap langit kering di atas mereka.

Lalu mulai bercerita.

“Belasan tahun yang lalu… kota Pingxi sebenarnya tidak seperti ini.”

Zhao mengangkat alis sedikit.

Pedagang itu melanjutkan.

“Kami memang bukan kota kaya.”

“Tidak ada istana megah atau keluarga bangsawan besar. Tapi tanah di sini subur.”

Ia tersenyum tipis mengenang masa lalu.

“Para petani bisa panen dengan baik.”

“Air sumur selalu penuh.”

“Orang-orang tidak hidup mewah… tapi semua orang bisa makan dan tidur dengan tenang.”

Namun senyum itu perlahan memudar.

“Semua berubah…”

Ia menatap Zhao.

“…ketika sekelompok orang misterius datang.”

Zhao sedikit menegakkan tubuhnya.

“Orang misterius?”

Pedagang itu mengangguk.

“Mereka memakai tudung hitam. Tidak ada yang tahu siapa mereka.”

“Namun mereka langsung menemui Walikota.”

Ia berhenti sejenak.

Seolah menimbang apakah ia harus melanjutkan cerita itu. Namun akhirnya ia tetap berbicara.

“Sejak hari itu…”

Ia menatap tanah retak di bawah kaki mereka.

“Musim kemarau mulai terjadi.”

“Awalnya hanya satu tahun.”

“Lalu dua tahun.”

“Lalu semakin lama…”

Ia menelan ludah.

“…Sampai kami tidak pernah melihat hujan lagi.”

Zhao mengerutkan kening.

Pedagang itu melanjutkan dengan nada pahit.

“Air bersih menjadi barang langka.”

“Ladang mulai mati. Beberapa keluarga pergi meninggalkan kota.”

Ia menghela napas panjang.

“Yang tersisa hanyalah orang-orang yang tidak punya tempat lain untuk pergi.”

Suasana di sekitar mereka terasa semakin berat.

Angin panas berhembus pelan.

Pedagang itu tiba-tiba tertawa canggung.

“Ah… maaf.”

“Saya malah membuat Anda mendengar cerita menyedihkan seperti ini.”

Zhao segera menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Suaranya tenang.

“Saya tidak keberatan.”

Pedagang itu menatap Zhao lebih lama.

Lalu tiba-tiba tersenyum kecil.

“Kalau dilihat-lihat…”

Ia menyipitkan mata.

“Apakah Anda pemilik kedai makan yang baru buka di pinggir kota?”

Zhao sedikit terkejut. Namun ia mengangguk.

“Ya, itu benar.”

Pedagang itu langsung tersenyum lebih hangat.

“Saya sudah mendengar banyak tentang Anda.”

Zhao mengangkat alis.

“Benarkah?”

Pedagang itu mengangguk.

“Orang-orang bilang Anda menyajikan makanan yang sangat lezat. Dan harganya masih terjangkau.”

Ia menatap Zhao dengan tulus.

“Yang paling penting…”

“Katanya Anda menerima semua orang tanpa terkecuali.”

Ia sedikit menunduk.

“Terima kasih banyak.”

Zhao terdiam sesaat. Ia tidak menyangka ucapan itu. Beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis.

“Anda terlalu memuji.”

Ia mengambil beberapa sayuran dari lapak itu.

“Saya hanyalah pemilik kedai kecil.”

Pedagang itu menggeleng sambil tersenyum.

“Mungkin bagi Anda itu hanya kedai kecil.”

Ia menunjuk ke arah kota di belakang mereka.

“Tapi bagi banyak orang di kota ini…”

Suaranya menjadi lembut.

“…itu mungkin tempat pertama dalam bertahun-tahun di mana mereka bisa makan sambil tersenyum.”

Zhao terdiam.

Untuk sesaat— ia hanya memandang kota Pingxi yang kering di kejauhan.

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!